Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 07 Agustus 2012

Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4-Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4-Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4-Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4-Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4-Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4


Pada saat itulah, mendadak seorang berteriak serak di sebelah
kiri sana: "Lekas kemari, tolonglah aku!"
Cepat Kun-gi memburu ke sana seraya berteriak: "Dimana kau?"
Mendengar suara Kun-gi, agaknya terbangkit semangat orang itu,
teriaknya lebih keras: "Cong-coh, inilah aku Ting Kiau, tertindih di
celah2 batu besar ini."
Belum habis dia bicara Kun-gi sudah melompat tiba, tampak
olehnya Ting Kiau tertindih di bawah sebuah batu raksasa yang
ribuan kati beratnya. Waktu batu raksasa ini menggelundung dari
puncak, kebetulan membentur batu padas yang menonjol dari
dinding gunung sebelah belakang dan Ting Kiau kebetulan sembunyi
di bawah batu padas yang menonjol ini sehingga batu raksasa tadi
tidak menindihnya hancur, dia terjepit di celah2 batu tanpa bisa
bergerak, hanya kepalanya saja yang menongol keluar.
"Ting-heng tidak terluka bukan?" tanya Kun-gi.
Badan Ting Kiau meringkal, sahutnya: "Hamba tidak apa2,
tempat ini kebetulan cukup untuk sembunyi, kalau tidak badanku
tentu sudah hancur lebur."
Mengawasi batu raksasa ini, Kun-gi memperkirakan batu ini ada
seribu kati beratnya, maka dia kerahkan tenaga, pelan2 kedua
tanganya menyanggah batu serta mendorongnya ke samping,
katanya: "Awas Ting-heng." Sekali gentak, batu besar itu kena
digeser ke atas.
Tanpa ayal Ting Kiau memberosot keluar, katanya sambil
melompat berdiri: "Cong-coh, hamba sudah keluar."
Pelan2 Kun-gi lepaskan batu raksasa itu, katanya kemudian:
"Ting-heng, lekas samadi sebentar, apakah kau terluka?"
Ting Kiau menggerakkan kaki tangannya serta menghirup napas
panjang, katanya tertawa: "Hamba baik2 saja, sedikitpun tidak
terluka. . ."
"Selamat Ting-heng, syukurlah kalau tidak terluka, marilah ikut
mencari yang lain mungkin ma-sih ada yang perlu ditolong."
Mereka maju terus ke sekelilingnya, tapi batu melulu yang
tertumbuk, kaki tangan manusia berserak di antara himpitan batu2,
jadi sukar dibedakan jasat siapa yang telah tak berbentuk itu,
semuanya mati dalam keadaan yang mengerikan.
20 dara kembang tiada satupun yang hidup, delapan Hou-hoatsu-
cia hanya Ting Kiau seorang yang selamat tiga Houhoat
ketinggalan Kongsun Siang saja yang lolos dari elmaut. Barisan yang
meluruk datang ber-bondong2 dengan mengerek panji2 segala kini
sudah tertumpas habis oleh ledakan tandu yang dibawa sendiri, jadi
bukan mati di medan laga dan gugur bersama musuh. Peledak
itupun sedianya untuk menghancurkan sarang musuh, tak nyana
orang sendiripun ikut menjadi korban. Memangnya ini sudah suratan
nasib?
Lama Kun-gi berdiri di depan Ui-liong-tong, tak terbilang betapa
berat perasaannya Kongsun Siang menghampiri, katanya lirih:
"Cong-coh, bagaimana kita harus bertindak lebih lanjut'?"
"Kecuali kita bertiga agaknya tiada yang hidup lagi, tugas kita
sekarang yang utama adalah mengumpulkan jenazah mereka sebrta
menguburnyad."
"Cong-coh meamang benar," tibmbrung Ting Kiau, "berapa
banyak yang dapat kita temukan kita kuburkan bersama supaya
mereka tenteramdi alam baka."
Mereka segera bekerja keras, mengeduk liang lahat dan
mengumpulkan jenazah yang berserakan. setelah dua liang lahat
besar mereka gali, Kun-gi menghampiri jenazah Loh-bi-jin, dia
singkirkan batu besar yang menindih tubuhnya serta mengusung
jenazahnya ke dalam liang lahat, sementara Kongsun Siang dan
Ting Kiau juga sibuk menggotong jenazah dara2 kembang yang lain,
kaki tangan yang terputus berserakan di mana2 mereka kumpulkan
serta di-uruk menjadi satu.
Pada liang lahat kedua, mereka kebumikan ber-sama Song Tekseng,
Ko-lotoa serta mencari pula, yang lain. semuanya dalam satu
liang lahat.
Berdiri di depan pusara massal itu Kongsun Siang terlongong
sekian lamanya, katanya: "Thio-heng (Thio Lam-jiang) tadi
bersamaku waktu tandu dilempar ke dalam Ui-liong-tong, meski
tempat kami berdiri tepat di depan Ui-liong-tong, tapi jaraknya
sekitar lima tombak, Thio-heng meyakinkan ilmu pedang yang
mengutamakan kelincahan mengapung di udara, Ginkangnya cukup
tinggi dan melebihi aku, bahwa jiwaku bisa selamat, seharusnya
Thio-heng pun bisa lolos dari maut, kenapa jenazahnya tidak kita
temukan?"
Maklum, hubungannya dengan Thio Lam-jiang paling int im, tak
tertahan air matapun bercucuran, memikirkan nasib teman baiknya
itu.
"Jangan berduka Kongsun-heng, takdir menghendaki demikian,
kita terima saja musibah ini dengan lapang dada," kata Kun-gi.
"Cong-coh," ucap Ting Kiau, "bukankah Thay-siang masih ada
sepucuk surat rahasia, entah apa petunjuknya? Cobalah sekarang
dibuka." '
Baru Kun-gi teringat akan hal ini, lekas dia mengeluarkan sampul
surat itu serta merobeknya, dilolos keluar secarik hertas putih dan
dibebernya. begitu kertas terbeber, seketika berubah air muka Kungi.
Surat kedua yang dikatakan petunjuk ini hanya merupakan
lembaran kertas putih melulu tanpa tulisan sehurufpun. Apakah arti
kertas putih po-los ini?
Tandu itu memuat bahan peledak, setelah Ui-liong-tong
diledakkan, sudah tiada lagi tugas mereka selanjutnya, jadi tidak
perlu pakai petunjuk segala? Tapi bila orang banyak tidak mati
karena ledakan tadi, umpama memang tiada tugas lainnya lagi,
mestinya diberitahu ke mana dan bilamana mereka harus berkumpul
atau mundur kembali ke Ciok-sinbio untuk menunggu perintah
selanjutnya. Tanpa petunjuk, itu berarti bahwa rombongan besar
yang dipimpinnya ini sudah tiada lagi, sudah tamat seluruhnya.
Rupanya Thay-siang sudah memperhitungkan bahwa rombongan
besar ini seluruhnya akan menemui ajalnya di tempat ini. Semakin
dipikir semakin berkobar amarah Kun-gi, tanpa terasa ia
menggeram dan berkata: "Muslihat yang keji!"
"Apakah Cong-coh perlu ketikan api?" tanya Ting Kiau.
"Tidak usah." kata Ling Kun-gi.
"Lwekang Cong-coh amat tinggi," ucap Kongsun Siang, "di
tempat gelap dapat melihat dengan terang, entah petunjuk apa
yang tertulis disurat Thay-siang?"
"Surat rahasia ini tanpa satu hurufpun," kata Kun-gi geram.
"Mana mungkin?" teriak Ting Kiau heran. "Tanpa petunjuk Thaysiang,
ke mana kita harus berkumpul dengan rombongan yang
lain?"
"Jadi kalian masih ingin menemui Thay-siang?' tanya Kun-gi
sengit.
"Rombongan besar kita tertinggal kita bertiga yang masih hidup,
kukira perlu segera mengadakan kontak dengan dua rombongan
yang lain," demikian usul Kongsun Siang.
Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Maklumlah mereka sama terbius
oleh Bi-sinhiang-wan, jadi bahan peledak yang dipasang dalam
tandu itu melulu untuk menyingkirkan diriku seorang? Ya, melihat
taraf kepandaian yang kuyakinkan, jelas dia sendiri takkan mampu
kendalikan diriku, maka bersama dengan tugas menyerbu ke Uiliong-
tong ini dia hendak membunuhku dengan kekuatan ledakan
dahsyat itu, maksudnya untuk menghindarkan bencana di kemudian
hari. Ai, demi diriku seorang, tak segan2 dia mengorbankan jiwa
orang banyak untuk mengiringi kematianku, nenek ini sungguh
kejam dan menakutkan."
Melihat Kun-gi tepekur sekian lama tanpa bersuara, Ting Kiau
lantas bertanya: "Cong-coh, Ui-liong-tong sudah hancur, apakah kita
perlu kembali dulu ke Ciok-sinbin?"
Kun-gi diam saja, dari sakunya dia merogoh keluar kantong
sulam pemberian Un Hoankun tempo hari serta membuka ikatannya
dan mengeluarkan botol porselin kecil, ia menuang enam butir pil
Jing-sintan sebesar kacang hijau serta diangsurkan, katanya:
"Kongsun-heng, Ting-heng, kalian masing2 telan t iga butir obat
ini..."
Kongsun Siang terima tiga butir obat itu dan ditelannya tanpa
pikir, tanyanya sambil celingukan: "Apakah Cong-coh melihat
gejala2 yang tidak beres?"
Ting Kau juga terima obat itu, dia sedikit ragu2, pelan2 baru
menelannya, tanyanya juga: "Cong-coh, obat apakah ini?"
Kedua orang bertanya dalam waktu yang hampir sama. Kun-gi
tertawa tawar, katanya: "Apakah kalian pernah dengar Bi-sinwan?"
Kongsun Siang melengak, katanya: "Pernah hamba dengar cerita
Suhu, Bi-sinwan adalah sejenis obat bius yang paling keras daya
kerja racunnya, konon dulu kaisar Gui-bunto yang mengembang
biakannya dari daerah barat, baunya harum semerbak, orang yang
menciumnya akan mabuk, malah yang berat bisa mati sesaat
kemudian."
Terpentang kedua mata Ting Kiau, katanya dengan rasa curiga:
"Jadi obat yang Cong-coh berikan kepada hamba tadi adalah Bisinwan?"
Kun-gi tertawa, ujarnya: "Obat yang kalian makan tadi justeru
adalah obat penawar Bi-sinwan itu."
"Obat penawar Bi-sinwan? Sejak kapan hamba terkena racun Bisinwan?"
tanya Kongsun Siang heran.
"Kadar racun Bi-sinwan memang amat keras, orang bisa mati bila
menciumnya teramat banyak, tapi kalau dapat memanfaatkannya
dengan racikan obat lain dan dijadikan pil serta dicampur dalam
makanan, maka kau akan memakannya tanpa sadar, khasiatnya
secara langsung dapat mempengaruhi daya pikir orang, memang
kau kelihatan segar bugar dan jernih pikiran, tapi di luar sadarmu
kau telah kehilangan tekad perlawanan dan selalu tunduk setia
kepada orang yang telah memberi minum itu, sampai mati takkan
berubah haluan."
Terbeliak mata Kongsun Siang, katanya: "Maksud Cong-coh
bahwa Pek-hoa-pang telah memberi Bi-sinhiang kepada kami?"
sampai di sini tiba2 dia mangut2, katanya pula: "Betul, setelah
hamba ingat2, selama dua tahun ini, peduli apapun yang dilakukan
Pek-hoa-pang selalu kurasakan betul, terutama terasa bahwa Thaysiang
adalah junjungan yang maha agung dan suci, umpama dia
menghendaki hamba segera mati, hamba tidak akan ragu
membunuh diri dihadapannya."
"Dan sekarang? Bagaimana perasaan Kongsun-heng?" tanya
Kun-gi.
"Sekarang perasaan hamba nyaman dan lapang, timbul rasa
curigaku terhadap Thay-siang dan Pek-hoa-pang, gerak-gerik dan
sepak terjang mereka serba misterius, bukan mustahil ada sesuatu
hu-bungan rahasia dengan Hek-liong-hwe . . . . "
"Betul," timbrung Ting Kiau, "hambapun merasakan demikian,
Pek-hoa-pang hanya memperalat kita semua."
Kun-gi tersenyum, katanya: "Syukurlah kalau kalian sudah
mengerti.'
Kertas putih pemberian Thay-sang dia angkat dan dilambaikan ke
atas, katanya: "Surat ini tanpa tulisan sehurufpun, inilah bukt i
muslihatnya kalau burung kaget busurpun harus disembunyikan,
kelinci mat i anjing ikut hangus`
"Bahwa Thay-siang biarkan kita mati lantaran kita orang luar, tapi
Ko-lotoa adalah anak buahnya yang sudah berbakti puluhan tahun
padanya, Loh-bi-jin adalah murid didik asuhannya, demikian pula
ke20 dara kembang itu apa pula dosanya? Kenapa merekapun harus
ikut menjadi korban ledakan ini?"
"Ko-lotoa adalah salah satu dari tiga puluh enam panglima Hekliong-
hwe, banyak rahasia pribadi Thay-siang diketahuinya, kini ada
kesempatan untuk melenyapkan dia, bukankah rahasianya
selamanya takkan lagi diketahui orang? Celakalah Loh-bi-jin dan
dara2 kembang itu, lantaran bersama kita dia sampai hati
mengorbankan mereka pula."
"Kenapa Thay- siang hendak membunuh kita semua?" tanya Ting
Kiau tak mengerti.
"Hek liong-hwe punya tiga seksi, yaitu Hwi-liong-tong, Ui-liongtong
dan Ceng-liong-tong. Pangcu Bok-tan dari Hupangcu Sbo- yok
telah diperintahkan untuk menyergap kesana dengan tugas sendiri2,
kemungkinan Thay-siang sendiripun sudah meluruk ke sana.
Rombongan kita sepanjang jalan ini kelihatan ber-bondong2,
padahal hanya untuk menarik perhatian musuh dan menggertaknya,
bahwa kita berhasil menerjang tiba di depan Ui-liong-tong ini
membuktikan bahwa kita telah menggempur segala aral rintang dari
musuh yang mencegat kita, peledak yang ada di dalam tandu dan
dilempar ke dalam Ui-liong-tong sehingga hancur lebur, maka
orang2 seperti kita ini dirasa tidak perlu lagi, memang inilah cara
sekali tepuk membunuh dua lalat." Kata Kongsun Siang gusar:
"Mendengar uraian Cong-coh, hamba seketika sadar dan mengerti,
rencana dari tujuan Thay-siang ternyata amat keji dan kejam."
Ting Kiau menghela napas, katanya: "Lalu bagaimana rencana
Cong-coh selanjutnya?"
"Selanjutnya kalian tak usah memanggil Cong-coh segala,
jabatanku sudah ikut terpendam di bawah reruntuhan ledakan tadi,"
demikian ucap Kun-gi.
Ting Kiau tertawa getir, katanya: "Lalu apa yang harus kita
lakukan?"
"Racun dalam tubuh kalian sudah ditawarkan, inilah kesempatan
baik untuk membebaskan diri dari pertikaian ini, supaya selanjutnya
tidak diperalat lagi oleh Pek-hoa-pang, maka menurut pendapatku,
lebih baik selekasnya kalian meninggalkan tempat ini saja."
"Pernah kudengar Ling-heng bilang ada dua temanmu yang
tertawan Hek-liong-hwe, kehadiranmu adalah untuk menolong
mereka, untuk ini aku dengan senang hati ingin membantu Lingheng,
meski menerjang lautan api juga aku akan membantumu."
"Nyawa hamba ini juga berkat pertolongan Cong-coh, hambapun
takkan pergi begini saja," demikian Ting Kiaupun berkukuh
pendapat.
"Betapa luhur persahabatan ini, sungguh aku amat berterima
kasih . . " kata Kun-gi.
Kongsun Siang menyela: "Bahwa Ling-heng tidak pandang
rendah diriku dan sudi bersahabat denganku, ini sudah mengangkat
pamorku pula, kini Ling-heng hendak menyelundup ke Hek-lionghwe
seorang diri, meski kepandaian Ling-heng cukup tinggi, tapi
jago2 Hek-liong-hwe juga t idak sedikit jumlahnya, di samping
menolong teman harus menghadapi musuh lagi, betapapun tenaga
seorang terlalu merepotkan, kalau sekarang aku tinggal pergi,
memangnya terhitung persahabatan apalagi? Apapun kata dan sikap
Ling-heng, aku sudah bertekad untuk mengiringi kepergian Lingheng."
"Apa yang diucapkan Kongsun-heng merupakan isi hatiku pula,"
demikian sambung Ting Kiau. "kalau Cong-coh tidak terima
keinginan kami berarti pandang rendah kami berdua."
Melihat betapa besar dan teguh keinginan kedua orang ini, tak
enak Kun-gi menolaknya lagi, iapun tahu untuk meluruk ke sarang
Hek-liong-hwe seorang diri terlalu terpencil, apalagi nanti harus
menghadapi pertempuran sengit. Apa yang diucapkan Kongsun
Siang memang tidak salah, di samping berusaha menolong teman,
dia harus sibuk menghadapi musuh lagi, keadaan tentu serba repot
dan mendesak.
Maka dia manggut dan berkata "Kalau demikian aku takkan
banyak omong lagi, cuma Hek-liong-hwe berada di sarang sendiri,
bukan saja kita asing keadaan di sini, keadaan musuhpun buta sama
sekali, sebetulnya untuk menolong teman kita bisa bekerja secara
diam2 dan main sembunyi lalu menyergap pada saat lawan tidak
siaga, tapi setelah Ui-liong-tong kita hancurkan, sementara dua
rombongan lain dari Pek-hoa-pang juga telah menyerbu ke Hwiliong-
tong dan Ceng-liong-tong, tentu pihak Hek-liong-hwe sudah
meningkatkan penjagaan, kita menyelundup ke sarang naga, bukan
saja berbahaya, setiap saat kemungkinan kita akan menemui ajal di
dalam sana."
Ting Kiau tertawa, katanya: "Pendapatku justeru sebaliknya, Uiliong-
tong sudah hancur, ini kenyataan, rombongan Pangcu dan
Hupangcu masing2 menyerbu Hwi-liong-tong dan Ceng-liong-tong,
sekarang kemungkinan mereka masih dalam ajang pertempuran
sengit, marilah kita masuk secara diam2, umpama kepergok para
penjaga, tentu dengan mudah dapat kita sikat, inilah kesempatan
paling baik untuk menolong teman."
Kongsun Siang manggut2, katanya: " Usul Ting-heng memang
baik, Ling-heng, hayolah jangan buang2 waktu, marilah berangkat"
Berkerut alis Kun-gi, katanya: "Usul kalian memang masuk akal,
tapi kita tidak tahu di mana letak pusat markas Herk-liong-hwe,
datlam waktu sesinqgkat ini, ke mana kita akan menemukannya?"
"Kenapa Ling-heng lupa," kata Kongsun Siang, "sebelum ajal
bukankah Ko-lotoa bilang di belakang Ui-liong-tong ada jalan
rahasia, dia hanya mengatakan `tembus', kemungkinan jalan
rahasia di belakang Ui-liong-tong itu bisa tembus ke markas pusat
Hek-liong-hwe, kenapa tidak kita coba untuk mencarinya?"
Berpikir sejenak akhirnya Kun-gi mengangguk, katanya: "Apa
boleh buat, marilah kita berusaha."
"Marilah segera kita masuk," kata Ting Kiau senang.
"Nanti dulu, Ui-liong tong sudah hancur, kemungkinan jalan
rahasia itupun teruruk, kita . . . ."
"Tapi mungkin juga karena ledakan ini jalan rahasia itu malah
terbuka," kata Ting Kiau dengan tertawa.
"Memang mungkin," ujar Kun-gi, "Kita harus tetap hati2.
Pertama, jarak di antara kita bertiga harus tetap dipertahankan
untuk menjaga segala kemungkinan. Kedua, aku akan berjalan
didepan, Ting-heng di tengah dan Kongsun-heng di belakang, jika
diperjalanan terjadi sesuatu di luar dugaan, harus secepatnya
mundur, jadi aku akan jaga bagian belakang, untuk ini kalian harus
perhatikan betul2."
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiakan, katanya berbareng:
"Ling-heng tak usah kuatir, kami mengerti." . .
"Baiklah, hayo berangkat," ujar Kun-gi, belum habis bicara ia
sudah melayang ke arah Ui-liong-tong.
Ui-liong-tong atau gua naga kuning terletak di bawah ngarai,
semula merupakan gua besar yang lebar dan luas. Kini setelah
diledakkan gua itu sudah runtuh, ngarai di atasnya yang berpuluh
tombak tingginya sama menguruk di depan gua, maka batu2 besar
berserakan di mana2 sehingga mulut gua yang besar itupun hampir
tersumbat.
Ling Kun gi menyingsing lengan baju dan mengerahkan tenaga,
beberapa batu raksasa dia singkirkan, lalu dengan memiringkan
tubuh dia dapat menyelinap masuk ke dalam. Sudah tentu Ui-liongtong
seluruhnya juga sudah ambruk dan tidak berbentuk semula,
lorongnya penuh batu dan debu, Untunglah dinding batu Ui-liongtong
cukup kuat, meski banyak tempat yang ambruk, tapi bentuk
guanya masih tetap ada.
Kecuali bahan peledak kiranya di dalam tandu juga tersimpan
minyak bakar, begitu meledak seketika terjadi kebakaran hebat,
kobaran api mengikuti aliran minyak menjurus ke arah belakang.
Mata Kun-gi dapat melihat di tempat gelap, tapi Ting Kiau dan
Kongsun Siang yang ada di belakangnya sukar lagi menggerakkan
kaki karena gelap gulita tidak terlihat apa2, terpaksa Kun-gi
keluarkan Leliong-cu dan diangkat tinggi di atas kepala. Maka
memancarlah cahaya kemilau dari mutiara mestika itu, sejauh dua
tombak dapat mereka pandang walaupun rada samar2.
Langkah Kun-gi amat pelan dan hati2, dia periksa dinding batu
dari bekas ledakan dan kebakar-an. Sudah tentu di banyak tempat
kembali dia harus kerahkan tenaga untuk memindah batu besar
supaya bisa maju lebih lanjut.
Ting Kiau terus berada di belakang Kun-gi, katanya dengan suara
lirih: "Cong-coh, biarlah hamba bantu memindahkan batu2 ini."
Kongsun Siang t idak mau ketinggalan. "Mari kubantu juga."
Dengan kerjasama tiga orang dapatlah wereka maju semakin
jauh, kini sudah ada di gua belakang. Ternyata Ui-liong-tong
memang amat besar dan panjang lorongnya, bercabang lagi, tempat
mereka berada terang berada di perut gunung, kalau gua di depan
rusak kena ledakan, tapi keadaan di sini hanya beberapa tempat
yang gugur sebagian, beberapa deret kamar yang mereka temukan
masih terhitung utuh, tapi ada dua puluhan mayat yang
bergelimpangan tanpa luka apa2, rupanya mereka mati pengap
karena terjadi ledakan keras di depan gua tadi.
Tanpa terasa Kun-gi menghentikan langkah, katanya: "Agaknya
jalan sudah buntu sampai di sini."
"Tapi Ko-lotoa bilang di sini ada lorong rahasia," ujar Kongsun
Siang.
"Kalau betul ada lorong rahasia, orang2 ini tidak akan mati
pengap."
"Marilah kita cari," ajak Ting Kiau.
Sementara mereka berbicara Kun-gi sudah beranjak ke arah
sebuah kamar batu di ujung kanan sana.
"Ling-heng," seru Kongsun Siang tertahan, "di atas dinding ada
tulisan."
Kun-gi anggkat mutiara di tangannya menyinari dinding, memang
dinding di depan pintu ada sekeping papan persegi, di atas papan
ada sebaris huruf yang berbunyi "Kamar semadi dilarang masuk".
"Mungkin di sinilah biasanya Ci Hwi-bing meyakinkan ilmunya,"
ujar Ting Kiau.
Tergerak hati Kun-gi, segera dia masuk ke situ. Kamar batu ini
dipasang pintu kayu, bagian dalamnya ternyata amat luas, empat
dinding sekeliling kamar ditabiri kain layar warna kuning, di ujung
atas mepet dinding sana terdapat sebuah dipan yang bercat kuning
pula, kasur, bantal guling dan sepreinya masih utuh. Kecuali dipan
itu, tiada benda lain lagi di dalam kamar besar ini, terasa keadaan
kosong melompong. Mungkin karena getaran ledakan, debu pasir
tampak berhamburan dari atap kamar.
Kongsun Siang memandang sekeliling kamar, pedang panjang
ditangan seeara iseng menyingkap kain layar di depannya. Ting Kiau
juga tidak berpeluk tangan, "sret", kipas besinyapun bekerja, layar
kuning di sebelah dipan juga dia tarik sampai sobek. Mendadak dia
menjerit kaget: "Nah, di sini!"
Tanpa bersuara Kun-gi mendekat, betul di dinding memang ada
bekas garis sebuah pintu.
Ting Kiau sudah mendahului maju serta mendorongnya.
Kun-gi mengira di sekitar pintu rahasia ini tentu dipasang alat
rahasia, ingin mencegah Ting Kiau sudah tidak keburu, untunglah
meski Ting Kiau sudah mendorong sekuat tenaga, pintu batu tetap
tidak bergeming:
Kongsun Siang segera maju, dengan teliti dia periksa sekitar
pintu lalu mengetuk dan meraba sekian lamanya, akhirnya berkabta:
"Inilah pintu rahasia, kukira t idak akan salah."
"Mestinya ada tombol rahasianya untuk membuka pintu ini,
tombol tentu berada di kamar ini, marilah kita cari dengan teliti,
mungkin bisa ketemu,"
"Ting heng memang benar, pintu batu rahasia terang
dikendalikan oleh alat rahasia untuk buka tutup sehingga orang
leluasa keluar masuk, seharusnya orang tidak akan mudah
menemukannya dan meninggalkan garis2 persegi yang berbentuk
pintu ini, tapi karena ledakan dahsyat tadi menimbulkan gempa
yang cukup keras dan menggoncangkan gunung ini sehingga pintu
inipun menjadi retak, kemungkinan alat2 rahasianya juga ikut rusak
karenanya."
"Jadi maksudmu jalan rahasia ini sudah buntu dan tak mungkin
terbuka lagi?" Ting Kiau menegas.
"Mungkin demikian," ujar Kongsun Siang.
"Kalau betul di sini ada pintu, marilah kita coba mendorongnya,"
ajak Kun-gi.
"Pintu rahasia ini dikendalikan alat2 rahasia pula, setelah
mengalami goncangan keras tadi, ku-kira alat2nya sudah rusak,
tenaga siapa mampu menjebolnya?" Tapi bagaimana juga Kun-gi
adalah bekas atasannya, kepandaian orang juga sudah pernah
disaksikannya, maka ia berkata pula: "Kukira sukar untuk
membukanya."
"Biar kucoba," ucap Kun-gi. Lalu ia menyerahkan Leliong-cu
kepada Ting Kiau, katannya: "Ting-heng, kau pegang mutiara ini."
Ting Kiau terima mutiara itu, katanya kuatir: ”Cong-coh, berat
pintu ini sedikitnya ada ribuan kati, kalau dikendalikan alat rahasia
berarti sudah berakar dengan dinding gunung ini, bagaimana
mungkin bisa membukanya?"
Kun-gi tersenyum, katanya: "Memang sulit membuka pintu yang
dikendalikan alat rahasia, tapi ucapan Kongsun-heng t idak salah,
karena goncangan ledakan tadi sehingga pintu ini menunjukkan
bekas, kalau alat rahasianya sudah rusak, mungkin lebih mudah
mendorongnya terbuka."
Habis bicara segera ia melangkah setapak, telapak tangan
menahan pintu, pelan2 dia mengirup napas dan mengerahkan
tenaga mendorong sekuatnya ke depan.
Melihat dia betul2 hendak mendorongnya Kong-sun Siang
berseru dari samping: "Awas Ling-heng, jangan patah semangat."
Kun-gi menoleh, katanya tertawa: "Tidak apa2, aku akan
mencobanya."
Ting Kiau mengacung tinggi2 mutiara di atas kepalanya, dari
samping dia mengawasi gerak-gerik Ling Kun-gi, kedua tangan
orang sudah menempel pintu dan berdiri tegak tak bergeming, tapi
jubah hijaunya yang longgar itu kini pelan2 mulai melembung
seperti terisi angjn, mirip balon yang penuh gas. Dalam hati diam2
dia merasa kaget dan heran, batinnya: "Usia Cong-coh lebih muda
daripadaku, tapi kepandaian silat yang dibekalnya entah berapa
tingkat lebih tinggi."
Dikala Ting Kiau termenung itulah tiba2 Kun-gi menghardik
sekeras guntur menggelegar, sepenuh tenaga kedua tangan
mendorong ke depan. Maka terdengarlah suara keriat keriut makin
lama semakin keras seperti ada rantai besi putus dan benda
menjeplak, pelan tapi pasti pintu batu itu mulai terdorong mundur
dan terbuka.
Terbeliak mata Kongsun Siang, teriaknya kejut girang: "Tenaga
sakti Ling-heng sungguh tiada bandingannya di kolong langit."
Ting Kiau juga terkesima, katanya sambil menjulur lidah: "Ilmu
sakti apakah ini, Cong-coh? Begitu hebat kekuatannya, pintu batu ini
betul2 terdorong terbuka."
Sementara itu pintu batu yang tebal dan berat itu sudah terbuka
seluruhnya oleh Ling Kun-gi, pelan2 dia menarik turun kedua
tangannya, hawa murni atau tenaga dalam yang membikin
jubahnya melembung juga mulai sirna dan kempes, air mukanya
ternyata tidak berubah dan napaspun tidak memburu, katanya
kemudian sambil menghela napas panjang. "Hanya mendorong
pintu sampai terbuka, masa terhitung ilmu sakti segala?"
Ting Kiau serahkan kembali mut iara kepada Kun-gi, katanya:
"Cong-coh, hari ini hamba betul2 terbuka matanya, tapi Kungfu
apakah yang barusan kau gunakan, sukalah kau memberitahu?"
"Kalau Ting-heng ingin tahu," ujar Kun-gi, "biarlah kuberitahu,
Kungfu yang kugunakan tadi adalah Kim-kong-sim-hoat."
"Kim-kong-sim-hoat? Belum pernah kudengar nama ini," ajar
Ting Kiau.
"Bekal kepandaian Ling-heng mendapat didikan langsung dari
Put-thong Taysu, sudah tentu Kim-kong-sim-hoat merupakan
Kungfu yang hebat dari Siau-lim-pay," kata Kongsun Siang.
Di balik pintu batu kiranya adalah sebuah lorong yang gelap
gulita, tidak lebar, tiba cukup untuk dua orang berjalan sejajar. Kungi
mendahului melangkah keluar, ternyata banyak liku2 dan bercabang
pula lorong panjang gelap ini, bukan saja tidak terasa
adanya bau apek dan lembab, malah hawa terasa dingin silir dan
segar. Dengan memegang mutiara Kun-gi maju terus ke depan,
kira2 20-30 tombak jauhnya, angin dingin yang meng-hembus dari
arah depan terasa semakin dingin dan kencang, kiranya mereka
sudah tiba di ujung lorong, di depan mengadang undakan batu.
Ling Kun-gi mempercepat langkah terus naik ke undakan, kira2
ratusan undak telah dilaluinya, akhirnya mereka tiba di sebuah
pintu, di luar pintu lapat2 seperti ada cahaya matahari.
Diam2 Kun-gi membatin: "Mungkin sudah sampai di tempat
tujuan?" segera dia simpan mutiaranya.
Lekas Kongsun Siang memburu naik mendampinginya, katanya
lirih: "Apakah Ling-heng melihat sesuatu?"
"Tidak," kata Kun-gi, "di sini ada sebuah pintu, di luar tampak
cahaya matahari, mungkin sudah ditempat tujuan, kita harus lebih
hati2, jangan sampai mengejutkan pihak musuh."
Kongsun Siang mengiakan. Kun-gi lantas beranjak maju,
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiringi dari belakang.
Ternyata di luar adalah sebuah lembah kecil yang luasnya
puluhan tombak, bentuk lembah ini mirip sumur, sekelilingnya
dipagari dinding gunung yang curam dan ratusan tombak tingginya.
Kalau mendongak melihat langit seperti duduk dalam sumur melihat
angkasa, langit nan biru kelihatan hanya sejengkal saja. Ternyata
inilah lembah sumur ciptaan alam.
Dasar lembah ternyata datar dan tersapu bersih dan licin, di
bawah kaki tembok di kanan-kiri masing2 terpasang bangku
panjang terbuat dari balok batu. Di bawah-kaki tembok seberang
sana terdapat dua mulut gua yang terbuka lebar. Gua tidak
berpintu, keadaannya gelap tak terlihat barang apa yang ada di
dalamnya, suasana sunyi senryap tak terdengar suara apapun, dari
lorong bawah tanah Ui-liong-tong sampai di sini, kini mereka
diadang oleh dua mulut goa, kedua goa ini tentu menuju ke Cengliong-
tong dan Hwi-liong-tong.
Kun-gi merandek, tujuannya hendak menolong orang, entah di
mana Pui Ji-ping dan Tong Bunkhing sekarang disekap? diam2 ia
cemas.
Kongsun Siang melangkah maju setapak, katanya lirih: "Lingheng,
kedua gua ini kemungkih-an menjurus ke Ceng-liong-tong
dan Hwi -liong- tong."
Kun-gi manggut, sesaat dia merenung, katanya kemudian: "Aku
sedang berpikir, gua mana yang harus kita pilih?"
"Tujuan Cong-coh adalah menolong orang," demikian kata Ting
Kiau, "kalau dalam gua yang satu tidak ketemu boleh kita keluar
dan masuk ke gua yang lain, yang terang kita harus berusaha
sampai berhasil menolong orang," sembari bicara ia menudang gua
sebelah kiri dan melangkah kesana. "Cong-coh, sekarang biar
hamba jadi pelopornya, di dalam lorong gua ini kemungkinan
dipasang alat2 rahasia, untuk permainan ini sedikit banyak hamba
pernah mempelajarinya."
Terpaksa Kun-gi biarkan orang jalan di depan, dia keluarkan
mut iaranya serta disodorkan, katanya: "Ting-heng bawalah mutiara
ini, apapun kau harus hati2." '
Ting Kiau terima mutiara itu sembari berkata: "Hamba mengerti,
tanggung takkan terjadi apa2." "Sret", dia keluarkan kipas besi serta
membukanya untuk melindungi dada terus menyelinap masuk ke
gua sebelah kiri.
Kuatir orang mengalami bencana lekas Kun-gi mengikut inya,
Kongsun Siang tidak mau ketinggalan, ia berada di belakang Ling
Kun-gi.
Mereka terus maju ke depan, setelah membelok dua kali,
keadaan lorong gua ini semakin gelap. Tapi Ting Kiau mengacung
tinggi mutiaranya di atas kepala, cahaya mutiara kemilau bagai sinar
api di tempat gelap dan dapat terlihat tempat agak jauh. Segera
Kun-gi berpesan pula: "Ting-heng, kerahkan hawa murni dan selalu
siaga, jagalah kalau disergap musuh dari tempat
persembunyiannya."
Ting Kiau tertawa, katanya: "Cong-coh jangan kuatir, begitu
kulihat ada orang, segera akan kulumpuhkan dia lebih dulu.”
Lahirnya dia bersikap riang dan tak acuh, sebetulnya iapun
maklum bahwa mereka sudah berada di sarang musuh, setiap saat
mungkin sekali menghadapi mara bahaya, setiap langkah mereka
berarti semakin dekat pada tujuan, bukan mustahil akan kesamplok
dengan penjaga atau barisan ronda mu-suh. Sebagai pelopor yang
jalan di depan dengan penerangan mutiara, berarti musuh di tempat
gelap dan awak sendiri di tempat terang dan gampang menjadi
sasaran musuh. Maka sepanjang jalan setiap gerak langkahnya
amat hati2 dan diperhitungkan dengan seksama, kipasnya dipegang
kencang, mata dan kuping digunakan dengan tajam, dengan pelan
mereka terus maju ke depan.
Kira2 puluhan tombak lagi telah mereka capai, tapi tidak kunjung
tiba musuh menyergap atau rintangan apapun. Mendadak Ting Kiau
menghentikan langkah, katanya lirih: "Cong-coh, hamba rasa
keadaan di sini kurang wajar."
"Bagaimana pendapat Ting-heng?" tanya Kun-gi.
"Lorong di bawah tanah ini, peduli menembus ke manapun, yang
jelas merupakan tempat penting dan rahasia di pusat musuh,
seharusnya dijaga dan diadakan ronda, tapi kenyataan keadaan di
sini kosong dan tanpa penjaga, masa begitu cerobohnya pihak
musuh, kan tidak masuk akal."
Kun-gi mengangguk, katanya: "Pendapat Ting-heng betul,
akupun merasakan."
Kongsun Siang menimbrung: "Mungkin rombongan Pangcu dan
Hupangcu sudah bentrok berhadapan dengan musuh, mereka tidak
sempat memikirkan keamanan lorong rahasia ini."
Kata Ting Kiau pula: "Kemungkinan Ci Hwi-bing sudah lari
kemari, tahu kita mengejarnya, maka sengaja dia memancing kita
ke sini."
"Semua mungkin, tapi kita sudah berada di sini, umpama ada
perangkap juga tidak perlu takut, hayo terjang saja!" demikian Kungi
mendorong semangat mereka.
"Cong-coh benar," ujar Ting Kiau, "umpama sarang harimau dan
kubangan naga juga harus kita terjang." Lalu dia melangkah ke
depan.
Tak lama kemudian lorong berbelok ke kiri, dan tiba di ujung,
keadaan di depan ternyata lebar dan terbentang luas. Mendadak
keadaanpun menjadi terang genderang.
Ting Kiau amat cerdik dan hati2, semula dia menggremet maju
mepet dinding, begitu melihat di depan ada cahaya segera dia
menghentikan gerakan serta menggenggam kencang mutiara di
tangannya lantas mundur, katanya lirih: "Cong-coh, simpanlah
mut iara ini, di depan sudah ada cahaya lampu."
Kun-gi terima mutiara itu terus disimpan.
Sementara Ting Kiau sudah bergerak pula ke depan, sekali
kelebat dia melompat ke depan mepet dinding dan melihat keadaan
di luar. Kiranya di ujung lorong gelap ini adalah sebuah ruang batu
seluas puluhan tombak, tapi keadaan ruang batu ini mirip sebuah
lapangan. Karena di depan sana terdapat sepasang pintu besi, dua
gelang besi besar yang mengkilap tergantung di tengah pintu. Pintu
besi tertutup rapat, empat lampu gelas tampak tergantung di kanan
kiri pintu, di bawah lampu berdiri empat busu muda yang bersenjata
pedang.
Lampu itu memancarkan cahaya redup, tapi di dalam gua bawah
tanah yang gulita seperti ini terasa besar sekali manfaat cabaya
lampu, puluhan tombak sekeliling lapangan itu menjadi terang dan
jelas.
Diam2 Ting Kiau mengerut kening, menurut perhitungannya, dari
tempat bersembunyinya ini kira2 ada 12 tombak jauhnya dengan
keempat jago pedang itu, kalau untuk menyergap dan
menyerangnya secara mendadak, kecuali menggunakan panah dan
alat jepretan yang kuat, senjata apapun sukar untuk mencapai
musuh.
Dalam pada itu Kun-gi juga sudah menggeremet maju, katanya
lirih: "Bagaimana keadaan di luar?"
"Agaknya kita sudah sampai tempat tujuan, ada empat orang
menjaga pintu besi itu, Cong-coh tunggu saja di sini, biar hamba
yang bereskan mereka," habis bicara sebat sekali ia sudah meluncur
keluar gua dan hinggap di tengah lapangan. Batu saja bayangannya
berkelebat keluar, keempat jago pedang yang berdiri di depan pintu
besi sana segera mengetahui jejaknya, seorang lantas membentak.
"berhenti!"
Gerakan Ting Kiau cepat luar biasa, di tengah bentakan orang
bayangannya sudah menerjang tiba, kira2 tiga tombak jaraknya dari
pintu besi itu, dua jago pedang berbaju hijau dikanan-kiri segera
memapak kedatangannya. orang di sebelah kiri membentak,
"Darimana kau?"
Ting Kiau menghentikan langkah, dia senga-ja pura2 bernapas
ngos2an seperti habis lari kencang, lalu katanya sambil menjura:
"Para Saudara, Cayhe hendak menyampaikan laporan . . . ."
"Apa jabatanmu?" tanya orang di sebelah kanan.
Sambil pegang kipas lempitnya Ting Kiau menjura kepada kedua
orang itu, katanya: "Cayhe Ting Kiau, Sincu dari Ui-liong-tong . . . .
" belum habis dia bicara mendadak dua bintik sinar menyamber
keluar tanpa bersuara dari ujung kipasnya mengincar tenggorokan
kedua orang.
Kedua jago pedang itu agaknya tidak kira kalau Ting Kiau bakal
membokong, apalagi jarakpun sangat dekat, waktu sadar elmaut
mengancam jiwa, hendak berkelit atau menangkis sudah tak sempat
lagi, kontan mereka roboh terjengkang dan jiwa melayang.
Melihat kedua temannya mendadak roboh binasa, sudah tentu
kedua orang yang lain amat ka-get dan membentak gusar:
"Keparat, berani kau main gila di sini." Sambil melolos pedang,
kedua orang lantas menubruk bersama.
Ting Kiau tertawa ngakak, sambil mundur setengah tapak, "stet",
kipasnya terbentang, katanya tersenyum: "Kebetulan kalian maju
bersama."
Kipas lempitnya terbikin dari batangan besi. di dalam setiap
batangan besi tersimpan jarum2 selembut bulu kerbau yang
beracun, begitu kipas terbentang dan sekali kebas, serumpun
jarum2 seketika menyamber keluar dengan bentuk membundar
mirip lingkaran kipas lempitnya itu.
Baru saja kedua jago pedang itu menubruk maju, belum lagi kaki
mereka berdiri tegak, keduanya sudah dimakan jarum terbang yang
tak terhitung banyaknya itu, tanpa bersuara keduanya roboh binasa
menyusul temannya.
Dengan tertawa bangga dan puas Ting Kiau lem-pit pula
kipasnya, katanya sambil bergetak tawa: "Kiranya kaum keroco
yang tak becus."
Kun-gi dan Kongsun Siang segera memburu keluar. Kun-gi
pandang keempat korban itu, tanyanya; "Apakah mereka sudah
mati?"
"Mereka sama kena bagian yang mematikan, racun bekerja
dengan cepat, jiwa mereka melayang seketika," demikian sahut Ting
Kiau.
"Tadi kulupa memberi tahu kepada Ting-heng, kita harus
mengorek keterangan dari salah satu di antara mereka."
"Wah, ya, kenapa akupun tidak ingat," demikian kata Ting Kiau
gegetun.
Kongsun Siang sedang mengawasi kedua daun pintu, katauya:
"Kalau bukan Ceng-liong-tong, tempat ini pasti Hwi-liong-tong, Tingheng
terlalu cepat turun tangan sehingga mereka tidak sempat
menyampaikan peringatan bahaya kepada rekan2nya, pintu besar
ini tertutup rapat, kemungkinan orang2 disebelah dalam belum tahu
kejadian di luar sini."
Ting Kiau tertawa, katanya: "Itu gampang tugas mereka berjaga
di luar pintu, kalau terjadi sesuatu yang gawat sudah tentu di sini
ada peralatan untuk menyampaikan peringatan bahaya, marilah kita
periksa bersama secara teliti."
Lalu dia rnendahului melangkah ke sana, dengan seksama dia
periksa kedua dinding di kanan-kiri serta tatakan tempat keempat
lampu kaca ditaruh, tapi tiada sesuatu yang mencurigakan.
Sedang Kongsun Siang langsung menuju gelang tembaga, gelang
di sebelah kiri dia pegang terus dia putar ke kanan-kiri. Ternyata
gelang tembaga ini dapat bergerak, keruan ia girang, serunya:
"Nah, di sini!"
Dia coba2 memutar ke kiri tiga kali lalu membalik putar ke kanan
tiga kali, lapat2 ia mendengar suara gemuruh dari benda2 keras
yang saling gesek dari balik pintu.
Kongsun Siang juga cerdik, segera dia lepas tangan serta
mundur, katanya lirih. "Mundur Ting-heng, kemungkinan ada
perangkap di balik pintu besi ini” Sebat sekali dia melompat mundur
sejauh dua tombak. Ting Kiau juga sudah mundur beberapa tombak
jauhnya.
Sedang Kun-gi tetap berdiri di tempatnya, dengan tersenyum dia
awasi pintu besi di depannya. Betul juga tatkala Kongsun Siang dan
Ting Kiau mundur, dinding di kanan-kiri kedua lapis pintu besi
segera berkeresekan menimbulkan getaran keras kedua daun pintu
besi itupun pelan2 terbuka.
Keadaan di dalam gelap gulita, dari ketajaman pandangan Kun-gi
samar2 melihat seperti sebuah pekarangan. Kini pintu besi sudah
terbuka lebar, tapi tiada senjata rahasia atau perangkap apapun
yang menyemprot keluar.
Kongsun Siang menghampiri Kun-gi dan berdiri di sebelahnya,
ditunggu pula sesaat dan keadaan tetap tenang2, tanpa terasa
mulutnya bersuara heran, katanya: "Ini tidak beres."
"Terasa di mana yang tidak beres,. Kongsun-heng?" tanya Ting
Kiau.
"Kedua daun pintu besi ini ada dua gelang tembaga, seharusnya
kedua gelang itu di putar dan digerakkan baru pintu besi bisa
terbuka, tapi tadi aku hanya memutar gelang sebelah kiri,
seharusnya malah menggerakkan alat2 perangkap dan senjata yang
menyemprot keluar."
Ting Kiau tertawa, katanya: `Mungkin secara serampangan kita
malah mengenai sasaran, gelang kiri itu memang alat untuk
membuka pintu besi, kalau kau memutar gelang kanan,
kemungkinan kita bakal terperangkap malah."
Melihat sekian lama tetap tiada reaksi apa2 dari dalam baru
Kongsun Siang mau percaya, katanya mengangguk: "Pendapat
Ting-heng memang betul."
Kun-gi tertawa, katanya: "Aku hanya tahu guru Ting-heng
bergelar Sinsincu (si kipas sakti) dan ahli mengenai ilmu bangunan
dan pertarungan, tak nyana Kongsun heng ternyata juga ahli dalam
bidang peralatan perangkap dan jebakan segala."
Konsun Siang berkata: "Ling-heng terlalu memuji, guruku punya
seorang teman ahli dalam bidang ilmu mekanik, dulu waktu jayanya
juga amat tersohor dikalangan Kongouw, belakangan untuk menghindarkan
pertikaian yang lebih dalam dengan para musuhnya,
terpaksa dia buron jauh ke padang pasir di luar perbatasan, suatu
ketika bersua dengan gu-ruku dan sering ber-bincang2, waktu itu
aku selalu mengiringi guru, maka tidak sedikit manfaat yang
kuperoleh dari pembicaraan mereka."
Ting Kiu juga berkata dengan tertawa: "Mung-kin Cong-coh
belum tahu, walau dulu guruku malang melintang di Kangouw
dengan kipas lempit bertulang besi, tapi beliau memang benar2
berilmu silat tinggi, hakikatnya di dalam kipasnya tidak
menyembunyikan sesuatu. Konon suatu hari beliau pernah dirugikan
oleh sepasang senjata Cu-bo-cuan lawan, maka sejak itu beliau
memeras otak menciptakan berbagai peralatan rahasia, terutama
dalam bidang permainan senjata rahasia, memperoleh kemajuan
pesat, pada rangka besi kipas lempitnya sekaligus beliau dapat
menyimpan 36 batang senjata rahasia lembut sehingga orang biasa
tak mungkin tahu, maka beliau memperoleh julukan "Si-Kipas Sakti",
sayang hamba berotak tumpul, ajaran paling cetek dari beliaupun
tak berhasil kupelajari.
Kun-gi tertawa, katanya: "Umpama betul demikian, yang jelas
kalian lebih tahu dalam bidang ini daripadaku", sembari bicara ia
tetap menatap ke dalam, karena dia dapat melihat di tempat gelap,
lapat2 masih dapat dilihatnya keadaan di dalamsana.
Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan kecil, maju lebih
lanjut adalah undakan batu tiga tingkat, di atas undakan adalah
sebuah pendopo yang agak luas, karena jaraknya agak jauh, di
dalam juga lebih gelap lagi, lapat2 hanya kelihatan meja kursi dan
beberapa perabotanya saja.
Sekian lamanya keadaan tetap sunyi dan tiada reaksi apa2 dari
dalam.
Kun-gi tersenyum, katanya: "Tanpa menerobos ke sarang
harimau bagaimana dapat menangkap anak harimau, kita harus
masuk ke sana, cuma harus hati2," lalu dia mendahului melangkah
ke dalam.
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiringinya memasuki pintu
besi. Karena keadaan di dalam memang teramat gelap, terpaksa
Kun-gi keluarkan pula mutiaranya langsung menuju ke ruang
pendopo.
matanya menyapu pandang sekelilingnya. Walau kini mereka
berada di dalam perut gunung, tapi peka-rangan diluar itu tak
ubahnya seperti pekarangan umumnya di rumah orang2 berada,
baru saja dia hendak melangkah lebih lanjut, tiba2 didengarnya
suara"blang" di belakang, kedua daun pintu besi itu mendadak
menutup sendiri, keadaan seketika menjadi lebih gelap pula.
Sambil menoleh Kongsun Siang mendengus, jengeknya:
"Agaknya kita memang sudah masuk perangkap." Belum habis
bicara, dari atas pekarangan itu tiba2 menungkrup jatuh sebuah jala
raksasa, mereka bertiga seketika terjaring di dalamnya.
Reaksi Kongsun Siang dan Ting Kiau cukup sebat, dikala jaring
raksasa, melayang turun mereka sudah sama2 mengeluarkan
senjata dan membacok. Tak nyana jala ini terbuat dari kawat2 baja
murni yang kuat dan ulet, celakanya lagi pada setiap lubang atau
mata jalanya dipasanyi duri2 tajam yang membengkok terbalik. Bila
meronta di dalam jala, duri bengkok itu malah akan menusuk kulit
daging sehingga akan terbelenggu semakin kencang dan kesakitan.
Hanya Kun-gi yang tetap berdiri diam saja tanpa bergerak, walau
sekujur badan terjaring di dalam jala raksasa, namun badannya
paling sedikit tertusuk oleh gantolan tajam itu, akibat Kong-sun
Siang ;dan Ting Kiau meronta2 sehingga badannya ikut terluka di
bagian pundak dan punggung.
Gugup dan gusar Ting Kiau, tapi apapun juga dia adalah murid
Ginsancu, begitu melihat gelagat semakin tidak menguntungkan
segera dia berhenti meronta, serunya: "Congcob, bagaimana
baiknya?"
Kongsun Siang berteriak gusar: "Hek-liong-hwe bangsa tikus
celurut! Kalau berani hayo unjuk tampangmu mengadu jiwa secara
jantan, main ser-gap cara licik dengan perangkap terhitung ksatria
macam apa?"
Kun-gi tetap diam saja, katanya tertawa tawar: "Kongsun-heng,
Ting-heng kenapa kalian terburu nafsu? Walau kita terjaring, di sini
tiada orang lain, sampai pecah tenggorbokan kalian juga percuma,
sekarang lebih penting tabahkan hati menghadapi kenyataan
dengan kepala dingin." '
"Hahaha! . . . . Memang jempol kau bocah bagus!" tiba2 gelak
tawa keras berkumandang dari pendopo disusul keadaan menjadi
terang benderang, delapan lampu kaca muncul bersama di ruang
pendo-po. Di undakan batu sana juga muncul tiga orang. Orang di
tengah adalah Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing, di kanan-kirinya diapit
dua laki2 berjubah sulaman naga terbang di bagian dadanya, usia
kedua orang ini di atas empat puluhan. Di kanan-kiri undakan
beruntun muncul pula delapan laki2 kekar berseragam hijau,
menghunus pedang yang berlumuran racun.
Ci Hwi- bing tertawa lantang, katanya: "Ling Kun-gi, kau dapat
meluruk sampai di sini, sungguh harus dipuji, tapi kau tetap takkan
lolos dari cengkeraman tanganku." Saking senang kembali dia terbahak2.
Kepala, pundak dan beberapa bagian tubuh Kun-gi sudah tentu
terancam oleh duri2 gantolan, tapi dia tetap berdiri tak bergerak,
katanya dingin: "Ci Hwi-bing, kau kira orang she Ling bertiga sudah
kau kurung dengan jaringmu ini"?
Ci Hwi-bing tertawa, katanya: "Memangnya kau pikir masih bisa
lolos?"
Seketika terpancar sinar mata Ling Kun-gi, katanya tertawa
lantang: "Jaring besi begini, kau kira dapat berbuat apa terhadap
orang she Ling?" Sambil bicara, jubah hijaunya tiba2 melembung
seperti balon yang di tiup penuh berisi hawa. Karena jubahnya
melembung, maka duri2 gantolan itupun kena disanggah ke atas,
cepat sekali tangan kanannya menarik keluar sebilah pedang.
Maka terdengarlah suara mendering nyaring beruntun, di mana
sinar kemilau itu menggaris na-ik turun terus melingkar sekali, jaring
kawat baja di depannya tahu2 sudah berantakan di bobolnya, sekali
lagi pedang bergerak melingkari badan, benang jala yang terbuat
dari kawat baja lemas itupun sama berjatuhan.
Bukan kepalang kaget Ci Hwi-bing, serunya: "Pedang
ditangannya itu adalah senjata pusaka."
Laki2 baju hijau sebelah kiri menyeringai dan memberi tanda.
Maka ke delapan laki2 kekar itu serentak bersiul panjang, dari
delapan penjuru serempak nnereka menubruk ke arah Ling Kun-gi,
Pedang Kun-gi bergerak, tiga jurusan kena di bendungnya, di
mana cahaya hijau kemilau dan hawa dingin setajam pisau,
kedelapan lawan sama merasakan ayunan pedang Kun gi seperti
memba-cok ke arah mereka, sebelum cahaya pedang menyamber
tiba serentak mereka sama melompat mundur.
Ringan sekali Kun-gi berputar satu lingkaran, gaya pedangnyapun
ikut melingkar, hanya beberapa kali gerakan ini, jala kawat yang
mengurung Kongsun Siang dan Ting Kiau sudah dibabatnya rontok
ber-hamburan.
Begitu keluar dari jaring berduri, dengan gemas Kongsun Siang
segera menyerbu musuh dengan gerungan murka, gayanya mirip
amukan serigala kelaparan dibantu kilat pedangnya yang ganas.
Ting Kiau juga tidak banyak omong lagi, dengan kipas terbentang
segera iapun merangsak musuh.
Betapapan tinggi dan lihay ilmu pedang kedelapan laki2 itu, tapi
Kongsun Siang dan Ting Kiau terlebih lihay lagi, hanya beberapa
gebrak saja mereka sudah di atas angin, delapan lawan kena didesak
mundur.
Kun-gi simpan pedang dan melangkah mundur, dengan
menggendong tangan dia menonton saja di luar arena.
Long-sing- kiam yang dimainkan Kongsun Siang memang aneh,
bayangannya tampak terjang sana amuk sini, gerak pedangnya
secepat kilat, setiap serangan selalu mengincar Hiat-to besar di
tubuh lawan sehingga lawan susah berjaga dan sukar
menangkisnya.
Sementara kipas Ting Kiau kadang2 tecbentang dan tahu2
mengatup, kalau dibuka bisa digunakan sebagai senjata tajam,
kalau dikatupkan bisa digunakan untuk menutuk dan menusuk, yang
diincar juga Hiat-to dan urat nadi lawan.
Kedua orang ini adalah jago2 silat kelas t inggi dari generasi muda
masa kini, bahwa gabungan permainan ilmu kipas mereka ternyata
begini hebat, pekarangan kecil di dalam perut gunung ini rasanya
seperti dipenuhi bayangan pedang dan kipas.
Dengan kekuatan kedelapan orang bukan saja tidak mampu
menundukkan dua lawannya, malah terdesak di bawah angin, sudah
tentu kedelapan orang itupun malu dan gusar, akhirnya mereka lupa
akan kerja sama dalam barisan yang sudah teratur, kini masing2
mengembangkan keahlian sendiri. Kejap lain delapan batang
pedang dengan bayangan gelapnya sama menyambar ke arah
kedua orang.
Rangsakan bersama ini tidak dibatasi oleh langkah barisan,
serangannya jauh lebih bebas dan berkembang, maka terasa betapa
hebat dan bertambah berat tekanan mereka, seketika Kongsun
Siang dan Ting Kiau berbalik terdesak ke dalam himpitan serangan
lawan.
Ting Kiau menggertak gusar, kipas besi menggentak sekali, dia
luncurkan dua batang jarum berbisa, dua lawan yang terdepan
kontan ambruk tanpa mengeluarkan suara.
Tanpa terlihat luka2 pada kedua temannya dan tahu2 tersungkur
binasa, keruan enam temannya mencelos. Sementara pedang
Kongsun Siang juga tidak kenal kasihan, tatkala lawan melengak
itulah, pedangnya segera bekerja, suara jeritan kontan terdengar,
pedang Kongsun Siang berhasil menyunduk perut seorang musuh,
darah muncrat dan isi perutpun kedodoran. seketika melayang
jiwanya.
Dalam sekejap tiga di antara delapan musuh roboh binasa, maka
lima orang yang masih hidup menjadi ciut nyalinya, meski kelihatan
mereka masih bertempur sengit, tapi semangat mereka sudah
mengendur, rangsakanpun tidak segencar tadi.
Kipas dan pedang Ting Kiau dan Kongsun Siang sebaliknya
berkembang semakin hebat, kem-bali lima lawannya kena diserang
hingga kelabakan.
Kedua orang baju hijau yang berdiri di undakan sekilas saling
pandang, maka terdengar orang di sebelah kiri membentak:
"Berhenti!"
Memangnya kelima orang itu sudah terdesak di bawah angin
pula, jiwa mereka terancam setiap detik, tanpa perintah tiada yang
berani mundur, kini mendengar aba2 berhenti, seperti berlomba
saja mereka saling mendahului melompat mundur.
Kongsun Siang menarik pedang, katanya tertawa dingin: "Apakah
tuan yang ingin turun gelanggang merasakan kelihayan pedang
Kongsun-toayamu?"
Dengan kipasnya Ting Kiau menuding lelaki baju hijau di sebelah
kanan, katanya dengan tertawa: "Kaupun turunlah, coba rasakan
permainan kipas Ting-toaya yang silir2 nyaman ini."
Lelaki baju hijau disebelah kiri menyeringai: "Haha, memangnya
betapa kemampuan Long-sing-kiam dan Thiancesan kalian, berani
bertingkah di hadapan kami?"
"Hayolah jangan banyak bacot, kalau tidak percaya turunlah
rasakan sendiri," jengek Kong-sun Siang.
"Ji-te," kata laki2 baju hijau sebelah kiri kepada orang di sebelah
kanan, "kau turun dan bereskan mereka"
Laki2 baju hijau sebelah kanan mengiakan, sambil melangkah
turun ia melolos sebatang pedang lebar berwarna hitam, ia
menjengek: "Kalian bertiga boleh maju bersama!"
Kongsun Siang menubruk maju lebih dulu, katanya tertawa:
"Tuan amat takabur, kau turun gelanggang sendirian, sudah tentu
Kongsuntoaya akan melayanimu."
Dengan sikap angkuh laki2 baju hijau itu melirik, katanya:
"Hanya kau seorang bukan tandinganku."
Kongsun Siang naik pitam, serunya: "Memangnya kau ini
tandinganku atau bukan juga belum diketahui." "Sret", pedangnya
menusuk lebih dulu dari samping, maka terlihatlah cahaya kemilau
ta-jam berkelebat, menciptakan tiga kelompok cahaya pedang
menusuk tiga Hiat-to di tubuh lawan. Serangan Long-sing-kiam
dilancarkan dengan gerakan kilat, malah khusus menyerang musuh
dari arah samping, sehingga lawan sering tak ber-jaga2.
Agaknya laki2 baju hijau lawan Kongsun Siang ini memang
memiliki bekal kepandaian yang mengejutkan, hanya tangan kiri
bergerak, dia keluarkan serangkum tenaga kuat yang tak kelihatan
mendesak serangan pedang lawan, jengeknya dingin: "Coba kaupun
sambut sejurus serangan pedangku! " Pedangnya yang lebar itu
terayun terus membacok dari arah depan.
Gerak bacokan ini hakikatnya tidak menyerupai jurus serangan,
tapi begitu pedangnya membacok keluar, seketika terasa adanya
dorongan hawa dingin yang timbul dari tajampedangnya.
Sebat sekali Kongsun Siang tarik balik pedangnya serta
menyelinap ke samping. Long-sing-poh atau langkah serigala yang
dia mainkan amat gesit dan lincah, sekali berkelebat saja mestinya
dia da-pat menghindarkan serangan lawan, diluar tahunya si baju
hijau yang tadi berdiri di sebelah kanan ini hanya sedikit geser,
pedangnya yang lebar itu tetap dengan gaya semula membacok
lurus kemuka Kong-sun Siang, Gerakannya tidak begitu cepat,
justeru karena gerakan pedangnya tidak mengalami peru-bahan,
maka bacokan pedang ini kini tinggal dua kaki saja dari badan
Kongsun Siang.
Keruan tidak kepalang rasa kaget Kongsun Siang, dalam
gugupnya ia tak sempat banyak pikir, cepat dia angkat pedang
untuk menangkis dengan jurus Thianlong-som-to. "Trang", kedua
pedang saling bentur dengan keras, si baju hijau tetap berdiri tidak
bergiming di tempatnya, sebaliknya Kong-sun Siang merasakan
lengan kanannya kesemutan pegal dan menyurut mundur. Sejak
keluar kandang dan mengembara di Kangouw, kecuali pernah
dikalahkan oleh Ling Kun-gi, baru sekali ini dia benar2 mengalami
kekalahan dan berhadapan dengan musuh tangguh.
Watak Kongsun Siang memang tinggi hati, hanya segebrak lantas
dipukul mundur, selebar mukanya seketika merah membara, begitu
mundur segera ia menubruk maju pula, beruntun dia menyerang
tiga jurus. Tiga jurus ini merupakan tipu serangan Thianlong- kiamhoatnya
yang paling lihay, sinar pedang menyambar bagai ular
sakti.
Si baju hijau hanya tertawa ejek saja, pedang lebar ikut bergerak
tiga jurus untuk membendung dan mematahkan serangan musuh,
sementara tangan kiri bergerak melancarkan tipu merebut pedang
lawan, pergelangan tangan kanan Kongsun Siang yang memegang
pedang segera dicengkeramnya.
Ilmu silat orang ini ternyata amat aneh dan luar biasa,
permainannya kelihatan kasar dan sederhana, tapi setiap gerak
serangan justru mengandung t ipu yang lihay dan mematikan,
terutama gerakan merebut pedang lawan, kelihatan lucu dan aneh,
tampaknya kombinasi dari Kim-na-jiu dan Kong-jiu-jip-pek-yim, ilmu
menangkap dan rebut senjata dengan bertangan kosong, Kongsun
Siang didesaknya sedemikian rupa sehingga tak mungkin melawan
dengan gerakan lain.
Kalau Kongsun Siang tidak mundur, pedang di tangannya pasti
terampas oleh musuh. Bahwa tiga serangan pedang Kongsun Siang
semuanya kena dipatahkan oleh pedang lebar lawan, kini tangan
lawan yang lain juga mencengkeram ke arahnya, semua ini
membuatnya naik pitam, mendadak kakinya menendang tangan
lawan yang menjulur tiba itu.
Untunglah pada saat yang gawat itu didengarnya desiran lirih
serta didengarnya seseorang berkata ditelinganya: "Lekas mundur
Kongsun-heng!"
Kongsun Siang tahu itulah suara Ling Kun-gi yang memberi
petunjuk untuk menyelamatkan diri, tapi kakinya sudah kadang
melayang, untuk ditarik turun sudah tidak mungkin, maka tangan si
baju hijau begitu tersentuh, kaki Kongsun Siang, kelima jarinya
segera mencengkeram, tetap mengincar pergelangan tangan
Kongsun Siang, malah gerakannya bertambah cepat karena
dorongan tendangan kakinya sendiri.
Kongsun Siang sendiri merasa kakinya kesakitan karena
dirasakan seperti menendang batang-an besi, sementara tangan kiri
lawan sudah memegang gagang pedangnya, Kejadian terlalu cepat
dan masing2 pihak tidak sempat berpikir, tatkala itu kelima jari si
baju hijau sudah tertekuk hendak memegang pedang lawan, tiba2
dirasakan sesuatu benda menyesap ke telapak tangannya, secara
otomatis ia menggegamnya dan seketika dia merasakan kesakitan
pada telapak tangannya, lekas dia menunduk dan membuka telapak
tangan, ternyata yang dia pegang bukan gagang pedang, tapi
adalah sebuah duri gantolan yang semula berada di jaring raksasa
tadi. Betapa runcing dan tajam duri gantolan yang terbuat dari besi
ini, karena digenggam, ujungnya yang runcing sudah menusuk kulit
dagingnya, darah segar mengalir deras dan menetes dari sela2
jarinya.
Sementara itu Kongsun Siang sudah melejit mundur. .
Kalem seperti tidak terjadi apa2 dan seperti tidak merasa
kesakitan, pelan2 si baju hijau angkat kepala mengawasi Ling Kungi:
"Perbuatanmu bukan?'
Kun-gi tertawa, katanya: "Kusaksikan pedang temanku bakal
terampas orang, maka sekadar kubantu dia, kukira toh tiada
salahnya? Apalagi Cayhe tidak bermaksud melukai orang, asal tuan
tidak mencengkeram dengan kencang, telapak tanganmupun takkan
terluka."
"Bagus", desis si baju hijau, "babak ini belum berakhir, kini
kaulah yang maju saja."
Dalam pada itu, Ci Hwi-bing dan si baju hijau di sebelah kiri
tampak sedang bicara bisik2. Lalu terdengar si baju hijau sebelah
kiri berseru: "Lo-ji, kau mundur, biar aku yang menghadapi Conghou-
hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang ini."
Kun-gi tertawa lantang, katanya: " Tuan mau memberi petunjuk,
sudah tentu akan kuiringi, tapi satu hal perlu kau ketahui, kini Cayhe
bukan lagi Cong-su-cia Pek-hoa-pang segala "
Si baju hijau di sebelah kiri tampak melengak heran, tanyanya:
"Mengapa kau bukan Cong-su-cia Pek-hoa-pang lagi?"
"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan urusan sekarang, tak
perlu Cayhe menjelaskan."
"Kenapa Tunheng percaya akan obrolannya?" demikian sela Ci
Hwi-bing, "kalau dia bukan lagi Cong-su-cia Pek-hoa-pang, buat apa
dia meluruk kemari?'
Dengan sikap sungguh2 Kun-gi berkata: "Sekali orang she Ling
bilang bukan, ya tetap bukan, memangnya persoalan ini harus
diperdebatkan?"
Jelilatan sinar mata Ci Hwi-bing, tanyanya: "Tentunya ada
alasannya?"
"Tiada alasan apa2, yang terang Cayhe sudah bosan bekerja."
Berputar bola mata Ci Hwi-bing, katanya: "Kalau benar kau sudah
keluar dari Pek-hoa-pang, berarti tiada bermusuhan dengan Hekliong-
hwe kami, asal tuan suka turunkan senjata, Hwecu ka-mi
malah ingin mengundangmu, untuk ini aku bisa menjadi perantara."
"Memang, Cayhe ingin menemui Hwecu kalian, entah cara
bagaimana Ci-tongcu hendak mempertemukan Cayhe dengan dia?"
Semakin lebar senyum Ci Hwi-bing, ucapnya. "Sebelum jelas
maksud kedatanganmu, terpaksa menyusahkanmu dulu, letakkan
senjata dan kututuk beberapa Hiat-tomu, habis itu baru kubawa kau
menghadap Hwecu."
"Cong-coh," seru Ting Kiau, "jangan kau tertipu olehnya,
bukankah cara itu berarti menjadi tawanan musuh?"
"Jangan salah paham Ling-lote," kata Ci Hwi-bing, "itulah salah
satu prosedur bagi orang luar untuk menghadap Hwecu. Terus
terang setiap orang yang mau menghadap Hwecu, kedua tangannya
harus dibelenggu rantai emas untuk menjaga segala kemungkinan,
tapi Ling-lote adalah orang satu2nya yang ingin ditemui Hwecu,
maka aku berani ambil putusan sendiri, hanya beberapa Hiat-tomu
yang ditutuk dan kedua matamu ditutup, dihadapan hwecu nanti
mungkin aku akan disalahin malah."
Kun-gi tersenyum sinis, katanya: "Terima kasih akan kebaikan Citongcu,
maksud kedatanganku ini memang ingin menemui Hwecu
kalian, tapi bukan begitu caraku menemuinya."
Si baju hijau di sebelah kiri mendengus, katanya: "Orang ini
begini congkak, tak usah Ci-tongcu banyak omong padanya lagi,
biar kubekuk dia dan gusur ke hadapan Hwecu."
Ci Hwi-bing mengerut kening, dengan lirih dia membisiki si baju
hijau di sebelah kirinya.
Tampak si baju hijau sebelah kiri mendongak, sambil ngakak,
katanya: "Ci-tongcu tak usah kuatir, setelah dia masuk ke Hwi-liongtong,
memangnya dia bisa terbang ke langit?"
Kun-gi membatin: "Kiranya tempat ini memang benar Hwi-liongtong."
Sementara itu si baju hijau sebelah kiri telah turunkan sebatang
pedang yang berbadan lebar dari pundaknya, dengan tajam ia tatap
Kun-gi, katanya dengan membusungkan dada: "Kabarnya kau murid
Hoanjiu-ji-lay, orang she Tun ingin belajar beberapa jurus padamu."
Melihat usia orang belum terlalu tua, tapi sorot matanya ternyata
mencorong terang, jelas memiliki Lwekang tinggi. Maka dengan
sabar Kun-gi berkata: "Minta belajar tidak berani, kalau tuan
memang menantang berkelahi, pasti Cayhe mengiringi keinginanmu
tapi sebelum turun tangan, lebih dulu ingin Cayhe mohon tanya
siapa panggilan kalian berdua?"
"Ya, kenapa aku lupa memperkenalkan kalian," sela Ci Hwi-bing,
"inilah Hwi-liong-tong Hutongcu kita Tun Thiankhi, dan inilah
komandan ronda Hwi-liong-tong Tun Thianlay."
Ling Kun-gi mengangguk, katanya: "Beruntung dapat berkenalan
di sini, kalian adalah murid Thiansanpay bukan?"
Tun Thiankhi dan Tun Thianlay sama menggunakan pedang
panjang yang berbadan lebar, ter-utama setelah melihat gaya
permainan pedang Tun Thianlay tadi mirip sekali dengan jurus2 ilmu
Thiansanpay, di kalangan Bu-lim hanya ilmu pedang Thiansanpay
pula yang kelihatannya sederhana tapi setiap gerakannya
mengandung intisari ilmu pedang dari berbagai aliran yang paling
tinggi. Apalagi ke dua orang ini sama she Tun, mungkin sekali
adalah angkatan muda atau keponakan Thiansan tayhiap Tay-mosintiau
Tun Kui-ih.
Terlihat Tun Thiankhi menarik muka dan menjawab: "Dari aliran
mana kami orang she Tun, tiada sangkut-pautnya dengan adu
pedang ini, lekas keluarkan senjatamu."
Kun-gi tertawa, katanya: "Ih-thiankiam milikku ini tajam luar
biasa, membacok emas seperti mengiris tanah, memotong besi
seperti merajang sayur, kau harus hati2."
Sembari bicara, pelahan2 terloloslah sebatang pedang panjang
yang memancarkan sinar dingin kemilau.
Sekilas Tun Thiankhi pandang pedangnya, jengeknya: "Pedang
itu memang amat bagus, entah bagaimana pula kemahiranmu
menggunakannya?" mendadak ia melangkah setapak, pedang lebar
ditangannyapun terus membacok.
Pedang lebar ini besarnya kira2 sama dengan telapak tangan
anak kecil, bacokan lurus dari depan menandakan gerakan yang
sederhana, tidak cepat, tak kelihatan di mana letak keanehannya,
tapi bacokan ini justeru membawa deru angin yang kencang
berpusar.
Tidak sedikit ahli2 pedang yang pernah dihadapi Ling Kun-gi, tapi
belum pernah dia berhadapan dengan serangan pedang yang begini
hebat, diam2 ia terkejut, batinnya: "Agaknya dia sudah memperoleh
ajaran murni dari Thiansankiam-hoat." Secepat pikirannya bekerja,
tangan terangkat pedangpun bergerak, dia lancarkan jurus Liongjiau-
hoat-hun (cakar naga menyingkap mega), ujung pedang sedikit
mendongak terus menyampuk ke depan.
"Trang", kedua pedang saling bentur, mendadak terasa oleh Kungi
dari badan pedang lawan merembes keluar segulung tenaga kuat
sehingga pergelangan tangannya tergetar kesemutan. Kalau orang
lain, hanya sekali benturan ini tentu pedang akan tergetar lepas dari
cekalannya, kini pedang Tun Thianlay malahan tersampuk minggir
oleh pedang Kun-gi.
Berubah air muka Tun Thianlay, tanpa bersuara kembali
pedangnya menabas miring. Menabas adalah gerakan miring yang
tidak mengandung gerakan variasi, tapi Kun gi sudah dapat
merasakan tabasan lawan ini membawa tenaga yang hebat.
Tanpa pikir Kun-gi melompat ke atas setinggi dua tombak.
Begitu tabasan pedangnya luput, sekaligus Tun Thianki berputar,
dengan landasan kekuatan menabas tadi, pedang lebarnya terayun
balik ke atas.
Di luar tahunya bahwa Ling Kun-gi tengah melancarkan jurus
Sinliong-jut-hun, badannya harus melambung tinggi ke atas, ketika
pedang lebar itu membalik ke atas, sementara Kun-gi yang
meluncur tinggi ke atas itu mulai menukik balik, dengan kepala di
bawah dan kaki di atas, yang satu menyerang turun, yang lain
menerjang naik ke atas, betapa cepatnya serang menyerang ini,
maka terdengarlah dering nyaring benturan kedua pedang, bagai
bunyi petasan renteng, suaranya semakin keras memekak telinga.
Cepat Tun Thiankhi mundur beberapa langkah, dilihatnya pedang
lebar miliknya yang terbuat dari baja murni yang biasanya khusus
untuk mematahkan senjarta lawan, mata pedangnya kini ternyata
gumpil beberapa tempat. Mendadak ia berseru: "'Mundur!" Segera
ia putar tubuh terus lari masuk pendopo.
Ci Hwi-bing, Tun Thianlay begitu mendengar seruannya juga
lantas mengundurkan diri. Agaknya kelima laki baju hijau itupun
sudah terlatih baik, gerak gerik merekapun cekatan, cepat
merekapun menghilang masuk ke dalam pendopo. Delapan lampu
kaca dipendopopun seketika padam.
Kun-gi bertiga seketika merasakan keadaan sekelilingnya gelap
gulita, orang2 yang mundur ke pendopo dalam sekejap mata saja
telah lenyap entah kemana.
Ting Kiau ingin mengudak, tapi karena Kun-gi tetap diam saja di
tempatnya, maka tak enak dia bertindak sendiri.
Kongsun Siang juga telah memburu maju, katanya lirih: "Musuh
mundur sebelum kalah, mungkin untuk mengatur muslihat."
Kun-gi manggut2, katanya: "Ucapan Kongsun-heng masuk akal,
mari coba2 kita periksa." Dengan mengacung tinggi mutiara di atas
kepala dia menaiki undakan itu.
Saat itu mereka berada dalam gua di perut gunung, tapi orang2
Hwi-liong-tong telah membangun tempat ini sedemikian rupa
sehingga hampir saja mirip pekarangan dan ruang pendopo
umumnya. Tadi mereka bertempur di pekarangan, maka kini mereka
memasuki ruang pendopo.
Setelah melampaui tiga tingkat undakan batu, mereka menyusuri
serambi panjang yang lebar, tepat di depan mengadang enam pintu
batu yang diukir dengan hiasan warna warni, tapi semua pintu
terpentang lebar. Kun-gi mendahului masuk ke pendopo, hanya
beberapa langkah segera berhenti, dengan pancaran sinar mutiara
dia memeriksa keadaan pendopo itu.
Kiranya ruang pendopo atau kamar batu ini luasnya kira2 ada
sembilan tombak, kecuali sebuah meja batu panjang tepat di tengah
ruangan ada dua baris kursi batu putih disisi kanan-kirinya, tiada
lain benda lagi dalam pendopo ini, keadaan kosong dan gelap.
Pancaran sinar mut iara di tangan Kun-gi hanya mencapai tiga
tombak jauhnya, tapi dengan bantuan pancaran sinar yang redup ini
Kun-gi dapat melihat keadaan sekelilingnya yang lebih jauh lagi,
kiranya pendopo ini dikelilingi dinding2 batu yang tinggi dan licin,
tiada kelihatan bekas2 pintu rahasia di sekelilingnya.
Jelas Ci Hwi-bing dari anak buahnya tadi masuk ke tempat ini,
tapi jejak mereka menghilang di sini, maka Kun-gi menduga pasti
ada pintu rahasia di dalamruang pendopo ini.
Kongsun Siang ikut masuk dan berhenti di belakang Kun-gi,
katanya keheranan: "Tiada pintu dalam pendopo ini, pasti dipasang
alat2 rahasia. Ting-heng, mari kita periksa bersama, supaya tidak
terjebak oleh muslihat mereka."
Ting Kiau merogoh ketikan api dan menyalakan obor kecil yang
selalu dibawa oleh setiap insan persilatan, katanya: "Ya, mari kita
periksa bersama."
Kongsun Siang juga mengeluarkan obor kecilnya. Dengan
menyalanya kedua obor kecil ini, maka keadaan pendopo bertambah
terang.
Tampak dinding, lantai dan meja kursi semuanya terbuat dari
batu hijau yang digosok licin meng-kilap laksana kaca, dengan
seksama kedua orang berpencar memeriksa tiga arah dinding batu
yang kemilau oleh sinar obor mereka, setiap sudut, setiap jengkal
lantai yang berlapis batu hijau itu dan tetap tak berhasil mereka
temukan apa2.
Obor di taugan Ting Kiau akhirnya menjadi guram karena makin
pendek, dengan kecewa dia buang obornya sambil berkata gegetun:
"Setelah menghadapi kenyataan baru terasa kekurangan, sampai
hari ini baru aku betul2 menyadari kenapa dulu tidak belajar lebih
rajin dan tekun kepada guru, kini menyesalpun telah kasip."
Menyusul obor Kongsun Siang juga padam, katanya pula:
"Agaknya alat2 rahasia di sini diciptakan oleh seorang yang betul2
ahli, dengan pengetahuan kita yang cetek ini tak mungkin bisa
menyelami letak kuncinya."
Kedua obor sudah padam, tinggal cahaya mutiara di tangan Kungi
saja, maka keadaan pendopo kembali menjadi remang2. Kata
Kun-gi: "Kalau tak ketemu, tak perlu kita susah payah mencarinya."
"Tapi jalan mundur sudah buntu, memangnya kita harus diam
saja terkurung di sini," kata Ting Kiau.
"Mereka mundur sebelum kalah, jelas musuh punya rencana keji,
mumpung ada waktu, sebaiknya kita istirahat mengumpulkan
tenaga dulu," ujar Kun gi, pelan2 dia menghampiri kursi batu dan
duduk di sana.
"Sikap tenang Ling-heng ini sungguh mengagumkan, betapapun
aku bukan tandinganmu," puji Kongsun Siang.
Kun-gi tersenyum, katanya: "Sejak kecil guruku sudah
mendidikku, setiap kali menghadapi kesukaran, kepala harus dingin
dan pikiran tetap jernih, supaya kita sendiri tidak kelabakan
kehabisan tenaga '' Sampai di sini tiba2 dia pakai ilmu gelombang
suara: "Setiap saat kemungkinan musuh akan menyerang kita,
harus selalu waspada, Kongsun-heng, Ting-heng, kalian boleh ambil
posisi sendiri2, tanpa isyaratku jangan sembarangan bertindak."
Kongsun Siang dan Ting Kiau mengiakan.
Kun-gi keluarkan kantong sulam pemberian Un Hoankun, dia
keluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang dua butir Jingsin
wan dan dibagikan kepada kedua orang, lalu menambahkan
dengan ilmu suara: "Inilah Jing-sinwan bikinan Ling-lam, khusus
untuk menawarkan segala macam obat bius dan dupa wangi yang
memabukkan, kulumlah dalam mulut kalian." '
Setelah terima pil itu dan dikulum dalam mu-lut, Kongsun Siang
dan Ting Kiau lantas mundur berpencar menempati posisi di
kirikanan, mereka berjongkok di belakang kursi.
Kejap lain Kun-gi masukkan mutiara ke dalam sakunya sehingga
ruang pendopo itu menjadi gelap gulita, kelima jari sendiripun tidak
kelihatan, begitulah mereka berdiam diri kira2 setanakan nasi,
keadaan tetap sunyi, tiada sesuatu reaksi apa2 dari pihak musuh.
Akhirnya Ting Kiau buka.suara: "Cong-coh, agaknya musuh
sengaja hendak kurung kita di sini, selama tiga hari saja cukup
membikin kita kelaparan dan kehabisan tenaga, betapa kita kuat
melawan mereka?"
"Tidak mungkin," kata Kun-gi, "tempat ini sudah merupakan
daerah penting Hwi-liong-tong, bahwa selama ini mereka tidak
bergerak mungkin karena tengah menghadapi pertempuran terbuka
di depan sana dan tenaga tidak mencukupi untuk mengurus kita,
dan terpaksa kita dikurung di sini untuk sementara, tapi peduli
mereka kalah atau menang, kukira waktunya tidak akan terlalu lama
lagi."
"Menurut pendapatku," demikian Kongsun Siang ikut bersuara,
"bahwa selama ini mereka belum bertindak, pasti ada sangkut
pautnya dengan Ling-heng."
"Berdasarkan apa pendapat Kongsun-heng ini?" tanya Kun-gi. .
"Apa yang pernah diucapkan Nao Sam-jun di Gu-cu-ki tempo hari
tentunya Ling-heng masih ingat, dia pernah bilang asal Ling-heng
sudi menyerah atau mau bekerja demi kepentingan Hek-liong-hwe,
kalau Pek-hoa-pang bisa memberi kedudukan Cong-su-cia, maka
Hek-liong-hwe juga sanggup memberi jabatan Cong-houhoat
kepadamu."
"Soal ini sudah tentu masih kuingat," ucap Kun-gi.
"Baru saja kita tiba di Ui-lionggiam, musuh lantas meluruk dari
tiga arah mengepung kita, dalam keadaan yang buruk itu Ci Hwibing
masih membujuk Ling-heng supaya bekerja untuk Hek-lionghwe,
akhirnya terjadilah pertempuran sengit, Cap ji-sing- siok Hekliong-
hwe berhasil kita tum-pas habis, Lansat-sin Dian Yu-hok, Pingsin
Tok-ko Siu juga melayang jiwanya, malah Ui-liong-tongpun telah
kita ledakkan, hanya Ci Hwi-bing seorang saja yang lolos dari
renggutan elmaut, peristiwa besar ini sebetulnya merupakan
pukulan berat baginya, terhadap Ling-heng mestinya dia amat benci
dan dendam. . . . "
"Ya, betul, adalah layak kalau dia membenciku," ujar Kun-gi.
"Tapi tadi waktu Ling-heng membobol jaring kawat baja dan Ci
Hwi-bing muncul, sikapnya tak nampak bermusuhan terhadap Lingheng,
malah dia tetap membujuk Ling-heng bekerja sama dan mau
membawamu menemui Hek-liong-hwecu. Dari sini dapatlah
disimpulkan bahwa Hek-liong-hwe Hwecu memandangmu terlalu
penting, kukira pasti ada pesannya kepada anak buahnya."
Kun-gi tertawa, katanya: "Dalam hal apa diriku ini sampai
dipandang begitu penting oleh mereka?" Dalam hati dia membatin:
"Pasti lantaran aku bisa menawarkan getah beracun itu."
"Menurut rekaanku;" dernikian ucap Kongsun Siang lebih lanjut,
"Hek-liong-hwe mungkin merasa segan dan tak berani berbuat salah
terbadap guru Ling-heng, atau mungkin ada sebab lainnya. Tapi
Hek-liong-hwecu ingin secepatnya merangkul dan menarik hati Lingheng,
hal ini kukira tidak perlu disangsikan lagi." Ia merandek
sebentar, lalu melanjutkan lagi: "setelah Ling heng masuk kemari,
jaring baja mereka tak berguna, Tun Thian khi sendiri juga sadar
dirinya bukan tandinganmu, maka lekas dia mengundurkan diri, kini
kita dikurung di tempat ini . . . . "
"Analisa Kongsun-heng cukup jelas," timbrung Ting Kiau, "tapi
apa pula tujuan mereka mengurung kita di sini?"
"Ruang pendopo ini pasti ada dipasang perangkap yang amat
lihay, walau mereka telah mengurung Ling-heng, agaknya Ci Hwibing
dan Tun Thiankhi tak berani bertindak sendiri, maka mereka
merasa perlu untuk menghadap Hwecu mereka dan minta
petunjuknya, jika perintah Hwecu mereka belum sampai di sini,
pasti mereka takkan berani sembarang bertindak."
Ting Kiau menepuk paha, serunya tertawa: "Betul, marilah kita
tunggu perintah Hek-liong-hwecu, mau perang atau akan damai,
sebentar akan kita ketahui."
Di kala mereka bicara itulah, mendadak Kun-gi merasakan
adanya serangkum bau aneh yang merangsang hidungnya, kepala
seketika terasa pening dan berat, tergerak hatinya: "Tepat
dugaanku, mereka mau menggunakan dupa bius untuk merobohkan
kami bertiga."
Kejadian memang aneh, baru saja hidungnya mengendus bau
wangi yang memabukkan dan bikin kepalanya pening, kantong
sulam yang tergantung di depan dadanya seketika juga menguarkan
bau wangi yang semerbak sehingga kapalanya yang pening seketika
sirna, pikiran jernih dan badan segar.
Diam2 Kun-gi merasa kagum dan membatin: "Keluarga Un dari
Ling-lam memang tidak malu sebagai cakal bakal ahli obat bius yang
telah turun temurun sejak kakek moyang mereka, botol porselen
yang hanya tertutup gabus berlubang biasanya tidak pernah
menguarkan bau apa2, tapi begitu dupa bius merangsang, obat
penawar yang terisi dalam botol seketika pula unjuk khasiatnya."
Karena mut iara sudah tersimpan dalam kantongnya, maka ruang
pendopo itu gelap gulita, keadaan sekelilingnya menjadi t idak jelas,
tapi Kun-gi yakin bahwa dupa bius itu sudah memenuhi seluruh
ruang pendopo, karena terasa juga olehnya bau harum segar dari
kantong sulamnya itu terus merangsang keluar.
Kongsun Siang dan Ting Kiau berpencar di kanan-kiri, masing2
duduk di bawah kursi, jadi t iga orang berposisi segi tiga, kini
merekapun sudah mengendus bau dupa memabukkan itu, maka terdengar
Ting Kiau bersuara heran, katanya: "Cong-coh, kau sudah
mencium bukan? Bau dupa ini agak ganjil?"
Dengan menahan suara Kun-gi berkata: "Musuh tengah
melepaskan asap dupa wangi yang memabukkan, Ting-heng jangan
bersuara, nanti kalau ada orang masuk kalian harus pura2 rebah
terbius, jangan turun tangan secara serampangan, dengarkan tanda
tertawaku "
Kongsun Siang berdua mengiakan. Kira2 setanakan nasi lagi, bau
dupa dalam pendopo semakin tipis dan akhirnya sirna. Maka dari
arah dinding sebelah timur berkumandang suara gemuruh,
mendadak dinding yang rapat itu merekah buka, tapi hanya segaris
sempit saja.
Dikala suara gemuruh mulai berkumandang, Kongsun Siang dan
Ting Kiau lekas2 merebahkan diri, mereka mendekam di bawah
kursi dengan waspada.
Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, setelah suara gemuruh
berhenti dan dinding sedikit terbuka itu, keadaan menjadi hening
pula, tak kelihatan ada orang masuk. Agaknya musuh tahu diri,
karena belum jelas keadaan di dalam mereka tak berani masuk.
Beberapa kejap lagi, mendadak sinar lampu yang terang
menyilaukan rata menyorot masuk dari sela2 dinding yang terbelah
itu, pendopo yang semula gelap gulita menjadi terang benderang.
Kun-gi duduk bersandar kursi, diam tak bergerak seperti lemas
lunglai.
Maka terdengar suara Ci Hwi-bing dari belakang dinding:
"Bagaimana keadaan di dalam?"
Seorang menjawab: "Lapor Tongcu, hanya kelihatan orang she
Ling duduk lemas di kursi, agaknya sudah terbius semaput."
"Dua yang lain bagaimana?' tanya Ci hwi-bing.
"Tidak kelihatan, mungkin sudah rubuh di lantai, teraling oleh
kursi," sahut orang itu.
"Baiklah, coba kalian masuk memeriksa” perintah Ci Hwi-bing.
Ternyata sela2 dinding itulah pintunya, pintu terbuka agak lebar,
dua sosok orang berkelebat masuk dari balik dinding langsung
mendekati mereka..
Melihat pintu sudah terbuka, sementara dua orang musuh sudah
melangkah masuk, maka Kun-gi tidak tinggal diam lagi, mendadak
dia tertawa ngakak sambil melompat bangun terus menerjang ke
arah pintu.
Ilmu silat kedua orang yang masuk ternyata cukup tinggi, begitu
Kun-gi menerjang maju merekapun segera siap siaga, keduanya
mundur setengah langkah. "Sret, sret", dua batang pedang hitam
mereka membabat bersilang berusaha menahan lawan.
Kun-gi ayun tangan kanan secepat kilat dia menepuk sekali,
segulung tenaga pukulan seketika menahan gerakan pedang lawan
sebelah kanan, berbareng tangan kiri mencengkeram lengan orang
di sebelah kiri terus ditarik, sebat luar biasa ia terus meluncur ke
depan memberesot lewat di tengah kedua musuh dan memburu ke
arah pintu.
Kongsun Siang dan Ting Kiau mendengar gelak tawa Ling Kun-gi,
berbareng merekapun melompat berdiri. Sekali tubruk Kongsun
Siang menerjang orang di sebelah kiri, berbareng pedangnya
menusuk.
Ting Kiau juga t idak kalah cepat dan tangkasnya. belum lagi dia
menerjang tiba, kipas lempitnya sudah bekerja menggaris melintang
dengan membawa deru angin mengincar muka orang di sebelah
kanan.
Sebetulnya kepandaian silat kedua orang yang masuk ini cukup
lumayan, walau tidak mampu menghalangi Ling Kun-gi, tapi dikala
Kongsun Siang dan Ting Kiau menubruk, tiba merekapun sudah
bersiap menyambut serangan mereka.
Bahwasanya gerakan Ling Kun-gi tadi memang cepat luar biasa
dan secara mendadak maka dalam segebrak dia dapat bikin kedua
lawannya menyingkir serta menerjang lewat, sayang sekali ketika
dia hampir mencapai pintu batu mendadak dilihatnya bayangan
seorang tinggi besar mengadang di depan pintu. Sebelum lawan
turun tangan menyerang Kun-gi sudah mendahului melontarkan
pukulan kilat menghantam dada lawan.
"Blang", dengan telak telapak tangannya memukul dada lawan.
Tapi Kun-gi sendiri merasa telapak tangannya tergetar pedas
kesakitan, ternyata pukulannya seperti memukul pada batu yang
keras, keruan kejutnya tidak kepalang.
Waktu dia mendongak dan melihat lebih jeias, kiranya bayangan
orang yang muncul di depan dan mengadang jalannyu adalah
patung batu yang tinggi besar. .Karena sedikit teralang ini, pintu
batu yang hanya terbuka sedikit itu cepat sekali sudah menutup
lagi, sorot lampupun padam sehingga keadaan di ruang pendopo
kembali menjadi gelap gulita. Begitu keadaan menjadi gelap, kedua
orang yang lagi bertempur dengan Kongsun Siang dan Ting Kiau
segera pura2 menyerang, habis itu terus melompat mundur. Pada
hal pintu batu sudah tertutup, jelas tiada jalan lain untuk melarikan
diri. Maka Kongiun Siang menghardik: "Mau lari ke mana kalian?"
Pedang berpindah ke tangan kiri terus menyalakan api, lalu cepat2
dia pindahkan pula pedang di tangan kanan, tangan kiri
mengacungkan tinggi kertas yang terbakar di atas kepala.
Pada saat yang sama Ting Kiau juga telah menyalakan api,
serempak mereka lantas mengudak ke pojokan sana, tampak kedua
orang berbaju hijau itu telah melambung ke sebuah lubang besar
dipojok atap sana, sekali berkelebat bayangan merekapun lenyap,
cepat sekali lubang besar itupun tertutup kembali dan tidak
kelihatan adanya bekas apa2. Barulah sekarang mereka maklum
bahwa asap dupa tadi kiranya dilepas dari lubang besar di atas atap
ini.
Ting Kiau mencak2 gusar: "Kunyuk itu berhasil lolos lagi."
Kongsun Siang menghela napas, katanya: "Alat rahasia yang
mengendalikan pendopo ini, kiranya tidak hanya begini saja:"
”Persetan dengan alat rahasia perangkap segala, memangnya
kita gentar menghadapinya," seru Ting Kiau marah2 .
Terdengar suara Ci Hwi-bing berkumandang: "Ling Kun-gi, tadi
kulepas asap dupa juga demi kebaikanmu, karena hanya jalan itulah
satu2nya, sehingga kau lemas tak mampu melawan dan terima
dibelenggu dan selanjutnya kau pasti akan bekerja bagi kami, tak
terkira perhitungan Lohu meleset, agaknya aku menilaimu terlalu
rendah."
Gusar tapi Kun-gi masih bisa tertawa, katanya: 'Ci Hwi-bing, sia2
kau menjadi Tongcu dari Hek-liong-hwe, yang kau andalkan hanya
alat rahasia dengan segala perangkap ini, kau bisa mengurungku di
sini, memangnya ulah apa pula yang bisa kau lakukan?". .
"Ling Kun gi," terdengar kereng suara Ci Hwi bing, "kau harus
tahu diri, kalian bertiga seumpama kura2 yang berada dalam
belanga, kalau Lohu betul2 mau merenggut nyawamu, segampang
membalik telapak tangan, cuma Lohu masih ingin memberi
kesempatan padamu, pikirkanlah dua kali lagi, menyerahlah saja
dan bekerja untuk Hek-liong-hwe kita, kutanggung masa depanmu
akan lebih cemerlang, tapi kalau kau tetap bandel, jangan kau
menyesal kalau Lohu t idak kenal kasihan "
Lantang tawa Kun-gi, katanya: "Ci-tongcu, kau mampu berbuat
apa, silakan lakukan saja, Cayhe tidak pernah mengerut kening
menghadapi kelicikanmu."
"Orang she Ling," hardik Ci Hwi-bing beringas, "dengan baik hati
Lohu memberi nasihat, tampaknya kau tidak bisa diinsafkan, sejak
kini Lohu memberi waktu semasakan air mendidih, pikirlah lagi
dengan baik, asal kau mau tunduk dan bekerja untuk Hek-lionghwe,
Lohu berani tanggung selama hidup kau tidak akan
kekurangan. .. . . ."
"Bangsat keladi," bentak Ting Kiau, "tutup bacotmu yang kotor,
kalau berani hayo buka pintu, tandangilah kami dengan kepandaian
aslimu."
Terdengar Ci Hwi-bing mendangus sekali, mendadak terdengar
suara keretekan, dari atap terjadi hujan anak panah yang tak
terhitung banyaknya, semuanya jatuh di lantai depan Ting Kiau,
ujung panah yang menyentuh lantai mengeluarkan suara ramai dan
memercikkan lelatu api.
Keruan Ting Kiau kaget, cepat dia melompat mundur. Panah
ternyata hanya berhamburan sekali, tapi jumlahnya ada puluhan
batang, kalau mengenai tubuhnya tentu dirinya sudah menjadi
landak. Agaknya musuh sengaja mau mendemonstrasikan kelihayan
alat rahasianya, buktinya Ci Hwi-bingpun tidak banyak ucap lagi.
Kongsun Siang mengerut kening, dia menghampiri Kun-gi,
katanya lirih: "Ling-heng, dari hujan panah barusan dapat ditebak
kalau alat2 rahasia semacam busur di atas sana tentu dikendalikan
orang sehingga panah bisa dibidikan ke segala jurusan, ke manupun
kita sembunyi tetap akan terbidik oleh panah musuh, berabe juga
bagi kita."
Kun-gi tertawa tawar, katanya: `Ucapanmu memang betul
Kongsun-heng, tapi soal ini gampang diatasi, pertama, asal kalian
tidak menyalakan api, dalam keadaan gelap gulita, mereka akan
kehilangan sasaran bidik. Kedua meja dan kursi yang terbuat dari
batu ini amat kuat dan tebal, bisa kita gunakan untuk berlindang,
persoalan yang lain biar kuhadapi sendiri"
'Tapi hujan panah itu sedemikian lebat dan rapat, bukan saja
daya bidiknya amat kuat dan kencang, mungkin dilumuri getah
beracun pula. Cong-coh . . . . '
"Tidak apa," Kun-gi menukas ucapan Ting Kiau, "aku punya akal
untuk menghadapinya, nanti kalau musuh menyerang, kalian harus
bisa mencari tempat berlindang dengan baik, soal diriku tak usah
kalian kuatir."
Dikala mereka bicara terdengar suara Ci Hwi-bing bergema pula:
"Ling kun gi, sudah kau pikirkan belum?"
Kun-gi memberi tanda kepada Kongsun Siang dan Ting Kiau,
nyala api segera dipadamkan, bergegas mereka menyelinap ke
bawah meja batu.
Dengan tertawa angkuh Kun-gi berkata: "Cayhe tidak perlu pikir
lagi."
Kereng dingin suara Ci Hwi-bing: "Kalian berada dalam kurungan,
inilah kesempatan terakhir, kalian tetap tidak mau menyerah, sekali
Lohu mem-beri aba2, kalian akan segera mampus tertembus
ratusan anak panah."
Kun-gi ter-gelak2, serunya: "Hanya panah memangnya dapat
menggertak dan menakut i aku? Ha-yolah lekas kau perintahkan
anak buahmu lepaskan panah untuk menggaruk badanku yang
sedang gatal ini."
Pada saat itulah kumandang suara seorang perempuan berkata:
"Ci tongcu, Hwecu ada perintah."
"Hamba terima petunjuk," terdengar Ci Hwi-bing menyahut
hormat.
Suara perempuan nyaring itu berkumandang pula: "Pengkhianat
Ling Kun-gi dari Pek-hoa-pang yang terkurung di dalam Bansiangthing,
kalau masih tetap melawan dan tidak mau menyerah, maka
Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing diberi kekuasaan penuh untuk
menjatuhkan hukuman mati."
"Hamba terima perintah!" seru Ci Hwi-bing pula.
Agaknya mereka bicara di lapia atas dari ru-angan di mana Ling
Kun-gi dikurung, mereka sengaja bicara keras. supaya didengar oleh
Kun-gi. maka pembicaraan mereka terdengar jelas dari sebelah
atas.
Kejap lain terdengarlah suara Ci Hwi-bing yang ketus dingin:
"Ling Kun-gi, kau sudah dengar bukan?" Nadanya mengancam,
maksudnya menekan Ling Kun-gi supaya menyerah saja.
"Memangnya kenapa kalau Cayhe sudah dengar?" jengek Kun-gi.
"Inilah kesempatan terakhir untukmu menolong jiwa sendiri,
Lohu akan menghitung sampai tiga, kalau kau tetap keras kepala,
Lohu akan perintahkan membidikmu."
Ting Kiau tertawa besar, serunbya: "Umpama kaud menghitung
sampai tiga ratus atau tiga ribu, jangan harap kami sudi menyerah."
Ci Hwi-bing tidak hiraukan ocehan Ting Kiau, mulutnya mulai
menghitung: "Satu . . . . dua . . . . tiga . . . . " seiring dengan
hitungan ketiga, dari pojok atap sana melorot turun selarik sinar
lam-pu yang terang benderang, langsung menyoroti tubuh Ling
Kun-gi diusul suara bunyi jepretan, sebaria anak panah dibidikkan
tiga kaki di depan Ling Kun-gi.
Jelas ini bersifat mengancam, umpama betul2 mau merenggut
jiwa orang, tentu sudah langsung dibidikkan ke tubuhnya.
Sambil menggendang tangan Kun-gi mendongak tertawa lantang,
katanya: "Barisan panah Ci-tongcu ini paling manjur untuk
membidik sebangsa rusa, kalau untuk main kayu dihadapanku,
kukira terlalu menggelikan." Lenyap suaranya mendadak kedua
tangannya terangkat, lengan bajunya yang lebar tahu2 mengebut
ke depan.
Yang digunakan ini adalah gerakan Kiankunci (lengan baju sapu
jagat) ciptaan Hoanjiu-ji-lay. nampak kedua lengan bajunya yang
lebar itu mengembang bagai layar, barisan panah musuh yang
dibidikkan dengan daya keras dan kencang itu belum lagi
menyentuh lantai tahu2 sama terpental berserakan seperti daun
pohon kering yang digulung angin lesus, langsung terbang keluar
pekarangan.
Jelas Ling Kun-gi juga sengaja mau pamer kepandaiannya
dihadapan Ci Hwi-bing.
Sekali jari tengah tangan kiri menjentik, sebuah duri bengkok
seketika melesat dengan suara deru kencang menerjang lampu kaca
yang menyorot turun dari atas atap. Maka terdengar suara "prang"
yang keras, kaca pecah apipun seketika padam, ruang pendopo
kembali menjadi gelap gulita.
Sembunyi di atap sana sudah tentu Ci Hwi-bing melihat jelas
keadaan dalam ruang pendopo, tanpa terasa giginya gemeratak
gemas, desianya: "Kalau orang ini tidak dilenyapkan, kelak pasti
menjadi bibit bencana bagi kita semua, hayo siapkan panah, bunuh
dia." ia betul2 memberi perintah.
Satu lampu kaca sudah pecah dirusak oleh Kun-gi, tapi
mendadak menyorot lagi tiga lampu yang lain, ketiganya sama2
menyorotkan sinar yang terang menyilaukan mata, secara bersilang
dari tiga jurusan menyoroti pendopo. Maka suara jepretan panah
menjadi ramai, hujan panah sama berjatuhan dari tiga arah yang
berlawanan, lebih hebat lagi di antara samberan anak panah itu
tercampur pula berbagai macam senjata rahasia, seperti paku
berbentuk duri cemara, jarum2 terbang yang lembut semuanya
berwarna hitam, terang berlumuran getah beracun yang jahat dan
mematikan.
Hujan panah dan senjata rahasia sungguh lebat dan berseliweran
dengan suaranya yang mendenging, Sementara Kongsun Siang dan
Ting Kiau yang sembunyi di bawah meja batu masih tetap
memegang senjata untuk menyampuk panah dan senjata rahasia
yang mengincar mereka.
Dari desiran angin yang berseliweran itu Kun-gi dapat
membedakan sedikitnya ada lima macam senjata rahasia yang
bentuknya kecil dan ringan bobotnya, karena diseling di tengah
samberan panah yang berdaya kencang, orang tidak akan berjaga
dan menyangka untuk menyampuk dan merontokkannya, diam2 ia
kaget juga.
Ruang pendopo ini memang dipasang segala macam perangkap
yang serba lengkap, kalau orang lain tentu sejak tadi jiwa melayang
dan tubuh hancur luluh. Walau Kun-gi meyakinkan ilmu pelindung
badan, betapapun ia tak berani pandang enteng senjata rahasia
yang berbobot ringan, apalagi ada kalanya dia harus memperhatikan
keselamatan Kongsun Siang dan Ting Kiau.
Kejadian sebetulnya teramat cepat, baru saja panah dan senjata
rahasia musuh berhamburan, tangan kanan Kun-gi sudah melolos
pedang pendek dan dipindah ke tangan kiri, begitu tangan kanan
terangkat, Ih thiankiam juga dikeluarkannya. Begitu dua pedang
pusaka panjang-pendek keluar dari sarungnya, cahaya yang kemilau
menjadikan pendopo ini bertambah terang, hawa dinginpun terasa
menyayat badan.
Tanpa ayal Kun-gi ayun tangan kirinya, cahaya pedangnya yang
gemilapan segera membungkus sekujur badannya, sementara Ihthiankiam
ditangan kanan menggaris lurus miring mengeluarkan
sinar perak ber-lapis2 membantu Kongsun Siang dan Ting Kiau
merontokan senjata rahasia.
Suara jepretan masih terus berlangsung, maka kedua pedang
pusaka di tangan Lingkun-gi pun bekerja semakin cepat dan
tangkas, sinar pedang hijau kemilau dilingkari sinar perak tampak
indah mempesona, dengan menarikan kedua pedangnya, betapapun
lebat hujan anak panah dan senjata rahasia dapat dirontokkan.
Padahal sorot lampu sedemikian terang benderang, tapi
bayangan Kun-gi sendiri seakan telah lenyap, hanya cahaya pedang
dan kesiur anginnya yang menderu, hawa pedang seolah2 sudah
memenuhi seluruh ruang pendopo, panah dan senjata rahasia yang
tersentuh oleh cahaya kemilau itu kontan terpental terbang dan
tersampuk rontok berserakan di lantai.
Begitu bernafsu Ling Kun-gi menarikan kedua pedangnya,
mendadak mulutnya berpekik keras mengalun tinggi bagai pekik
naga dan seperti singa mengaum, tiba2 badannya melejit ke atas,
bagai bianglala Ih-thiankiam memantulkan tiga bint ik sinar dingin
melesat ke atas atap, ke arah lubang2 di mana anak panah dan
senjata rahasia di hamburkan.
Panah dan senjata rahasia itu semua dibidikkan dengan berbagai
alat rahasia yang serba lengkap, Ih-thiankiam merupakan pedang
pusaka yang dapat memotong besi seperti mengiris tahu, sekali Ihthian
khiam bekerja, bukan saja segala alat rahasia yang menjadi
sasaran dapat dirusakkan, di tengah keramaian gemeretaknya alat2
yang berantakan itu diseling pula jerit kaget orang2 yang
mengendalikan alat2 rahasia itu. Jelas bahwa para pengendali alat
rahasia itupun banyak yang terluka.
Begitu melayang turun pula ke lantai langsung Kun-gi pindah
pedang pandak ke tangan kanan, sekali jongkok dia raih tiga batang
patahan panah terus diayun ke atas, tiga bintik hitam seketika
meluncur ketiga sasaran. "Prang", Iampu2 kaca di atas atap
seketika tertimpuk padam.
Semua kejadian berlangsung amat cepat. setelah alat rahasia
musuh berhasil dirusak dengan sendirinya hujan panah dan senjata
rahasiapun berhenti, begitu lampu kaca padam pula, kembali
kegelapan meliputi ruang pendopo.
Menyaksikan betapa gagah dan perkasa Ling Kun-gi barusan,
Ting Kiau sampai melelet lidah, katanya kejut2 girang: "Cong-coh,
pertunjukanmu sungguh amat mengagumkan."
Kongsun Siang merangkak keluar serta berdiri, katanya sambil
menghela napas: "Setelah kejadian malam ini baru aku sadar bahwa
apa yang kupelajari selama ini dibanding Ling-heng sungguh seperti
kunang2 dibanding rembulan, bagai langit dan bumi perbedaannya."
Kun-gi simpan kedua pedangnya. katanya tawar: "Kongsun-heng
terlalu mengumpak, aku hanya mengandal ketajaman kedua pedang
pusaka ini, secara untung2an menerjang bahaya"
Ting Kiau ber-kaok2: "Tua bangka she Ci, kau masih punya ulah
apa lagi, hayo tunjukkan kepada tuan2 besarmu.?"
Suasana di atas hening lelap tak terdengar suara orang, agaknya
Ci Hwi-bing sudah tiada di sana. Dua kali musuh tidak berhasil
menumpas perlawanan mereka meski sudah terkurung di dalam
kamar, sudah tentu timbul rasa jera dan waspada Ci Hwi-bing, maka
dalam waktu dekat ini terang dia tidak akan beraksi lagi. Maka
keadaan sama bertahan pada sikap masing2, Ling Kun-gi bertiga
pantang menyerah walau terkurung di dalampendopo.
Kini pendopo itupun diliput i ketenangan, akhirnya kesunyian
terasa mencekam Ling Kun-gi, Kong-sun Siang dan Ting Kiau
maklum, keadaan tenang ini merupakan permulaan dari suatu
gempuran musuh yang akan lebih hebat lagi, entah rencana apa
pula yang tengah dirancang.
Setelah sekian lama menunggu sambil berdiam diri, akhirnya
Kongsun Siang melompat berdiri, katanya lirih: "Bukan cara baik
kalau cuma berpeluk tangan terima dikurung begini saja, kita harus
berdaya untuk menerjang keluar."
"Memangnya perlu dikatakan lagi?" timbrung Ting Kiau. "Soalnya
pintu batu tadi sudah tertutup, kau mampu membukanya?"
Mendadak tergerak hati Kongsun Siang, pikirnya: "Pintu batu
memang sudah tertutup, tapi patung batu berbentuk manusia besar
itu masih berada di tempatnya tak pernah bergerak lagi, bukankah
di situ letak kunci rahasianya?" Karena pikirannya ini, cepat dia
keluarkan ketikan dan manyalakan api, katanya lirih: "Ling-heng,
coba pinjam Ih-thiankiam-mu sebentar."
"Kongsun heng mendapat akal apa?" tamya Kun-gi, dan serahkan
Ih-thiankiam.
Menerima pedang pusaka itu, Kongsun Sang berkata dengan
suara tertahan: "Kupikir kalau pintu batu itu dikendalikan alat
rahasia, asal kita dapat menemukan letak atau bekasnya, alat
rahasia yang mengendalikan itu kita rusak pula, dengan kesaktian
kekuatan Ling-heng pasti dapat membukanya."
"Kongsun-heng dapat menemukan letak pintu batu itu?" tanya
Ting Kiau.
Kongsun Siang tertawa, katanya: "Orang2an batu itu keluar dari
balik pintu, kini masih tetap di tempatnya tak pernah bergeser, cara
bagaimana patung batu ini bisa masuk kemari? Tentu dikendalikan
alat rahasia pula, dan alat kendalinya tentu berada di bawah
kakinya, asal kita bisa merobohkan patung ini, rasanya akan
menemukan alat rahasianya pula?"
Ting Kiau keplok kegirangan, serunya: "Akal Kongsun-heng
memang bagus, Hayolah, kita coba"'
Kongsun Siang menyalakan api, bersama Ting Kiau mereka
memeriksa patung batu itu dengan teliti. Kongsun Siang tubleskan
Ih-thiankiam kelantai, lalu memberi tanda gerakan tangan kepada
Ting Kiau, mereka mengerahkan tenaga mendorong bersama dari
kanan-kiri. Betapa besar kekuatan gabungan kedua orang
sebetulnya bukan soal sulit untuk merobohkan patung batu itu. Tapi
mengingat di bawah patung batu ini ada dikendalikan alat rahasia,
maka untuk menggesernya terang tidak mudah.
Tak nyana setelah keduanya kerahkan tenaga mendorong
berulang kali, meski mulut ber-kaok2 dan napas ter-sengal2, patung
batu itu tetap tidak bergeming. Tapi Kongsun Siang dan Ting Kiau
masih tidak putus asa, mereka masih terus berusaha mendorong
patung itu.
Sampai muka merah padam, akhirnya mereka sendiri yang
kehabisan tenaga, tapi patung itu tetap tak tergeser sedikitpun.
"Kalian berhenti saja," akhirnya Kun-gi bersuara, "biar aku
mencobanya." Lalu dia menyingsing lengan baju dan menghampiri.
Setelah menarik napas Ting Kiau mundur dua langkah dan
mengamati patung di depannya, tiba2 timbul sesuatur pikirannya,
dia goyang tangan dan berkata: "Cong-coh, aku ingat akan suatu
hal."
"Kau ingat apa, Ting-heng?" tanya Kun-gi.
"Patung ini baru menerjang masuk dikala Cong-coh menubruk ke
arah pintu tadi sehingga Cong-coh teralang karenanya, pintupun
segera menutup pula, begitu bukan?"
"Ya, memang begitu," jawab Kun-gi.
Kata Ting Kiau lebih lanjut: "Itu berati alat rahasia mendorong
patung ini masuk kemari, maka pintupun tertutup, sebaliknya kalau
pintu terbuka lagi, maka patung akan mundur keluar, maka kalau
kita ganti cara merobohkanya menjadi mendorongnya mundur,
pintu pasti akan terbuka dengan sendirinya."
Kun-gi manggut2, katanya: "Ya, masuk akal alat rahasia yang
mengendalikan pintu dan patung batu ini tentu berkaitan, kalau
patung ini kita dorong keluar, pintu akan terbuka. Nah, marilah kita
coba" kedua tangannya menahan perut patung batu. Dari samping
Kongsun Siang dan Ting Kiau ikut membantu, di bawah aba2 Ling
Kun-gi mereka bertiga mulai mendorong.
Kun-gi kerahkan Kim-kong-sinhoat, ditambah lagi kekuatan
Kongsun Siang dan Ting Kiau, maka dapatlah dibayangkan betapa
hebat kekuatan dorongan ini?
Betul juga dari kaki patung batu segera terdengar suara
kretekan, demikian pula dari bawah dinding di pojok sana juga
berbunyi gemeratak. Walau patung ini terkendali oleh alat rahasia,
toh tak kuat menahan daya dorongan yang hebat ini dan lambat
laun mulai tergeser mundur. Begitu patung terdorong mundur, betul
juga dinding di depan sana juga tergeser mundur sehingga terbuka
sedikit celah2. Melihat akal dan usaha mereka berhasil, tambah
semangat Kun-gi bertiga mendorongnya.
Semakin patung terdorong mundur, semakin lebar pula celah2
dinding yang terbuka, kini mereka tidak perlu banyak membuang
tenaga lagi untuk mendorong patung, karena tahu2 patung itu
sudah mundur sendiri ke balik pintu serta menyingkir ke samping.
Melihat pintu sudah terbuka lebar, baru saja Kun-gi hendak
melangkah keluar, mendadak dirasakannya segulung tenaga
menyongsong dirinya, yang diincar adalah dadanya.
Untung sejak tadi Kun-gi sudah siaga akan sergapan musuh dari
tempat gelap. Karena bagi seorang yang membekal Lwekang tinggi,
umpama matanya dapat melihat di kegelapan, tapi toh dia perlu
sedikit sinar bintang di langit baru bisa melihat sesuatu benda dalam
jarak tertentu, kalau di dalam perut gunung yang gelap gulita ini
kemampuan matapun takkan berguna juga.
Di waktu mendorong patung, api sudah mereka padamkan, kini
pintu sudah terbuka, kedua belah pihak sama2 tidak melihat
bayangan lawan. Lwekang Kun-gi amat tinggi, cepat sekali dia bisa
membedakan arah bahwa si penyerang tepat berdiri di tengah pintu,
serta merta iapun angkat tangan kirinya. "Plak", begitu serangan
balasan dia lancarkan mendadak terasa pukulan lawan sedemikian
kuat, dalam hati Kun-gi membatin: "Jago silat Hwi-liong-tong
memang banyak dan lihay."
Begitu dua jalur pukulan saling berhantam seketika menimbulkan
pusaran angin kencang yang menderu keras, tanpa kuasa Kun-gi
tergetar mundur setapak.
Pada saat itu pula, didengarnya seorang menjengek, sejalur
angin pukulan yang tidak kalah hebatnya mendadak menerjang
masuk pula dari luar pintu.
Keruan Kun-gi naik pitam, serunya sambil tertawa lantang:
"Serangan bagus!" Kini dia balas mendorong dengan tangan kanan.
Terasa pukulan musuh ini ternyata tidak lebih lemah dari pukulan
pertama, tapi Kun-gi kali ini sudah mengerahkan 10 bagian
tenaganya, sehingga tidak tergentak mundur,
Dua kali saling hantam dengan musuh, tapi Kun-gi belum juga
tahu dan bisa melihat jelas siapa sebetulnya kedua lawannya, baru
saja dia hendak merogoh keluar mutiaranya, mendadak api berpijar,
ternyata Ting Kiau sudah menyalakan sebatang obor yang terbuat
dari rotan, dari luar pintu berbareng juga menyala dua lampu kaca
yang menyorot masuk ke pendopo. Tampak dua orang tua berbaju
hijau tengah beranjak masuk..
Kedua orang tua berbaju hijau sudah sama2 ubanan rambutnya,
usianya sudah di atas setengah abad. Yang di depan berbadan
tinggi kurus, matanya tajam mengawasi Ling Kun-gi sambil mengulum
senyum sinis, katanya: "Kau dapat menyambut pukulan kami
berdua, kau memang tidak malu sebagai murid Hoanjiu-ji-lay".
Kakek berperawakan sedang di belakangnya segera
menyambung: "Di luar sini terlalu sempit, kalau mau bergebrak
hayolah masuk saja, bila kau mau keluar dari sini, kau harus dapat
mengalahkan kami tua bangka ini."
Bahwa orang sudah melangkah masuk, maka Kun-gi mundur
beberapa langkah, katanya dingin: "Kalian ingin bergebrak dengan
Cayhe, boleh silakan saja."
Ternyata hanya dua kakek ini saja yang masuk, bayangan orang
lain tidak kelihatan, tapi di tempat gelap di luar sana jelas ada orang
sembunyi yang siap menyergap.
Kakek tinggi kurus angkat sebelah tangan di depan dada, ia
menoleh kepada kakek berperawakan sedang, agaknya dia memberi
tanda bahwa mereka harus bersiap untuk turun tangan bersama,
sekali serang bunuh Ling Kun-gi dan habis perkara, selanjutnya
membereskan Ting Kiau dan Kongsun Siang.
Dengan gagah dan tabah Kun-gi tetap berdiri di tempatnya,
katanya sambil berpaling: "Kongsun-heng, Ting-heng, silakan
mundur agak jauh."
Kakek kurus tertawa ter-kekeh2, katanya: "Ya, kalian harus
menyingkir yang jauh supaya tidak tersapu roboh oleh angin
pukulan Lohu "
"Wut", mendadak tangan di depan dadanya terus menyodok.
Agaknya tenaga sudah terkerahkan sejak tadi, maka tenaga
pukulannya ini sungguh amat keras karena dilandasi kekuatan
Lwekang hasil latihan selama puluhan tahun. Kakek berperawakan
sedang tanpa bersuara berbareng iapun angkat sebelah tangannya
mengggempur punggung Kun-gi.
Kongsun Siang melompat maju sambil mencabut Ih thian kiam
yang tertancap di lantai, ejeknya: "Sudah sekian tahun lamanya Losunsiang-
koay angkat namanya, tak nyana cara bertempurnya juga
main keroyok dan curang."
Begitu melancarkan pukulannya, si kakek berperawakan sedang
segera menoleh ke arah Kongsun Siang, serunya: "Kalau begitu
marilah kau maju sekalian." Dengan jurus Hing-lanjianli (pagar
melintang ribuan li ), tangan kirinya segera menepuk lurus ke arah
Kongsun Siang.
Kun-gi tidak tahu siapa kedua lawannya ini. Tapi setelah
mengadu pukulan, dia tahu bahwa Lwekang kedua kakek amat
tinggi, melihat lawan menggempurnya bersama, serta merta dia tergelak2,
dua tangan bekerja sekaligus, ke depan dia menangkis
kakek kurus ke belakang dia menolak gempuran si kakek sedang,
katanya: "Kongsun-heng mundurlah kau, aku sendiri cukup
menandingi mereka."
Sebetulnya Kongsun Siang sudah kerahkan Lwekang untuk
menyambut pukulan kakek sedang, dengan kekerasan serta
mendengar seruan Ling Kun-gi, terpaksa dia bergerak menubruk
miring seperti serigala mengegos dan menyingkir ke samping.
Lo-sanji-koay mengira betapapun tangguhnya Ling Kun-gi,
karena usianya masih terlalu muda, pasti takkan kuat menandingi
gempuran mereka berdua.
Tak terduga dua jalur kekuatan hebat lantas menggencet dari
depan dan belakang. Mendadak segulung kekuatan lunak yang tidak
kelihatan timbul dari badan Ling Kun-gi, sekaligus gempuran
dahsyat mereka sirna, malah sisa tenaga sendiri berbalik
menggempur diri sendiri. Keruan tersirap darah ke dua kakek ini.
Kata si kurus tinggi sanbil menatap Kun-gi: "Pada jaman ini,
tokoh2 kosen yang mampu menandingi gempuran gabungan kami
berdua bisa dihitung dengan jari, engkoh kecil ini barusan
menggunakan ilmu apa, ternyata tetap segar bugar menghadapi
gempuran kami?"
Sejak mendengar nama kedua orang tua adalah Lo-sanji-koay,
maka Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini memang merupakan
pentolan lihay di kalangan hitam, kalau malam ini jika dia tidak
kalahkan kedua musuh ini, dirinya bertiga pasti takkan bisa
menerjang keluar. Maka dengan sikap sinis diar balas tatap si kakek
kurus, katanya: "Ilmu silat di kolong langit ini masing2 mempunyai
keistimewaan dan keunggulannya sendiri2, umpama Cayhe
menjelaskan, memangnya kalian berdua mengetahui?.”
Kakek kurus menarik muka, hardiknya bengis: "Anak ingusan
yang masih berbau pupuk, bicaramu begini takabur!" Tangan kanan
terulur, kelima jari tangan bagai cakar baja tahu2 mencengkeram ke
dada. Jurus Kim-hau-tam-jiau ( harimau kumbang mencakar )
dilancarkan secepat kilat, kelima jari masing2 mengincar lima Hiat-to
di tubuh Ling Kun-gi.
Sejak tadi Kun-gi sudah waspada dan ber-siap2, sekali tubuhnya
berkisar berbareng tangan ka-nan menabas miring, di tengah jalan
dia balas menyerang, kelima jarinya setengah tertekuk terus
menangkap pergelangan tangan lawan yang menyerang dadanya.
Kim-liong-jiu yang dilancarkan inipun tak kalah cepat dan lihaynya,
dengan badan berputar ini, disamping berkelit sekaligus dia balas
menyerang.
Kakek sedang mengira dirinya memperoleh peluang, sekali
berkelebat dia menyelinap ke depan kiri Ling Kun-gi, telapak
tangannya terus menabas miring membelah pinggang Ling Kun-gi.
Begitu tangan mencengkeram dada lawan, si kakek kurus
merasakan juga Kun-gi melancarkan serangan yang sama dengan
memegang pergelangan tangannya, malah serangan lawan pakai
mengunci gerakannya, keruan ia kaget, lekas dia tarik tangan
kanan, berbareng tangan kiri mendorong keluar.
Dengan sendirinya cengkeraman balasan Kun-gi juga lantas
mengenai tempat kosong, tahu2 dirasakan si kakek sedang
membelah piggangnya, ia jadi gusar karena lawan main licik,
dengan tertawa ejek dia ayun tangan kiri menepuk ke arah lawan,
Pada saat itu si kurus t inggi juga mendorong telapak tangan kiri,
tanpa pikir tangan kanan Kun-gi bergerak juga menyongsong ke
depan.
"Plak, plok," dua pukulan dari depan dan belakang sekaligus dia
sambut dengan tepat, suaranya keras seperti ledakan, sampai
telinga Kongsun Siang berdua serasa pekak dan jantung berdetak.
Sebagai murid didik Hoanjiu-ji-lay si kidal, maka Ling Kun-gi pun
sudah biasa menggunakan tangan kiri, apalagi dia menjadi gusar
menghadapi dua kali pembokongan kakek sedang, maka serangannya
justeru dia titik beratkan pada telapak tangan kiri. Hoan jiu
hud-hun (mengebut mega dengan terbalik) yang dilancarkan ini
semula tidak menimbulkan gelombang angin pukulan, tapi begitu
kedua pukulan masing2 saling gempur, baru timbul segulung tenaga
dahsyat dari telapak tangannya.
Setelah si kakek sedang menyadari betapa dahsyat tenaga
pukulan lawan , yang bisa menggetar hancur urat nadi sekujur
badannya, untuk mundur sudah tidak mungkin lagi, terpaksa dia
menyambut secara kekerasan, seketika dia rasakan isi perutnya
jungkir balik, darah bergolak di rongga dada. Lahirnya memang
tidak kelihatan perubahan dirinya, tapi urat nadi tergetar, darah
mengalir balik, tersipu2 dia melompat mundur, mencari peluang
untuk mengerahkan hawa murni menenteramkan gejolak darahnya.
Melihat Ling Kun gi sanggup sama kuat menandingi pukulan
kerasnya, si kakek kurus semakin murka, sambil menggertak dia
mendesak maju terus menggenjot dan menjotos secara berantai.
Karena rangsakan sengit dan gencar ini, yang kelihatan hanya
bayangan pukulan tangan, dalam sekejap beruntun dia telah
lancarkan 12 kali pukulan. Bukan saja serangannya secepat kilat dan
sederas hujan badai, malah kekuatan pukulannyapun rasanya dapat
menghancurkan tembok besi, deru angin yang kencang sungguh
mengejutkan sekali.
Seluruh tubuh Ling Kun-gi terbungkus dalam bayangan pukulan
lawan, sehingga dia terdesak mundur dua langkah, kedua tangan
bergerak menyilang, menangkis dan menyampuk, dalam 12 pukulan
gencar lawan, dia menyambut empat kali dengan keras, sehingga
rangsakan gencar lawan dapat ditandingi.
Dengan Cap-ji-lianhoanciang (atau ilmu pukulan berantai
duabelas kali) yang lihay ini, menurut dugaan si kakek kurus semula
Ling Kun-gi pasti dapat dipukulnya roboh binasa atau terluka parah.
Tak tahunya Ling Kun-gi juga gunakan kedua tangannya secara
kekerasan dia sambut serangannya, beruntun adu empat kali
pukulan, delapan pukulan yang lain kena ditangkis dan dipunahkan.
Keruan semakin besar rasa kagetnya, batinnya: "Dia masih begini
muda, bagaimana mungkin membekal Kungfu setinggi ini."
Dalam dua belas pukulan tadi Kun-gi mengadu empat kali
pukulan secara keras, mendadak bayangan kedua orang berpisah,
keduanya sama2 tersurut mundur dua langkah.
Mata si kakek sedang mendelik, bentaknya. "Bocah ini tidak
boleh diampuni." Mendadak dia menerjang maju, kedua tangan
bergerak mencecar Kun-gi dengan telapak tangan, kepalan dan
tendangan yang lihay.
Karena dicecar bergantian oleh kedua lawannya, sudah tentu
Kun-gi gemas, serunya tertawa: "Kalian maju bersama, orang she
Ling tetap dapat mengalahkan kalian." Di tengah kumandang
suaranya, permainan pukulannya mendadak berubah gencar keras
dan ganas, telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanan
menyerang secara bersilang.
Lo-sansiang-koay termasuk jago kosen kelas wahid dari golongan
hitam, setelah beberapa gebrak menghadapi perlawanan Ling Kungi,
dalam hati mereka maklum kalau cuma mengandal kekuatan
seorang diri untuk merobohkan Ling Kun-gi, jelas tidak mungkin,
apalagi sebelum masuk tadi mereka memang berniat menamatkan
jiwa Kun-gi dengan mengeroyoknya, maka setelah mendengar
seruan saudarannya tadi, si kakek kurus tinggi segera ter-bahak2,
katanya: "Anak muda, syukurlah kau mampu menandingi kami."
Sekali berkelebat, tahu2 ia sudah menubruk maju. "Wut, wut", dua
kali puku-lan langsung dia menghantam dengan dahsyat.
Pukulan telapakan dan kepalan Ling Kun-gi dimainkan dengan
berbagai variasi sehingga kakek perawakan sedang kena di
desaknya mundur, sigap sekali dia membalik badan, kedua telapak
tangan terangkap lalu didorong lurus menggempur dada si kakek
tinggi kurus, pukulan dengan kedua tangan ini sungguh bagai gugur
gunung dahsyatnya, angin pukulannya menggulung ke depan
menerjang si kakek kurus tinggi.
Entah betapa banyak jago2 kosen yang pernah dihadapi si kakek
kurus, tapi belum pernah dia saksikan apalagi menghadapi pukulan
sedahsyat yang dilancarkan Ling Kun-gi ini, Dia sudah maklum
bahwa lawannya yang masih muda ini memang ber-kepandaian
tinggi, tapi tak terbayang olehnya bahwa Kungfu Ling Kun-gi
ternyata jauh diluar perhitungannya. Kalau dirinya baru melawan
secara keras gempuran Lwekang yang dahsyat ini, maka yang kuat
akan menang dan yang lemah pasti binasa seketika. sudah tentu si
kakek kurus tidak mau mempertaruhkan jiwanya, cepat dia menarik
napas mengerahkan hawa murni, mendadak ia melejit ke udara
menghindari sambaran angin pukulan Ling Kun-gi.
Dalam pada itu si kakek perawakan sedang yang didesak mundur
oleh Kun-gi, melihat anak muda itu mendorong lurus dengan kedua
tangannya, tenaga pukulannya ternyata sedemikian dahsyat dan
jiwa saudaranya terancam. Tanpa peduli saudaranya itu akan
berkelit atau melawan dengan keras, dalam sekejap ini jelas Ling
Kun-gi tak sempat menghadapi serangan dirinya. Maka hatinya
senang sekali, tanpa bersuara segera dia menerjang maju, telapak
tangannya kembali menggempur punggung Kun-gi.
Tak tahunya si kakek kurus t inggi ternyata tidak berani melawan
secara keras dan melambungkan tubuhnya ke udara, karena
serangannya luput, dengan cepat tubuh Ling Kun-gi mendadak
berputar balik, tenaga pukulan kedua tangannya ikut dia tarik terus
menghantam kesamping.
Tindakan Ling Kun-gi ini sungguh di luar dugaan si kakek
berperawakan sedang, malah tenaga pukulan yang menyapu tiba
cepatnya luar biasa, untuk berkelit jelas tidak sempat lagi, terpaksa
dla kerahkan setaker Lwekangnya dengan kedua telapak tangan
melindungi dada, secara keras dia sambut serangan lawan.
"Bluk", di tengah benturan keras itu badan si kakek perawakan
sedang tampak terpental jauh tersapu oleh pukulan Ling Kun-gi,
setelah terbanting jatuh badannya masih ter-guling2 pula, sesaat
lamanya tak mampu berdiri, agaknya lukanya tak ringan. Kejadian
berlangsung secepat percikan api, sementara itu si kakek kurus
yang melambung ke udara berhasil lolos dari gempuran Ling Kun-gi,
dari atas dengan jelas dia saksikan saudaranya tersapu jatuh oleh
Kun-gi. Padahal dirinyar sedang melambutng tinggi, makaq dia
kembangkanr kedua lengan baju dan melayang turun kira2
setombak jauhnya, nafsu membunuhnya segera berkobar, ia
menubruk maju pula, dengan jurus Thay-san-ting (gunung Thay-san
menindih kepala), segera ia kepruk batok kepala Ling Kun gi.
Kun-gi tahu Lo-sanji-koay yang dihadapinya ini memiliki Kungfu
tinggi, ia menjadi tidak sabar lagi, segera ia melancarkan Mo-ni-in
yang sakti. Ia pikir kalau musuh tidak dirobohkan, malam ini sukar
bagi mereka bertiga untuk meloloskan diri dari sarang musuh, maka
Kun-gi tidak kepalang tanggung melancarkan ilmu sakt i
simpanannya ini.
Mo-ni-in tidak menimbulkan damparan angin kencang, tidak
menimbulkan gelombang kekuatan besar, gerakannya seperti orang
bergaya saja meluruskan telapak tangan ke atas, tapi justeru di
sinilah letak intisari ilmu sakti aliran Hud yang tiada taranya, yaitu
Tat-mo-ciang-hoat.
Si Kakek kurus mendadak merasakan telapak tangan Ling Kun-gi
yang menyanggah ke atas menimbulkan tekanan yang kuat
sehingga pukulan dirinya kena disanggah dan ditolak pula ke atas,
ba-dannya yang menubruk maju tahu2 seperti terapung ke udara.
Kejap lain terasa pula tenaga pukulan yang dia kerahkan tahu sirna
tak keruan paran oleh getaran membalik dari kekuatan lunak di
bawah, hawa murni tubuhnya serta merta ikut buyar pula, sampai
bernapaspun terasa sesak. "Bluk", kejap lain badannya telah
terbanting di lantai, malahan sebelum badannya jatuh nyawapun
telah melayang.
Dalam pada itu kakek berperawakan sedang juga sudah terluka
parah, melihat saudaranya jatuh tak mampu bangun berdiri,
kagetnya bukan kepalang, lekas dia merangkak bangun dan
berteriak kaget: "Lotoa, kau . . . . . " setelah memburu ke samping
saudaranya baru dilihatnya kedua tangan saudaranya menekan
dada, biji matanya melotot, darah hitam meleleh dari ujung
mulutnya. Kiranya sudah mati karena urat nadi tergetar pecah.
Luluh perasaan kakek berperawakan sedang, air mata
bercucuran, tiba2 dia membalik dan melotot pada Ling Kun-gi,
desisnya sambil menggertak gigi: "Bocah keparat, keji amat kau
membunuhnya."
Kun-gi menyeringai dingin, jengeknya: "Kenapa kau menyalahkan
aku, kalau tadi aku yang terpukul kalian, bukankah aku yang binasa
sekarang?"
Tanpa bersuara lagi, kakek berperawakan sedang memanggul
jenazah saudaranya terus melangkah keluar tanpa berpaling lagi.
Lampu kacapun seketika padam, pendopo kembali menjadi sunyi
dan gelap gulita,
Pada kegelapan itulah dinding sebelah barat terdengar berbunyi
kertekan, agaknya terbuka sebuah pintu. Sementara Kongsun Siang
telah serahkan Ih-thian kiam kepada Kun-gi, katanya lirih: "Biar
kulihat ke sana."
"Hadapilah segala kemungkinan dengan hati2," pesan Kun-gi.
Seperti lazimnya serigala yang menubruk mangsanya, mendadak
Kongsun Siang menubruk masuk dengan lompatan dua kali, dikala
badannya hampir mencapai dinding sebelah barat, mendadak "sretstet"
dua kali jalur samberan angin. seperti ada dua orang
menerjang masuk, Kongsun Siang mahir mendengarkan suara,
"cret" kontan pedangnya menusuk.
Dua orang yang melompat masuk kedalam ruang pendopo
ternyata memiliki kepandaian tinggi, dalam kegelapan iapun
ayunkan pedangnya. "Trang", sekali gerak ia sampuk pedang
Kongsun Siang. Malah temannya yang lain tidak ayal pula,
pedangnya menderu menggaris ke tubuh Kongsun Siang.
Tatkala musuh yang pertama menyampuk pedangnya, sementara
tubuh Kongsun Siang sudah melangkah ke samping depan sehingga
babatan pedang orang kedua mengenai tempat kosong.
Bergebrak di tempat gelap hanya mengutama-makan ketajaman
pendengaran dan kelincahan, karena kedua musuh sama2
melancarkan serangan pedang, walau Kun-gi masih dalam jarak
enam tombak jauhnya, tapi segala gerak gerik musuh dapat
diikutinya dengan jelas.
Waktu terjaring oleh jala berduri tadi lengan baju dan pundak
Kun-gi masih ketinggalan puluhan duri bergantol, selamanya dia
tidak pernah menggunakan senjata rahasia, tapi mengingat tujuan
kali ini masuk ke sarang harimau, kalau hanya dengan bersenjata
pedang saja lawan yang berjarak jauh takkan mampu dicapainya,
maka dia sengaja membiarkan saja duri2 itu tetap bergantung di
badannya, siapa tahu nanti berguna pada saat genting. Kini setelah
dia mendengar posisi kedua lawan Kongsun Siang, segera dia
jemput dua duri dan beruntun dia menyentik dua kali.
Muka terdengarlah suara jeritan kaget, agaknya seorang tidak
siaga dan kena jentikan duri itu tapi seorang yang lain cukup cerdik,
"tring", dengan sigap dia pukul jatuh duri yang menyerangnya.
Diam2 Kun-gi terkejut, pikirnya: "Ilmu pedang orang ini ternyata
amat lihay."
Di kala dia berpikir inilah dari arah timur kembali terdengar suara
deru angin, ada orang melompat masuk pula. Ting Kiau yang
berjaga di samping sana lantas menghardik: "Kena!"
Kipasnya seketika bergerak mengetuk pundak kanan pendatang
itu. Tapi orang itu sempat angkat pedangnya menangkis kipas
lempit Ting Kiau.
"Bagus," seru Ting Kiau, beruntun kipasnya menyerang pula
empat jurus.
Lawan tetap tidak bersuara, di bawah rangsangan gencar Ting
Kiau dia hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya, pedang
panjangnya menyampuk pergi datang memunahkan seluruh
serangan kipas lawan. Maka berulang kali terdengar suara berdering
benturan kedua senjata, empat jurus serangan Ting Kiau dapat
dipatahkan seluruhnya oleh orang itu.
Dikala pertempuran berlangsung semakin sengit, terdengar
kesiur angin pula, beruntun masuk lagi dua orang menduduki posisi
di sebelah timur. Sementara dari pintu sebelah barat melompat
masuk empat orang lalu berpencar. Tapi orang2 yang belakangan
ini hanya berpeluk tangan belaka, tidak ikut terjun ke arena.
Dari suara napas mereka Kun-gi dapat mengikuti gerak gerik
mereka yang sudah berpencar ini menempati posisi tertentu
sehingga dirinya bertiga terkepung, diam2 ia membatin: "Agaknya
secara diam2 mereka mengatur semacam barisan di tempat gelap."
Lalu dia kerahkan ilmu gelombang suara berkata kepada Kongsun
Siang: "Kongsun-heng, lekas mundur ke sampingku saja." Dengan
cara yang sama dia panggil Ting Kiau pula.
Cepat sekali Kongsun Siang dan Ting Kiau sudah mundur ke
kanan-kirinya, Kongsun Siang bersuara lirih: "Ada petunjuk apa
Ling-heng?"
"Mereka sudah membentuk semacam barisan, mungkin sebentar
akan mulai bergerak, kita hanya bertiga, maka jarak satu sama lain
jangan terlalu jauh, kalau kekuatan terpencar menjadi lemah, maka
kalian kusuruh kumpul di sini.
"Cong-coh, mereka membentuk barisan apa?" tanya Ting Kiau.
"Entahlah, orang mereka yang masuk berjumlah sepuluh orang,"
kata Kun-gi.
Tengah bicara, mendadak dari pintu timur dan barat melangkah
masuk empat laki2 yang masing2 mengacungkan sebuah lentera,
mereka berpencar di empat penjuru pendopo. Maka ruang pendopo
menjadi terang pula seperti siang hari. Sesuai dugaan Kun-gi, ke 10
laki2 maju mengelilingi arena.
Kesepuluh orang ini terdiri tua muda campur aduk, yang tua
sudah beruban rambut dan jenggotnya, yang masih muda berusia
sekitar 25-26 tahun, semua mengenakan seragam hijau dengan
potongan yang sama pula, di depan dada mereka tersulam naga
terbang. Di tangan masing2 menyoreng pedang panjang hitam
guram.
Hanya ada seorang perempuan di antara ke sepuluh orang ini,
kain hijau membungkus rambut kepalanya, usianya sekitar 40-an,
wajah dan dandanannya mirip seorang inang yang kejam dan kaku,
kulit mukanya yang sudah keriput dibubuhi pupur tebal, sebuah
anting2 gelang sebesar buah kelengkeng tergantung di kuping
kirinya. Sepuluh orang berdiri berkeliling menjadi sebuah lingkaran,
seorang tepat berada ditengah, agaknya pimpinan dari barisan ini.
Dan orang yang berdiri ditengah ini adalah wakil Tongcu Hwi-liongtong
yaitu Tun Thiankhi. pedang lebar terhunus ditangannya, dia
berdiri di depan sambil bertolak pinggang. Adiknya Tun Thianlay,
termasuk satu di antara sembilan orang yang lain, Agaknya Hwiliong-
tong kali ini telah memboyong seluruh jago2 lihaynya, besar
tekad mereka untuk membereskan Ling Kun-gi bertiga.
Anehnya Hwi-liong-tongcu sendiri yaitu Kim-kau-cian Nao Sam
jun tidak kelihatan batang hidungnya, bayangan Ui-liong tongcu Ci
Hwi-bing juga tidak kelihatan.
Sebelum lampu menyala tadi Ling Kun-gi su-dah menarik mundur
Kongsun Siang dan Ting Kiau, kini mereka berdiri dalam posisi segi
tiga. Kebetulan Ling Kun-gi berhadapan dengan Tun Thianki, sekilas
sorot matanya menyapu, dengan angkuh dia berkata: "Kukira kalian
mau pamer barisan apa, ternyata saudara Tun pula yang unjuk
gigi."
"Orang she Ling," seru Tun Thiankhi, "kau tahu barisan apakah
ini?"
”Cayhe tidak perlu tahu barisan apa segala, yang penting aku
bisa mengobrak abriknya."
"Keparat sombong," teriak Tun Thiankhi, "kau mampu
mengobrak-abrik Cap coat kiam-tin? Bila barisan betul2 sudah
kugerakkan, tanggung kepalamu akan terpenggal seketika, bukan
saja jiwa melayang, tubuhpun mungkin akan tercacah luluh"
Tanpa diminta dia sudah terpancing menyebutkan nama barisan
ini, yaitu Cap-coat-kiam-t in (barisan pedang top sepuluh). Mungkin
ancamannya terlalu membual, tapi dari pernyataannya ini dapat
pula dinilai bahwa barisan pedang ini pasti memiliki kehebatannya
yang tidak boleh di pandang enteng. Apalagi kesepuluh orang
pelaku2 barisan ini semua memiliki Lwekang yang sukar diukur
tingkatannya sorot matanya tajam, pedang terpeluk di depan dada,
mereka berdiri tegak sekukuh gunung, sekilas pandang orang sudah
akan maklum bahwa mereka adalah ahli2 pedang yang
berkepandaian tinggi.
Terutama Tun Thianlay, sebagai komandan ronda Hwi-liong-tong,
kedudukannya saja tidak rendah, tapi dia toh merupakan satu saja
di antara ke 10 orang ini, bukan karena jabatannya sebagai
komandan ronda lantas dia harus lebih di agulkan. Dari sini dapat
pula disimpulkan bahwa sembilan orang yang lain mempunyai
jabatan yang sejajar dengan komandan ronda. Bagi setiap insan
persilatan kalau dia ingin angkat nama maka dia harus memiliki
kepandaian sejati. Bahwa 10 orang ini terpilih dan ikut dalam Cap
coat kiam- tin, maka tak perlu disangsikan bahwa mereka memang
jago2 kosen kelas wahid dari Hwi-liong-tong.
"Orang she Ling," bentak Tun Thianlay, "kalau sekarang kau
buang pedang dan menyerah masih sempat menyelamatkan
jiwamu." Dia tetap menghendaki Ling Kun-gi menyerah.
"Agaknya kau yang menjadi pemimpin Cap-coat-kiam-tin,"
demikian kata Kun-gi sambil menatap Tun Thiankhi, kukira tak perlu
banyak bicara lagi, silakan mulai gerakkan barisanmu."
"Kalau barisan bergerak, umpama kau tumbuh sayap juga jangan
harap bisa lolos," jengek Tun Thiankhi.
Kun gi tertawa, katanya: "Kalau aku ingin lari, buat apa harus
kuluruk ke Hwi-liong-tong sini."
Tun Thiankhi mendengus, pedang lebarnya terayun ke atas terus
membelah lurus ke arah Ling Kun-gi. Bacokan pedangnya ini
ternyata merupakan aba2 pula bagi barisan pedangnya. maka
barisanpun segera bergerak, sepuluh batang pedang hitam serentak
menyerang ketengah dari arah posisi masing2. Hawa pedang segera
menimbulkan kesiur angin dingin.
"Awas, hadapi musuh dengan hati2," bentak Kun-gi. Gerakannya
sebat luar biasa, Ih-thiankiam dia pindah ke tangan kiri,
bayangannya tiba2 menyerobot ke sebelah kiri dengan jurus Tianghong-
toh-yam, dari kanan menyapu ke kiri. Sedang tangan kanan
mengeluarkan pula Seng-ka-kiam yang pandak, dengan tipu Yantiau
thian ka, ujung pedangnya menutul ke arah pedang lebar Tun
Thiankhi.
Serempak pedang Kongsun Siang dan kipas Ting Kiaupun sudah
bergerak, tapi sapuan pedang Kun-gi ke arah kiri laksana mata
rantai yang kuat paling tidak lima batang pedang musuh di sebelah
kiri telah kena dibendungnya.
Agaknya Tun Thian khi tidak ingin berhantam secara keras
dengan Ling Kun-gi, di tengah jalan gerak pedang lebarnya
berubah, sekali mundur lalu dilancarkan pula, kali ini menusuk iga
kiri Kun-gi.
Sekaligus Kun-gi menangkis, serangan lima orang musuh, cahaya
Ih-thiankhiam mencorong terang, pedang bergerak dari atas ke
bawah dengan tipu Sinliong-wi-thau (naga sakti berpaling kepala).
"Trang", kembali dia tangkis pedang lebar Tunthiankhi. Tak berhenti
sampai di sini, badannya ikut bergerak dari kiri ke kanan, pedang
pandak di tangan kanan menyerang dengan jurus Liong jiau-hoathun
(cakar naga menyingkap mega), cahaya hijau kemilau sekaligus
mendesak tiga orang di sebelah kanan, pedangnya itu
memancarkan cahaya menyilaukan, di bawah landasan Lwekangnya
yang tinggi lagi, maka perbawanya hebat luar biasa, tiga orang di
sebelah kanan dipaksa melompat mundur.
Sekali gebrak, delapan musuh dari Cap coat-kiam tin telah dibikin
kerepotan.
Seorang kakek ubanan di sebelah kanan tam-pak membentak
gusar: "Cepat juga bocah ini ber-gerak.”
Di tengah suara bentakannya, mendadak dia melompat ke atas,
sinar pedang berkelebat, beruntun dua jurus dia mencecar Ling
Kun-gi. Seorang lagi membarengi menerjang maju, pedangnya
menusuk perut.
Pedang pandak Kun-gi cepat menyampuk ke kanan, sedikit
menggetar pedang, hawa pedang di sertai kemilau cahayanya
mengelilingi badan, sekaligus dua serangan lawannya kena
dibendungnya di luar lingkaran.
Melihat betapa tangkasnya Ling Kun gi, bertambah murka Tun
Thiankhi, sembari menggerung, lengan kanan terangkat, pedang
lebarpun menggaris sebuah lingkaran di tengah udara, berbareng
dia menubruk maju, sejalur bayangan hitam tahu2 membelah ke
batok kepala Ling Kun-gi.
Karena gerak lingkaran pedang lebarnya ini maka ke10 pelaku
Cap-coat-tinmendadak bergerak saling pindah tempat, setiap kali
melangkah pindah tempat pasti menusuk sekali. Begitulah secara
bergantian 10 orang terus saling berganti posisi disertai pula
tusukan pedang mereka.
Hal ini menimbulkan perubahan yang amat gawat bagi Kun-gi
bertiga. Karena setiap berubah posisi, ke10 orang itu pasti menusuk
sekali, malish setiap tusukan pedang mengincar Hiat-to mematikan
yang harus di selamatkan sebelum sempat balas menyerang, tapi
begitu kau menangkis dan balas menyerang, lawan sudah melompat
pergi ke tempat lain, sementara pedang orang lain segera ganti
mengancam Hiat-tomu. Lebih hebat lagi ka-rena ke10 orang ini
semua adalah ahli pedang yang memiliki kepandaian t ingkat tinggi,
setiap ju-rus ilmu pedang yang mereka lancarkan memiliki
keistimewaannya sendiri2, ada yang lincah, ada yang bertenaga
kuat, ada pula yang menyerang secara enteng dan ganas, seperti
main sulap saja, gerakkannya sukar diikuti mata. Baik serangan
lincah, berat, ganas atau serba membingungkan, yang jelas setiap
jurus serangan mereka ini semuanya lihay mematikan.
Barisan pedang ini terus bergerak secara serempak berganti
kedudukan, cara kerja sama dalam menyerangpun amat serasi,
sungguh menakjubkan dan amat mengagumkan.
Lawan yang terjatuh ke dalam lingkaran barisan, betapapun
tinggi kepandaian silatnya, dalam situasi seperti ini pasti kerepotan
setengah mati, tangkis sana tak sempat membendung serangan
yang lain, serba terdesak. Empat lentera yang menerangi pendopo
cukup benderang, bayangan orang melulu yang tampak
berseliweran di tengah desir angin pedang, hakikatnya sukar
membedakan wajah orang lagi.
Deru samberan angin pedang begitu kencang, tapi tak pernah
terdengar suara dering pedang sa-ling beradu. Maka dapatlah
dibayangkan betapa hebat dan berbahaya keadaan Ling Kun-gi
bertiga.
Tun Thian khi merupakan kunci atau poros dari barisan ke
sepuluh jago pedang ini, dia pun mengikuti gerak barisan, bersama
dengan sepuluh orang yang lain bergerak berpindah posisi, lompat
sana menyelinap kemari, cuma gerak-geriknya lebih leluasa dan
bebas tidak terikat oleh gerakan serempet kawannya. Sehingga
setiap gerakannya bukan saja tidak menjadi penghalang dan
rintangan para teman2nya, malah selalu memberi peluang dan
memudahkan sepuluh orang ahli pedang itu melancarkan
serangannya. Apalagi setiap perkembangan perlawanan musuh
selalu berada dalam pengawasannya, kemanapun bergerak yang
diperhatikan hanya Ling Kun-gi saja, gaya permainan pedang lebar
ditangannya kelihatan amat sederhana, tapi yang benar setiap jurus
pedangnya selalu dapat kerja sama dengan ke sepuluh pedang
temannya.
Thiansan kiam-hoat memang amat sederhana, setiap tusukan
tampaknya hanya serangan yang sepele, lugu dan tidak main
gertak, tapi Ling Kun-gi justeru harus tumplek perhatiannya lebih
banyak untuk melayani serangannya daripada memecah sisa
perhatiannya untuk menghadapi rangsakan pedang ke10 musuhnya.
Sungguh pertempuran yang cukup sengit, hebat dan dahsyat,
pertempuran yang adu tenaga, dan pikiran tapi juga pertempuran
adu kecerdikan. Selama Kun-gi mengembara, baru pertama kali ini
dia menghadapi pertempuran sengit dan amat memeras keringatnya
seperti sekarang ini. .
Sebelas pedang hitam yang dilumuri racun jahat berkelebat kian
kemari menimbulkan lapisan angin kencang yang selalu menerjang
ke tengah lingkaran. Terpaksa Kun-gi peras segala ketangkasannya,
dengan pedang panjang-pendek ditangan, dia menggaris dua
lintang membujur miring, cahaya pedangnya tampak kemilau terang
menyilaukan, sekuat tenaga dia bendung seluruh rangsakan musuh.
Bukan saja ia harus perhatikan perubahan permainan barisan lawan,
langkah kakinya harus selalu berkisar dan pindah kedudukan,
serangan setiap pedang dari segala arah yang beraneka tipu dan
jurusnya, malah iapun harus pusatkan pikirannya untuk menghadapi
Tun Thiankhi.
Tun Thian khi bersikap dingin kereng dan juga kejam, terutama
ilmu pedangnya yang kelihatan sederhana dan tumpul, tapi
hakikatnya mengandung tipu daya yang amat keji, gerakan
pedangnya mantap dan berat, tapi mengandung variasi perubahan
yang lincah dan enteng, agaknya dia betul2 sudah mem-peroleh
intisari ajaran Thiansankiam-hoat.
Sudah tentu yang membuat Kun-gi kuatir adalah keselamatan
Kongsun Siang dan Ting Kiau. Kalau bertanding satu lawan satu,
dengan bekal kepandaian silat kedua rekannya ini, kiranya cukup
untuk menandingi setiap musuh, tapi di tengah kepungan la-wan
yang selalu berkisar dan hanya kelihatan ba-yangan yang
berlompatan kian kemari, maka Kun-gi harus membantunya pula
membendung serangan musuh untuk menyelamatkan mereka.
Pertempuran berjalan sedemikian rupa dahsyatnya sehingga
terasa bagai langit mendung dan bumi gelap, sinar pedang dan deru
angin bergolak laksana gempa bumi.
Keempat laki2 yang membawa lampu sebagai penerangan dalam
pendopo ini terdesak mundur mepet dinding.
Kun-gi kembangkan ilmu pedangnya dengan seluruh
kemampuannya, setelah puluhan jurus, dia lantas merasakan gejala
yang tidak menguntungkan pihaknya.
Perlu diketahui bahwa dari gurunya dia memiliki bekal berbagai
macam ilmu sakti, ilmu simpanannya itu sebetulnya bisa
dikembangkan dengan kombinasi ilmu pedangnya, tapi sekarang
kedua tangan harus pegang pedang serta menghadapi rangsakan
musuh, hakikatnya tiada kesempatan bagi dia untuk mengembangkan
ilmu saktinya. Umpama Hwi-liong-sam-kiam dengan
jurusnya yang bernama Liong-jan in (naga bertempur di tegalan),
ilmu pedang yang khu-sus untuk menghadapi keroyokan musuh
banyak tapi karena Kongsun Siang dan Ting Kiau ada di
sampingnya, sulit baginya untuk mengembangkannya, Dia yakin
asal sebelah tangannya dapat bekerja secara semestinya, dua atau
tiga musuh pasti dapat dia robohkan, tapi keadaan sekarang amat
mendesak, tak mungkin dia melepaskan salah satu dari kedua
pedang pusakanya.
maka sekarang pedang, di tangan kiri digunakan melindungi
badan, sementara pedang di tangan kanan bantu Ting Kiau
bertahan, lalu bergantian dengan pedang ditangan kanan
melindungi badan sendiri, pedang di tangan kiri menyampuk pedang
musuh untuk menolong Kongsun Siang.
Sejauh ini pertempuran berlangsung, keadaan Kongsun Siang
dan Ting Kiau betul2 sudah payah, mereka benar2 mengharapkan
bantuan, untung Kun-gi telah bantu membendung sebagian besar
serangan musuh, kalau tidak sejak tadi pasti mereka sudah terkapar
tak bernyawa lagi.
Barisan pedang musuh memang lihay, tapi kipas lempit Ting Kiau
masih bergerak dengan tangkas juga, tangkis kiri sampuk kanan,
keadaannya sudah terdesak dan hanya mampu mempertahankan
diri belaka, sudah tentu hatinyapun gugup dan gelisah.
Maklumlah di dalam rangka kipas besinya itu ada tersimpan
jarum2 berbisa, bila dia memperoleh sedetik peluang membuka
lebar kipasnya, jarum2 berbisa akan segera memberondong keluar,
paling tidak beberapa musuh pasti akan dilukai, sayang selama ini
keadaannya amat gawat, tak pernah dia memperoleh kesempatan,
kalau situasi begini ber-langsung lebih lama tentu jiwa mereka akan
terancam.
Kun-gi cukup paham, Kongsun Siang dan Ting Kiau juga maklum,
tapi cara bagaimana mereka harus mengubah posisi dan merebut
situasi? Sukar untuk mengatakannya. Beberapa gebrak telah
berlangsung pula, Kun-gi betul2 sudah kerahkan segala daya
kemampuannya, tapi barisan pedang musuh justeru semakin rapat
dan ketat, serangannya terang makin berat dan gencar.
Semula Kun-gi bertiga berdiri dalam formasi segi tiga dalam jarak
cukup rapat, karena tekanan barisan pedang musuh terasa semakin
berat, mereka semakin mundur dan jarak mereka tinggal dua tiga
kaki. Apalagi seorang harus bertahan untuk melindungi jiwa t iga
orang, sedikit lena satu di antara mereka bertiga akan roboh binasa.
Jelas keadaan gawat ini tidak boleh berlangsung terlalu lama.
Di tengah pertempuran sengit itu, mendadak Ting Kiau berteriak:
"Cong-coh, tolong kau bantu aku menahan musuh." Sembari
berkaok kaki Ting Kiau lantas menyurut mundur.
Sudah tentu Kun-gi kaget, Seng-ka-kiam di tangan kanannya
segera menyapu dengan tipu Hing-lanjianli (pagar membentang
ribuan li), selarik cahaya hijau segera menggulung ke depan,
berbareng dia bertanya: "Ting-heng apakah kau terluka?"
Daya-pedangnya yang menyapu ini sungguh hebat sekali,
sedikitnya empat batang pedang musuh yang mengancam tubuh
Ting Kiau telah dipatahkannya di tengah jalan.
Mendengar teriakan Ting Kiau, Tun Tiankhi mengira memperoleh
kesempatan baik, begitu Ling Kun gi menyapukan pedang tangan
kanan, segera ia berkelebat maju tepat berhadapan dengan Kun-gi,
pedang lebarnya dengan deru angin yang keras menusuk ke dada,
serangan terjadi secepat kilat menyambar.
Sementara itu pedang Kun-gi berhasil mematahkan empat
pedang musuh, iapun mendapat jawaban Ting Kiau yang lagi
beringas: "Hamba baik2 saja' Belum lenyap teriakannya, kipasnya
tiba2, menjeplak terbuka dibarengi suara menjepret, serumpun
jarum2 halus bagai bulu kerbau segera menyambar ke depan
mengarah orang2 yang berada di depannya.
Kun-gi t idak kira bahwa Tun Thiankhi dapat menyelinap maju
sedemikian cepat dan tangkas, untuk memutar pedang membela diri
jelas tak keburu, sementara pedang lebar lawan sudah satu kaki di
depan dadanya, jangankan Ih-thiankiam panjangnya empat kaki,
sementara Seng-ka-kiam yang pendek juga ada dua kaki
panjangnya, untuk di-tarik balik menangkis jelas tidak mungkin.
Sekilas darahnya tersirap, menghadapi bahaya timbut hasrat nekat
menyerempet bahaya, jari2 tangan kanan yang menggenggam
pedang tiba2 sedikit mengendur, jari tengah mendadak menjentik
ke bawah pedang panjang musuh. Yang dilancarkan ini adalah Itcay-
siankang (selentikan jari sakti), sejalur angin selentikan yang
keras seketika menerjang ke depan "Creng", tepat pedang lebar
lawan kena diselentiknya sehingga mental ke samping.
Pada saat yang sama di tengah gelak tawa Ting Kiau yang
beringas, terdengar pula gerungan gusar dan jeritan yang menyayat
hati.
Yang tertawa beringas adalah Ting Kiau yang berhasil menyambit
serumpun jarum2 berbisa. Yang menggerung gusar dan menjerit
kesakitan adalah empat orang baju hijau yang keempat pedang
mereka kena disampuk pergi oleh pedang Ling Kun-gi. Dua orang
sempat melihat bahaya, sembari menggerung gusar mereka putar
pedang bagai kitiran sambil melompat mundur, celakalah dua
temannya yang melompat maju belakangan, baru sa-ja mereka
menempati posisi, tahu2 jarum Ting Kiau sudah memapak mereka,
untuk menangkis tidak mungkin, berkelitpun tidak bisa, kontan
mereka menjerit ngeri dan roboh binasa.
Mendengar gerungan gusar dan jeritan ngeri apalagi pedangnya
terjentik miring lagi, keruan Tun Thiankhi kaget setengah mati,
hampir saja dia tak kuasa memegang pedangnya lagi.
Bahwa jentikannrya berhasil mematahkan serangan musuh, Kungi
segera kerjakan kedua tangannya, dengan mengembangkan Taybeng-
jance (burung galak mengembang sayap), dua larik sinar
pedangnya, tiba2 bercerai ke kanan-kiri menyapu dan dibarengi
tendangan kaki menggeledek ke arah depan dengan tipu To-sing to,
Ling Kun-gi menendang sambil mengapungkan badan ke udara.
Karena pedang tersampuk miring sehingga dada Tun Thiankhi
terbuka, sementara jarak mereka sedemikian dekat, untuk berkelit
sudah tidak mungkin lagi. "Blang", dengan telak tendangan Kun-gi
tepat mengenai dadanya, mulut menguak keras, badan seketika
mencelat melampaui kepala orang banyak sambil menyemburkan
darah dan ter-banting keras di luar arena, napasnya putus seketika.
Dua orang roboh binasa terkena jarum berbisa, Tun Thiankhi
yang pegang kendali dan menjadi pimpinan barisan Cap-coat-kiamtin
ini juga binasa ditendang Ling Kun-gi, pelaku2 barisan yang lain
tidak tahu kalau Tun Thiankhi sudah putus napas, dikala
pertempuran memuncak begini sengit dan seru mendadak terjadi
perubahan fatal, keruan barisan pedang menjadi kalang-kabut
Sejak mulai gebrak Kongsun Siang selalu terdesak di bawah
angin, betapa gusar dan penasarnya sungguh tak terkatakan, kini
melihat ada peluang, mendadak dia menggertak keras, segera ia
menubruk maju, pedangpun bekerja. "Creet", seorang baju hijau
kena ditusuk iga kirinya, agaknya amarahnya betul2 memuncak,
begitu ujung pedang ambles ke iga lawan, menyusul teras dipuntir,
seketika orang itu menjerit ngeri, dadanya berlobang besar dengan
tulang iganya terpapas kutung seluruhnya.
Berhasil menendang roboh Tun Thiankhi, su-dah tentu semangat
tempur Ling Kun-gi bertambah besar, sekali ayun tangan kiri, Ihthiankiam
memancarkan cahaya kemilau menggulung kedepan,
empat orang baju hijau tepat berada di depannya. Baru saja tangan
kiri Kun-gi bergerak, tangan kanan dengan pedang pandak bergerak
pula, ditengah kemilau cahaya pedangnya memancarkan bintik2
sinar yang dingin. Kiranya Ling Kun-gi telah kembangkan jurus Hingho-
liu-sa dari Tat-mo-kiam hoat yang hebat.
Empat orang berbaju hijau di depannya itu menjadi mati kutu
menghadapi gerakan kedua pedang Ling Kun-gi, untuk
menangkispun tak mampu lagi, terpaksa mereka mundur t iga
langkah. Bahwa kedudukan barisan sudah goyah, para pelakunya
juga sama berguguran lagi, maka Cap-coat-kiam-tin itu semakin
kacau, kini keempat orang inipun terdesak mundur, maka pecahlah
barisan pedang kesepuluh orang yang amat dibanggakan
kedahsyatannya oleh Hek-liong-hwe itu.
Beruntun dua kali gerakan pedang Ling Kun-gi menahan keempat
orang, Ting Kiau dengan kipas lempitnya juga mencegat seorang
lawan dengan permainan kipasnya yang lihay. Di sebelah kiri Kongsun
Siang dengan gerungan mirip serigala kelaparan
mengembangkan Thianlong-kiam-hoat, seluruh kekuatan dia
kerahkan, badan bergerak setangkas 'serigala mencari mangsa di
tengah gerombolan kambing", sinar pedangnya timbul selulup, dua
orang musuh kontan dirobohkan.
Cap-coat-kiam-tin yang dibentuk dengan mengutamakan saling
bantu, ber-pindah2 posisi serta saling isi dari para pelakunya yang
memiliki kepandaian ilmu silat beragam itu, kini sudah tercerai-berai
menjadi tiga kelompok pertempuran yang berjalan sendiri2,
terpaksa mereka kini harus mengandal kekuatan sendiri untuk
mengadu jiwa.
Melihat Cap-coat-tin sudah pecah, semakin berkobar semangat
tempur Kun-gi, segera ia berteriak lantang: "Kongsun-heng, Tingheng,
tahan dan kurung mereka, jangan lepaskan satupun di antara
mereka."
"Sret", beruntun tiga kali gerakan pedang Ling Kun-gi
memancarkan cahaya pedang kemilau membendang empat orang
berbaju hijau yang mencoba berpencar, tiba2 pedang pandak di
tangan ka-nannya dia tusukan ke bawah tanah sehingga tangan
kanannya sekarang tidak bersenjata.
Terdengar seorang kakek diantara musuh itu menggerung gusar,
bentaknya: "Bocah keparat she Ling, kau kira kalian sudah pasti
menang?"
Mendadak ia menerobos maju, pedang menu-suk lurus ke depan.
Pedang itu berwarna hitam gelap menimbulkan deru angin yang
keras.
Kun-gi tahu kakek ubanan ini berkepandaian paling tinggi di
antara empat lawan yang ditahannya, karena dia pikir harus
secepatnya mengakhiri pertempuran di sini, maka timbul niatnya
melenyapkan orang ini lebih dulu, segera ia membentak: "Sebutkan
namamu agar dapat kunilai apakah setimpal aku merenggut
jiwamu?".
Berbareng tangan kanan bergerak menepuk sekali, segulung
tenaga lunak tak kelihatan menyong-song tusukan pedang lawan,
tusukan pedang si kakek ternyata kena di tahannya dan membelok
ke samping.
Terkesiap si kakek, dia tarik tangannya, pedang dia tarik mundur,
tapi secepat kilat dia tusukkan pula lebih keras, mulutpun
menghardik:? "Lohu He Ho-bong adanya!"
"O, kiranya kau inilah Jit-poh-tui-hun (tujuh langkah mengejar
sukma)", jengek Ling Kun-gi dingin."iblis laknat dari kalangan jahat
yang membunuh mangsanya tak pernah berkedip. Bagus sekali,
kedua tanganmu sudah berlumuran darah, dosamu keliwat takaran,
hari ini tak dapat kuampuni jiwamu."
Sambil bicara dia luruskan lengan kanan ke depan, pelan2
telapak tangannya menepuk.
He Ho-hong menjadi gusar, damperatnya: "Bocah keparat,
jangan kau . . . . " sebetulnya dia hendak bilang "jangan kau
takabur", tapi kata2 yang terakhir belum sempat dia ucapkan,
mendadak rona mukanya berubah hebat. Duk duk duk, tiba2 ia
tergentak mundur beberapa tindak, mulut terbuka darahpun
menyembur, pelan2 badannya roboh tersungkur.
Sudah tentu kaget dan ngeri ketiga temannya menyaksikan
kawannya gugur, satu di antaranya tiba2 menghardik kalap:
"Hayolah kita adu jiwa dengannya!" Tiga batang pedang segera
menyambar ke depan dengan berbagai tipu ilmu pedang masing2.
Tangan kiri Kun-gi berayun beberapa kali, Ih-thiankiam
memancarkan sinar terang, bukan saja serangan lawan dapat
dipunahkan, malah badan ketiga lawan seolah terbungkus dalam
sinar pedangnya, Kun-gi lantas membentak: "Kali-an bertiga satu
persatu sebutkan nama sendiri2, ingin kutahu apakah kalian
penjahat yang pantas dihukum mat i atau tidak?" Tangan kirinya
mengembangkan Tat-mo-kiam-hoat, inilah ilmu pedang pelindung
Siau-lim-si, setelah digubah oleh Hoan jiu ji-lay, kini dikbembangkan
Ling dKun-gi dengan taangan kiri, terbnyata perbawanya jauh lebih
meyakinkan.
Dalam sekejap saja ketiga musuh sudah terbungkus oleh cahaya
pedang yang menyilaukan, lama2 mereka menjadi pusing tujuh
keliling, mata berkunang2, meski sudah terdesak dan terancam
jiwanya, tapi ketiga orang tetap bandel, mereka tetap putar pedang
melawan dengan nekat.
Akhirnya Kun-gi menjadi tidak sabar, katanya sambil mendengus:
"Kalian tidak mau mengenalkan diri, jelas durjana kejam kelewat
takaran dosanya dan pantas dihukum mati." Belum habis
ucapannya, pedang panjang ditangan kanan sudah melancarkan
tiga kali serangan, dia tahan serbuan bersama ketiga musuh,
berbareng sebelah kakinya menyurut mundur, tangan kanan
terangkat, kembali dia menepuk sekali, yang diincar adalah laki2
yang bermuka jelek dengan daging besar menonjol di mukanya.
Sudah tentu laki2 muka buruk ini kaget dan ketakutan, sekuatnya
dia putar pedang melindungi badan, tapi Mo-ni-in yang dilancarkan
Ling Kun-gi mana bisa ditahan oleh daya putaran sebatang pedang.
Ia menggerung tertahan, pedangnya terlempar, badan terhuyung
dan akhirnya roboh tersungkur.
Dalam beberapa gebrak saja dua orang di antara empat lawan
telah digasak binasa, sudah tentu dua orang yang masih sisa hidup
menjadi kaget dan ketakutan, serempak mereka menyerang
beberapa kali, begitu menyurut mundur, sigap sekali mereka putar
badan sambil melompat berpencar kedua arah dan lari keluar.
Kun-gi melotot gusar, serunya: "Kalian ingin lolos dari tangan
orang she Ling, memangnya begini mudah?" Tangan kanan
mencabut Seng-ka-kiam yang menancap di tanah, sekali timpuk dia
sambitkan pedang pandak itu ke arah punggung orang baju hijau
yang tengah berlari ke arah pintu batu.
Begitu pedang pandak terlepas dari tangan, segera iapun melejit
tinggi mengudak ke arah orang berbaju hijau yang lain.
Mimpipun orang yang lari ke arah kanan tidak pernah menduga
bahwa Ling Kun-gi akan menimpuknya dengan pedang pandak
seperti lembing, ketika dia mendengar samberan angin kencang,
untuk berkelit sudah tidak keburu lagi. Di tengah teriakan kejutnya,
tahu2 Seng-ka-kiam telah menusuk punggung dan tembus keluar
dada, orang itu masih lari beberapa langkah baru kemudian
tersungkur mampus.
Seorang lagi lari ke arah berlawanan, ia sedang girang karena
dirinya hampir mencapai pintu, mendadak pandangannya menjadi
silau oleh berkelebatnya cahaya kemilau, Kun-gi ternyata sudah
menukik turun mengadang di depannya.
Sekilas kaget segera orang itu mengayun tangan kirinya,
segulung asap tebal tiba2 menyembur keluar, sementara pedang di
tangan kanan menyerang dengan jurus "mendorong perahu
mengikut i arus air", dada
Kun-gi ditusuknya, malah sambil menyeringai seram dia
mendamperat: "Anak bagus, kau terlalu pandang rendah diriku, si
"pedang dalam kabut" ini."
Bu-tiong-kiam atau "pedang dalam kabut" cukup menyeramkan
juga julukannya ini, dapat pula kita bayangkan betapa kejamnya
orang ini, pastilah dia gembong penjahat yang sudah kelewat
takaran kejahatannya.
Asap itu kalau bukan mengandung obat bius tentu mengandung
racun, tapi Kun-gi tidak takut racun tidak gentar obat bius, dengan
tegap dia tetap berdiri di tengah pintu, tangan kanan terangkat,
dengan jari telunjuk dan jari tengah dia jepit ujung pedang lawan
yang menusuk dadanya itu.
Bahwa pedangnya kena dijepit jari2 Ling Kun-gi, tapi Bu-tiongkiamt
idak kelihatan kaget dan gugup, dia hanya menyurut setengah
tindak, sebelah tangan terangkat serta mengulap, katanya tiba2
sambil menyeringai saja: "Anak muda, robohlah, robohlah!'
Kun-gi tetap berdiri, tak bergeming, jengeknya: "Kau kira asap
racunmu dapat merobohkan aku orang she Ling? Nah pergilah kau!"
Pedang yang dia jepit dengan kedua jarinya mendadak dia dorong
ke depan.
Melihat Kun-gi tidak roboh seperti yang dia harapkan, Bu-tiongkiam
sudah mulai jera, belum lagi dia lepas pedang dan hendak
melompat mundur, tahu2 gagang pedang sendiri yang dipegangnya
telah tergentak mundur oleh dorongan Kun-gi dan "duk" dengan
telak menyodok dadanya, tanpa mengeluarkan, suara pelan2 dia
sendiri yang roboh terjiengkang malah.
Sementara itu musuh yang dihadapi Ting Kiau adalah Tun
Thianlay, komandan ronda Hwi-liong-tong.
Senjata yang dipakainya adalah pedang panjang dan lebar,
Thiansankiam-hoat yang dia mainkan tampak begitu mahir, meski
dia tidak memiliki Lwekang sekuat engkohnya, Tun Thianki, tapi
dalam gerakan yang amat sederhana itu, mengandang banyak
perubahan yang tidak kalah lihaynya, malah setiap gerak tipu
serangannya tidak tanggung2 dan cukup keji.
Sementara kipas Ting Kiau kadang2 terbentang dan tahu2
mengatup, kalau terbentang laksana kampak besar, membelah
tegak atau membabat miring, deru anginnya cukup keras mengiria
kulit. Kalau kipas dilempit merupakan tongkat besi sepanjang satu
kaki peranti menutuk dan menyodok, di samping untuk mengincar
Hiat-to dapat pula untuk melukai setiap anggota badan lawan.
Di antara babak pertempuran yang terus berlangsung sengit ini
adalah Kongsun Siang yang mengalami tekanan paling berat.
lawannya dua orang, seorang berusia 40-an, berjambang pendek,
permainan ilmu pedangnya lebih mirip ilmu golok, pedangnya yang
berat itu lebih sering membacok dan membabat.
Seorang lagi adalah satu2nya perempuan di dalam barisan Cap
coat kiam-tin, usianya sudah lebih 40, tapi mukanya masih
mengenakan pupur tebal dan gincu yang berwarna menyala,
kupingnya dihiasi sepasang anting2 gelang sebesar telur ayam,
anting2 besar ini gondal gandul mengikuti gerak permainan senjata
di tangannya, kecuali pupur, gincu dan anting2 dikupingnya itu
orang sukar menemukan ciri2 perempuan pada badannya yang
kekar besar ini. Tapi ilmu pedangnya ternyata lincah, cekatan, ganas
dan keji, segala sifat buas yang ada pada binatang seolah2 tercakup
seluruhnya di dalampermainan pedangnya.
Cukup payah dan memeras keringat juga Kongsun Siang
menghadapi kedua lawannya ini, tiga orang dalam formasi segi t iga
sedang seorang menyerang dengan sengit selama puluhan gebrak,
meski belum tampak kalah, tapi juga belum ada tanda2 Akan dapat
mengungguli kedua lawannya.
Si baju hijau yang berpedang dengan gaya permainan ilmu golok
agaknya tidak sabar lagi, dengan menggerung gusar tiba2
pedangnya berputar kencang, tampak bayangan gelap ber-lapis2,
laksana gelombang menggulung tiba.
Sejak tadi Kongsun Siang sudah berusaha menghindari benturan
senjata dengan lawan, dalam keadaan kepepet seperti sekarang ini,
umpama dia berusaha untuk menghindar lagi juga sudah tidak
keburu lagi. Maka terdengarlah dering nyaring memekak telinga dari
benturan dua senjata yang bentrok secara keras, Kongsun Siang
merasa telapak tangan sendiri tergetar pegal dan pati rasa,
beruntung dia mundur dua langkah, tiba2 sebuah hardikan
mengguntur di pinggir telinganya, perempuan baju hijau di
sebelahnya telah menubruk maju sambil memutar pedangnya
laksana angin lesus menggulung mangsanya.
Sigap sekali Kongsun Siang menubruk ke depan, sementara
pedangnya membalik kebelakang menusuk perempuan itu, tapi baru
saja gerakan mengegos sambil menyerang ini dia lancarkan, jalur
hitam dari bayangan pedang lain tahu2 sudah menyapu tiba pula
dan mengincar bagian bawah badannya. Keruan tidak kepalang
kaget Kongsun Siang, cepat2 dia berkelit pula, tapi tak urung
pahanya tergores luka juga, darah segera meleleh membasahi
celananya.
Untunglah pada saat itu Ling Kun-gi telah menyimpan pedang
pandaknya dan segera membentak: "Kongsun-heng, mundurlah
kau.".
Kongsun Siang tidak hiraukan seruan ini, sambil menggerung dia
tinggalkan perempuan baju hijau lawannya, mendadak dia
menubruk ke arah laki2 berewok bersenjata pedang, Sret, sret, sret,
sret secepat kilat dia lontarkan tujuh serangan ganas dan lihay dari
Thianlong-kiam.
Bahwa Cap-coat-tin sudah pecah, kini Kongsun Siang
meninggalkan dia, sudah tentu sangat kebetulan bagi perempuan
baju itu, tanpa peduli mati hidup temannya, segera dia melejit
mundur terus berkelebat ke arah pintu sebelah kiri.
Tak terduga Ling Kun-gi ternyata bergerak lebih cepat lagi, tahu2
dia sudah mencegat di depannya, hardiknya: "Nona sebutkan dulu
julukanmu."
Melihat orang sudah menyimpan pedang, dengan bertangan
kosong berani mencegat dirinya lagi, seketika perempuan baju hijau
yang berpupur tebal menjengek: "Siapa nona besarmu ini, setelah
kau melihat ini pasti akan tahu" Mendadak tangan kirinya terayun,
entah cara bagaimana cepat sekali dia sudah kenakan sarung
tangan, segenggam pasir beracun segera dia sebarkan ke arah Ling
Kun-gi.
Menegak alis Kun-gi, wajahnya tampak bercahaya dan penuh
wibawa, serunya sambil tertawa lantang: "Toanhuntok-sa" (pasir
beracun perenggut nyawa), memang kau tidak perlu sebutkan
namamu lagi."
Sambil bicara dengan enteng dia angkat lengan bajunya terus
mengebut, taburan pasir beracun la-wan tahu2 tergulung
seluruhnya, malah terus dihambur balik menyerang tuannya.
Sudah tentu mimpipun perempuan baju hijau tidak pernah
menyangka bahwa Ling Kun-gi akan berbuat seperti itu, sembari
menjerit kaget, belum lagi dia sempat menyingkir, pasir beracun
miliknya sendiri tahu2 sudah mengenai badan sendiri, asap hitam
segera mengepul dari seluruh badannya, pelan2 iapun roboh
terkulai dan binasa.
Dalam ruang pendopo yang cukup luas ini kini tinggal empat
orang lagi yang masih terus berhantam dengan sengit. Ting Kiau
dengan kipas lempitnya masih saling serang dengan Tun Thian lay
yang bersenjata pedang lebar, keduanya berebut kesempatan dan
mengejar kemenangan. Sayang sekali jarum beracun yang
tersimpan dalam kerangka kipasnya sudah habis terpakai, dalam
keadaan mendesak ini terang tak sempat lagi dia memasang dan
mengisi jarum2nya, terpaksa dia andalkan kemahiran ilmu kipasnya
menghadapi ilmu pedang musuh.
Setelah perempuan baju hijau tewas, Kongsun Siang kini hanya
menghadapi satu lawan, seluruh perhatian dapatr dia tumplek
ketpada lawan yangq satu ini, makar Thianlong-kiam dapat dia
kembangkan dengan lancar dan gencar, ia melompat kian kemari
setangkas serigala, tiba2 terjang ke kiri, tahu2 menubruk ke kanan,
sinar pedangnyapun ikut bergaya laksana kilat,
Sebetulnya cukup keras dan ganas juga -permainan ilmu pedang
bergaya golok si laki2 berewok, tapi Thianlong-kiam Kongsun Siang
sangat lihay dengan gerakan2 aneh dan membingungkan sehingga
lawan dibuat pusing mengikuti gerakkannya, akhirnya hanya
bertahan saja dan tidak segarang tadi.
Karena paha tergores luka pedang lawan, betapa geram hati
Kongsun Siang, dendam rasanya tidak terlampias sebelum lawannya
roboh termakan pedangnya, padahal pahanya masih terus
melelehkan darah berwarna hitam hingga membasahi lantai.
Yang terkejut adalah Ling Kun-gi, melihat darah hitam di paha
Kongsun Siang, baru dia ingat bahwa pedang lawan dilumuri getah
beracun, segera dia berseru: "Kongsun-heng, lekas mundur."
Tangan terayun, dia membelah ketengah antara kedua lawan yang
lagi berhantamseru.
Pedang Kongsun Siang terayun kencang, serangannya gencar
seperti orang kalap, pikirannya sudah mulai kabur, cuma dia terlalu
apal dan mahir menggunakan ilmu pedangnya, maka kaki bergerak
tanganpun bekerja secara otomatis. mendadak dia tersentak
mendengar seruan Ling Kun-gi, serta merta gerakannya sedikit
merandek, badan bagian ataspun tampak bergontai lemah, akhirnya
sempoyongan dan jatuh terduduk dengan lunglai di lantai.
Pukulan telapak tangan ke tengah2 kedua lawan yang lagi
berhantam oleh Ling Kun-gi itu ternyata tepat pada waktunya,
gerakan telapak tangannya menimbulkan sejalur angin lunak menahan
luncuran pedang laki2 berewok berilmu golok aneh itu, sigap
sekali dia melejit maju ke samping Kongsun Siang. Bersamaan
waktunya laki2 berewok itupun melompat mundur, begitu membalik
terus lari keluar pintu.
Tak sempat lagi Ling Kun-gi menghiraukan musuh, keselamatan
Kongsun Siang lebih utama, lekas dia keluarkan Leliong-pi-tok-cu,
celana Kong-sun Siang yang sudah basah dan lengket dikulit dia
sobek, mutiara itu segera dia gosok dan digelindingkan beberapa
bali pulang pergi dipermukaan kulit dagingnya yang terluka.
Dalam pada itu Tun Thianlay masih melabrak Ting Kiau mati2an,
bahwa teman-temannya sudah binasa dan ada yang melarikan diri,
tinggal dia seorang yang masih berhantam mempertahankan jiwa,
sudah tentu semakin luluh semangat tempurnya, suatu ketika dia
pergencar gerak pedang lebarnya, dengan sengit dia menyerang
tiga kali, setelah Ting Kiau dapat diaesaknya mundur, lekas dia
melompat ke belakang, gerakannya masih tangkas meski sudah
kehabisan tenaga setelah bertempur sekian lamanya, tahu2
bayangannya sudah berkelebat keluar pintu.
Sudah tentu Ting Kiau tidak berpeluk tangan, segera ia
menghardik: "Orang she Tun, ke mana kau mau lari" Tanpa pikir
segera ia mengejar ke sana.
Kun-gi sendiri tengah mengerahkan Lwekang membantu
menyembuhkan luka Kongsun Siang, mendengar hardikan Ting
Kiau, lekas dia berpaling seraya berteriak: "Ting heng, musuh sudah
kalah, tak usah dikejar." '
Sementara itu empat laki2 yang berdiri di empat pojok membawa
lampion tadi secara diam2pun telah memadamkan api serta
menghilang entah lari ke mana. Kini t inggal Ling Kun-gi dan
Kongsun Siang dua orang saja yang berada di dalam pedopo yang
gelap itu.
Hati Kun-gi amat gelisah, tapi Kongsun Siang pingsan keracunan,
terpaksa dia harus menolongnya lebih dulu. Untung Pi-tok-cu adalah
obat mujarab untuk menawarkan bisa getah beracun, tak seberapa
lama kadar racun yang mengeram di luka Kongsun Siang sudah
meleleh keluar bersama darah hitam, setelah luka dipaha rasanya
tidak membahayakan lagi, segera dia menyobek jubah sendiri untuk
pembalut luka orang.
Kongsun Siang menarik napas panjang dan pelan2 membuka
mata, teriaknya: "Ling-Leng. . . . ." Belum habis dia bicara
mendadak suara gemuruh sayup2 mulai timbul seperti datang dari
bawah tanah.
Tergerak hati Kun-gi, katanya: "Mungkin mereka sudah mulai
mengerjakan alat perangkap, lekas kita tinggalkan tempat ini."
Sambil memapah Kongsun Siang segera ia berdiri.
"Ling-heng," ujar Kongsun Siang sambil meronta., "biar Siaute
berjalan sendiri."
Sementara suara gemuruh yang bergema semakin keras dari
bawah bumi, semakin dekat dan keras. Waktu Kun-gi angkat kepala,
dilihatnya pintu batu sebelah timur dan barat mulai bergerak
menutup, lekas dia berkata: "Luka Kongsun-heng belum sembuh,
marilah kupapah saja."
Dengan tangan kiri setengah mengempit pinggang orang,
dengan beberapa kali gerakan mereka sudah meluncur ke arah
pintu timur yang jaraknya lebih dekat. Ternyata di luar pintu adalah
sebuah lorong panjang yang beralaskan batu2 hijau, tidak cukup
untuk jalan dua orang berjajar, tampak patung batu tadi kini sudah
menggeser mundur ke dinding dan bergerak lagi.
Baru beberapa langkah Kun-gi berjalan sambil setengah
menyeret Kongsun Siang, terdengar suara gedubrakan keras, pintu
batu dibelakangnya sudah tertutup rapat dengan mengeluarkan
suara gemuruh.
Kongsun Siang menegakkan badannya, dengan kuatir ia tanya:
"Ling-heng, mana Ting-heng? Dia tidak keluar?"
"Dia mengejar seorang musuh yang lari ke pintu barat tadi," tutur
Kun-gi.
Pintu batu sudah tertutup tapi suara gemuruh di bawah tanah
masih terus bergema, Diam2 Kun-gi merasa heran, akhirnya dia
kerahkan Lwekang dengan ketajaman matanya dia periksa keadaan
sekelilingnya. Nyata dinding sekelilingnya tetap utuh tak nampak
perubahan apa2, tanpa sengaja ia mendongak melihat ke atap.
Seketika ia melonjak kaget, ternyata batu besar yang tepat di atas
lorong tengah menindih turun pelan2. Betapapun tabah hati Ling
Kun-gi, meski t idak sedikit musuh2 tangguh yang pernah dia
kalahkan, tapi belum pernah dia menghadapi keadaan gawat seperti
ini, tanpa banyak pikir tekas dia kempit Kongsun Sing terus kabur ke
depan secepatnya.
Lorong sempit ini ternyata sepuluhan tambak panjangnya,
sepanjang itu batu yang berada di atas lorong sama2 ambles ke
bawah, ke manapun berlari dan betapapun cepat ingin menyingkir
tetap akan sia2 belaka, karena batu atap di bagian depan lorong
yang bakal dilalui juga telah mulai menggeser ke bawah,
Tiba2 di ujung lorong Kun-gi diadang oleh dinding batu pula,
jelas tiada jalan keluar untuk menyelamatkan diri, sementara batu
atap masih terus menindih turun semakin rendah dan sudah hampir
menyentuh kepala, saking bingungnya akhirnya dia menghela napas
putus asa, katanya: "Kongsun-heng, agaknya malam ini kita bakal
terkubur di tempat ini."
Luka paha Kongsun Siang belum sembuh, tapi sekuatnya dia
berdiri sambil bertopang di badan Ling Kun-gi, keadaan sudah amat
mendesak, tapi mereka tetap berlaku tenang, dengan ketajaman
matanya dia berusaha memeriksa dinding di sekitarnya.
Mendadak kaki kirinya yang tidak terluka dia ulur dan menendang
sekuatnya ke dinding sebelah kiri bawah, lalu menginjak pula
sekeras2nya lantai di depan kakinya. Terasa lantai yang terpijak
kakinya anjlok turun, ternyata lantai yang diinjaknya itu dapat
bergerak, waktu dia angkat kakinya, lantai itu terangkat naik pula ke
tempat asalnya, kalau tidak diperhatikan orang takkan tahu kalau di
situ ada rahasianya
Dalam pada itu batu di atas kepala sudah merosot semakin
rendah, mereka sudah tak bisa berdiri tegak lagi, dengan setengah
berjongkok mereka mundur mepet dinding, tapi pada detik2 yang
menentukan itulah, mungkin karena menginjak lantai yang melesat
turun oleh injakan Kongsun Siang tadi, tahu2 dinding di sebelah kiri
mereka tanpa suara telah bergerak dan terbukalah celah2 yang
cukup lebar.
Kongsun Siang menghela napas lega, katanya:
"Syukurlah jalan keluarnya kena kutebak dengan jitu. Ling-heng,
lekas keluar” Lalu dia mendahului menerobos keluar.
Setelah berada di luar, Kun-gi berkata lega sambil tertawa:
"Untung Kongsun-heng paham juga akan permainan peralatan
rahasia itu, kalau t idak kita sudah tertindih hancur lebur,"
"Blum!" selagi mereka bicara itulah batu besar di lorong itu sudah
anjlok, besarnya tepat memenuhi sepanjang lorong, tiada yang
sedikitpun yang tersisa.
Diam2 Kun-gi berkeringat dingin, batinnya: "Entah bagaimana
keadaan Ting Kiau, mungkinkah iapun kejatuhan batu, semoga dia
lolos dari elmaut."
Di luar lorong ternyata masih ada lorong lagi yang di pagari
dinding tinggi, cuma lorong di sini sedikit lebih lebar. Dengan
mengacungkan Leliong cu di atas kepala, Kun-gi membuka jalan di
sebelah depan, sementara luka di paha Kongsun Siang sudah
dibalut, maka dia bisa bergerak lebih leluasa, dengan ketat dia
mengikut i langkah Ling Kun-gi.
Lorong panjang ini amat gelap, bayangan setanpun tidak
kelihatan, tapi dengan hati2 dan waspada mereka terus
menggeremet maju. Kira2 puluhan tom-bak kemudian, dari
kegelapan dibelokan sebelah depan sana berkelebat sinar pedang
yang menyamber laksana kilat, begitu cepat dan lihay samberan
sinar pedang ini, tahu2 sudah membabat miring mengincar
pinggang Ling Kun-gi.
Untunglah Kun-gi sela!u pasang kuping dan pasang mata lebar2,
serangan terjadi mendadak dan sukar dijaga, lawan yang sembunyi
agaknya memang lihay, sampai dengus napaspun t idak terdengar,
sehingga tak tersangka, kalau musuh tiba2 melancarkan serangan
gelap selihay ini..
Secara otomatis begitu melihat sinar pedang menyamber tiba,
Kun-gi ayun tangannya menepuk ke batang pedang lawan, padahal
ujung pedang lawan sudah dekat pinggangnya, untunglah tepukan
tangannya yang bertenaga kuat mampu menggetar pergi pedang
lawan.
Si pembokong ternyata berkepandaian tinggi, tahu2 pedangnya
ditarik balik, dalam kegelapan yang menguntungkannya, dia lompat
ke belakang, berbareng dua bintik sinar dingin tahu2 meluncur ke
arah Ling Kun-gi.
Kun-gi mendengus, sekali lengan bajunya mengebut, kedua
bintik sinar itu seketika tergulung ke dalam gerakan Kian kut siu,
sekali sendal lagi kedua bintik kemilau itupun jatuh ke tanah.
Gebrak ini berlangsung dalam sekejap, dengan cepat Kun-gi
mengudak maju seraya membentak, sekali berkelebat dia sudah
menerobos ke tempat belokan, dilihatnya sesosok bayangan orang
tengah menyurut ke tempat gelap di lorong sebelah depan sana.
Segera dia menghardik: "Masih mau lari ke mana kau?"
"Wut" kontan tangan kanannya memukul ke depan.
Di dalam lorong yang sempit dan memanjang ini kecuali
berkelahi secara kekerasan, tak mungkin berkelit lagi, apalagi
pukulan Kun-gi ini dilancarkan sambil mengudak maju dengan
kencang tenaga pukulannya laksana badai menerjang ke punggung
orang itu.
Padahal orang itu tengah mengayun langkah sekuatnya lari ke
depan, tiba2 terasa kesiur angin kencang di belakangnya, sebagai
orang yang telah berpengalaman, dia tahu bahwa Ling Kun-gi
tengah menyerang dirinya dengan pukulan dahsyat, kalau melawan
secara keras, mungkin dirinya mampu mematahkan sebagian
kekuatan pukulan lawan, itu berarti jiwa masih mungkin tertolong.
Pikiran bekerja secara cepat pula badannya membalik, iapun
menghardik tak kalah kerasnya: "Biar aku adu jiwa dengan kau!"
Kedua tangan terulur lurus menyongsoug ke depan.
Setelah dia membalik tubuh, baru terlihat jelas wajah orang itu,
kiranya dia adalah laki2 berewok yang tadi berhasil lolos dari ruang
pendopo, sorot matanya yang buas dan liar jelalatan memancarkan
rasa takut dan kalap, mukanya tampak beringas, pukulan Kun gi ini
menggunakan Mo-ni-in, meski laki2 berewok cukup cekatan dan
bertindak tepat, toh dia tidak kuasa menghadapi pukulan sakti ini.
Kontan dia rasakan dada seperti dipukul godam, darah bergolak,
kepala pusing, pandangan berkunang2, mulut terpentang megap2,
napaspun ter-sengal2.
Dengan sinis Kun-gi tatap muka orang, katanya dingin: "O,
kiranya kau!"
Sorot mata laki2 berewok kini tambah liar, dengan melotot dia
awasi mutiara di tangan Ling Kun-gi rona mukanya akhirnya
mbenampilkan rasa heran dan jera, bentaknya: "Berdiri, tahan dulu,
ada omongan ingin kutanya kau." Pedang siap di depan dadanya,
ujung pedang teracung ke depan mengincar dada Ling Kun-gi,
agaknya dia kuatir kalau Kun-gi menyergapnya.
Kun-gi berdiri lima kaki di depan orang, tanyanya: "Masih ingin
omong apalagi?"
"Apakah yang berada di tanganmu itu CinCu-ling?" tanya laki2
berewok.
"Betul,” ucap Ling Kun-gi sinis, "inilah CinCu-ling."
Mendadak berubah hebat air muka laki2 berewok, bibirnya
tampak rada gemetar, suaranya serak: "Kau . . . . she Ling."
Heran Kun-gi, katanya: "Betul, aku she Ling."
Mendadak laki2 berewok putar tubuh, dengan langkah tergopoh
dia berkelebat ke ujung kanan dinding sana.
Pertanyaan orang menimbulkan rasa ingin tahu Ling Kun-gi,
hardiknya: "Berhenti!" Lengan kanannya terayun, dia lontarkan
segulung angin pukulan yang keras dan kuat, sasarannya bukan
badan laki2 berewok, tapi mengincar dinding batu di depan orang,
jadi dia berusaha mencegat orang melarikan diri.
Kepandaian si berewok ternyata harus dipuji juga, merasakan
tekanan berat dari depan, sebelum dirinya menumbuk tenaga kuat
itu, cepat dia meng-hentikan gerak badannya, teriaknya beringas:
"Apa maumu?"
Kun-gi ulur telapak tangannya yang memegang Leliong-cu,
tanyanya: "Kau kenal mutiaraku ini?"
"Siapapun kenal akan CinCu-ling," sahut laki2 berewok.
"Kau salah satu dari tiga pnluh enam panglima itu bukan?" tanya
Kun-gi.
Melihat Kun-gi berdiri menatap dirinya lekat2, seperti menunggu
jawabannya, seketika timbul amarahnya, katanya dengan ketus:
"Betul!"
Mendadak dua jari tangan kirinya mencolok ke dua mata Ling
Kun-gi, berbareng pedang di tangan kanan menusuk ke lambung.
Serangannya itu amat keji dan secara mendadak, pikirnya
betapapun tinggi kepandaian Ling Kun-gi pasti akan kecundang di
bawah pedangnya.
Tak terduga tangan Ling Kun-gi mendadak menangkap
pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang.
Tahu2 laki2 berewok merasakan pergelangan tangan kesakitan,
keruan ia kaget, belum lagi dia meronta, jari2 orang sekeras
tanggam telah pencet urat nadinya sehingga badannya lemas
lunglai, tapi dia tetap beringas, teriaknya: "Jangan kau
memaksaku."
"Cayhe hanya ingin bertanya . . . . . . . " belum Ling Kun-gi
bicara, laki2 berewok sudah berteriak lagi: 'Tak usah banyak tanya,
biar tuan besarmu serahkan nyawa padamu."
"Agaknya kau punya kesulitan sehingga tak mau bicara . . . . . . "
timbul rasa heran Kun-gi melihat laki2 berewok berdiri mematung
diam, tapi kejap lain dilihatnya wajah orang sudah berubah gelap,
tiba2 darah hitam meleleh dari ujung mulutnya, pelan2 ia roboh
terkulai.
"Ling-heng," Kongsun Siang bersuara di samping Kun-gi, "dia
bunuh diri dengan minum racun."
Ling Kun-gi lepaskan pegangannya, katanya sambil mengerut
alis: "Kalau dia berani bunuh diri menelan racun, kenapa tidak
berani bicara terus terang?"
"Kukira dia amat mematuhi peraturan Hek-liong-hwe sehingga
tidak berani membocorkan rahasia perkumpulannya, dari nada
bicaranya bahwa dia tetap pegang rahasia karena persoalan ada
sangkut pautnya dengan CinCu-ling di tangan Ling-heng."
"Akupun merasa begitu, waktu melihat mutiaraku ini, kulihat rona
mukanya menampilkan mimik yang aneh."
"Kudengar dia tanya apakah kau She Ling, kalau tanpa sebab,
tak mungkin pada saat2 gawat begini dia mengajukan pertanyaan
ini."
"Analisamu memang tepat, sayang dia sudah meninggal, sepatah
katapun tak berhasil kutanya kepadanya."
"Tapi dia juga bilang mau serahkan nyawanya padamu, lalu
kenapa dia harus bunuh diri dengan menelan racun pula?"
"Ya, kalau diselami kata2nya tadi memang aneh dan patut
dicurigai."
"Oleh karena itulah aku berpendapat bahwa soal ini ada sangkut
pautnya dengan mutiara di tangan Ling-heng ini," merandek
sebentar Kongsun Sianp lalu bertanya: "Entah dari mana pula Lingheng
memperoleh Cincu-ling ini?"
"Mutiara ini adalah warisan leluhurku, nama aslinya Leliong-pitok-
cu, khasiatnya dapat menawarkan segala macam racun, jadi
bukan bernama CinCu-ling.”
"Aneh kalau begitu, bagaimana pula mutiara ini bisa mirip
dengan tanda kepercayaan Hek-liong-hwe?"
"Hal ini aku sendiri juga tidak tahu, atas perintah guru aku
mengembara ke Kangouw, tujuannya adalah untuk menyelidiki
CinCu-ling ...."
Sembari bicara mereka berjalan terus kedepan, tanpa terasa
akhirnya sampai di ujung lorong dinding batu kembali mengadang
jalan mereka.
Kun gi menghentikan langkah, katanya sambil menoleh: "Lorong
ini sudah tiba di ujungnya, coba Kongsun-heng periksa apakah ada
pintu rahasianya?"
Kongsun Siang maju dua langkah, katanya: "Yang kuketahui juga
sedikit saja, entah dapat ku-temukan tidak rahasianya," dengan
seksama tangannya mulai meraba sementara matapun memeriksa
dengan cermat, terasa seluruh dinding batu ini licin dan rata laksana
kaca, tak terlihat adanya garis pemisah dari bekas sebuah pintu.
Akhirnya dia mengerut kening pedang dia tanggalkan, dengan
gagang pedang dia ketuk2 dinding, lalu menempelkan kuping
mendengarkan dengan teliti.
Pada dinding bagian depan agaknya tiada pintu yang dapat
ditemukan, terpaksa dia membalik ke arah lain, kini dia periksa
dinding sebelah kiri, dari atas ke bawah dia periksa dengan teliti,
sementara mulutnya mengoceh: "Dalam perut gunung ini semula
memang sudah banyak gua ciptaan alam, kemudian mereka
tambahi dan atur sedemikian rupa dengan bangunan berbagai alat
rahasia, semua ini menunjukkan hasil karya seorang yang betul2
ahli dalam bidang ini, padahal aku hanya memperoleh sedikit
pelajaran bidang ini dari guru, sungguh tak mampu aku
menemukannya...."
Tengah bicara, entah bagaimana secara kebetulan ia menyentuh
alat rahasianya di dinding batu itu, mendadak terbuka sebuah pintu
tanpa mengeluarkan suara. Pintu batu yang terbuka ini tampaknya
bisa bergerak secara otomatis, padahal Kongsun Siang sendiri tidak
menduga sehingga dia bersuara kaget, tapi sigap sekali dia sudah
menerobos keluar sana.
Pintu ini bergerak cepat dan licin, begitu Kongsun Siang
menerobos keluar dari sebelah kanan, pintu itu lantas memutar balik
dan "blang", tertutup rapat pula.
Kejadian betul2 di luar dugaan, Ling Kun-gi berdiri cukup dekat,
tapi dia tidak sempat menahannya. Kini sekali pintu tertutup rapat
baru dia terjaga kaget, serta merta ia berteriak: "Kongsung-heng!"
Tangan segera menepuk ke pintu.
Dengan mudah Kongsun Siang mendorong terbuka pintu itu,
jelas pintu ini bisa bergerak bebas, maka dia bisa menerobos keluar,
malah daun pintu sudah berbalik arah, tapi tepukan tangan Kun-gi
yang kuat ini ternyata tak berhasil menggoyahkan daun pintu batu
ini.
Keruan ia gugup, tanpa pikir kembali Kun-gi menghantam pula,
kali ini pukulannya berlipat ganda lebih keras, bukan saja daun pintu
tetap tak bergeming, malah telapak tangan sendiri terasa sakit.
Pikirnya: "Kongsun Siang tadi hanya meraba2 daun pintu dan
tanpa sengaja menyentuh alat rahasianya, jadi alat rahasianya pasti
berada di atas daun pintu, kenapa tidak kucari dengan seksama?"
Sambil mengacungkan Leliong-cu, dari atas segera dia
memeriksa ke bawah dengan hati2.
Periksa punya periksa, sekian lamanya dia tetap tidak
menemukan tanda apa2, kecuali garis lurus yang lapat2 kelihatan
dari bekas celah pintu, tiada tanda2 lain yang ditemukan, apalagi
alat rahasia untuk membuka pintu batu ini. .
Sungguh Kun-gi t idak habis mengerti dan hampir tidak percaya
akan kenyataan yang dihadapinya ini, bahwa dinding batu setebal
ini, ternyata terpasang sebuah pintu yang dapat bergerak bebas
bolak-balik secara cepat.
Yang jelas Kongsun Siang baru saja menerobos ke balik sana
lewat pintu batu licin rata ini. Tiga orang datang bersama, kini
tinggal dirinya seorang saja. Di antara delapan Houhoat Pek-hoapang
hanya Kongsun Siang yang bergaul paling akrab dengan
dirinya, meski t idak pernah bicara persoalan pribadi, betapapun dia
tidak tega berpeluk tangan begini saja.
Beruntun dua kali Kun-gi memukul pintu itu tetap tak bergeming,
jalan keluar tiada, keruan dia naik pitam. Mengingat dirinya
terkurung di pendopo dan teralang oleh patung batu tadi, akhirnya
dia berhasil mendorong mundur patung dan terbukalah jalan
keluarnya, kenapa sekarang ini tidak mencobanya? Kali ini dia sudah
berniat pakai kekerasan menggempur hancur dinding batu di
depannya, maka pelan2 dia mundur dua langkah, dua tangan
bersilang di depan dada, pelan2 dia kerahkan Kim-kong-sim-hoat,
mendadak kakinya melangkah setindak ke depan, sementara
mulutnya menghembus napas keras2 sambil menggerung seperti
banteng ketaton, kedua tanganpun mendorong ke depan.
Kim-kong-sim-hoat adalah salah satu dari 72 ilmu ajaran Siau-lim
yang hebat, merupakan Hud-bunsinkang (ilmu sakti dari aliran Hud)
yang paling tingg, begitu kedua tangan mulai mendorong pelan2,
segulung tenaga tidak kelihatan segera timbul dan menerpa ke
depan. "Blum!" begitu menerjang pintu batu, seluruh lorong gua di
perut gunung ini serasa bergoncang keras, pasir beterbangan dan
berguguran dari atas. Tapi pintu yang tadi bisa bergerak licin dan
bebas ini ternyata tetap tertutup tak bergeming. Celakalah Kun-gi,
karena tenaga saktinya tak berhasil menjebol roboh pinto batu,
kekuatan sendiri malah menerjang balik memukul dirinya sehingga
dia terpental mundur beberapa langkah.
Padahal lorong gua ini hanya lima kaki lebarnya, begitu dia
tertolak mundur dengan daya tolak yang keras, punggungnya
membentur dinding sebelah kiri di belakangnya. Tak nyana begitu
punggungnya menyentuh dinding belakang, terasa dindingnya
bergerak, seolah2 dia mendorong sebuah daun pintu yang tak
terpalang, mendadak dinding di belakang menjeplak terbuka.
Karena tidak menduga Kun-gi tak dapat menguasai diri, ia
sempoyongan hingga puluhan langkah baru jatuh terduduk.
Kini baru Kun-gi melihat jelas, daun pintu di dinding belakangnya
inipun dapat bergerak bebas, setelah dirinya terjatuh masuk, daun
pintu segera memutar balik dan tertutub rapat pula. Sigap sekali
Kun-gi melompat berdiri, ia coba mendorong daun pintu, ternyata
tak bergeming sedikitpun.
Sejenak Kun-gi berdiri mematung. Pada keheningan itulah
mendadak dia mendengar suara rintihan yang lirih dan lemah.
Waktu dia amat2i keadaan sekelilingnya, ternyata di balik pintu
ini adalah sebuah lorong pula yang sempit memanjang ke sana,
suara rintihan lemah itu terdengar dari sebelah depan. Maka sambil
mengangkat tinggi mutiara yang memancarkan sinar redup, dia
melangkah ke sana.
Semakin dekat suara rint ihan semakin jelas, setelah membelok ke
kiri, tak jauh di depan sana terlihat seseorang meringkuk di atas
tanah. Betapa tajam pandangan mata Ling Kun-gi, sekilas pandang
dia lantas mengenali orang yang rebah itu adalah Yu-hou-hoat Samgansin
Coa Liang adanya. Dengan kaget lekas dia memburu maju
dan berjong-kok disamping orang, tanyanya: "Coa-heng, di mana
kau terluka?" Cepat ia angkat tubuh orang dan dibalik telentang.
Tertampak dada kiri, lambung kanan Coa Liang terluka oleh
pedang, baju bagian depan dada, sudah lengket dengan kulit
dagingnya oleh cairan darah yang berwarna hitam. Goresan luka
pedang ini tampak amat dalam dan parah, agaknya sukar
disembuhkan dan jiwapun sukar tertolong.
Dengan Lwekangnya yang tangguh maka Coa Liang dapat
bertahan sekian lamanya, tapi juga su-dah kempas-kempis,
mendengar panggilan Kun-gi, pelan2 dia membuka matanya,
tampak sinar matanya sudah guram menatap Ling Kun-gi sekian
lamanya, mulut terpentang dengan bibir gemetar, seperti ingin
bicara.
"Coa-heng ingin bicara apa?" tanya Kun-gi.
Dengan mengerahkan tenaga Coa Liang mengangguk. Diam2
Kun-gi mengerut kening, jiwa Coa Liang jelas sudah di ambang
maut, terutama luka2 di dada kirinya amat dalam dan melukai paru2
dan jantung, kalau dia bantu mengerahkan hawa murni ke
tubuhnya, darah pasti takkan berhenti mengalir keluar. Tapi kalau
tidak dibantu keadaannya sudah kempas-kempis, untuk bicarapun
sudah tidak mampu lagi, sesaat dia jadi bimbang.
Dengan sorot mata yang pudar Coa Liang memandang Ling Kungi,
sorot matanya menandakan hatinya amat gelisah dan resah.
"Coa-heng ingin Cayhe bantu menyalurkan hawa murni, supaya
kau dapat mengeluarkan isi hatimu," tanya Kun-gi
Dengan kaku dan gerakan berat Coa Liang mengangguk. Berat
perasaan Kun-gi, pelan2 dia ulurkan tangan menekan tepat ubun2
kepala Coa Liang, lalu pelan2 dan sabar dia mulai salurkan hawa
murninya ke badan orang.
Karena Lwekang Coa Liang sendiri amat tinggi sehingga dia
masih kuat bertahan sekian lama, kini mendapat bantuan saluran
hawa murni Ling Kun-gi, sekuatnya dia coba menarik napas, dua
kali bernapas dengan enteng, maka bola matanyapun mulai
bergerak, kejap lain tangan kanannyapun dapat bergerak dengan
gemetar, mulut megap2 beberapa kali, suaranya terdengar amat
lirih serak: "Cu . . . . cukong (majikan) . . . . " hanya beberapa suku
kata keluar dari mulutnya, darah hitam tiba2 menyembur keluar dari
luka di bawah lambungnya, suara ngorokpun terjadi
ditenggorokannya, pelan2 kepalanya lantas tertekuk lemah tak
bergerak lagi. Hanya dua patah kata sempat dia ucapkan, nyawapun
melayang.
Dengan rawan Ling Kun-gi menarik tangannya, pelan2 dia berdiri,
dan membatin: "Laki2 baju hitam yang kulihat di atas bukit malam
itu ternyata adalah Sam-gansin Coa Liang, entah siapa pula
`majikan' yang ia maksudkan? Apa pula maksud tujuannya
menyelundup dan jadi mata2 di dalamPek-hoa-pang?"
"Dia menudingkan jarinya ke arah lorong depan sana sambil
menyebut 'majikan', maksudnya terang hendak beritahukan padaku
bahwa majikannya menuju ke lorong sana, kenapa ia
memberitahuku hal ini padaku?"
"Mungkinkah majikannya menghadapi mara bahaya, supaya
diriku lekas menolongnya? Ya, pasti majikannya menghadapi
bahaya, maka dia berusaha mengeluarkan dua patah kata
memberitahukan arah kepergian majikannya, maksudnya, jelas ingin
aku pergi menolongnya."
Segera ia menjura ke arah jenazah Sam-gansin, katanya: "Coaheng
tak usah kuatir, Cayhe segera akan menyusulnya ke depan
sana." Cepat2 ia beranjak ke lorong yang lebih dalam.
Majikan yang dimaksud Coa Liang sudah tentu seorang gembong
persilatan yang punya kedudukan tinggi sebagai Pangcu atau ketua
suatu aliran, ber-ilmu silat tinggi, tapi dari sikap dan mimik Coa
Liang menjelang ajalnya yang resah dan gelisah tadi, dapatlah
dibayangkan bahwa majikannya pasti mengalami mara bahaya di
lorong2 sempit ini.
Maka Kun-gi tak berani ayal dan ceroboh, untuk menghadapi
musuh yang mungkin menyergap setiap saat, dia merasa perlu
menggunakan kedua tangannya, maka Leliong-cu dia gantung di di
ikat pinggangnya, tangan kiri berjaga di depan dada, tangan kanan
melolos pedang pandak, pelan2 dia menggeremet maju terus
mengikut jalaran lorong yang belak-belok, kira2 ratusan langkah dia
menempuh perjalanan, membelok tiga kali, selama itu mata
kupingnya bekerja dengan tajam, sekonyong2 didengarnya di
sebelah depan ada derap kaki yang amat ringan.
Begitu mendengar langkah orang Kun-gi lantas tahu bahwa
orang ini memiliki Ginkang yang tinggi, di dalam lorong sempit yang
belak-belok ini ternyata dia dapat berlari sekencang itu seperti kuda
binal yang lepas dari kekangan.
Pada saat Kun-gi berdiri bimbabng di ujung pengkolan itu, maka
bayangan orang itupun sudah muncul di ujung yang lain. Itulah
seorang laki2 yang sekujur badannya terbungkus pakaian hitam,
pedang ditangannyapun berwarna hitam legam.
Karena Leliong-cu tergantung dipinggangnya, begitu Kun-gi
melihat orang, sudah tentu orang itu pun segera melihat dirinya,
jarak kedua orang sekarang masih belasan kaki jauhnya, tapi cepat
sekali orang itu sudah menghampiri di depan Ling Kun-gi.
Pedang terangkat dengan gaya mengancam, bentaknya dengan
suara kereng: "Siapa kau?"
"Katakan siapa kau?" Kun-gi balas menjengek.
Sekilas orang itu memandang mutiara di pinggang Kun-gi,
katanya kemudian: "Kau membawa CinCu-ling, tentunya sudah tahu
kalau di tempat ini dilarang main terobosan tanpa ijin Hwecu,
siapapun berani masuk ke Hek-liong tam akan dihukum mat i.''
Ternyata dia mengira Kun-gi adalah orang Hek-liong-hwe.
Sungguh tak pernah terpikir dalam benak Kun-gi, secara
kebetulan dia main terobosan dan kini berada di Hek-liong-tam
(kolam naga hitam), kalau tempat ini dinamakan Hek-liong-tam,
pasti ada sebuah kolam di sini. Dan nama Hek-liong-hwe mungkin
dipungut karena adanya kolam naga hitam pula, dari sini dapat pula
disimpulkan kalau pusat kekuasaan Hek-liong-hwe pasti berada di
Hek-liong-tam ini pula.
Maka Ling Kun-gi. lantas bertanya: "Apakah di sini letak markas
pusat Hek-liong-hwe?"
"Jadi kau bukan orang Hek-liong-hwe?'" tanya orang itu
melengak heran.
"Tidak pernah Cayhe mengaku orang Hek-liong-hwe."
Pedang menuding, orang itupun membentak dengan aseran:
"Siapa namamu, datang dari mana!'
"Cayhe Ling Kun-gi, sudah tentu datang di luar sana."
"Peduli siapa kau, setelah masuk kemari, kepalamu harus
dipancung!" segera pedangnya menusuk tenggorokan.
"Tahan sebentar!" seru Kun-gi.
Orang itu menghentikan gerakannya, katanya dingin: "Masih ada
urusan apa lagi?"
"Bolehkah tuan beritahukan padaku, apakah Hek-liong-tam
adalah pusat kekuasaan Hek-liong-hwe???
''Tanyakan persoalanmu ini kepada Giam-lo-ong saja," seru orang
itu. "Sret" pedangnya segera menusuk.
Tangan kanan bergerak, Seng-ka-kiam di tangan Ling Kun-gi
memancarkan cahaya terang di kegelapan. "Trang", tusukan pedang
lawan kena di sampuknya ke samping.
Si baju hitam mendengus geram, katanya:
"Agaknya tuan memiliki kepandaian tangguh pula." "Sret"
kembali pedangnya menusuk lurus.
”Ilmu pedang orang ini cukup cepat dan lincah, ilmu silatnya
terang tidak lemah, mungkin dia penjaga daerah terlarang ini,
terpaksa aku harus membekuknya lebih dulu," demikian batin Kungi.
Sebat sekali gerak-gerik si baju hitam, pedangnya berkelebat kian
kemari sehingga sukar diraba kemana serangannya. Ilmu
pedangnya bukan saja bergerak laksana kilat menyambar, setiap
tabasan dan tusukannya dilandasi kekuatan yang tangguh, beruntun
tiga jurus Seng-ka-kiam di tangan Ling Kun-gi balas menyerang, jadi
kedua pihak berebut kesempatan untuk menundukkan lawan.
Dalam lorong yang sempit itu, di bawah penerangan cahaya
mut iara yang redup, terjadilah perang tanding ilmu pedang yang
cukup hebat dan sengit, kalau pedang Ling Kun-gi semakin
memancarkan cahaya terang, adalah pedang lawannya semakin
terasa berat tekanan serangannya, hawa dingin serasa hampir
membeku diruangan lorong sempit itu.
Puluhan jurus kemudian baru lambat laun Kun-gi berhasil
membendung serangan lawan. Bahwa ilmu pedang kebanggaannya
diungguli lawannya yang muda ini, si baju hitam naik pitam, sampai
mem-bentak2 pedangnya berkelebat semakin cepat dan merangsek
terlebih sengit lagi. Tapi dia lupa akan satu hal, rangsakan cepat
dan sengit ini merupakan adu kekuatan secara kekerasan pula.
Padahal pedang di tangan Ling Kun-gi adalah senjata pusaka yang
tajam luar biasa..
Setelah pedang kedua pihak berdering nyaring saling beradu,
pedang hitam di tangan si baju hitam terpapas putus berkeping,
tinggal gagang pedang saja yang masih tergenggam di tangannya.
Sekilas si baju hitam melengak, baru saja dia hendak melompat
mundur. Tahu2 Kun-gi mendesak maju, ujung pedangnya
mengancam di dada si baju hitam, para bentakannya kereng
berwibawa: "Berani kau bergerak, kurenggut jiwamu! "
Sinar kemilau pedang Ling Kun-gi yang mengancam dada terasa
menyilaukan mata, si baju hitam tidak berani bergerak. wajah
nyapun berubah pucat beringas. serunya murka: "Apa
kehendakmu?"
Tiba2 Kun-gi unjuk senyum ramah, katanya: "Cayhe hanya ingin
tanya sedikit, lebih baik tuan menjawab sejujurnya."
"Soal apa yang ingin kautanyakan?"
"Pertama, apakah Hek-liong-tam adalah markas pusat Hek-lionghwe?"
”Aku tidak tahu,"
"Apa betul kau tidak tahu?"
"Tugasku hanya meronda di lorong2 tertentu, siapapun tanpa izin
Hwecu bila berani keluyuran dilorong ini haras dihukum mati, soal
lain aku tidak perduli"
”Jadi lorong ini menjurus ke Hek-liong- tam, betul?"
"Betul."
"Bagus, ingin kutanya pula satu hal, barusan seseorang masuk
kemari?"
"Orang2 yang tugas ronda di sini bergiliran pada saat2 tertentu,
baru saja kudatang, tak kulihat dan tiada laporan ada orang luar
masuk kemari!'
Heran Kun-gi, pikirnya: "Sam-gansin Coa Liang terluka dua
tusukan pedang, pada saat2 ajalnya masih berusaha menunjukkan
bahwa majikannya menuju kearah sini, kenapa jejaknya tidak dilihat
mereka?"
Segera dia bertanya pula: "Saudara barusan datang dari arah
Hek-liong-tam? Nah, sekarang tolong kau menunjukkan jalannya
bagiku."
Belum si baju hitam menjawab, mendadak sebuah suara dingin
menanggapi: "Lepaskan dia, dia tidak akan tahu jalanan yang
menjurus ke Hek-liong-tam."
Datangnya orang ini tak menimbulkan suara sedikitpun, padahal
Kun-gi cukup yakin akan ketajaman pendengarannya.
Diam2 Kejut hati Kun-gi, waktu dia menoleh, dilihatnya tak jauh
di belakang si baju hitam, berdiri seorang tua berjubah hijau. Dalam
keremangan tampak perawakan orang tua ini tinggi kurus,
wajahnya dingin berwibawa, sorot matanya berkilat tajam, jenggot
kambing di dagunya. Dinilai dari sikap dan dandanannya, orang
akan segera maklum orang tua ini pasti memiliki ilmu silat yang
maha t inggi dan kedudukannya terang jauh lebih tinggi daripada si
baju hitam.
Pelan2 Kun-gi mundur setapak sambil menu-runkan pedang
pandaknya, katanya dengan tertawa ramah: "Kalau begitu, biarlah
Cayhe bertanya padamu saja, Lotiang (pak tua)." Meski pedang
sudah dia turunkan, tapi dia tetap waspada, apalagi berhadapan
dengan lawan yang tangguh, diam2 ia malah kerahkan hawa murni
pelindung badan dan siap siaga.
Lekas si baju hitam mundur ke samping dan memberi hormat
kepada si jubah hijau. Agak lama si jubah hijau menatap mutiara
yang bergantung di pinggang Ling Kun-gi, akhirnya pandangannya
beralih ke wajah Kun-gi, suaranya terdengar tenang: "Tuan bisa
menemukan tempat ini, ketabahanmu sungguh harus dipuji,
bolehkah kutahu namamu?"
"Cayhe Ling Kun-gi!"
Mendadak terpancar cahaya terang yang membayangkan rasa
senang pada bola mata si jubah hijau, katanya sambil manggut2:
"Baik sekali!"
Mendadak tangannya terayun, "plak", dengan telak dada si baju
hitam yang berdiri di sampingnya kena digabloknya kebras.
Padahal sdi baju hitam berdiri tegak hormat meluruskan kedua
tangannya, sudah tentu tak pernah terpikir olehnya bahwa si jubah
hijau akan membunuhnya, tentu saja ia tak sempat berkelit, tanpa
mengeluarkan suara dia roboh binasa.
Tanpa hiraukan korbannya si jubah hijau menatap Ling Kun-gi,
katanya: "Tambahi sekali tusukan pedangmu pula."
Kejadian di luar dugaan, keruan Kun-gi melenggong, bahwa si
baju hitam sudah terpukul mampus menggeletak di tanah, buat apa
dirinya harus menusuknya pula? Maka dengan kesima dia awasi si
jubah hijau: "Dia. . . . ."
"Waktu amat mendesak, lekas kau tusuk dia, kita harus
selekasnya meninggalkan tempat ini."
Semakin heran dan bingung Kun-gi. "Kau..." dia ragu2 sambil
mengawasi orang.
Si jubah hijau goyang tangan dia menyela, suaranya tiba2
berubah ramah dan kalem: "Tidak leluasa kita bicara disini, lakukan
seperti petunjukku, pasti t idak salah."
Kun-gi masih bingung apa maksud kata2nya, yang terang si baju
hitam sudah mampus, tiada soal bila dia menambahkan sekali
tusukan, toh orang tidak akan menderita, biarlah nanti mencari
kesempatan mengorek keterangan dari si jubah hijau. Maka tanpa
bicara segera dia angkat pedang menusuk telak di ulu hati si baju
hitam.
Si jubah hijau manggut2, katanya: "Marilah kau ikut aku." Lalu
dia membalik berjalan menuju ke lorong sebelah sana, langkahnya
enteng dan mantap, tanpa berpaling lagi, seolah2 kehadiran Kun-gi
yang mengintil di belakang tidak menjadi perhatiannya lagi.
Kun-gi sendiri masih bingung apakah si jubah hijau kawan atau
lawan? Cuma terasa tindak tanduk orang agak misterius, tapi dia
tetap mengikuti langkah orang.
Lorong di perut gunung yang gelap gulita ini masih belak-belok
kian kemari, dalam jarak dua puluh langkah pasti membelok sekali,
entah ke kanan atau ke kiri, ternyata si jubah hijau tidak
menyalakan obor atau penerangan lainnya, agaknya dia sudah apal
sekali dengan liku2 jalan lorong disini, malah langkahnya semakin
dipercepat.
Kira2 30 tombak kemudian, mendadak dalam kegelapan di
sebelah depan seseorang membentak: "Siapa?"
"Aku!" sahut si jubah hijau. Hanya beberapa patah kata tanya
jawab ini dan Kun-gi sudah ikut membelok tiba, dilihatnya di depan
mencegat seorang baju hitam pula, melihat si jubah hijau segera dia
menyurut minggir serta berdiri dengan laku hormat, katanya kepada
si jubah hijau: 'Hamba sampaikan hormat kepada Congkoan."
Si jubah hijau hanya membalas hormat orang, dengan anggukan
kepala, sementara kakinya masih melangkah maju, begitu tiba di
depan orang mendadak tangannya terayun menepuk dada si baju
hitam. Gerakannya amat cepat dan tangkas, si baju hitam terang
tidak bersiaga, sudah tentu sekali hantam kena dengan telak, hanya
mulutnya saja yang sempat menguak pendek, tubuhnya terus roboh
terkulai.
Dalam hati Kun-gi berkata: "Orang2 berbaju hitam yang bertugas
di lorong gelap ini tentu memiliki kepandaian silat yang amat tinggi,
tapi hanya sekali angkat tangan si jubah hijau telah membinasakan
mereka, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian silat
si jubah hijau ini."
Seperti tidak pernah terjadi apa2, Si jubah hijau terus melangkah
ke depan sambil berkata dengan kereng: "Lekas tusuk dia sekali
lagi."
Setelah dua kali orang membunuh orang ber-baju hitam, sedikit
banyak Kun-gi sudah agak maklum kemana maksud tujuannya,
agaknya orang sengaja hendak membantunya, maka setelah
membunuh anak buahnya sendiri ia menyuruhnya menusuk lagi
dengan pedang supaya tidak membocorkan rahasia perbuatannya.
Kenapa si jubah hijau mau membantunya? Mungkin dia salah
mengenali diriku, agaknya dirinya disangka sebagai orang
sekomplotan dengan "majikan" yang dimaksud oleh Sam-gansin Coa
Liang? Dari sini dapatlah diduga bahwa si jubah hijau ini pasti agen
yang dipendam di dalam Hek-liong-hwe oleh sang "majikan" itu,
maka tanpa berbicara, sekali pedangnya bergerak, dia tusuk ulu hati
si baju hitamyang sudah menggeletak binasa itu.
"Lekas jalan," tiba2 si jubah hijau memberi isyarat, kakinya
berlari kencang seperti terbang, Terpaksa Kun-gi ikut berlari
kencang pula.
Setelah membelok dua kali, tiba2 si baju hijau menghentikan
langkah, tangan terangkat menekan dua kali di kiri-kanan dinding,
lalu membalik badan, katanya: "Lekas masuk!" segera dia
mendahului menerobos ke situ.
Setelah dekat baru Kun-gi melihat jelas di antara dinding batu
yang licin itu sudah terbuka celah2 panjang yang cukup untuk
seseorang menyelinap masuk, orang itu tampak menunggu di
sebelah dalam, tanpa ragu2 segera dia menyelinap masuk juga.
Baru beberapa langkah tiba2 didengarnya suara "duk" sekali,
celah2 dinding telah merapat pula. Lorong di sini agaknya memang
ciptaan alam, bukan saja amat sempit, jalannyapun tidak rata dan
hanya cukup dilewati seorang, malah dinding batu di kanan kiri juga
penuh ditumbuhi lumut dan batu2 padas yang runcing, kalau tidak
hati2 kepala pasti bisa benjut dan pakaian robek.
Si jubah hijau berjalan amat cepat. Karena ada penerangan dari
mut iara di pinggangnya sudah tentu Kun-gi tidak bakal ketinggalan.
Kira2 sepeminuman teh kemudian, setelah turun naik dan lika-liku,
sebelah depan agaknya sudah tiba di pangkal lorong karena sebuah
dinding tembok mengadang di situ.
Si jubah hijau menekan di atas dinding, maka terdengarlah suara
gemeruduk yang bergema di dinding, pelan2 dinding batu itu mulai
bergerak dan terbukalah selarik celah2 lubang..
Sambil tersenyum si jubah hijau menoleh, katanya: "Silakan."
Lalu dia mendahului melangkah masuk.
"Sarang Hek-liong-hwe berada di perut gunung" demikian pikir
Kun-gi, "Lorong2 di sini tembus ke segala penjuru, betapa besar
proyek pembuatan lorong di perut gunung ini? Tidak sedikit jumlah
aliran yang berdiri di Kangouw, kenapa pula Hek-liong-hwe
membuang waktu dan tenaga begini besar untuk membangun
markasnya di perut gunung? Memangnya mereka punya rahasia
tersembunyi yang lain?" otak berpikir, tapi kaki segera beranjak ke
dalam.
Di belakang pintu batu kiranya adalah sebuah kamar batu kecil,
kecuali beberapa kursi yang ter-buat dari batu dan sebuah dipan
batu pula, tiada perabot lain, tapi kursi dan dipan batu tampak
mengkilap bersih.
Tepat di tengah ruangan di atas meja bundar yang dikelilingi
kursi2 batu itu tertaruh sebuah lampu, entah minyak apa yang
digunakan, ternyata sinarnya cukup terang.
Setelah Kun-gi dipersilakan masuk, kembali si jubah hijau
menekan dinding sebelah atas kiri, pelan2 pintu batu itupun
menutup kembali, sementara si jubah hijau sudah membalik badan
sambil angkat sebelah tangan: "Silakan duduk Kongcu!"
Tapi Kun-gi tidak segera duduk, dia merangkap kedua tangan
menjura, katanya: "Lotiang membawaku kemari, tentunya punya
petunjuk yang berharga."
Si jubah hijau tertawa lebar, katanya ramah: "Silakan Kongcu
duduk saja, memang ada urusan yang perlu Lohu bicarakan, cuma
sekarang belum tiba saatnya."
Dengan gagah Kun-gi duduk dikursi batu, tanyanya: "Kenapa
dikatakan saatnya belumtiba?"
Si jubah hijau tertawa, katanya: "Orang luar takkan berani masuk
kemari, harap Kongcu suka tunggu di sini, Losiu akan keluar
sebentar dan cepat2 kembali."
Tanpa jawaban Kun-gi segera dia melangkah ke dinding sebelah
depan, tiba2 dia menoleh dan berkata pula dengan tertawa:
"Jangan Kongcu banyak curiga, tindakan Losiu ini pasti
menguntungkan Kongcu," lalu dia mendorong, dinding batu di
depannya segera menjeplak terbuka.
Ternyata dinding batu itu merupakan pintu hidup yang bisa
bergerak setiap kali tersentuh, begitu si jubah hijau melangkah
keluar, secara otomatis pintu itupun menutup kembali tanpa
mengeluarkan suara sedikitpun.
Betapapun tindak tanduk orang cukup mencurigakan, maka
begitu orang lenyap di balik pintu, Kun-gi segera berdiri memburu
ke pintu dinding itu, waktu dia angkat tangan mendorongnya,
ternyata pintu batu yang barusan menutup tak bergeming lagi.
Terpaksa Kun-gi duduk kembali ke kursinya, dengan seksama dia
menerawang tindak-tanduk si jubah hijau, memang terasa sikap
orang tidak bermaksud jahat terhadap dirinya, cuma untuk apa dia
membawaku ke kamar batu ini, kenapa pula mendadak tinggal
pergi? Dan untuk apa pula kepergiannya ini?
Kalau orang luar tidak boleh masuk kemari, kenapa dikatakan
pula bahwa tindakannya ini t idak mengandung maksud jahat
terhadap diriku? Biarlah jawabannya kutunggu kedatangannya
nanti.
Terbayang olehnya pesan sang guru yang wanti2 bila
menghadapi marabahaya yang serba rumit, kepala harus selalu
dingin dan pikiran harus tetap tenang, setengah malaman ini dia
telah menempuh bahaya dan selalu terhindar dari renggutan
elmaut, kini tanpa sengaja berhasil menyelundup ke tempat ini,
kenapa lagi harus kuatir, biarlah segala sesuatunya terserah kepada
takdir.
Kira2 setanakan nasi sejak si jubah hijau keluar, bayangan orang
tetap tidak kunjung datang.
Setelah putar kayun dan berjuang mati2an di sarang musuh ini,
kini baru Kun-gi memperoleh kesempatan istirahat, sambil duduk di
kursi, diam2 dia telah mulai menghimpun semangat dan
memulihkan kesegaran badannya.
Dalam keheningan itulah, tiba2 didengarnya langkah lembut
mendatangi. Sekilas Kun-gi tertegun, dirinya sedang bersemadi,
kamar ini rapat dikelilingi dinding batu, umpama betul ada pintu
rahasianya paling tidak dirinya pasti mendengar dulu suara pintu
terbuka Tapi kenyataan tak pernah dia mendengar suara pintu
terbuka, lalu dari mana suara langkah orang bisa masuk kemari?
Serta merta iapun rnembuka mata, maka dilihatnya seorang gadis
berbaju hijau sambil menjinjing sebuah tenong makanan tengah
melangkak masuk dari pintu di dinding sebelah kanan.
Pintu itulah di mana tadi si jubah hijau berlalu, padahal pintu itu
tadi sudah dia raba dan coba mendorongnya, tapi tertutup rapat
dan tidak bergeming sama sekali. Bagaimana pula nona baju hijau
ini bisa masuk tanpa mengeluarkan suara. demikian pula daun pintu
batu itu nampak bergerak hidup dan licin, setelah gadis baju hijau
berada di kamar pintupun lantas membalik dan menutup rapat pula.
Begitu berada di dalam kamar, sepasang mata si gadis yang jeli
serta merta terpentang lebar, ia lihat yang duduk di dalam kamar ini
adalah seorang pemuda cakap, tanpa terasa mukanya menjadi
merah jengah, lekas ia menunduk.
Dengan ter-gopoh2 dia menghampiri dipan, tenong dia taruh di
atas dipan lalu membukanya satu persatu, dari tenong yang susun
empat itu dia keluarkan beberapa macam hidangan, sepoci arak
wangi dan sepiring bakmi goreng, hidangan ini dia taruh di atas
meja, setelah menuang secawan arak dan menaruh sepasang
sumpit, lalu dia memberi hormat kepada Ling Kun-gi, suaranya
kedengaran merdu: "Barusan Congkoan ada pesan, mungkin
Kongcu sudah lapar, beliau perintahkan hamba menyiapkan
hidangan ini, silakan Kongcu mencicipinya."
"Terima kasih nona," ucap Kun-gi sambil mengangguk dengan
tertawa. "Ada sebuah hal ingin kutanya kepada nona, entah suka
memberitahu tidak?"
Mengerling si gadis baju hijau, katanya: "Entah apa yang ingin
Kongcu tanyakan?"
"Congkoan yang barusan nona katakan, apakah kakek berjubah
hijau dan berjenggot panjang itu'
"Sudah tentu beliau," sahut si gadis baju hijau.
"Bolehkah nona memberitahu, siapakah nama Congkoan?"
Si gadis melengak, katanya: "Kongcu adalah teman beliau,
memangnya belumtahu nama Cong-koan malah?"
"Kalau Cayhe tahu, buat apa bertanya pada nona?"
Berkedip mata si gadis, katanya kemudian: "Kalau Congkoan
tidak beritahu pada Kongcu, hamba tidak berani banyak bicara, lebih
baik Kongcu langsung tanya padanya."
"Agaknya nona tidak mau memberitahu. Baiklah, kutanya soal
lain saja, di sini tempat apa, nona sudi memberitahu bukan?"
Ternyata si gadis malah balas bertanya: "Kongcu sudah berada di
sini, memangnya kau tidak tahu tempat apakah ini?" .
"Cayhe hanya tahu sedikit, cuma belum kubukt ikan."
Si gadis tertawa cekikik, katanya: "Syukurlah kalau Kongcu sudah
tahu, kenapa harus tanya lagi, silakan sarapan, hamba mohon diri
saja." Bergegas dia lantas mengundurkan diri. .
Tiba di dekat dinding, dengan seenaknya jarinya yang runcing
halus mendorong, pintu batu lantas terbuka dengan mudah,
mendadak dia berpaling, katanya dengan senyum lebar: "Mohon
maaf Kong-cu, sebelum mendapat izin, soal apapun hamba tidak
berani bicara" Begitu pintu berbalik lagi dengan cepat, dinding
sudah tertutup rapat pula.
Memangnya Kun-gi sudah merasa lapar, tapi berada disarang
musuh, setiap saat menghadapi ba-haya, sebelum jelas duduk
persoalannya dan tahu siapa si jubah hijau yang serba misterius ini,
betapapun dia tidak berani mengusik hidangan itu.
Tidak lama setelah gadis baju hijau berlalu, waktu daun pintu
terbuka lagi, tampak si jubah hijau melangkah masuk, tangannya
membawa sebuah botol kecil warna hitam dan ditaruh di atas meja,
ia melirik hidangan yang belum terusik, seketika dia mengunjuk rasa
heran, katanya: "Mengingat Ling-kongcu baru saja mengalami
pertempuran sengit selama setengah malaman, tentu perut sudah
kosong dan badan letih, maka kusuruh Siau-tho menyiapkan
hidangan ini, memangnya kenapa? Kongcu kuatir Losiu menaruh
racun dalam hidangan ini?" Tanpa terasa dia ter-bahak2 sambil
mengelus jenggot, katanya pula: "Yakinlah bahwa dalam hidangan
ini tiada ditaruh racun, Kongcu boleh silakan makan, tak perlu
kuatir"
Kun-gi menyengir, katanya: "Umpama betul di dalam hidangan
ini ditaruh racun, Cayhe juga tidak perlu gentar."
Kemudian berkata pula si jubah hijau: "Jadi kenapa Kongcu tidak
memakannya?"
"Cayhe baru saja bertemu dengan Lotiang di lorong gelap tadi,
sebelum saling kenal, musuh atau kawan juga belum menentu,
maka tak suka aku sembarangan bertindak."
Mendadak si Jubah hijau tertawa sambil mendongak, katanya:
"Memang tepat alasan Kongcu. Baiklah, Losiu Yong King-tiong,
seharusnya aku adalah kawan dan bukan lawan Kongcu, sudah
cukup bukan keteranganku?"
"Sekarang boleh Yong-lot iang beritahu padaku, apa maksud
tujuanmu membawaku kemari?"
Yong King-t iong menggeleng2 kepala, katanya: "Belum saatnya,
silakan Kongcu makan minum dulu, Losiu akan tuturkan secara
pelahan."
"Kenapa Lotiang memaksaku makan dulu baru sudi memberi
penjelasan?"
"Kongcu, masih ada sebuah tugas yang teramat berat harus kau
laksanakan dengan sukses, tanpa mengisi perut untuk menunjang
kekuatan dan semangatmu, bagaimana kekuatan pisikmu bisa
bertahan?"
Heran Kun-gi, tanyanya: "Tugas berat apa yang harus
kulaksanakan?"
"Ya, ya, tugas ini amat penting dan besar artnya. lekaslah
Kongcu makan dulu."
Walau merasa heran dan curiga, tapi orang baru mau
menjelaskan setelah dirinya mengisi perut biarpun didesak lagi juga
percuma, apalagi perutnya memang sudah keroncongan, maka dia
berdiri dan berkata: "Baiklah, Cayhe mengganggu sebentar." Dia
menghampiri dipan dan mulai makan minum dengan lahapnya.
Yong King-t iong diam saja, dia duduk disebuah kursi di depan
dipan. Memang perut sudah lapar, maka dengan cepat hidangan
yang ada telah dilalap habis oleh Kun-gi, cuma sepoci arak yang
disediakan itu hanya dia minum dua cangkir kecil.
Sehabis Kun-gi makan, Yong King-tiong tersenyum puas, dia
bertepuk tiga kali. Gadis baju hijau tadi segera mendorong pintu
dan masuk, setelah memberesi semua mangkok piring segera
mengundurkari diri ke samping.
Yong King-tiong berkata: "Lohu hendak merundingkan persoalan
penting dengan Kongcu, boleh kau berjaga di luar kamar, tanpa
izinku siapapun dilarang masuk kemari."
Gadis baju hijau mengiakan terus keluar, pintu batupun menutup
pula.
Yong King-tiong mengambil dua cangkir arak dan ditaruh di meja
pendek di atas dipan, katanya: "Kongcu silakan duduk ke dalam."
Tahu orang akan mulai membicarakan soal penting, segera Kungi
mundur ke belakang, Yong King tiongpun duduk bersila di atas
dipan saling berhadapan.
Kata Yong King-tiong kemudian: "Mut iara di pinggang Kongcu ini,
bolehkah Lohu melihatnya?"
"Sudan tentu boleh," sahut Kun gi. Lalu dia copot ikatannya dan
diserahkan.
Bolak-balik Yong King-tiong mengamati mutiara itu dengan
seksama, mendadak matanya ber-kaca2 mengembeng air mata,
tanyanya kemudian dengan suara gemetar: "Inilah CinCu-ling tulen
dari Hek-liong-hwe, entah darimana Ling-kongcu memperoleh
mut iara ini?"
Semakin besar rasa curiga Kun-gi, katanya: "Mutiara ini adalah
warisan keluarga, jadi jelas bukan milik Hek-liong-hwe."
Mencorong sorot mata Yong King-tiong, tanyanya: "Kongcu tahu
akan nama mut iara ini?"
"Le liong-pi-tok-cu."
"Pi-tok-cu, sesuai namanya, mutiara ini dapat menawarkan
segala macam racun?"
"Betul"
Mendadak Yong King-tiong berdiri, dari meja tengah dia jemput
botol hitam kecil yang dibawanya tadi, serta mengambil mangkuk
kosong, katanya: "Entah mutiara Kongcu ini dapatkah menawarkan
racun di dalam botol ini?" lalu dia buka tutup botol dan menuang
cairan hitam kelam ke dalam mangkuk kosong tadi.
Sorot mata Kun-gi tertuju ke dalam mangkuk, mulutnya
mendesis: "Getah beracun."
Tanpa minta persetujuan Kun-gi, langsung Yong King-tiong
angkat Le liong-pi-tok-cu terus dicemplungkan ke dalam getah
beracun di dalam mangkuk. "Cess", suara mendesis keras dan
kepulan asap tebal seketika bergolak dari dalam mangkuk, begitu
asap lenyap getah beracun yang semula kental gelap di dalam
mangkuk itu kini berubah menjadi air bening.
Dengan gemetar Yong King-tiong angkat mangkuk berisi air
jernih itu dengan kedua tangannya, sekian lamanya ia kesima
mengawasi air jernih itu, mimik mukanya tampak haru dan pilu, air
mata pelan2 meleleh membasahi pipi, mulutnya bergumam:
"Memang inilah Leliong-cu tulen, memang inilah CinCu-ling . . . . '
Tiba2 ia letakkan mangkuk, lalu angkat Leliong-cu terus berlutut
menyembah beberapa kali, serunya sambil menengadah: "Semoga
arwah Hwecu di alam baka maklum, bahwa hamba rela hidup
tertekan dan dihina selama 20 tahun ini, syukurlah kini tiba saatnya
untuk membuat perhitungan." Sampai di sini dia berdoa, tak
tertahan lagi air matanya lantas bercucuran.
Kun-gi diam saja menyaksikan tingkah laku orang yang
dianggapnya aneh dan semakin tebal rasa curiganya. Masa Leliongcu
warisan keluarganya ada sangkut pautnya dengan Hek-lionghwe?
Tengah dia melenggong, dilihatnya Yong King-t iong menyeka air
matanya sambil berdiri, dia sodorkan Le liong-pi-tok-cu, sorot
matanya mendadak berubah tajam dingin menatap wajah Kun-gi,
sikapnya serius dan teguh, katanya dingin: "Kau bernama Ling Kun
gi?"
Kun-gi terima kembali Leliong-cu, sahutnya:
"Betul, Cayhe memang Ling Kun-gi."
Yong King-t iong manggut2, katanya: "bagus sekali, sudah 20
tahun Losiu menunggumu, sekarang hanya ada satu kesempatan
hidup bagimu, nah, loloslah pedangmu, lawanlah Losiu dengan
sekuat tenagamu." Tangan terangkat, "creng, tahu2 dia sudah
melolos sebatang pedang pandak warna hitamgelap.
Sikapnya yang semula ramah dan kini mendadak berubah
bermusuhan sungguh membingungkan Kun-gi. Katanya dengan
melenggong: "Lo-tiang ada permusuhan apa dengan Cayhe?"
Yong King-tiong tampak gelagapan oleh pertanyaan ini, tapi
mendadak dia berjingkrak murka, serunya: "Tak usah banyak tanya,
kalahkan dulu pedang ditanganku, bicara lagi nanti belum
terlambat.'
Kata Kun-gi bimbang: "Lotiang membawaku kemari hanya untuk
bertanding?"
"Jangan banyak omong, nah, keluarkan senjatamu."
”Jadi kita betul2 harus berkelahi?"
"Kalau kau ingin keluar dari kamar ini dengan hidup, kalahkan
dulu Losiu."
Pelahan Kun-gi melolos Seng-ka-kiam, katanya: "Baiklah, silakan
Lotiang memulai. ."
Yong King- t iong sudah tak sabar, jengeknya: ""Nah hati2lah?"
Pedang pendek ditangannya bergetar, selarik sinar gelap tiba2
membabat dari samping, terasa oleh Kun-gi gerakan menyapu
miring yang kelrihatan sepele itni, ternyata meqnimbulkan tekarnan
yang amat berat.
Diam2 Kun-gi kaget dan membatin: "Betapa hebat dan sempurna
kepandaian ilmu pedang orang ini, sungguh luar biasa." Pedang
pandak ditangannya segera bergerak menutul ke depan terus
menyontek ke atas.
Sementara itu pedang ditangan Yong King-tiong tampak
bergoyang naik turun, sekaligus dia menyerang tiga jurus dalam
sekali gerakan. Tiga jurus serangan ini menimbulkan lingkaran sinar
gelap yang menimbulkan tekanan hawa pedang yang berlapis dan
menebal, kekuatannya sungguh bukan olah2 dahsyatnya,.
Begitu gebrak Kun-gi lantas terdesak dibawah angin, hampir saja
dia tak mampu mengembangkan kemahirannya, terpaksa dia
mundur tiga langkah baru dapat menghindari rangsakan lawan.
Maklumlah darah mudanya gampang terbakar, karena terdesak
hatinya merasa penasaran, mendadak dia menghardik keras, Sengka-
kiam mendadak dia pindah ke tangan kiri, ia melompat maju,
pedang menusuk serta membabat dan memotong, Tat-mo-kiamhoat
dari Siau-lim-pay seketika dia kembangkan, ilmu silat pelindung
Siau-lim-pay yang amat dibanggakan ini setelah dimainkan secara
kidal oleh Ling Kun-gi ternyata berbeda pula perbawa serta gaya
permainannya, setiap jurus permainan yang berlawanan dengan
kebiasaan umum ini, sudah tentu jauh lebih rumit dan lebih lihay
pula serta sukar diselami.
Sekilas Yong King-tiong tampak melengak, katanya keheranan:
"Kau ini murid Hoanjiu-ji-lay?"
Ling Kun-gi mengejek: "Lotiang memang punya pandangan
tajam."
Di tengah percakapan ini, gaya pedang kedua orang tetap
bergerak laksana kilat saling samber, masing2 kembangkan
kemampuan ilmu pedangnya, sedikitpun tak menjadi kendur. Dalam
kamar batu yang agak sempit ini lama kelamaan terasa semakin
dingin diliputi hawa pedang yang bergolak, sungguh amat dahsyat
adu kekuatan kedua jago pedang kelas wahid ini, Lekas sekali lima
puluh jurus telah lalu dalam pertempuran sengit ini.
Ilmu silat Yong King-tiong ternyata amat luas, rumit dan serba
bisa, gaya pedangnyapun aneh, setiap jurus serangan pasti
mencakup tipu2 pedang dari berbagai aliran kenamaan di Kangouw,
jurus2 yang semestinya tidak berhubungan, tapi dapat
dimainkannya secara berantai dengan wajar dan bebas olehnya,
maka daya serangannya terasa semakin berat dan mengejutkan.
Ling Kun-gi juga mengembangkan Tat-mo kiam-hoat dengan
tangan kidal, tapi menghadapi perlawanan Yong King-t iong yang
berpengalaman dan membekal banyak ragam ilmu pedang, se-olah2
sekaligus dia menghadapi puluhan macam ilmu pedang dari
berbagai aliran kelas tinggi dan lihay, keruan lama kelamaan dia
merasa kewalahan.
Apalagi Lwekang lawan teramat tangguh setiap gerak
pedangnya. terasa satu lebih berat dari yang lain, schingga tekanan
yang timbulpun semakin hebat, dan secara bergelombang
menggempur Kun-gi, permainan pedang Kun-gi selalu terkunci dan
dihadang, hampir saja dia tidak mampu mengembangkan
pedangnya.
Di tengah adu kekuatan ini, terdengar Yong King-tiong
membentak: "Ling Kun-gi, memangnya kecuali Tat-mo-kiam-hoat
yang kau pelajari dari Hoan jiu-ji-lay ini, kau tak pernah mempelajari
ilmu warisan keluargamu?"
Tergerak hati Kun-gi mendengar seruan ini, pikirnya: "Ilmu
warisan keluarga? Yang dimaksud tentunya Hwi-liong-sam kiam?"
Tanpa terasa ia mengikuti gerak pikirannya, tiba2 mulutnya bersiul
badanpun segera melejit tinggi ke atas, pedang memancarkan
cahaya kemilau hijau, pada saat terapung di udara, pedang pandak
dia pindah ke tangan kanan, dengan ringan pergelangan tangannya
bergetar membundar, lapisan sinar pedang bagaikan hujan
beterbangan memancur ke segenap penjuru Iiu bertaburan ke atas
kepala, Yong King-t iong.
Sinar pedang Yong King-t iong bertaburan, beruntun dia
lancarkan jurus Giok-toh tio-thian dari Kunlunkiam-hoat, lalu Samhoa-
kik-t ing dari Bu-tong-pay dan Pat-poh-thianliong dari Tat-mokiam-
hoat milik Siau lim-pay. Namanya saja ketiga jurus ini terdiri
dari tiga aliran ilmu pedang, tapi di tangan Yong King-tiong ketiga
jurus ini dikom-binasikan dan dilancarkan dalam satu rangkaian
gerak tipu yang lihay. Maka terdengarlah suara "tring-tring" yang
ramai.
Pedang pandak hitam Yong King-t iong ternyata terpapas kutung
ber-keping2 oleh Seng ka-kiam Ling Kun-gi, tapi untung dia berhasil
meloloskan diri dari lingkupan sinar pedang Ling Kun-gi, tiba2 dia
ter-bahak2 sambil membuang gagang pedangnya, katanya: "Harap
berhenti Ling-kongcu!" Mendengar seruannya Kun-gipun berhenti, di
lihatnya Yong King-tiong berwajah cerah penuh rasa riang, kedua
tangan terangkap bersoja, katanya dengan air mata ber-kaca2:
"Memang itulah Sin liong jut-hun, ternyata kau memang Ling
seheng adanya, maafkan akan kekasaran Losiu barusan."
Tanya Ling Kun-gi dengan nada heran: "Dari mana Lotiang tahu
bahwa jurus yang kulancarkan tadi adalah Sin liong jut hun?"
Yong King tiong tertawa, katanya: "Hwi-liong-sam-kiam
merupakan ilmu pedang pelindung Hwe kita, bagaimana Losiu tidak
mengenalnya? Cuma sudah dua puluh tahun lebih Losiu tidak
pernah melihatnya lagi." Keterangannya terasa aneh dan sukar
dimengerti.
Seperti diketahui Hwi-liong-sam-kiam atau tiga jurus ilmu pedang
naga terbang adalah ilmu pedang warisan keluarga Ling Kun-gi,
bahwa Pek-hoa-pang menganggapnya sebagai Tinpang. sam-kiam
(tiga-jurus ilmu pedang pelindung-Pang), kini Yong King-tiong
mengatakan pula sebagai Tinhwesam-kiam, atau tiga jurus ilmu
pedang pelindung Hek-liong-hwe.
Semakin bingung Kun-gi, ia yakin di balik semua ini pasti ada
latar belakangnya, maka dia ber-tanya: "Lotiang . . . . . . . . . . . "
Yong King tiong goyang2 tangannya, katanya: ”Silahkan Kongcu
duduk saja, bila kabut sudah mulai timbul di Hek-liong-tam, Losiu
akan membawamu ke sana."
Kun-gi bagai orang linglung mendengar ucapan orang yang tidak
dimengerti ini, tanyanya: "Untuk apa Lotiang hendak membawaku
ke Hek-liong-tam?"
Heran dan kaget sorot mata Yong King-tiong, katanya sambil
menatap tajam: "Apakah sebelum Kongcu kemari, ibumu tidak
memberitahukan apa2 padamu?"
"Lotiang juga kenal ibundaku?"
"Ibumu adalah Hwecu-hujin (nyonya Hwecu), bagaimana Losiu
tidak mengenalnya."
"Hwecu-hujin", sebutan atas ibundanya ini membuat kepala Kungi
serasa hampir meledak, matanya terbeliak, tanyanya: "Apa
ucapmu, Yong-lotiang?"
"O, harap Kongcu tidak salah paham, maksud Losiu adalah
Hwecu dari perkumpulan kita pada dua puluh tahun yang lalu, jadi
bukan Hwecu sekarang yang gila hormat dan tamak harta,
pengkhianat yang menjual kawan demi mengejar kedudukan."
"Dari nada pernbicaraannya", demikian batin Kun-gi, "mungkin
ayah adalah bekas Hwecu dari Hek-liong-hwe dua puluh tahun yang
lalu, tapi kenapa selama ini ibu tidak pernah membicarakan hal ini
padaku."
Karena itu sorot matanya serta merta mencorong tajam,
tanyanya menatap Yong King-tiong: "Apakah Lotiang t idak salah
mengenal orang?"
Sambil mengelus jenggot, Yong King-tiong tertawa, katanya:
"Kongcu membawa Leliong-cu, barusan kusaksikan sendiri
melancarkan Hwi-liong-sam-kiam, kau she Ling lagi, mana mungkin
Losiu salah mengenalimu."
"'Tapi kenapa ibu tidak pernah menyinggung semua ini padaku?"
Sejenak Yong King-tiong berpikir, katanya kemudian sambil
menghela napas: "Hal itu tak perlu dibuat heran. Dahulu waktu
ibumu lolos dari kejaran elmaut, betapa banyak manusia yang
rendah martabatnya telah mengejar jejaknya, dunia memang luas,
hampir saja dia tiada tempat berteduh, setelah mengalami segala
penderitaan syukurlah Kongcu dilahirkan, tapi kekuatan musuh
makin bertambah besar dan merajalela, sebagai perempuan yang
lemah, sebatang kara lagi, mungkin juga dia anggap Kongcu masih
muda usia, maka soal dendam kesumat keluarga belum
diberitahukan padamu."
"Dendam kesumat", dua patah kata ini seketika menggelorakan
darah di rongga dada Ling Kun-gi, katanya haru: "Lotiang, tadi kau
bilang ayahku almarhum dulu adalah Hwecu Hek-liong-hwe, apakah
kemudian beliau mengalami bencana dicelakai musuh?"
Muram rona muka. Yong King-tiong, katanya: "Tatkala Hwecu
tertimpa musibah, boleh dikatakan beliau gugur sebagai pahlawan
bangsa, seharusnya Losiu mengikut i langkah Hwecu ke alam baka,
bahwa selama 20 tahun aku mencari hidup ini lantaran kutahu
setelah Hujin berhasil lolos, dia sedang mengandung, kudambakan
akan datang suatu hari, akan tibalah saatnya menuntut balas secara
total, bila Losiu mati demikian saja, musibah besar yang penuh
rahasia itu pasti takkan diketahui orang luar." Sampai di sini tak
tertahan matanya bercucuran, tangisnyapun sesenggukan.
Kun-gipun dirundung kesedihan, air mata membasahi selebar
mukanya. "Duk", tiba2 dia berlutut serta menyembah ber-ulang2,
serunya: "Luhur, budi Lotiang, cita2mu yang penuh pahit getir, pasti
dulu engkau adalah kawan seperjuangan ayahanda almarhum,
sudikah kiranya engkau menceritakan duduk periatiwa yang
sebenarnya."
Yong King-t iong menyeka air matanya dia membimbing Kun-gi
bangun, katanya: "Lekas engkau berdiri, jangan kau menyiksa Losiu
lagi, selama 20 tahun ini, saat seperti inilah Losiu nanti2kan, cuma
terlalu panjang untuk berkisah peristiwa lama, kita hanya ada waktu
singkat saja, paling2 hanya kukisahkan secara ringkas, nanti setelah
Kongcu berhasil mengambil barang itu baru akan kuceritakan lebih
jelas."
"Hanya ada waktu singkat saja?" demikian pikir Kun-gi, "barang
apa pula yang harus kuambil? Pastilah suatu barang yang amat
penting artinya."
Kembali dua orang duduk berhadapan, Yong King tiong
menghirup secangkir teh, lalu katanya: Cerita ini harus kumulai dari
masa gugurnya Siante (Kaisar Gi-cong almarhum di medan bakt i
sehingga menimbulkan pemberontakan laskar rakyat di mana2,
Tuan Puteri dengan badan sucinya akhirnya masuk biara
mempelajari agama, tapi beliau selamanya takkan lupa akan
dendam keluarga dan kejatuhan negara, secara diam2 dia masih
membangun kekuatan terpendam untuk membalas dendam, selama
puluhan tahun berkecimpung di Kangouw, akhirnya beliau dapat
menyusun kekuatan para pahlawan bangsa di berbagai daerah."
Sampai di sini ceritanya dia menarik napas panjang, setelah
menghirup napas segar baru menuturkan kiaahnya: "Waktu itu ada
seorang panglima she Thi. setelah pasukannya kalah dan
dihancurkan musuh, dia berhasil menyusun sekelompok kekuatan
yang dipelopori kaum persilatan, di Kunlunsan inilah mereka
akhirnya membentuk Hek-liong-hwe dengan mengibarkan panji
perlawanan kepada penguasa kerajaan . . . . . . .
"Jadi panglima she Thi itulah yang mendirikan Hek-liong-hwe,
bahwa Kunlun san dipilih sebagar markas pusatnya karena di perut
gunung ini terdapat banyak lorong2 gua ciptaan alam yang ber-liku2
membingungkan, tembus kian kemari laksana sarang tawon, asal
sedikit dipugar atau diperbaiki tempat ini akan menjadi tempat
tersembunyi yang paling aman dan rahasia, musuh takkan mudah
menemukan tempat ini."
"Jadi lorong2 gua ini sudah mengalami pemugaran waktu itu,"
kata Kun-gi.
"Lorong2 gua ini semula memang ciptaan alam tapi lebih banyak
pula yang dipugar oleh tenaga manusia, hampir 30 tahun lamanya
Lohwecu memugarnya," demikian tutur Yong King-tiong lebih lanjut,
"di waktu membuat lorong tembus di gua gunung yang harus
melewati celah2 batu gunung tanpa sengaja Lohwecu menemukan
sebuah ruang gua lain, di atas dinding dalam gua itu tergambar
bentuk manusia yang sedang bermain pedang, kabarnya gambar itu
adalah peninggalan Tiong-yang Cinjin dari Coancinkau, di sana
Lohwecu berhasil menyelami dan mempelajari tiga jurus ilmu
pedang yang tiada taranya, yaitu Hwi-liong-sam-kiam."
"Nama Lohwecu she Thi itu apakah Tiong-hong?" tanya Kun-gi.
Yong King-tiong manggut2, katanya: "Kiranya Ling-kongcu
pernah dengar cerita orang," tanpa tanya dari siapa Kun-gi
mendapat tahu, Yong King-tiong melanjutkan kiaahnya: "Pernah
Losiu dengar cerita dari Lohwecu bahwa ilmu pedang yang tertera di
dinding sebetulnya bukan cuma tiga jurus saja, maklumlah usianya
pada waktu itu sudah setengah abad, dibatasi bakat dan usia, maka
hanya tiga jurus itu saja yang dapat dipelajarinya dengan baik . . . .
. . Ai, terlalu jauh aku ngelantur."
Kini nadanya menjadi lebih kalem: "Dikala membuat lorong
tembus ke pusar bumi itu pula Lohwecu menemukan suatu sumber
racun, air yang mengalir dari sumber itu beracun, bukan saja kental,
warnanya juga hitam gelap, manusia mati seketika bila tersentuh
meski hanya satu tetes saja "
”Getah beracun!" seru Kun-gi tanpa terasa.
"Betul," ujar Yong King-tiong manggut2, "akhirnya kita namakan
air itu getah beracun. Kemudian lohwecu membuat sebuah perigi
kecil, getah beracun itu dialirkan ke dalam perigi itu, dari situlah
timbulnya lama Hek-liong-tam."
Setelah sekian lamanya mendengar kisah orang dengan sabar,
tapi orang tetap belum menyinggung soal ayahnya, diam2 Kun-gi
resah dan gelisah.
Yong King-t iong malah menghirup secangkir teh pula baru
melanjutkan ceritanya: "Dalam usia setengah baya itu, Lohwecu
tetap belum dikurniai putera, padahal waktu itu kebetulan sedang
musim kemarau panjang, di-mana2 geger kelaparan, rakyat hidup
tertindas. Pada suatu ketika Lohwecu turun gunung, pulangnya
membawa seorang orok perempuan dan diangkat sebagai puterinya
dan dinamakan Ji-giok, Thi-hujin memandang orok perempuan ini
sebagai anak kandungnya sendiri, amat kasih sayang. Tak nyana
dua tahun kemudian, Thi-lohujin malah melahirkan sendiri seorang
puteri dan diberi nama Ji-hoa. Sekejap mata 20 tahun telah lalu,
sepasang kakak beradik inipun tumbuh dewasa laksana kembang
mekar, Lohwecu tidak pernah membedakan kedua puterinya ini,
setiap ada waktu senggang, dia ajarkan ilmu silat kepada kedua
nona ini . . . . "
Mendengar sampai di sini, lapat2 Kun-gi sudah dapat meraba dan
mengerti, di antara sepasang kakak beradik ini pasti satu di
antaranya adalah ibundanya dan seorang lagi pastilah Thay-siang
dari Pek-hoa-pang.
Terdengar Yong King-tiong melanjutkan ceritanya: "Waktu itu
tuan puteri mulai bergerak di daerah Kanglam, dia sendiri yang
memimpin gerakan2 di sana, partai2 besar persilatan memang tidak
kelihatan turut campur, tapi secara diam2 mereka membantu
dengan segala daya upaya, malah para muridnya dianjurkan untuk
membantu sekuat tenaga dengan menyaru kaum persilatan
umumnya dan ikut membentuk barisan2 penentang kerajaan lalim
yang berkuasa. Musim semi tahun itu, Siau-lim Hongtiang Kay-to
Taysu memperkenalkan seorang pemuda kepada Lohwecu untuk
menjadi anggota Hek-liong-hwe, pemuda ini she Ling bernama
Tiang-hong, murid Kay-te Taysu satu2nya dari golongan preman."
"Apakah dia ini ayahku almarhum?" tanya Kun-gi, "Padahal
ibunda memberi tahu padaku bahwa ayah bernama Swi-toh."
"Kongcu masih muda, bahwa ibumu tidak menceritakan kiaah
masa lalu ini, sudah tentu diapun tak akan memberitahukan nama
terang ayahmu," sambil mengawasi reaksi Ling Kun-gi sejenak, lalu
dia menambahkan, "waktu itu ayahmu juga baru berusia likuran
tahun, berwajah cakap dan gagah, masih segar dalam ingatan Losiu
tatkala dia baru t iba di Hek-liong-hwe, Lohwecu memberi jabatan
kepala barisan ronda, kalau tidak salah ayahmu kepala dari
kelompok ke21, Losiu dari kelompok ke 22, sering kami bertugas
bersama, satu lama lain saling membantu, oleh karena itu
hubunganku cukup akrab dengan ayahmu."
Kun-gi segera berdiri tegak khidmat dan bersoja, katanya:
"Ternyata paman adalah sahabat karib ayah almarhum, maaf akan
kekurangajaran Siaut it barusan."
"Kongcu tak usah banyak adat," ucap Yong King- tiong, "Losiu
hanya seorang hamba dari ayahmu, mana berani dijajarkan sebagai
kawan karibnya segala?"
"Ayahmu masih muda tapi sudah punya cita2 luhur, matang
dalam pengalaman dan sempurna dalam tata kehidupan, tindak
tanduknya tegas dalam menjalankan tugas, dalam waktu tiga tahun,
dari seorang kepala ronda sekaligus dia sudah berhasil menanjak ke
atas karena jasa2nya dan diangkat menjadi Hwi-liong-tong Tongcu,
dia merupakan orang kepercayaan yang selalu mendampingi
Lohwecu, bukan saja Hwecu sudah ada maksud untuk mengawinkan
puteri sulungnya padanya, malah kelak kemungkinan akan
mewariakan jabatan Hwecu Hek-liong-hwe . . .. . . . '
Sampai di sini, kembali dia menghirup secangkir teh, setelah
kerongkongan basah baru dia bercerita pula: "Tiga tahun sejak
ayahmu berada di Hek liong-hwe, pada musim rontok tahun itu
Lohwecu lantas mengawinkan puteri sulungnya Ji-giok dengan
ayahmu, tapi pada malam pengantin ayah bundamu itulah, nona Jihoa
mendadak menghilang, minggat entah kemana . . . . . . "
agaknya masih panjang lebar ceritanya, tapi seperti rada hal2 yang
sengaja hendak dia sembunyikan, maka cerita ini dia putus sampai
di sini.
Sudah tentu Kun-gi dapat menangkap arti pembicaraan orang,
ceritera Yong King-tiong pada bagian terakhir ini agak kabur, secara
tidak langsung dia mau bilang bahwa minggatrya nona Ji-hoa
lantaran ada sangkut pautnya dengan pernikahan ayah bundanya.
Tapi sebagai seorang anak, sudah tentu tak enak Kun-gi mendesak
ceritera orang akan kejadian masa lalu ayah bundanya, maka dia
hanya mendengarkan tanpa bersuara dan tidak memberi reaksi
apa2.
"Lohwecu sudah berusia lanjut, bahwa puteri tunggalnya
mendadak minggat, sudah tentu Lohwecu suami iateri sangat
bersedih, terutama Lohujin, saking kangen dan menguatirkan
keselamatan puterinya itu, akhirnya dia jatuh sakit dan rebah
diranjang tak bisa bangun lagi. Pada waktu itulah pihak kerajaan
juga mendapat berita bahwa Hek-liong-hwe sedang siap2 hendak
bangkit dan berontak, maka jago2 keraton yang berkepandaian
tinggi diutus untuk mencari jejak dan menggeledah seluruh pelosok
pegunungan Kunlunsan. Tapi pihak kita juga sudah mendapat
kabar, apalagi markas pusat Hek-liong-hwe berada di perut gunung,
sudah tentu kawanan alap2 kerajaan itupun tak berhasil
menunaikan tugasnya.”
Tak tertahan akhirnya Kun-gi menyeletuk: "Memangnya Hekliong-
hwe berpeluk tangan membiarkan kawanan cakar alap2 itu
bertingkah di depan pintu markasnya?"
"Di sinilah letak keberhasilan Lohwecu dalam bertindak dan
berkeputusan, maklumlah kekuatan kerajaan pada waktu itu sedang
mencapai kejayaannya, pahlawan2 bangsa yang tersebar di
berbagai tempat sudah tidak sedikit yang menjadi korban demi
mempertahankan kekuatan, maka Hwecu berkeputusan t idak mau
sembarang bertindak."
Sampai di sini mendadak dia menghela napas, katanya pula:
"Tapi sungguh t idak pernah terduga bahwa, di antara para Siwi
(jago pengawal raja ada seorang muridnya Sinswi-cu. Perlu
diketahui bahwa seluruh peralatan rahasia yang terpasang di
lorong2 gua dalam markas kita ini diciptakan oleb Sinswi-cu, sudah
tentu muridnya juga paham akan ilmu ciptaan gurunya, maka di
bawah petunjuknya jago2 keraton segera menyerbu masuk lewat
Ui-liong-tong. Karena rahasia sudah terbongkar, terpaksa Lohwecu
bertindak cepat dan tegas, kalau satu saja dari cakar alap2 musuh
lolos, buntut peristiwa ini tentu amat panjang, maka malam itu
seluruh kekuatan kita dikerahkan, untunglah delapan belas jago
kerajaan akhirnya berhasil ditumpas seluruhnya. Lohwecu sendiri
dalam pertempuran sengit itu berhasil membinasakan lima jago
alap2, tapi beliaupun terluka oleh senjata rahasia beracun salah
seorang musuh yang terbunuh . . . . . . . "
"Leliong-cu dapat menawarkan segala macam racun di dunia ini,
apakah Lohwecu . . .. . ."
"Betul, Leliong cu memang dapat menawarkan segala macam
racun di dunia ini, tapi Lohwecu terluka oleh jarum beracun yang
ditiupkan oleh orang Biau, jarum tiup itu lembut seperti bulu kerbau,
orang yang terkena jarum itu sendiripun tidak merasakan apa2,
padahal Lohwecu sendiri dengan penuh semangat telah menumpas
musuh2nya, hakikatnya beliau tidak tahu kalau dia kena dibokong
orang. setelah musuh tertumpas seluruhnya dan kembali ke ruang
pendopo, racunpun sudah merangsang jantung, mendadak beliau
jatuh pingsan. Waktu itu belum ada orang yang tahu Hwecu terkena
jarum berbisa, orang banyak mengira beliau kehabisan tenaga
dalam usianya yang sudah lanjut setelah membunuh para
musuhnya, tapi setelah tabib berusaha memberi pertolongan dan
dia tetap dalam keadaan pingsan, saat itu barulah diadakan
pemeriksaan dan berhasil menemukan setitik hitam di pundak kiri
Hwecu, seorang ahli memastikan bahwa titik hitam itu adalah bekas
tusukan jarum lembut yang amat beracun, lekas Leliong-cu
dikeluarkan untuk menawarkan racunnya, namun sayang sudah
terlambat, sebelum fajar menyingsing beliaupun wafat, sepatah
katapun tak sempat dia meninggalkan pesannya.
"Selanjutnya bagaimana?" kata Kun-gi.
"Suatu organiaasi tak boleh tanpa pimpinan, maka dihadapan
layon Lohwecu, kami mengadakan rapat dan secara mutlak
mengangkat ayahmu untuk mengisi jabatan Hwecu yang kosong
itu."
"Dan cara bagaimana pula ayah almarhum di celakai orang?"
tanya Kun-gi.
Tiba2 Yong King-t iong menghela napas panjang, katanya
kemudian: "Waktu itu ayahmu baru berusia likuran tahun, baru
empat tahunan berada dalam Hek-liong-hwe, berkat bimbingan
Lohwecu-lah dia memperoleh kemajuan pesat, dari seorang kepala
ronda terus menanjak menjadi Tongcu dari Hwi-liong-tong, sebelum
Lohwecu wafat beliau memang sudah sering memperbincangkan
tentang ahli warisnya dengan orang banyak, maka pengangkatan
ayahmu sebagai Hwecu menggantikan Lohwecu mendapat
dukungan mutlak. Tapi Hek-liong-hwe sudah berdiri sejak tiga puluh
tahun yang lulu, meski ayah-mu memiliki kecerdikan dan
kepandaian yang tinggi, betapapun dia masih terlalu muda dan
cetek pengalaman, sukar dia memikul beban berat dan menunaikan
cita2 dan harapan orang banyak ........"
"Itu berarti ada sementara orang merasa sirik dan kurang senang
akan pengangkatan ayah?"
"Bukan begitu soalnya," ucap Yong King-tiong, "semula beberapa
Tianglo (tertua) yang dahulu ikut Lohwecu mendirikan Hek-lionghwe
memang merasa ayahmu terlalu muda, sukar memikul tugas
berat, tapi setelelah Lohwecu mangkat, selama setahun Hek-lionghwe
di bawah pimpinan ayahmu, ketenaran Hek-liong-hwe justeru
lebih menjulang tinggi di kalangan Kangouw, kebesaran Hek-lionghwe
boleh dikatakan belum pernah terjadi sejak sejarah berdirinya
selama tiga puluh tahun, akhirnya beberapa Tianglo itu baru betul2
merasa bahwa pilihan Lohwecu atas ayahmu memang tepat dan
bijaksana, maka dengan sekuat tenaga mereka menyokong dan
bantu kerja keras, sampaipun Ceng-liong-tong Tong-cu Han Janto
yang selamanya bertentangan pendapat dengan ayahmupun
berubah pendirian dan mendukung sepenuhnya kepemimpinan
ayahmu, tahun itu boleh dikatakan masa jaya2nya Hek-liong-hwe."
"Jadi siapakah biang keladi yang mencelakai ayah?" tanya Kun-gi
bingung.
Rawan sikap Yong King-tiong, katanya setelah menghela napas:
"Bahwa delapan belas jago ko-sen kerajaan tiada satupun yang
kembali dalam menunaikan tugas, sudah tentu pihak kerajaan tidak
berpeluk tangan. Setelah diselidiki, akhirnya diketahui bahwa ke18
jago kosen dari keraton itu seluruhnya terbinasa di tangan orang2
Hek-liong-hwe, sudah tentu kaisar sangat murka memperoleh
laporan ini, maka gubernur Soa-tang diperintahkan untuk
menghancur leburkan kaumpemberontak.”
Ling Kun-gi berjingkat, serunya: "Pihak kerajaan hendak
menumpas dengan pasukan besar?"
"Menghadapi pasukan besarpun Hek-liong-hwe tak pernah
gentar, umpama berlaksa bala tentara sekaligus menyerbu
pegunungan Kunlunsan juga takkan membawa hasil yang
diharapkan, yang menggemaskan justeru di dalam Hek-liong-hwe
kita sendiri ternyata ada manusia gila yang lupa akan ajaran leluhur
dan terima menjadi antek musuh dan menjual bangsa.".
Bergetar hati Kun-gi. "Siapa?"b, teriaknya terd-beliak.
"Yaitu Hek-liong-hwe Hwecu yang sekarang, Han Janto,"
Rasa geram bergejolak dalam rongga dada Kun-gi, tanyanya:
"Cara bagaimana dia berhasil menjual Hek liong-hwe kepada
musuh?"
"Gubernur Soa-tang Kok Thay adalah antek perdana menteri
Hokun yang berkuasa di istana, semula Kok Thay adalah bajingan
yang sering mengisap darah rakyat dengan penindasan kejam,
waktu dia memperoleh perintah dari istana, bukan saja ketakutan
juga kebingungan sampai ter-kencing2. . . dia punya seorang
penasihat yang bernama Ci Kunjin, bergelar Im-su-boan koan
(hakim akhirat), kabarnya orang ini dulu adalah tabib kelilingan di
Kangouw, entah bagaimana akhirnya bisa memperoleh pangkat dan
kedudukan dikalangan pemerintahan dan menjadi orang
kepercayaan Kok Thay, dari nasihat dan petunjuk Ci Kunjin inilah
kejahatan Kok Thay semakin merajalela, demikian juga dalam hal
ini, dia pula yang mencari akal muslihat keji, dia bilang bahwa
pasukan besar pasti takkan berhasil, maka dia menulis beberapa
huruf di telapak tangannya sebagai usulnya."
"Tipu muslihat apa yang dia tulis di telapak tanganya?" tanya
Kun-gi.
"Memberantas pemberontak dengan pemberontak."
"Memberantas pemberontak dengan pemberontak?"
"Betul, muslihatnya ini boleh dikatakan amat keji, tujuannya
adalah memecah belah, dia memancing dengan harta benda serta
pangkat, jika bukan manusia gila yang durhaka, mana mungkin
berhasil mengaduk di dalam Hek liong-hwe kita?"
Setelah menarik napas panjang, akhirnya Yong King-tiong
meneruskan: "Mungkin juga lantaran sudah ditakdirkan, kebetulan
Han Janto si keparat itu berselisih paham dengan ayahmu, akhirnya
malah ayahmu yang mendapatkan jabatan Hwecu, lahirnya memang
kelihatan dia ikut mendukung, tapi dendam hatinya ternyata
semakin mendalam.
"Perlu diketahui bahwa Han Janto adalah putera adik angkat
Hwecu sendiri, ayahnya gugur di medan laga demi membela panji
kebesaran Hek-liong-hwe, selama ini Lohwecu memandangnya
sebagai keponakan, malah kedudukannyapun terus menanjak dan
akhirnya diangkat sebagai Ceng-liong-tong Tongcu, jika tiada
ayahmu, memang mungkin dialah yang akan mewarisi jabatan
Hwecu kelak."
Cerita ini kedengarannya cukup jelas, tapi siapapun pasti akan
merasa bahwa dibalik cerita ini ada sesuatu yang sengaja
ditinggalkan sehingga orang sehingga rangkaian cerita ini
hakikatnya tidak sempurna.
Kun-gi berkata: "Umpama betul dia berselisih dengan ayah,
itukan persoalan pribadi, tidak seharusnya dia menjual Hek-lionghwe."
"Itulah yang dikatakan mabuk harta dan gila pangkat, dia lupa
bahwa bapaknyapun gugur di tangan musuh, soalnya pihak
kerajaan berjanji bila dia berhasil dengan usahanya, bukan saja
tidak menjatukan hukuman padanya sebagai pemberontak, malah
dia akan diangkat menjadi pembesar, ada hadiahnya lagi, oleh
karena janji muluk2 inilah sehingga dia rela menjual kawan demi
mencari keuntungan pribadi, sekaligus untuk ber-muka2 dan
membalas dendam, secara suka rela dia menyerahkan peta rahasia
dari seluruh markas pusat ini sebagai usahanya. pertama mendarma
baktikan diri pada kerajaan . . . . . ... '.
Pucat wajah Kun-gi, katanya: "Di bawah gerebegan ketat jago2
kosen pihak kerajaan, Hek-liong-hwe masih tetap jaya malah
berkembang semakin besar, semua itu berkat lorong2 rahasia di
dalam gunung ini, orang luar tiada yang tahu rahasianya, bahwa dia
rela menyerahkan peta rahasia markas pusat, itu berarti telah
menyerahkan seluruh kekuat-an Hek-liong-hwe kepada musuh.
Terkepal kencang kedua tangan Yong King-tiong, katanya
dengan geregetan: "Memangnya tiga puluh tahun lebih Lohwecu
mendirikan Hek-liong-hwe, betapa jerih payah Sinswi-cu
menciptakan alat2 rahasia itu, sejak itu semua terjatuh ke tangan
musuh."
"Bagaimana kejadiannya, harap paman suka menceritakan," pinta
Kun-gi.
Jelek sekali air muka Yong King-tiong, sorot matanya setajam
pisau, katanya sambil mengertak gigi: "Penegak Hek liong-hwe,
kecuali Lohwecu masih ada sembilan Tianglo lagi, mereka sehidup
semati dalam perjuangan sebagai saudara angkat, waktu Lohwecu
meninggal masih ada lima Tianglo saja yang hidup, usia mereka
waktu itu juga sudah lebih setengah abad, keparat she Han yang
durhaka itu bukan saja menyerahkan peta rahasia kita, ternyata
diapun tega berlaku kejam, di bawah hasutan dan petunjuk cakar
alap2 musuh, secara diam2 ia telah menaruh racun, beruntun
kelima Tianglo kita dibunuhnya . . . . . . . "
"Apakah tiada orang yang membongkar muslihatnya ini?" tanya
Kun-gi.
"Tidak, kerja keparat itu amat cermat, cerdik dan licik lagi,
apalagi racun yang dia gunakan pemberian dari istana raja, para
korban tidak meninggalkan bekas keracunan, dalam waktu satu
bulan kelima Tianglo kita itu beruntun meninggal satu per-atu,
sudah tentu peristiwa ini menimbulkan kecurigaan, tapi para Tianglo
itu kelihatan mati dengan wajar, tidak ada gejala2 aneh sedikitpun,
meski dalam hati semua orang menaruh curiga, tapi tiada yang bisa
berbuat apa2 . . . . . . ",
Alis Kun-gi menegak, desisnya geram: "Bangsat keparat itu
memang pantas dicacah lebur ber-keping2."
"Dua puluh tahun yang lalu, pada malam Toanngo (Pek-cun),
hampir dua bulan sejak Tianglo terakhir meninggal dunia, selama itu
tak pernah terjadi apa2 dalam Hek-liong-hwe kita, maka
kewaspadaan kita menjadi kendor, Toanngo adalah hari raya besar,
setiap tahun seperti lazimnya Hwecu pasti mengumplkan ketiga
Tongcu dan tiga puluh enam panglima untuk berpesta pora di ruang
pendopo, demikian pula para kepala ronda dari masing2 seksi juga
diundang . . . . . . . . ."
"Kembali dia menggunakan racun?" tak tertahan Kuangi
bertanya.
Yong King-tiong t idak rnenjawab langsung, katanya: "Dikala
hadirin makan minum dengan riang gembira, seorang she Sim,
kepala ronda dari Ceng-liong-tong, tiba2 berlari masuk dengan terburu2,
langsung dia ber-bisik2 ditelinga Han Janto" tampak Han
Janto mengunjuk wajah berseri, segera dia bangkit dan berkata
dengan suara lantang: "Hadirin sekalian, hari ini adalah hari raya
Toanyang, kebetulan para saudara hadir di sini, ada beberapa patah
kata ingin kusampaikan. Hek-liong-hwe kita sudah berdiri sejak 30
tahun yang lalu, tujuan semula adalah membangkitkan kembali
kerajaan Beng, tapi selama 30 tahun ini pernerintahan Boan sudah
amat kukuh dan sudah berkuasa di seluruh negeri, harapan untuk
membangkitkan kerajaan Beng sudah nihil, dengan kekuatan kita
yang hanya beberapa gelintir manusia ini jelas takkan mampu
melawan kekuasaan raksasa kerajaan seka-rang, bak telur
membentur batu belaka, daripada ber-tahun2 kita tetap hidup di
perut gunung, jarang sekali melihat sinar matahari, apalagi selama
30 tahun ini tiada kemajuan yang kita capai, orang kuno juga bilang
adalah bijaksana kalau kita tunduk pada firman Thian, sebaliknya
menentang takdir pasti akan hancur lebur, maka menurut hematku,
lebih baik kita menyerah kepada kerajaan Boan saja, kita terima
pengampunan dan anugerahnya, masa depan kita masih terbentang
luas di depan mata. Kira2 begitulah pidatonya waktu itu. Ai,
sungguh memalukan bahwa dia berani bicara serendah itu."
"Bagaimana reaksi ayah pada waktu itu?" tanya Kun-gi.
"Waktu itu hadirin mengira dia terlalu banyak menenggak arak,
maka kata2nya ngelantur, tapi hal itupun sudah merupaka
pelanggaran serius yang tidak boleh didiamkan, sudah tentu hwecu
tidak berpeluk tangan, segera dia membantak: `Hantongcu, gila
kau, berani kau omong sekotor itu, menurut aturan kita, kau pantas
dihukum pancung dan dipreteli anggota badanmu.'
"Han Janto malah terbahak mendongak, serunya: 'Ling Tianghong,
jangan kau pamer kewibawaanmu sebagai Hwecu dihadapan
tuan Hanmu ini, coba pentang lebar matamu, kalian kaum
pemberontak ini, jangan harap satupun bisa lolos.'
Mendadak ia membanting cangkir arak di tangannya.
Membanting cangkir adalah isyarat, maka dalam sekejap dari
delapan pintu rahasia yang ada di ruang pendopo sekaligus
memberondang keluar puluhan jago2 kosen kerajaan."
"Kekuatan inti Hek-liong-hwe berada semua di ruang pendopo,
kecuali mereka menggunakan senjata rahasia yang amat jahat,
masa puluhan cakar alap2 musuh tak mampu mereka
memberantasnya?" tanya Kun-gi.
Berkerut gigi Yong King-tiong, katanya pedih dengan suara berat:
"Cakar alap2 itu tiada yang menggunakan senjata rahasia, tiada
pertempuran yang terjadi di ruang pendopo karena tiada
perlawanan sedikitpun dari kita, dengan mata mendelong semuanya
di telikung dan dibelenggu tanpa bisa berkutik."
Mencelos hati Kun-gi, serunya: "Semuanya terkena racun?!"
Guram sorot mata Yong King-tiong, katanya: "Di dalam arak Han
Janto telah mencampurkan bubuk pelemas tulang, semua orang
kehilangan daya tahannya, apalagi untuk melawan ........."
"Bagaimana ayah?" tanya Kun-gi gugup.
Berlinang air mata Yong King-tiong, katanya: "Waktu itu Losiu
sudah menjabat Hek liong-hwe Congkoan, karena tugas maka aku
tidak hadir dalam perjamuan itu, kejadian ini akhirnya kudengar dari
cerita orang. Melihat gelagat tidak menguntungkan. Hwecu
menggigit lidah dan bunuh diri, dia gugur sebagai pahlawan bangsa
dalam tugasnya.".
Bercucuran air mata Kun-gi, tiba2 dia menjatuhkan diri dan
berlutut, ratapnya: "Yah, anak berjanji pasti akan membunuh
bangsat she Han itu dengan tanganku sendiri untuk membalas sa-kit
hatimu."
Sambil menyeka air mata Yong King-tiong berkata: "Kongcu tak
usah sedih, setelah kembali dari Hek-liong-tam, pasti dengan mudah
kau dapat menuntut balas, memangnya bangsat she Han itu dapat
lari kemana?"
Kun-gi bangkit berdiri, mendadak dia tanya dengan prihatin:
"Lopek (paman), cara bagaimana ibu dapat melarikan diri waktu
ilu?"
"Mungkin sudah suratan takdir, ibumu waktu itu sudah bunting,
karena sering muntah2, maka dia tidak hadir dalam perjamuan,
kawanan cakar alap2 itu sedang sibuk menerima tugas dan berebut
kedudukan, apalagi di-mana2 masih ada perlawanan, maka ibumu
mendapat kesempatan lari setelah mendengar perubahan situasi,
ketika mereka sadar, namun ibumu sudah lolos lewat jalan
rahasia.."
"Bangsat she Han itu sudah menjual Hek-liong-hwe, cara
bagaimana dia bisa menjadi Hwecu Hek-liong-hwe pula?"
"Dengan menjual Hek-liong-hwe berarti dia telah berjasa besar
bagi kerajaan, kini dia sudah menjadi pemimpin komandan pasukan
bayangkari keraton, di samping kedudukan sampingannya sebagai
Hek liong-hwe Hwecu, dan semua ini merupakan suatu rencana keji
yang mengandung banyak muslihat."
"Memangnya ada muslihat keji apa pula?" tanya Kun-gi heran.
Yong King-tiong menenggak secangkir teh, katanya kemudian:
"Semua ini ada sangkut pautnya dengan Losiu, demikian pula erat
hubungannya dengan Kongcu sendiri."
"O," Kun-gi melongo keheranan.
"Dua puluh tahun yang lalu, kelompok2 penentang kerajaan Boan
dan pembangkit kerajaan Beng tersebar luas di selatan dan utara
sungai besar, semuanya berada di bawah komando Tuan Puteri,
sebagian tertumpas oleh musuh, banyak pu-la yang
menyembunyikan diri dan sejak itu tiada gerakan2 lagi, hanya Hekliong-
hwe karena mempunyai kedudukan strategis, maka dia tetap
berdiri jaya dan menjulang di kalangan Kangouw, boleh dikatakan
Hek-liong-hwe merupakan kelompok terakhir yang masih aktip.
Bahwa pihak kerajaan sekarang masih tetap mempertahankan Hekliong-
hwe tujuanya adalah untuk menggaruk sisa gerakan rakyat
yang terpendam, maksud utama mereka adalah menumpas habis ke
akar2nya kaum patriot yang hendak membangkitkan kerajaan Beng
. . . ''
"Memangnya ini ada sangkut paut apa dengan dia dan aku?"
diam2 Kun-gi membatin dalam hati..
"Kecuali itu masih ada sebab lainnya pula," sambung Yong Kingtiong,
"ini ada hubungannya dengan Hek-liong-tam. . . . "
Mendengar orang kembali menyinggung Hek-liong-tam, padahal
tadi dikatakan bahwa pihak kerajaan menyerahkan kekuasaan
pimpinan Hek-liong-hwe kepada keparat she Han itu ada sangkut
pautnya dengan diriku, kini dikatakan pula ada hubungan dengan
"kolam naga hitam", maka dapatlah disimpulkan bahwa di kolam
naga hitam itu tentu tersembunyi sesuatu yang ada sangkut
pautnya dengan dirinya.
Sebelum Kun-gi mendesak, Yong King-tiong telah melanjutkan
kisahnya. "Kemudian Losiu di-tawan, karena dia anggap paling
akrab dengan ayahmu, selama setahun lebih aku disekap dalam
penjara, belakangan Losiu mendapat tahu bahwa ibumu berhasil
lolos dengan membawa lari Leliong-cu dan musuh tak berhasil
menemukan jejaknya, maka Losiu pikir harus bertahan hidup, malah
aku berusaha untuk tetap memegang jabatan Congkoan dalam Hekliong-
hwe, karena dalam memangku jabatan itulah baru aku punya
harapan untuk menunggu kedatangan Kongcu, maka terpaksa aku
merendahkan diri terima diperintah dan dihina, malah sengaja
kubocorkan juga sesuatu rahasia besar yang cukup penting sebagai
penebus hukumanku . . . . . . ."
Mendengar sampai di sini tak tertahan Kun-gi bertanya: "'Entah
rahasia penting apa yang Lopek bocorkan kepada mereka?"
"Kecuali ibumu hanya Losiu seorang saja yang tahu akan rahasia
ini," ujar Yong King-tiong ter-tawa, "yaitu sebuah kamar gua yang
terletak di dasar Hek-liong-tam yang dulu ditemukan Lohwecu di
waktu membuat lorong rahasia, di dalam kamar gua itulah ada
peninggalan gambar yang terukir di dinding tentang ilmu pedang
maha sakti dari peninggalan Tiong-yang Cinjin. Waktu Tuan Puteri
mengadakan inspeksi ke Hwe kita, beliupun berpendapat bahwa
letak kamar gua itu amat strategis dan rahasia, maka daftar nama
dan tokoh2 dari berbagai aliran besar yang ikut menjadi anggota
Thay-yang-kau (agama memuja matahari) disimpannya juga di
sana, mengingat betapa penting beratnya tugas serta tanggung
jawab ini, maka Lohwecu minta kepada Sinswi-cu untuk
menciptakan suatu alat rahasia, dari gua sebelah atas mengalirkan
getah beracun ke dalam kamar gua itu, sehingga terciptalah kolam
naga hitamitu."
"Lopek membocorkan rahasia ini kepada musuh, bukankah
berarti menjual seluruh anggota Thay-yang-kau yang didirikan oleh
Tuan Puteri?"
"Teguran Kongcu kuterima dengan lapang hati, soalnya kalau
Losiu tidak membocorkan rahasia ini, tak mungkin aku memperoleh
kepercayaan mereka, itu berarti tak mungkin aku menjabat Congkoan
di Hek-liong-hwe, mana mungkin pula selama dua puluh tahun
ini aku menunggu tibanya Kongcu?"
"Yang terang Lopek telah mengorbankan jiwa, para anggota
Thay-yang-kau, memangnya apa pula gunanya meski telah berhasil
menunggu kedatanganku. ."
"Terus terang Losiu juga pernah bersumpah berat di hadapan
malaikat Matahari, masa aku berani menjual sesama saudara
anggota? Apalagi soal ini menyangkut laksaan jiwa para anggota
yang lain umpawa daftar itu betul2 terjatuh ke tangan musuh, itu
berarti Losiu menjadi manusia yang paling berdosa di dunia ini,
seribu kali kematiankupun belum mengimpasi dosa2ku"
"Bukankah Lopek bilang sudah membocorkan rahasia ini kepada
mereka?"
"Tadi Losiu bilang, oleh Lohwecu Sinswi-cu diminta membuat
suatu saluran getah beracun sehingga hakikatnya kamar gua itu
berada di dasar kolam naga hitam, jelasnya kamar gua itu terletak
dua puluhan tombak di dasar kolam, setetes getal saja dapat
melayangkan jiwa manusia, apalagi getah sedalam dua puluhan
tombak, umpama dewa atau malaikatpun takkan mungkin selulup
ke dasarnya."
"O," sampai di sini baru Kun-gi paham, "aku mengerti!'
Mengerti soal apa? Yaitu kenapa pihak Hek-liong-hwe dan Pekhoa-
pang sama berlomba berusaha mencari obat penawar getah
beracun.
Kini jelas tujuan Hek-liong-hwe adalah untuk mengambil daftar
nama anggota Thay-yang-kau. Demikian pula Thay-siang dari Pekhoa-
pang, tujuannya tentu pada ajaran ilmu pedang yang tertera di
dinding gua peninggalan Tiong-yang Cinjin.
Kini persoalannya semakin jelas lagi bahwa Thay-siang Pek-hoapang
itu adalah puteri tunggal Lohwecu yang minggat, yaitu nona
Ji-hoa.
Dengan mengelus jenggot Yong King-tiong bertanya: "Kongcu
mengerti soal apa?"
"Bahwa Hek-liong-hwe sengaja menculik Tong-losianseng dari
Sujwan, Unlocengcu dari Ling-lam, Lok-san Taysu dari Siau-lim-si
serta Cu-cengcu pemilik Liong-binsanceng, mereka ditekan dan
diperas untuk menciptakan obat penawar getah beracun, tujuannya
terang adalah daftar anggota yang berada di dasar kolam."
"Betul," Yong King-tiong mengangguk, "tapi ada satu hal yang
mereka lupakan, yaitu kenapa ibumu membawa lari pula Leliongcu."
"Leliong-cu, apakah dapat menawarkan getah beracun dalam
kolam?"
"Agaknya ibumu tidak menjelaskan seluruh persoalan ini kepada
Kongcu, tak heran kau kebingungan.”
"Memangnya masih ada rahasia lainnya?" tanya Kun-gi terbeliak.
"Leliong-cu memang dapat menawarkan segala macam racun2
aneh di dunia ini, tapi mut iara itu masih punya khasiat lainnya pula,
yaitu masuk air tidak basah, maka iapun dinamakan juga Huncuicu,"
sampai di sini dia menatap Kun-gi, katanya pula. "sekarang
tentu Kongcu maklum kenapa Losiu rela hidup terhina selama dua
puluh tahun ini, karena dengan penuh harapan menunggu
kedatangan Kongcu."
"Jadi Lopek ingin Siautit terjun ke dasar kolam masuk ke kamar
gua itu?"
Mendadak sikap Yong King-tiong tampak serius, katanya: "Betul,
kini Kongcu memikul dua tugas berat yang amat penting artinya.
Pertama untuk menuntut balas kematian ayahmu kau harus pelajari
seluruh ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin secara lengkap,
karena sejak kecil Han Janto dibimbing dan diasuh oleh Lohwecu,
Lohwecu telah mengajarkan segala kemampuannya tanpa batas
kepadanya, apa yang ibumu ajarkan padamu, tentu diapun bisa,
bicara soal Hwi-liong-sam-kiam, dalam hal Lwekang jelas dia lebih
kuat daripada kau, maka hanya bila kau berhasil mempelajari
seluruh ilmu pedang itu secara lengkap baru kau akan bisa
mengalahkan dia."
Ling Kun-gi tertunduk sambil mengiakan.
"Kedua, daftar anggota Thay-yang-kau yang tersimpan dalam
kamar gua itu harus segera kau hancur leburkan."
"Lho, kenapa dihancurkan malah?"
"Daftar itu dibuat pada puluhan tahun yang lalu, waktu itu Tuan
Puteri ada kontak dengan semua aliran dan golongan patriot hendak
bergerak dan penguasa sekarang, tapi hal itu ber-larut2 sampai
sekarang, padahal kerajaan Boan kini sudah bercokol kukuh dan
kuat berkuasa, di samping kelompok2 anggota Thay-yang-kau yang
tersebar luas di-mana2 banyak yang sudah bubar atau tida aktif
lagi, maka daftar anggota itu sudah tidak berarti pula, tapi bila
daftar ini terjatuh ke tangan pihak kerajaan, entah betapa banyak
jiwa yang akan menjadi korban, daripada menimbulkan bencana
bukankah lebih baik dihancurkan saja"
Kun-gi berdiri, katanya: "Siautit perhatikan pesan ini, lalu
bagaimana cara untuk pergi ke Hek-liong-tam?"
"Silakan duduk Kongcu, Hek-liong-tam dibangun oleh Sinswi-cu
secara cermat dan mengagumkan sekali, umpama sudah memiliki
Leliong-cu, kalau tidak tahu cara mengatasi dan tidak punya kunci
rahasia pembukanya juga sia2 belaka. Setelah meninggalkan kamar
ini kita takkan boleh berbicara lagi, maka di sini Losiu perlu
menjelaskan semua rahasia yang ada di dalamnya kepadamu,"
sembari bicara dari lengan bajunya dia merogoh keluar segulung
kertas yang terbuat dari kulit domba, terus dibeber di atas meja.
Dia menuding gambar2 yang tertera diatas kertas, katanya:
"Luas kolam ini dua puluh empat tombak: pada dinding curam
sebelah utara terdapat sebuah patung batu berbentuk kepala naga,
pancuran getah beracun keluar dari mulut kepala naga ini, getah
beracun terus mengalir tidak pernah putus, dengan Pia-houkang
(ilmu cicak merayap) kau harus melorot turun ke bawah sampai
dasar kolam, untung Leliong-cu dapat memberi penerangan, di
bawah kau bisa melihat sebuah gelang baja yang kuning mengkilap,
dengan tenaga Tay-lat-kim-kong-jiu-hoat dari Siau-lim-si, tariklah
sekuat tenagamu, maka aliran getah dari mulut naga akan berhenti,
sementara getah di dalam ko-lam akan mengalir keluar melalui
delapan lubang ke jembangan yang tersembunyi di dasar lain,
volume air akan cepat menurun, di dasar kolam terdapat sebuah
batu karang yang menonjol keluar ke permukaan, setelah itu baru
kau lepaskan gelang baja itu dan melompat ke atas batu karang,
kembali dengan Tay-lat-kiwi-kong-jiu kau harus menggeser sebuah
batu bundar raksasa di atas batu ka-rang itu, di bawah batu itulah
ada jalan rahasia menuju ke kamar gua . . . . "
"Kalau air berhenti mengalir dari mulut naga. air kolam akan
menurun, apakah orang-orang Hek-liong-hwe tidak akan tahu?"
tanya Kun-gi.
"Pertanyaan bagus," ujar Yong King-tiong, "bagian dalam di
antara himpitan tebing curam da-ri Hek-liong-tam itu setiap waktu
tertentu pasti menimbulkan kabut tebal, terutama pada kentongan
keempat dan kelima, begitu tebal kabut di sana sampai berdiri
berhadapanpun takkan bisa melihat wajah lawan, kabut akan pudar
dan sirna setelah fajar menyingsing, para penjaga di luar lembah
dilakukan secara bergiliran, maka tak perlu kuatir akan di ketahui
orang, sekarang kau harus perhatikan lukisan ini serta mengingat
letaknya di luar kepala."
"Baiklah, Siaut it sudah mengingatnya."
"Bagus sekali," ujar Yong King-tiong, dia jemput kertas kulit
kambing itu lalu meremasnya serta di-gosok2 di antara kedua
telapak tangannya, kertas kulit kambing itu seketika hancur luluh
dan berhamburan di lantai.
"Lopek," seru Ling Kun-gi kaget, "kenapa kau
menghancurkannya?"
Yong King-tiong menghela napas, katanya: "Kondcu sudah
datang, gambar ini tidak perlu disimpan lagi, lebih baik dihancurkan
saja."
Lalu dari kantong bajunya dia keluarkan sebuah benda kuning
emas yang berbentuk ikan emas sepanjang dua dim, dengan hati2
dan serius dia serahkan mainan ikan emas itu, kepada Kun-gi, katanya:
"Inilah salah satu dari benda Hek-liong-hwe yang paling
rahasia dan amat penting serta besar artinya. Leliong cu dikuasai
oleh Hwecu sendiri, sementara ikan emas ini diserahkan kepada
Cong-koan untuk menyimpannya, di dalam perut ikan ada tersimpan
kunci untuk membuka kamar gua di dasar kolam, beruntung hal ini
hanya diketahui oleh Hwecu dan Hek-liong-hwe Congkoan saja,
sudah dua puluh tahun lebih Losiu menyimpannya, aku sendiri
belum pernah melihatnya tentang cara membukanya, hanya Hwecu
sendiri yang tahu, setelah berada dilorong menuju ke kamar gua itu
boleh kau bekerja menurut keadaan, untuk ini lo-siu tak bisa
memberi petunjuk apa2 lagi."
Kun-gi terima mainan ikan emas itu, terasa bobotnya amat
enteng, badan dan ekor ikan dapat bergerak, sisiknya mengkilap,
mirip sekali dengan ikan asli, bagus sekali pembuatannya."
Yong King tiong berdiri, katanya: "Baiklah, sekarang hampir
kentongan keempat, marilah kita berangkat."
Kun-gi ikut berdiri. Sekali kebut Yong King-tiong padamkan api
lilin dan menghampiri dipan batu dan didorongnya pelan2. Melihat
caranya mendorong, jelas dipan batu itu amat berat, maka
terdengarlah suara geseran gemuruh dari dasar lantai.
Akhirnya Yong King-tiong berpaling, katanya: "Inilah alat rahasia
yang kutiru dari ciptaan Sinswi-cu, maka tiada orang kedua yang
tahu akan pintu rahasia ini, memang terlampau berat tapi yakin
takkan konangan oleh siapapun . . . . . . . ." waktu bicara dipan batu
sudah terdorong mundur lima kaki, tapi dia masih terus
mendorongnya. Dari bawah lantai tampak mulai t imbul gerakan
seiring dengan dorongan dipan batu itu, maka tampaklah sebuah
lubang persegi di bawahnya.
"Apakah semua ini bikinan Lopek sendiri?" tanya Kun-gi.
Yong King-t iong sudah berhenti mendorong, katanya tertawa:
"'Sudah tentu, Losiu mempunyai dua belas ahli pedang sebagai bnak
buah, tapi kecuali Siau-tao tadi, tiada bseorangpun yang menjadi
orang kepercayaanku, untuk membuat pinto rahasia ini, aku sudah
menghabiskan waktu 10 tahun."
Setiap malam selama 10 tahun, tanpa tidur dan mengenal lelah
membuat jalan rahasia di bawah tanah, betapa besar semangat dan
ketekunan kerjanya sungguh harus dipuji.
Dari dalam kantongnya Yong King-tiong mengeluarkan sebuah
bumbung tembaga, kiranya sebuah obor, langsung dia menerobos
turun lebih dulu ke dalam lubang di bawah tanah, katanya: "Biarlah
Losiu menuujukkan jalannya:."
"Creet" di bawah dia menyalakan obor terus melangkah turun
melalui undakan batu.
Kun-gi mengikuti langkahnya, kira2 puluhan undakan kemudian
baru jalan terasa datar dan lebar. Yong King-tiong serahkan
bumbung obor kepada Kun-gi. lalu membalik, ternyata diatas
dinding ada terasang roda besi, dengan kedua tangan dia pegang
roda besi terus diputarnya pelan2. Kelihatan dia mengerahkan
tenaga dan memutarnya dengan kuat. Setelah roda besi bergerak,
dari dalam dinding lantas berkumandang suara gemuruh, papan
batu di atas kepalanya mulai bergerak terus menutup seperti
asalnya.
Ternyata Yong King-bong tidak berhenti, ia masih terus memutar
roda, Kun-gi tahu orang sedang mengalihkan dipan batu ke tempat
asalnya.
Kira2 tiga puluhan putaran kemudian pelan2, Yong King-tiong
menghentikan kerjanya, katanya dengan tertawa: "Alat rahasia ini
teramat berat, kalau dibandingkan ciptaan Sinswi-cu, bedanya bagai
langit dan bumi, tapi Losiu sudah merasa puas. Seorang yang asing
dalam ilmu peralatan rahasia seperti ini ternyata dapat juga
menciptakan alat2, rahasia seberat ini dengan kedua tangan
sendiri."
"Bagi seseorang yang teguh iman dan penuh kerja yang tak
kenal putus asa pasti akan mencapai cita2nya, bahwa Lopek
seorang diri dapat membuat lorong rahasia ini, sungguh harus
dipuji."
"Siang malam yang kuharapkan hanya satu, yaitu semoga
Kongcu dapat masuk ke dasar kolam dengan selamat,
menghancurkan daftar anggota Thay-yang-kau dan mempelajari
ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin dengan sempurna,
sehingga semua aliran dan golongan di kalangan Kangouw bisa
bertahan hidup sejahtera, demikian purla anak cucu para pembesar
kerajaan yang terdahulu yang tersebar di mana2 bisa
mempertahankan kehidupan keluarganya, asal bibit2 Thay-yang-kau
masih ada dan bersemi dalam sanubari mereka, pasti akan datang
suatu ketika kekuatan perlawanan terhadap pemerintahan kerajaan
yang lalim, sehingga bangsa dan tanah air dapat bebas dari jajahan
musuh, itulah cita2 Losiu.
Di samping itu akan kubantu Kongcu sekuat tenaga
memberantas para penjahat dan keparat jahanam itu untuk
menuntut balas sakit hati Hwecu, Losiu terhina selama dua puluh
tahun ini, umpama kedua cita2 ini berhasil dengan baik, matipun
aku bisa meram," sampai di sini, mendadak dia bersuara lirih:
"Awas, Kongcu, di depan ada sebuah pengalang batu raksasa,
jangan kau membenturnya."
Maklumlah lorong ini dibuka oleh Yong King-tiong seorang diri
dengan kedua tangannya, sudah tentu bentuknya tidak selebar dan
serata lorong gua lainnya. Bukan saja terasa naik turun, demikian
pula langit2 gua juga banyak terdapat batu2 padas yang menongol
keluar, maka mereka harus jalan setengah merunduk, sudah tentu
Ling Kun-gi bisa berjalan hati2 karena matanya bisa melihat di
tempat gelap apalagi ada penerangan obor.
Begitulah kira2 semasakan air akhirnya mereka tiba di ujung
lorong, di mana terdapat sebuah dinding pengalang. Yong Kingtiong
berdiri tegak, kembali dia serahkan bumbung obor kepada
Ling Kun-gi, di bawah penerangan tampak di dinding terdapat pula
sebuah roda besi sebesar mulut mangkuk besar. Dengan kedua
tangan Yong King-t iong pegang roda besi itu serta mendorongnya
pelan2, katanya: "Turun dari sini, kira2 lima tombak tingginya baru
akan sampai di tanah datar dan letaknya tepat di sebelah kiri Hekliong-
tam, apa yang Losiu uraikan tadi apa kau sudah ingat betul?"
"Siautit mengingatnya dengan baik," sahut Kun-gi.
Begitu didorong sekuat tenaga oleh Yong King-tiong, sebuah batu
besar bentuk bulat pelan2 lantas terdorong keluar, maka terbukalah
sebuah mulut bundar di dinding, tak ubahnya seperti jendela sebuah
gedung. Di roda ternyata ada sebuah rantai besi sebesar lengan
tangan, maka batu besar bulat yang terdorong keluar itu tidak
sampai jatuh ke bawah.
"Baiklah kau boleh turun," ucap Yong King-tiong, "ingat, sebelum
fajar kau sudah harus naik kemari, itu berarti kau hanya punya
waktu satu kentongan (kira2 satu jam) berada di kamar gua di
dasar kolam, nanti Losiu akan membantumu dari pinggir kolam."
"Siautit akan perhatikan pesan Lopek," sahut Kun-gi, lalu dia
menerobos keluar dari lubang bulat itu, tampak di luar gua sudah
diliputi kabut tebal yang ber-gulung2, pemandangan serba
remang2, tiada sesuatu apapun yang bisa dilihatnya. Maka pelan2
dia menarik napas dan mengerahkan tenaga, sekali enjot tubuh
terus terjun ke bawah.
Didengarnya suara lirih, tapi jelas dari sebelah atas: "Bekerja
hati2 Kongcu, Losiu doakan kau berhasil."
"Dari peta tadi Kun-gi sudah tahu jelas letak Hek-liong-tam, kalau
tidak melompat turun ke tempat yang gelap gulita begini pasti
selangkah pun takkan mampu beranjak. Karena tempat dia berpijak
itu adalah balok batu yang letaknya per-sis di pinggir kolam,
selangkah saja lebih maju, kaki akan menginjak tempat kosong dan
terjerumus ke Hek-liong-tam.
Sebetulnya dia membawa Leliong-cu, di tempat gelap sinar
mut iara dapat mencapai setombak jauhnya, tapi kabut tebal di sini
laksana awan hitam yang pekat, maka Leliong-cu hanya bagai sinar
kunang2 belaka, paling hanya mampu menyinari dua kaki.
Hakikatnya Kun-gi juga tidak perlu melihat, karena dalam
benaknya sudah terlukis gambaran akan letak kolam naga hitam di
bawahnya, sejenak dia berdiri menenangkan hati, lalu menggeremet
menyusur dinding gunung terus maju ke arah kanan.
Kabut memang amat pekat, pancuran air yang gemericik dari
mulut kepala naga di sebelah depan sana masih terdengar jelas,
dengan cermat Kun-gi memperkirakan jaraknya tinggal delapan
tombak lagi, maka langkahnya semakin ber-hati2.
Tengah berjalan, tiba2 terasa sebelah kakinya menginjak tempat
kosong, ternyata balok batu yang dibuat jalanan sudah berakhir.
Untung dia selalu waspada, karena punggung menempel dinding,
meski kaki menginjak tempat kosong tubuhnya tidak segera jatuh
ke bawah, segera dia kerahkan ilmu pek-houkang, dengan cara
merambat seperti cicak dia terus menggeremet maju.
Tak lama kemudian dia sudah merambat tiba di bawah kepala
naga, sudah tentu iapun tidak bisa melihat kepala naga, cuma suara
pancuran saja yang dia dengar di atas kepalanya dan jatuh ke
bawah.
"Di sinilah tempatnya," demikian pikir Kun-gi, sementara
badannya sudah mulai melorot turun dengan cepat. Sekejap saja
dia, sudah melorot tujuh tombak, suara pancuran dalam kolom
terdengar semakin keras. Kiranya dia sudah hampir t iba
dipermukaan air, selepas matanya memandang kabut hitam tetap
tebal, hakikatnya dia tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya.
Untung badannya tidak keciprat setetes airpun, maka dia lantas
kerahkan Jiankintui, badannya terus melorot lebih turun lagi
sehingga sepuluhan tombak telah dicapainya, sungguh aneh bin
ajaib, ternyata badannya tidak menjadi basah oleh air kolam.
Sementara suara pancuran terdengar ber-ada di sebelah atas, jelas
bahwa dirinya kini sudah tenggelam di dalam air kolam. Diam2 dia
membatin: "Leliong-cu memang mestika aneh di dunia ini, masuk air
tidak menjadikan badanku basah sedikitpun."
Mengingat waktu amat berharga, maka dia tidak ayal lagi, dia
terus meluncur ke bawah, betapa cepat gerakan badannya, tahu2
kakinya sudah menginjak dasar kolam. Setelah berdiri tegak, kabut
sudah tiada lagi, tapi sekelilingnya seperti di-bungkus kegelapan
melulu, berada dalam air, mes-ki badan dan pakaian tidak basah,
tapi tekanan gelombang air terasa berat juga sehingga badan ikut
terombang-ambing.
Di tempat nan gelap pada dasar kolam ini, Leliong-cu
memancarkan cahayanya yang gemilang, setombak jauhnya dapat
disinarinya. Kun-gi tidak banyak pikir, dengan seksama dia periksa
sekelilingnya, betul juga dilihatnya delapan tombak ditengah sana,
terdapat sebuah benda bundar warna hitam, ternyata itulah gelang
baja yang dicarinya itu. Dengan girang cepat dia menghampiri, aneh
sekali menghadapi kenyataan di depan matanya, setiap kali dia
bergerak maju, air di sekitar badannya seakan2 tersibak ke pinggir
memberi peluang dia berjalan maju, sedikit gerakan inipun ternyata
menimbulkan reaksi cukup besar sehingga air kolam bergolak keras.
Setelah dekat dia lebih perhatikan lagi, benda bundar itu
memang betul adalah gelang baja sebesar mulut mangkuk. Tanpa
ayal dia mulai mengerahkan Tay-lik-kim-kong-sim-hoat, dengan
kedua tangan pegang gelang baja, pelan2 dia mulai menariknya ke
atas.
Jangan dikira gelang ini benda kecil, ternyata waktu ditarik
beratnya ribuan kati, umpama Kun-gi tidak pernah meyakinkan Kimkong-
sim-hoat ja-ngan harap dia mampu menariknya bergerak.
Mendadak tergerak pikiran Kun-gi: "Waktu Suhu mengajarkan
Kim-kong-sim-hoat beliau pernah bilang : 'Jangan kau kira pelajaran
semadi selama tiga tahun ini merupakan ajaran berat, kelak juga
pasti memperoleh manfaatnya.' Memangnya Suhu sudah tahu
bahwa hari ini aku bakal menggunakan ilmu ini dalam Hek-liong-tam
ini?"
"Ayah juga murid didik Siau-lim, malah murid Ciangbun Hongtiang
Kay-to Taysu dan belakangan diperkenalkan kepada kakek
luar, waktu beliau diutus ke Hek-liong-hwe mungkin sebelumnya
sudah direncanakan untuk mewariskan jabatan hwecu kepada ayah,
karena kalau bukan murid Siau-lim dan tidak pernah meyakinkan
Kim-kong-sim hoat, siapapun takkan mampu menarik gelang baja ini
. . . . . . "
Selagi berpikir itulah, sekeliling dasar kolam terdengar suara
gemuruh, air mengalir gemerojok, air dalam kolam laksana diaduk
mulai berkisar dan bergolak dengan hebat. Dari suaranya yang
gemu-ruh, sedikitnya ada delapan tutup pintu air yang terbuka
sehingga air mengalir keluar. Sudah tentu dengan menyurutnya air,
tekanan air dengan gejo-laknya yang semakin besar terasa amat
berat. Tapi Kun-gi tetap kerahkan ilmu Kim-kong-sim-hoat, kedua
tangan dengan kencang berpegang pada gelang baja, meski air
dalam kolam berpusar dengan hebat, laksana batu karang yang
kukuh dia tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming.
Kira2 setanakan nasi kemudian, gemuruh air yang membanjir
keluar itu semakin reda, pusaran airpun mengecil dan tekananpun
sirna, keadaan dalam kolam kembali menjadi tenang. Tahu sudah
tiba saatnya, pelan2 Kun-gi lepaskan gelang baja yang dipegangnya
terus maju lurus ke depan. Dia masih ingat batu karang yang
terlukis dalam gambar kulit kambing, letaknya tepat di tengah dasar
Herk-liong-tam.
Luas Hek-liong-tam hanya dua puluh empat tombak, dari arah
manapun kau maju jaraknya tetap sama sekitar dua belas tombak,
asal dirinya maju dua belas tombak, pasti akan mencapai batu
karang..
Karena berada di dalam air, sudah tentu tidak bisa maju cepat2,
tapi setiap langkahnya dia perhitungkan dengan baik, kira2
sepuluhan tombak, lapat2 dilihatnya sebelah depan terdapat banyak
batu2 karang yang berserakan, di bagian tengahnya mirip gugusan
sebuah bukit yang tegak menjulang di tengah kolam. Tanpa banyak
pikir Kun-gi melompat maju, kakinya hanya menutul tepi karang dan
cepat sekali badannya sudah mencapai puncak karang.
Puncak karang itu sudah di luar permukaan air, keadaan
sekelilingnya terasa gelap gulita pula ter-bungkus kabut tebal.
Puncak karang ini ternyata meruncing kecil ke atas, tempat untuk
berpijak paling hanya beberapa kaki lebarnya, cepat sekali Kun-gi
sudah menemukan batu raksasa yang bundar itu.
Batu ini mirip bola tepat bertengger di pucuk karang, besarnya
kira2 dua-tiga kaki, mendekati batu bulat itu Kun-gi langsung
kerahkan Kim-kong-sim-hoat, kedua tangan memeluk batu bulat
terus pelan2 mengangkatnya ke atas. Batu ini hakikatnya rata dan
tiada tempat untuk berpegang, apalagi sudah sekian puluh tahun
terendam dalam air, bagian luarnya terbungkus lumut yang amat
licin, tapi dengan mengerahkan tenaga kesepuluh jarinya Kun-gi
dapat memeluk batu bulat itu dengan kencang, sekuatnya dia
angkat pula sehingga batu itu mulai bergeming.
Ternyata batu ini memang benar2 bulat mirip bola, cuma separo
di antaranya sudah terendam dalam lumpur dan merekat dengan
batu karang seperti berakar layaknya, waktu diangkat dari bawah
seakan ada daya tarik yang amat kuat memperta-hankannya. Tapi
setelah batu bola itu terangkat naik setinggi satu kaki, daya tarik ke
bawah itu ternyata sirna, malah batu bulat itu berputar dan pelan2
bergerak ke atas.
Waktu Kun-gi menunduk, ternyata tepat di bawah batu bulat
tersambung sebatang besi bulat sebesar lengan, kini dia t idak perlu
membuang tenaga lagi, besi penyanggah itu telah mengangkat batu
bulat itu semakin tinggi. Maka muncullah sebuah lubang bundar di
bawah batu bulat, lubang di bawahnya tampak gelap tak kelihatan
dasarnya.
Kun-gi segera melangkah masuk dan turun ke dalam lubang
bundar itu, lapat2 dilihatnya ada undakan batu yang menjurus turun
diapit dinding yang sempit. Lorong berundakan ini hanya cukup
untuk jalan satu orang, maka seseorang yang berjalan turun tak
mungkin mengamati keadaan sekelilingnya, ter-paksa kedua kakinya
saja yang menggeremet maju. Kira2 lima puluhan undakan batu
kemudian, mendadak lorong sempit ini belok miring, terasa oleh
Kun-gi bahwa lorong undakan ini dari lurus menurun menjadi
berputar melingkar, malah lingkaran ini agaknya amat besar.
Menurut perhitungannya, seolah2 dia berjalan melingkari sebuah
kamar batu bulat yang besar sekali, paling tidak ada puluhan
tombak luasnya.
Tak lama kemudian, undakan batupun berakhir waktu Kun-gi
angkat kepala, kiranya kini dirinya berdiri diserambi yang cukup
lebar, serambi ini ternyata memang membundar. Rekaannya
ternyata tidak salah, serambi yang membundar ini melingkari
sebuah kamar batu yang berbentuk bulat.
Kamar batu ini terdapat sebuah pintu besar warna merah darah.
Sudah tentu pintu batu ini ter-tutup rapat. Beberapa langkah Kun-gi
beranjak maju, didapatinya kamar ini ada beberapa pintu, malah
bentuk semuanya sama dan bercat merah pula.
Karena kamar ini bulat, jarak pintu2 itu sama, lalu pada pintu
manakah dirinya harus masuk?
Maka dia teringat akan perkataan Yong King-tiong: `Hek-lionghwe
Congkoan hanya dikuasai ikan emas ini, sementara Hwecu
menyimpan Leliong-cu, kecuali Hwecu tiada orang lain yang tahu
bagaimana membukanya." Bahwasanya Yong King-tiong belum
pernah datang kemari, sudah tentu sebelumnya juga tidak terpikir
dibawah sini terdapat pintu sebanyak ini sehingga membingungkan.
Maju lebih lanjut, dilihatnya pintu bercat merah di sini juga
tertutup rapat dan kukuh tak bergeming, tiada lubang kunci lagi,
memangnya ikan emas yang di terima dari Yong King-t iong ini untuk
apa? Serta merta dia mengeluarkan ikan emas itu, dengan seksama
dia perhatikan dan dibolak-balik sekian lamanya.
Ikan emas ini terang bukan terbuat dari emas atau perak, bukan
tembaga juga bukan dari besi, kalau ditaruh di telapak tangan,
kepala dan ekornya bisa bergerak seperti ikan hidup sungguhan,
tapi kecuali pembuatannya yang elok dan bagus, sungguh sukar
diraba di mana letak keistimewaannya? Yong King-t iong bilang
diperut ikan ada tersimpan kunci rahasia untuk membuka pintu di
sini, lalu bagaimana harus mengeluarkannya? Dengan seksama dia
bolak-balik ikan emas itu sekian lamanya, sungguh dia tidak habis
mengerti cara bagaimana membuka perut ikan dan mengeluarkan
kunci dari dalamnya.
Kedua tangan coba pegang ekor ikan, tatkala dia perhatikan sisik
ikan yang kemilau itu serta memikirkan di sisik manakah kiranya
letak rahasianya untuk membuka perutnya? Tak terduga waktu
tangan kanannya pegang kepala ikan, tanpa sengaja jarinya
menyentuh mata ikan sebelah kanan, segera terdengar suara "klik"
yang lirih, tertampak mulut ikan yang semula terkatup kini
terpentang, dari mulutnya ini menjulur keluar sepotong bumbung
kecil halus warna kuning emas. .
Penemuan yang tidak terpikir sebelumnya ini sudah tentu amat
menggirangkan, dengan hati2 dia lolos bumbung halus itu, panjang
bumbung kuning ini hanya setengah dim, enteng sekali, belum lagi
dia sempat perhatikan lebih lanjut, bumbung halus kecil itu tahu2
sudah merekah dengan sendirinya, di tengahnya tersimpan
segulung kertas tipis.
Hati2 Kun-gi membeber gulungan kertas tipis itu, lebarnya juga
hanya setengah dim, begitu tipis dan halus sekali kertas ini, entah
terbuat dari bahan apa, di atas kertas tipis ada gambar sebuah Patkwa.
Pada setiap segi dari pintu2 itu terdapat kata penjelasannya,
tulisannya kecil pula, tapi tulisannya amat rapi jelas. Menurut
penjelasan itu, pada delapan pintu itu tiga di antaranya merupakan
jalan penyelamat, sementara lima yang lain bisa menyesatkan dan
membahayakan, keluar masuk dari setiap pintu juga ada
ketentuannya, sekali salah langkah fatal akibatnya.
Dengan seksama Kun-gi menghitung dengan penuh perhatian,
letak dari jalan penyelamat berada di barat laut dan timur laut,
maka dia ingat2 letak dari kedua pintu ini, lalu dia gulung pula kertas
itu serta dimasukkan ke dalam bumbung, dengan jarinya dia
sentuh mata kiri ikan sehingga mulut ikan terpentang, dia masukkan
pula bumbung kuning itu ke dalam mulut ikan, lekas jarinya menarik
balik letak mata ikan, "klik", mulut ikan kembali terkatup rapat.
Setelah menyimpan ikan emas itu ke dalam saku, Kun-gi beranjak
menuju ke pintu sesuai petunjuk tadi.
Delapan pintu dari kamar bundar ini bentuknya serupa tanpa
tanda2 tertentu, orang jadi sukar membedakan mana jalan
penyelamat dan mana yang menyesatkan. Apalagi berada di dasar
bumi ini sukar membedakan arah. Tapi Kun-gi mengambil patokan
gambar di mana ujung undakan batu berada, ujung undakan batu
terletak di selatan maka bila diurutkan dari selatan menuju ke timur
diteruskan ke utara, maka akhirnya dia akan tiba pintu penyelamat
yang terletak di barat laut.
Dalam hati dia sudah perhitungkan pintu penyelamat adalah
pintu keenam dari selatan, kini dia sudah berada di depan pintu
keenam menurut perhitungannya, maka tanpa ragu lagi segera dia
mendorongnya.
Kedua daun pintu warna merah itu ternyata dengan mudah
terbuka. Kun-gi langsung masuk berkat cahaya mutiara, dengan
seksama dia amat2i keadaan kamar, itulah sebuah lorong panjang
selebar satu tombak, kedua sisi dindingnya terbikin dari marmer
hijau, demikian pula lantainya dilem-bari marmer warna-warni yang
indah sekali. Kecuali itu tiada sesuatu benda apapun yang menarik
per-hatiannya.
Lorong ini kira2 sedalam lima tombak, di ujung lorong diadang
dinding batu pualam, dinding war-na hijau ini terdapat sebuah pintu
warna hijau pupus, belum lagi dia beranjak lebih lanjut daun pintu
warna hijau itu pelan2 terbuka sendiri. Tanpa ayal Kun-gi masuk ke
situ, setelah dia berada di balik pintu, daun pintu itupun menutup
sendirinya.
Sudah tentu Kun-gi t idak peduli, karena setelah dirinya masuk dia
sudah merancang rencana untuk keluar lewat jalan lain. Tapi
setelah dia berada di belakang pintu seketika dia melenggong.
Karena menurut rekaannya, kamar di belakang pintu hijau ini
pasti adalah kamar batu di mana ilmu pedang peninggalan Tiongyang
Cinjin terukir di dinding. Tak nyana yang terpampang di
hadapannya sekarang tak lebih hanyalah sebuah kamar batu bentuk
bulat seluas dua tombak, kecuali sekeliling tetap ada delapan pintu
yang terpencar, tepat di tengah kamar terdapat sebuah Hiolo besar
terbuat dari tembaga setinggi manusia, selain itu tiada benda
lainnya lagi.
Diam2 Kun-gi menggerutu dalam hati, batinnya: "Tempat ini
hakikatnya tidak sesuai dengan kamar batu yang diceritakan Yong
King Tiong, memangnya aku salah masuk dari pintu yang keliru?"
Karena merasa bimbang, serta merta langkahnyapun berhenti.
Pada saat dia melongo itulah tiba2 dilihatnya Hiolo tembaga yang
tinggi itu pelan2 bergerak memutar.
Sebetulnya Kun-gi juga maklum bahwa kamar2 disini adalah
buah karya Sinswi-cu, setiap pintu memiliki alat rahasia yang
berbeda, kalau tidak, setelah dirinya memasuki pintu tadi pintu hijau
batu pualam itu takkan mungkin bisa menutup sendirinya. Dari sini
dapatlah disimpulkan, sejak dirinya mulai memasuki pintu dari barat
laut tadi, alat2 rahasia di sini sudah mulai bergerak seluruhnya,
maka berputarnya Hiolo raksasa inipun tak perlu dibuat heran.
Setelah direnungkan dengan kepala dingin, akhirnya dia
berkeputusan untuk berdiri tegak tak bergerak saja, akan dia
saksikan perubahan yang terjadi selanjutnya.
Setelah Hiolo tembaga itu berputar satu lingkaran, tiba2 malah
ambles turun ke bawah lantai, maka terunjuklah sebuah lubang
bundar di lantai marmer.
Tergerak pikiran Kun-gi, pikirnya: "Mungkinkah kamar batu yang
dimaksud berada di bawah lubang itu?"
Baru sekarang kakinya hendak bergerak, mendadak iapun
berpikir pula: "Tak mungkin, kalau aku turun, cara bagaimana pula
kunaik kemari, padahal kamar bulat ini terdapat delapan pintu yang
mirip satu sama yang lain dan sukar dibedakan, bagaimana aku bisa
membedakan pintu yang ma-na merupakan jalan hidup untuk
keluar? Bila kesasar, akibatnya tentu fatal."
Karena itu diam2 ia memperhitungkan, kini dia berdiri ke arah
sana, pintu di belakangnya adalah jalan hidup masuk ke kamar ini,
untuk keluar harus lewat kamar kedua dari sebelah kiri.
Maka dia mengeluarkan tiga batang duri runcing, satu dia taruh
di lantai sebagai tanda tempatnya berpijak, lalu dia menuju lubang
di tengah kamar itu.
Setiba di pinggir lubang dia melongak ke bawah, lubang di bawah
ini kosong melompong t iada undakan batu segala, keadaannyapun
gelap gulita. Ling Kun-gi tidak berani bertidak gegabah, Leliong-cu
dia keluarkan, di bawah penerangan cahaya mu-tiara baru dia bisa
melihat bahwa di bawah adalah sebuah kamar batu yang besar dan
luasnya mirip kamar atas di mana sekarang dia berada. Hiolo
tembaga tadipun tampak tegak di tengah kamar bawah, tinggi
lubang kira2 ada dua tombak.
Dengan hati2 Kun-gi julurkan dulu kedua kakinya terus
menerobos turun, sebelumnya dengan tepat sudah dia
perhitungkan, begitu tubuhnya melayang turun dan sebelum
menyentuh Hiolo dengan tangkas ia jumpalitan sekali sehingga
badannya anjlok tepat di sebelah Hiolo.
Setelah berdiri tegak dia angkat tinggi Leliong-cu sambil
mengawasi keadaan kamar, ternyata bentuk kamar di bawah ini
bulat telur, pada dinding di depan kanan-kiri memang terdapat
gambar ukiran yang tajam, tepat di bawah dinding di depannya
terdapat sebuah meja sempit panjang yang terbuat dari batu hijau,
di atas meja sempit ini tertaruh sebuab kotak kecil dari kayu
cendana, agaknya dalam kotak cendana itulah daftar anggota Thayyang-
kau disimpan, di samping itu terdapat sebuah tatakan lilin
dengan sisa lilin yang tinggal separo.
Hiolo tembaga terletak tak jauh di depan meja, kecuali semua ini
tiada benda lainnya lagi, pada dinding pualam di depannya
sebetulnya terdapat sebuah pintu, tapi kini sudah tersumbat oleh
batu hijau.
Sedikit menerawang, mengingat waktunya amat mendesak, maka
kerja pertama yang harus segera dia lakukan adalah
menghancurkan daftar anggota Thay-yang-kau, sisa waktunya
untuk mempelajari lebih mendalam ilmu pedang yang terukir di
dinding, berapa banyak berhasil dia pelajari bergantung dari waktu
dan kecerdasannya. Setelah berkeputusan, segera dia mendekat
meja sempit, dikeluarkan ketikan api serta menyulut lilin.
Lalu kotak cendana dia angkat kesamping, gembok tembaga dia
tabas putus dengan Seng-ka-kiam serta membuka tutupnya,
ternyata kotak cendana setinggi dua kaki ini terbagi dua susun,
susun atas dibatasi kayu yang amat cetek sekali, di mana terdapat
buku tulisan tangan, pada sampul buku tertera huruf2 yang
berbunyi "Thay-yang-yam-sim-hoat"
Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Mungkin ini buku catatan Tuan
Puteri dari hasil ciptaannya."
Ia coba membalik lembaran pertama, tampak lembar pertama
memuat ilmu pelajaran Thay-yang-sinkang, disusul lagi adalah
Thay-yang-cay, Thay-yang-hu-hoat-pat sek, buku setebal sepuluh
lembar ini ternyata penuh tulisan hurup2 bergaya indah, dipinggir
tulisan terdapat pula gambar dan keterangannya.
"Inilah ilmu ciptaan Tuan Puteri, sudah tentu tak boleh
dihancurkan," demikian batin Kun-gi, dengan hati2 dan lempit buku
tipis ini lalu disimpan ke dalamsakunya.
Di lapisan bawah kotak terdapat tiga buku tebal yang penuh
tertulia nama dan alamat tokoh2 silat dari berbagai aliran, pada
sampul buku pertama terdapat judul yang berbunyi "daftar anggota
Thay-yang-kau, pahlawan pejuang kerajaan Beng pada jaman Tingbin."
Secara iseng Kun-gi membalik beberapa halaman, dilihatnya
nama tokoh2 kenamaan dari Siau-lim, Hoa-san, Bu-tong, Liok-hap
bun, Pat-kwa-bun dan lain2 aliran, ada pula orang2 Thianli kau,
Toa-to hwe, Kay-pang, Tong-thing-pang dan banyak Pang atau Hwe
lainnya, ada pula keluarga dari marga Ban di Ui-san, demikian pula
orang2 dari keluaga Tong dari Sujwan serta keluarga besar
persilatan lainnya yang kenamaan di Kangouw.
Diam2 Kun-gi menghela napas, bahwa untuk membangkitkan lagi
kerajaan leluhurnya betapa berat dan susah payah Tuan Puteri telah
berkelana di Kangouw, daftar nama tokoh2 persilatan yang kesohor
serta gembong2 dari golongan hitam dan aliran putih ini sebagai
bukti nyata bahwa dengan dukungan kaum patriot bangsa dari
kaum persilatan, usaha Tuan Puteri masih mengalami kegagalan, ini
hanya boleh dikatakan takdir memang sudah menghendaki
demikian.
Apa yang dikatakan Yong King-tiong dalam hal ini memang tidak
salah, bila ketiga buku daftar ini terjatuh ke tangan pihak kerajaan
yang berkuasa sekarang, meski banyak tokoh2 yang namanya
tercantum dalam daftar ini sudah almarhum, tapi anak cucu mereka
akan tetap ditangkap dan dipancung kepalanya, kalau hal ini betul2
terjadi betapa luas rentetan penangkapan besar2an ini, sungguh
akan banyak sekali korban jiwa manusia yang tidak berdosa. Maka
dia tidak banyak lihat lagi, ketiga buku dia tumpuk di atas meja, ia
mengerahkan Lwekang pada kedua tangannya pelan2 dia menekan
tumpukan buku itu.
Kira2 sepemasakan air kemudian baru dia menarik tangannya,
sekenanya dia menepuk sekali, maka tumpukan tiga buku itu
seketika berhamburan menjadi bubuk lembut tercecer di lantai.
Dua tugas sudah dia laksanakan satu, kini tiba saatnya dia mulai
mempelajari dan menyelami ajaran ilmu pedang peninggalan Tiongyang
Cinjin di dinding. Maka dia melewati meja sempit mendekati
dinding serta memandang dengan cermat.
Dinding pualam seluas satu tombak ini terukir seorang kakek
berdandan sebagai Tosu (imam) duduk bersimpuh, gayanya duduk
bersimpuh ini tampak bayangan perubahan dari tiga gaya lanjut-an,
gaya yang satu dengan yang lain agak aneh dan berbeda,
perubahan gaya si imam mirip seorang yang lagi melangkah di
tengah awan, tam-pak hidup dan mengagumkan sekali.
Di samping ukiran si imam tua bersimpuh di-beri keterangan
sebagai petunjuk latihan terdiri da-ri empat baris tulisan. Sambil
berdiri mematung memusatkan daya pikirnya, Kun-gi terpesona
sekian lamanya, tapi kemudian ia seperti berhasil menyelami
sesuatu, terasa bahwa ilmu yang ter-ukir di dinding ini adalah ilmu
latihan pernapasan tingkat tinggi dari aliran To (Tau). Setelah yakin
apal benar akan gambar ini baru Kun-gi pindah ke dinding kiri.
Dinding di sini berbentuk agak panjang, dari kanan ke kiri
seluruhnya ada enam gambar ukir-an, seorang yang sedang
bermain pedang, ada yang sedang melompat, menusuk dan
menabas, gayanya indah dan mengagumkan.
Tiga ukiran dibagian terdepan adalah Hwi-liong-sam-kiam, cuma
tiada huruf keterangan di dinding, juga tiada nama gaya dan
gerakannya, kini jelas bahwa nama2 Sinliong jut hun, Liong-janih-ya
dan jurus lainnya adalah nama2 pemberian Lohwecu (kakek luar)
sendiri.
Dari gambar pertama ber-turut2 dia pelajari sampai gambar
keenam, setiap gambar dia perhatikan dengan segenap daya
pikirnya, setiap gerak jurus dan variasinya dia ikuti dengan cermat,
di samping jari2 tangan bergerak seperti pedang menirukan gaya
permainan gambar ukiran.
Memang Kun-gi seorang yang cerdik, apalagi ilmu pedang terlatih
selama sepuluhan tahun, maka taraf ilmu pedangnya boleh
dikatakan cukup sempurna, terutama Hwi-liong-sam-kiam warisan
keluarganya sudah teramat apal sekali, gambar di dinding sambung
bersambung dari satu ke lain gambar diawali pula dengan Hwi-liongsam-
kiam, maka dengan mudah dan lancar dapatlah dia selami
dengan baik.
Habis mempelajari keenam gambar ini, lalu dia pindah ke dinding
sebelah kanan. Seperti dinding sebelah kiri, pada dinding sebelah
kanan ini juga terukir enam gambar orang bermain pedang, tapi
gambar di sini ada sedikit berbeda, yaitu gambar ketujuh sampai
kesembilan masih merupakan kelanjutan dari permainan pedang
yang harus dilancarkan melompat sambil menusuk dan membabat,
tapi mulai gambar kesepuluh sampai kedua belas, hanyalah
seseorang berdiri memeluk pedang dan bersimpuh seperti orang
semadi, malah gaya ketiga gambar ini mirip satu dengan yang lain,
sukar diraba dan dibedakan di mana letak keanehan dan
kemujijatannya?.
Secara singkat Kun-gi mengamati dulu keenam gambar ini, lalu
diulangi pula dari gambar ketujuh, satu persatu dia pelajari dan
selami dengan hati2 sampai gambar kesembilan. Karena pelajaran
enam gambar terdepan sudah merasuk dalam benaknya, maka
ketiga jurus ilmu pedang sambungan ini dengan sendirinya dapat
dipahaminya dengan cepat dan mudah. Tapi mulai jurus kesepuluh
sampai kedua belas dia benar2 harus memeras otak, diamat2i kian
kemari, tetap kebingungan dan tak tahu ke mana juntrungan ajaran
gambar orang memeluk pedang ini serta letak intisari dari gaya
yang sederhana ini? Cukup lama Kun-gi memperhatikan ketiga
gambar terakhir ini, tapi tetap tak berhasil menyelaminya, terpaksa
dia tinggalkan dulu, sembilan jurus ilmu pedang di bagian depan
kembali dia ulangi dan dilatih dengan lancar, dengan pedangnya dia
mainkan sembilan jurus ilmu pedang itu.
Sudah tentu tiga jurus di bagian depan yang diyakinkan sejak
kecil dia mainkan dengan bagus sekali, tapi mulai jurus keempat
sampai kesembilan, setiap jurusnya ditambah perubahan dan variasi
yang membingungkan, untung dia sendiri memang sudah punya
dasar yang kuat, kecuali latihan permulaan yang terasa masih kaku,
setelah dia ulangi beberapa kali, meski belum dapat bergerak bebas
dan wajar, tapi sembilan puluh persen gaya permainan ilmu pedang
ini sudah dapat dikuasai dengan baik.
Untuk melancarkan keenam jurus ilmu pedang ini kira2
menghabiskan waktu setengah kentongan (setengah jam),
mengingat waktu amat mendesak, apalagi untuk sekaligus
mengapalkan seluruhnya jelas amat sulit. Terhadap ketiga gambar
terakhir dia masih belum berhasil, terasa bahwa ketiga gambar ini
pasti mengandang arti yang luas, setelah keluar dari sini takkan
mungkin kembali lagi, maka kesempatan ini betapapun tak boleh disia2kan.
Maka dia simpan pedangnya dan kembali dia berdiri di depan
dinding, memusatkan dan menjernihkan pikiran, dengan lebih telit i
dia bedakan ketiga gambar ini. Tapi sudah berulang kali dengan
cara yang berbeda dia coba menyambung kesembilan jurus ilmu
pedang bagian depan dengan gaya memeluk pedang ini, betapapun
dia tetap mengalami kegagalan, rasanya ketiga gaya memeluk
pedang ini seperti petilan tersendiri dari sembilan jurus di depannya.
Tapi hal ini bagi Ling Kun-gi justeru dirasakan adanya keanehan
yaang tersembunyi pada ketiga jurus terakhir ini, sayang
pengetahuan sendiri teramat cetek sehingga sesingkat ini tak
berhasil memahaminya.
Akhirnya Kun-gi ambil keputusan, pikirnya "Umpama tak berhasil
kuselami, kenapa ketiga gaya bersimpuh ini tidak kucatat saja
perubahan satu dengan yang lain, kelak bila ketemu Suhu, akan
kutanya dan mohon petunjuknya saja." Maka dengan tekun dia
berusaha merekam ketiga gambar terakhir ini dalambenaknya.
Tak terduga dalam penelitiannya terakhir ini baru disadarinya
bahwa ukiran pada bagian gambar pertama ada goresan pada
lempitan baju yang agak cetek, tapi gambar kedua goresannya lebih
dalam dan lebar, malah pada gambar ketiga kedua mata orang
tampak sedikit memicing, seperti menatap tajam ke ujung pedang
yang dipeluknya. Jadi ketiga gambar ini hanya ada sekian kecil
perbedaannya, kalau tidak diperhatikan betul2 tentu sukar
membedakan satu dengan yang lainnya. Kini setelah dia rekam
dengan baik ke dalam benaknya, maka tak perlu tinggal lama2 lagi
di sini.
Setelah membetulkan pakaiannya, dengan laku hormat dia
berlutut dan menyembah ke arah meja sempit, dalam hati dia
berdoa supaya Tiong-yang Cinjin memberkati kesuksesan pada
dirinya yang menunaikan tugas berat ini, serta menyatakan
bersyukur bahwa dia telah berhasil mempelajari ilrnu pedang
peninggalannya. Lalu dia berdiri, meniup padam lilin, sekali tutul
kaki, badannya seketika melejit keluar dari lubang bundar.
Berada di kamar sebelah atas, dia mengambil kembali duri
bengkok yang dia taruh tadi sebagai tanda, langsung dia melangkah
ke arah pintu kedua di sebelah kiri. Kira2 t iga langkah sebelum dia
sampai mendorong pintu, daun pintu tahu2 terbuka sendiri,
didengarnya suara gemuruh di bawah lantai.
Diam2 Kun-gi membatin: "Sejak tadi aku sedang keheranan,
kenapa Hiolo tembaga itu belum juga muncul kembali ke tempat
asalnya? Ternyata setelah aku keluar melalui pintu tertentu ini dan
setelah pintu terbuka, itu berarti setelah orang yang berada di
kamar sudah keluar baru suara gemuruh itu terdengar, suatu tanda
bahwa Hiolo besar itu sedang bergebrak naik ke tempat asalnya,
Sinswi cu itu memang seorang ahli yang jempolan."
Hati membatin langkah tetap beranjak, tanpa menoleh langsung
dia melangkah keluar pintu, baru beberapa langkah, "blang", pintu
di belakangnya kembali menutup sendiri, Kini dia kembali melewati
lorong panjang yang diapit dinding marmer, bentuk dan keadaan di
sini mirip lorong waktu dia masuk tadi. Jalan yang ditempuhnya ini
memang yang pa-ling aman sesuai petunjuk tadi, maka dengan
leluasa dan lancar dia terus berjalan ke depan tanpa mengalami
rintangan apapun. .
Setiba di ujung lorong sempit dia dorong pintu terus keluar, kini
dia berada di serambi bundar dan menyusuri jalan datangnya
semula kembali ke arah selatan, di ujung serambi adalah batu
undakan.
Kedua tugas berat berhasil dia capai dengan baik, sudah tentu
perasaannya lega, maka langkahnya terasa ringan dan cepat sekali
dia sudah tiba di ujung undakan.
Tampak pada tempat keluar ada sebatang besi tegak ke atas,
bagian atas bergantungan sepuluh bo-la batu, sementara ujung
yang di bawah terikat pada sebuah batu raksasa, jadi seperti
setengah menyanggah batu bulat itu, sehingga sulit bagi orang di
luar untuk membukanya.
Waktu masuk tadi Kun-gi menghabiskan tenaga untuk menarik
bola batu itu ke atas dan di sanggah lebih lanjut oleh batang besi
itu, kini untuk keluar, sudah tentu dia harus menyanggah pula bola
batu itu. Maka dia kerahkan tenaga pada kedua lengannya, pelan2
mendorongnya ke atas.
Tak terduga meski mendorongnya sampai mata mendelik bola
batu itu tetap tak bergeming. Keruan ia heran dan bingung. Sejak
masuk Ui-liong-tong pengalamannya cukup banyak, dia tahu bila
pintu rahasianya terpasang oleh alat rahasia pasti tak mung-kin
dibuka oleh tenaga manusia melulu. Bahwa bola batu tak kuasa
diangkatnya, maka dia yakin pasti ada alat rahasianya untuk
membuka.
Maka dia perhatikan dinding di kanan-kirinya.. Tampak di atas
dinding sebelah kanan bergantung sebuah roda besi sebesar mulut
mangkuk, hatinya menjadi girang, pikirnya: "Mungkin di sinilah letak
rahasianya." Segera ia pegang roda itu terus menariknya. Maka
didengarnya suara gemerujuk air yang mengalir seperti dituang.
"Waktu aku masuk tadi," demikian batin Kun-gi, "air kolam sudah
menurun sedalam lima tombak saja, mungkin setelah bola batu ini
kembali ke tempat asalnya, airpun mengalir balik setinggi keadaan
semula, kini kalau aku hendak keluar dari sini sudah tentu air kolam
harus diturunkan sehingga pucuk karang menongol di luar
permukaan baru aku bisa membuka bola batu ini, kalau tidak air
akan mengalir masuk ke dalam sini."
Dengan sabar dia menunggu, sementara suata gemerujuk air
masih terus terdengar, kira2 setanakan nasi kemudian, suara
gemuruh mulai sirna, tiba2 batang besi penyangga bola berputar
naik sendiri, maka terbukalah sebuah lubang bundar. Tanpa ayal
Kun-gi segera menerobos keluar dari lubang itu.
-ooo0dewikz0oooLuas
Hek-liong-tam dua puluh empat tombak, dikelilingi tebing
yang curam. Kentongan keempat sudah berselang dan menjelang
kentongan kelima, waktu sebelum fajar menyingsing adalah saat2
yang paling gelap.
Kolam naga hitam dilingkupi kabut hitam yang tebal lagi, walau
lima jari tangan sendiripun tidak terlihat, apalagi berhadanan,
bayanganpun tidak tampak.
Di ujung sebelah selatan kolam terdapat sebuah jalan ber-liku2
warna hitam, jalan melingkar naik ini terus menembus ke arah selat
lembah yang di apit dua gunung. Itulah satu2nya jalan keluar dari
kolam naga hitam ini. Tatkala itu, tampak sesosok bayangan orang
tengah lari berlompatan bagai terbang meluncur ke arah lembah
yang menuju ke Hek-liong-tam.
Tiba2 terdengar kumandang hardikan seorang: "Siapa?"
berbareng muncul dua bayangan orang di mulut lembah, dari kanan
kiri kedua orang ini merintangi orang tadi.
Suasana sedemikian pekat sehingga wajah oraag pun sukar
terlihat meski dalam jarak yang dekat, yang kelihatan hanya dua
bayangan hitam yang samar2 belaka. Jelas bahwa kedua orang ini
mengenakan pakaian serba hitam pula, sampaipun pedang di
tangan merekapun berwarna hitam.
Tapi pendatang itu juga mengenakan seragam hitam, malah
pakai kedok kepala segala, yang kelihatan juga hanya sosok hitam
belaka.
Baru saja kedua bayangan hitam itu menghardik dan belum lagi
gema suara mereka lenyap, bayangan hitam yang datang itu tahu2
sudah berada di depannya, tanpa bersuara kontan ia ayun tangan,
tiba2 selarik sinar pedang menyambar keluar seiring gerakan
tangannya, sekali berkelebat sinar pedangnya tiba2 berpencar
mengincar tenggorokan kedua orang yang mengadang di depannya.
Samberan pedang si baju hitam ini bukan saja cepat laksana kilat
juga ganas sekali, sehingga lawan yang diserang menjadi kelabakan
dan tak mampu menangkis atau berkelit. Tapi kedua lawan inipun
bukan kaum lemah, sigap sekali mereka menyingkir ke samping,
berbareng pedang mereka serempak juga bergerak, bayangan dua
batang pedang dari kirikanan sekaligus menyamber si baju hitam.
Si baju hitam menyeringai, pedang berputar, selarik sinar kembali
membabat miring kedua la-wannya, bukan saja gaya silatnya indah,
serangan yang dilancarkan inipun aneh, lihay dan banyak
perubahannya, sungguh ilmu pedang yang tak mudah dilawan.
Baru saja orang di sebelah kiri bergerak maju, belum sempat
menarik pedangnya untuk menangkis, sinar pedang lawan tahu2
sudah menabas tiba, terdengar jeritan ngeri, pinggangnya terbabat
putus, darahpun muncrat, tubuhnya mengelinding ke bawah jurang.
Melihat kawannya binasa, sudah tentu orang di sebelah kanan
serasa terbang sukmanya, saking kaget dia melompat mundur
sambil putar pedang melindungi badan, sementara tangan kirinya
sudah merogoh kantong mengeluarkan sebuah sempritan perak dan
hendak dijejalkan ke mulut.
Padahal gaya tebasan pedang si baju hitam baru saja
membinasakan seorang musuh, untuk di tarik balik dan menyerang
lawan yang lain jelas tidak sempat lagi, terpaksa dia ayun sebelah
tangannya, segulung tenaga raksasa seketika menerjang ke depan.
Lwekang si baju hitam ternyata hebat luar biasa, belum lagi
orang di sebelah kanan itu sempat meniup peluitnya, pukulan lawan
sudah menerpa dadanya, seperti bola yang kena pukulan telak,
badan orang ini tiba2 mencelat jungkir balik sam-bil
menghamburkan darah, badannya terguling dan akhirnya tak
berkutik lagi.
Kuatir musuh yang satu ini belum binasa dan sempat meniup
peluitnya, si baju hitam segera melejit maju, sekali pedang terayun,
dada orangpun ditambah sekali tusukan pula. Pada saat itulah,
mendadak ia seperti merasakan sesuatu, dengan sigap segera ia
membalik sembari membentak: "Siapa?"
Dingin dan singkat hardikan suara ini, tapi nadanya yang nyaring
jelas keluar dari mulut seorang perempuan. Memang tidak keliru
perasaannya, tampak sesosok bayangan orang tengah melejit
rnendatangi dari celah2 ngarai yang curam di seberang sana. Sorot
mata si baju hitam seterang lampu menembus cadar mengawasi
pendatang itu.
Aneh pendatang inipun berpakaian serba hitam, iapun
mengenakan cadar hitam pula, di pundaknya menongol keluar ujung
gagang pedang. Dalam sekejap orang itu sudah melayang tiba,
teriaknya kejut2 girang: "Kaukah dik?" Suaranya juga seorang
perempuan.
Setajam pisau sorot mata si baju hitam yang datang lebih dulu,
sikapnya tampak melengak ka-get dan bingung, jawabnya dengan
suara dingin: "Siapa kau?"
"Bukankah kau adik Ji-hoa?", tanya pendatang baru.
Hanya sekian saja perubahan sikap si baju hitam yang datang
duluan, suaranya kedengaran ketus dan kasar: "Bukan!"
Pendatang baru tiba2 menghela napas rawan, ucapnya: "Ai,
meski sudah dua puluh tahun kita tidak bertemu, tapi suaramu tetap
kukenal dengan baik."
"Memangnya kenapa kalau kau kenal suaraku?" jengek si baju
hitam yang datang duluan.
"Dik," haru dan pilu suara pendatang baru, "betapapun kita
tumbuh dewasa bersama sejak kecil, hubungan kita bagai saubdara
kandung bedlaka, setelah aadik pergi, selabma dua puluh tahun ini,
sebagai kakakmu setiap saat senantiasa kukenang dan merindukan
dikau . .. .. . ."
"Tutup mulut," bentak si baju hitam yang datang duluan.
"Siapakah adikmu itu?"
Agaknya pendatang baru itu sudah menyangka orang akan
bertanya demikian, suaranya tetap sabar dan lembut: "Adik tidak
mengakui aku sebagai kakak, ini tidak jadi soal, betapapun aku
dibesarkan dan diasuh oleh ayah, aku dipandang sebagai puteri
sendiri, betapa besar budi kebaikannya terhadapku tak bisa tidak
aku harus tetap memandangmu sebagai adik."
"Sudah selesai ocehanmu?", jenpek si baju hitam yang datang
duluan.
"Kudengar adik mendirikan Pek-hoa-pang, kini sudah menjadi
Thay-siang-pangcunya pula," ujar pendatang baru.
Ternyata si baju hitam yang datang duluan adalah Thay-siang
dari Pek-hoa-pang, tak heran memiliki Lwekang dan kepandaian
setinggi itu, hanya sekali ayun pedangnya sekaligus telah
membunuh dua ahli pedang yang bertugas jaga di Hek-liong-tam.
"Betul," jawab si baju hitam yang datang duluan atau Thay-siang
"Sebagai Thay-siang dari Pek-hoa-pang, adik sudah mengerahkan
segenap kekuatan Pek-hoa-pang meluruk kemari, seharusnya kau
tumpas dan menuntut balas dulu pada pengkhianat bangsa yang
sekarang mengangkangi Hek-liong-hwe, kenapa adik justeru hanya
main gertak dengan tiga barisan anak buahmu sementara kau
sendiri secara diam2 lari kemari malah?"
"Kenapa aku harus menuntut balas kepada keparat yang menjual
bangsa dan Hek-liong-hwe? Han Janto kan tidak membunuh
suamiku, kenapa aku harus menuntut balas bagi orang lain?"
Bergetar tubuh pendatang baru, jelas hatinya tengah bergejolak
dan sedang menekan perasaannya, sesaat kemudian baru dia
berkata pula: "Memangnya adik sendiri bukan orang Hek-lionghwe?"
"Sejak lama aku bukan orang Hek-liong-hwe lagi," jawab si baju
hitam yang datang duluan.
"Memangnya kau tega dan rela Hek-liong-hwe yang didirikan
susah payah oleh beliau jatuh ketangan musuh? Tanpa terusik
sedikitpun perasaanmu?"
"Ayah sudah meninggal, setelah orangnya mati segala urusan
impas, Hek-liong-hwe direbut orang dari tangan orang she Ling, ini
bukti bahwa dia tidak becus. Memang jerih payah ayah selama tiga
puluhan tahun harus dibuat sayang, tapi setelah berada
ditangannya justeru beralih ke tangan bangsa lain, itu berarti dia
orang yang paling berdosa dalam Hek-liong-hwe, inipun
membuktikan pandangan ayah sudah kabur, salah menilai orang
yang tidak setimpal menerima warisannya, apa pula sangkutpautnya
soal ini dengan diriku?"
Saking dongkol gemetar sekujur badan pendatang baru, tapi dia
tetap bersabar, katanya sambil menghela napas: "Sudah dua puluh
tahun beliau meninggal, kau masih membencinya begini rupa?"
"Kaulah yang kubenci," teriak si baju hitam yang duluan,
suaranya sengit.
"Jangan kau salahkan aku dik," ujar pendatang baru, "ayah
sendiri yang ambil keputusan."
"Maka akupun tidak peduli kepada beliau, seolah dia bukan ayah
kandungku," desis si baju hitamyang datang duluan.
"Dik, betapapun ayah tetap ayah, tiada orang di dunia ini yang
tidak mengakui ayah kandungnya sendiri, jangan kau berbicara
demikian."
"Kenapa tidak boleh kukatakan demikian? Justru karena usianya
sudah terlalu lanjut, kalau dia tidak loyo memangnya Hek-liong-hwe
bisa direbut musuh secepat itu . . . . "
Orang yang datang belekangan agaknya naik pitam, katanya
keras: "Kularang kau bilang begini."
"Berdasar apa kau larang aku bicara? Aku justru ingin blak2an,
dulu kalau yang dikawinkan dia adalah aku, tentu aku akan
membantu dia mengurus Hek-liong-hwe dengan baik, teratur dan
beres, mungkin sampai hari ini Hek-liong-hwe tetap Hek-liong-hwe
yang jaya dulu, takkan jatuh ke tangan bangsa lain, usianya saat ini
sebetulnya baru empat puluh lima, kenapa dia harus mati pada usia
dua puluh lima."
Agaknya sengaja dia hendak menusuk perasaan si pendatang
baru, maka tanpa menunggu reaksi orang dia sudah menambahkan
lebih pedas: "Coba kau lihat, dengan kedua tanganku yang kosong
ini, bukankah kuberhasil mendirikan Pek-hoa-pang, kekuatan dan
kebesaran Pek- hoa-pang tidak lebih asor dibandingkan Hek-liong
hwe."
Setiap patah katanya setajam ujung pisau meng-ancam ulu hati
pendatang baru itu, tanpa terasa dua jalur air mata tiba2
bercucuran dari balik kedoknya katanya mengangguk : "Ucapanmu
memang benar dik. Memang salah ayah, aku sendiri juga terlalu
tidak becus, seharusnya aku hanya pantas berjodohkan seorang
kampungan, menjadi isteri alim dan mendidik putera puteri belaka,
memang aku tidak setimpal berjodohkan dia, apalagi dia seorang
pahlawan yang memikul tanggung jawab besar, memang akulah
yang bikin celaka dia . . . ." akhirnya dia menangia ter-guguk2.
Si baju hitam yang datang duluan menyeringai puas, katanya:
"Sayang kau insap setelah terlambat." Tanpa melirik lagi segera dia
membalik badan terus berlari kecelah2 mulut lembah sana.
Pendatang baru itu terketuk perasaaannya dia lagi tenggelam
dalam kepiluan sehingga air mata bercucuran, serta mendengar
orang melangkah pergi cepat dia menyeka air mata: "Dik, lekas
berhenti. !"
Si baju hitam yang duluan menjadi tidak sabar, teriaknya juga:
"Aku tidak punya waktu mendengarkan obrolanmu."
"Untuk apa adik pergi ke Hek-liong-tam?", tanya si pendatang
baru.
"Kenapa aku harus beritahukan padamu?"
"Kau kemari untuk mempelajari ilmu pedang peninggalan Tiongyang
Cinjin di dasar gua itu bukan?"
"Memangnya aku tidak boleh turun ke sana?"
"Dik, kau kan tahu, air kolam itu teramat beracun, kecuali
Leliong-cu, tiada obat penawar lain di dunia ini."
"Kau bawa Leliong-cu itu?"
"Aku tidak pernah memiliki Leliong-cu."
Lama si baju hitam yang datang duluan menatapnya lekat2,
tanyanya dingin: "Lalu untuk apa pula kau kemari?"
"Aku sengaja kemari untuk membujuk dan mencegah kau
menyerempet bahaya."
"Urusanku sendiri, tak perlu kau ikut campur," jengek si baju
hitim yang datang duluan, mendadak dia melangkah pergi lebih
cepat, tahu2 dia sudah menyelinap keluar celah2 lembah, menyusuri
jalan kecil berliku terus menuju ke bawah.
Pendatang baru tak bersuara lagi, secara diam2 iapun mengikut
di belakang orang. Tiba2 si baju hitam yang duluan membalik
badan, tangannya memegang sebatang pedang kemilau, ujung
pedangnya menuding dan sorot matanya memancar dingin,
hardiknya: "Setapak lagi kau mengikuti aku, jangan menyesal kalau
pedang ditanganku tak kenal kasihan."
Terhenti langkah pendatang baru, katanya dengan rawan:
"Mungkin adik berhasil, membuat semacam obat penawar getah
beracun itu, tapi kolam ini sedalam dua puluh tombak, kadar
racunnya juga teramat besar, kecuali Leliong-cu, apapun tak bisa . .
. . . . .."
"Urusanku tak perlu kau tahu," bentak si baju hitam yang duluan.
"kalau kau t idak menyingkir, jangan salahkan aku bertindak keji
padamu."
Tanpa hiraukan orang segera dia berkelebat ke depan, larinya
bagai terbang meski berjalan di jalan gunung yang licin dan
berlumut. Di antara lembah yang diapit gunung, kabut sudah mulai
ber-gulung2 tiba, luncuran tubuhnya laksana meteor, dalam sekejap
saja ia sudah lenyap ditelan kabut.
Pendatang baru menarik napas, dia diam saja tidak mengikuti
orang lagi, tapi membalik ke arah timur terus menyusuri sebuah
jalanan kecil yang berlumut tebal, jalan di sini tak pernah diinjak
manusia.
Kabut masih tebal di Hek-liong-tam, lima jari sendiri tak
kelihatan, Si baju hitam yang datang duluan itu memang Thay-siang
Pek-hoa-pang, sejak kecil dia dibesarkan di Hek-liong-hwe, maka
jalan dan liku2, di dasar perut gunung ini dia sudah apal di luar
kepala. Walau kabut teramat tebal, tapi tak membawa pengaruh
apapun bagi gerakannya, langkahnya tidak menjadi kendur
karenanya, badannya meluncur bagai terbang langsung menuju ke
kolam.
Setiba di pinggir lain, langkahnya tampak lebih hati2, sedikitpun
tak berani lena, mengitari dinding sebelah timur, terus maju dan
mulai injak pagar batu. Tujuannya jelas ke arah utara di mana
kepala naga itu berada, tapi tatkala kakinya mulai beranjak di pagar
batu itu, jantungnya tiba2 berdetak keras.
Ternyata didapati di tengah kabut di depat sana ada orang,
jaraknya tinggal setombak saja. Sudah tentu ketika dia melihat
orang di depannya, orang di depan yang memiliki kepandaian tidak
rendah juga segera melihat kedatangannya. Betul juga di tengah
kabut itu lantas berkumandang sebuah hardikan: "Siapa?"
Sudah tentu Thay-siang tidak pandang sebelah mata para
penjaga Hek-liong-tam ini meski dia seorang ahli pedang, dengan
tegas ia menyahut: "Aku!"
Belum lenyap suara "aku" tiba2 bayangannya melejit maju,
pedangnya menusuk cepat ke ulu hati lawan.
Tapi Kungfu orang itu ternyata juga amat tinggi, ketika dilihatnya
sinar dingin berkelebat tiba, ia kaget juga, cepat ia membentak:
"Kau bukan orang kita?!"
Pedang yang semula melintang di depan dada segera
didorongnya ke depan, gerakannya tidak kencang, tapi laras pedang
seluruhnya dilandasi kekuatan dalam, jelas ilmu pedangnya sudah
mencapai taraf yang sempurna. Maka terdengarlah suara "trang",
serangan Thay-siang laksana kilat itu kena dipatahkan oleh lawan.
Bahwa serangan yang disiapkan lebih dulu dengan landasan
kekuatan hebat dapat dipatahkan lawan, keruan terkesiap hati
Thay-siang, jengeknya: "Sudah tentu aku ini bukan orang Hek-lionghwe."
Belum lagi pedangnya ditarik, tangan kirinya sudah melancarkan
pukulan yang dahsyat. Lwekangnya amat tangguh maka pukulan
yang dilontarkan lihay sekali, baru saja suara benturan kedua
senjata bergema, pukulan telapak tanganpun melandai tiba.
"Serangan bagus," teriak orang itu dengan gusar. Tanpa ayal
iapun gerakkan telapak tangan kiri, sekuatnya dia menepuk sekali
memapak serangan lawan. Lwekang yang diyakinkan orang ini
agaknya tidak lebih asor daripada Thay-siang, maka tepukan tangan
yang dilancarkan dengan gusar ini sungguh kuat sekali.
"Plak", begitu kedua tenaga saling bentur, terdengarlah suara
keras, hawa bagai bergolak di sekitar tubuh mereka sehingga
menimbulkan angin kencang, pakaian kedua orang melambai2.
Thay-siang betul2 kaget, pikirnya: "Kepandaian orang ini begini
tinggi, waktuku amat terbatas, aku harus cepat membereskan dia."
Mendadak dia lancarkan pula serangan aneh dan ganas, di mana
pedangnya terayun, memancarkan cahaya terang melingkar bagai
samberan kilat sehingga kabutpun tersampuk buyar.
Karena pancaran sinar ini, tertampaklah di depannya berdiri
seorang laki2 berjubah hijau berperawakan tinggi kekar, air
mukanya mengunjuk rasa kaget, pedang hitam ditangannya
berputar cepat, mendadak ia berteriak gugup: " Harap berhenti!"
Betapa sengit dan cepat gerakan pedang kedua belah pihak,
belum lagi teriaknya lenyap, terdengarlah suara "trang-trang"
benturan yang keras. Dalam sekejap itu, senjata kedua orang saling
beradu belasan kali, padahal mereka hanya bergebrak satu jurus
belaka.
Setelah sinar pedang sirna, Thay-siang masih tetap berdiri di
tempatnya, sementara laki2 jubah hijau menyurut mundur tiga
langkah. Karena rasa membunuh sudah membakar, maka Thaysiang
mendesis pula: "Bagus, nah sambutlah sejurus lagi."
"Tahan sebentar, tahan sebentar!" teriak si jubah hijau. "Berhenti
dulu, coba dengarkan sepatah kataku."
Terpaksa Thay-siang berhenti, namun pedangnya tetap siaga,
serunya; "Mau omong apa, lekas katakan!"
"Losiu mohon tanya, bukankah jurus pedang yang Hujin
lancarkan barusan adalah Sinliong-jut-hun?"
Seperti diketahui Sinliong-jut hun dari Hwi-liong-sam-kiam harus
dilancarkan dengan tubuh terapung di udara, tapi Thay-siang sudah
meyakinkan jurus ini selama dua puluhan tahun dan sudah kelewat
sempurna, maka cukup dengan mengayun tangan saja tanpa
mengapungkan badan, gerakannya malah dapat berubah sesuka
hatinya, apalagi dilandasi kekuatan Lwekangnya, sinar pedang yang
tajam itu dapat diulur untuk melukai musuh, maka tanpa melejit ke
udara ia tetap bisa melontarkan jurus serangan lihay ini.
Kalau si jubah hijau tidak memiliki ilmu pedang tingkat tinggi
mana dia mampu mematahkan serangan yang begitu hebat,
pengetahuan dan pengalamannya yang luas menjadikan dia kenal
betul jurus pedang yang dilancarkan lawan meski gerak dan
gayanya berbeda.
Sinar mata Thay-siang berkilat hijau, katanya sambil
menyeringai: "Kau dapat mengenali ilmu pedangku, menandakan
kau cukup lihay . . . . "
Belum habis bicara, tiba2 laki2 jubah hijau berjingkrak girang
sembari berkeplok, lalu menjura dengan gugup, katanya: "Kiranya
Ling-hujin adanya, Losiu . . . . "
Thay-siang segera menukas: "Aku bukan Ling-hujin."
Laki2 jubah hijau tertegun, katanya: "Barusan Hujin melancarkan
Sin liong-jut-bun, kalau engkau bukan Ling hujin, habis siapa?"
"Memangnya hanya Ji-giok yang mampu melancarkan jurus
pedang itu?" jengek Thay-siang.
Bergetar badan laki2 jubah hijau, sekejap dia melenggong
mengawasi Thay-siang, mendadak dia menjura dan berkata: "Ah,
kiranya engkau adalah Jikohnio, maaf Losiu berlaku kurang adat."
Jikohnio alias nona kedua. Yaitu seperti telah diceritakan, Thaysiang
adalah puteri kandung Lo-hwecu Thi Tiong- hong, namanya
Thi Ji-hoa.
Sikap Thay siang tampak kikuh, katanya tegas: "Sekarang aku
adalah Thay-siang dari Pek-hoa-pang.
Cepat si jubah hijau mbengiakan: "Ya, ya, Cay-he menghadap
Thay-siang."
"Darimana kau tahu akan diriku?" tanya Thay-siang.
Laki2 jubah hijau menjura pula, katanya: "Cayhe Yong Kingtiong,
cukup lama mengikuti Lohwecu, sudah tentu kukenal baik
nona."
"Apa jabatanmu sekarang dalam Hek-liong-hwe?" tanya Thaysiang.
"Sungguh memalukan, Cayhe pernah mendapat budi pertolongan
Lohwecu, atas kebijaksanaannya Cayhe diangkat sebagai Congkoan
Hek-liong-hwe, selama dua puluh tahun ini aku selalu berdoa dan
mengharap akan datang suatu ketika dapat bebas merdeka, kini
beruntung Jikohnio telah kemari, Ling kongcu tadipun telah kemari,
syukurlah bahwa penantianku selama ini t idak sia2."
"Ling-kongcu juga kemari", kata2 ini membuat Thay-siang
tertegun heran, tanyanya: "Apa katamu? Siapa itu Ling-kongcu?"
”Ternyata Jikohnio belum tahu, Ling-kongcu adaalah putera Linghwecu,
Thian memang maha adil, Ling-kongcu dilahirkan setelah
ayahnya meninggal."
Tergerak hati Thay-siang, batinnya: "Tak heran Ji-giok juga
muncul di sini, kiranya ibu beranak itupun telah kemari." Lalu dia
bertanya dengan menatap tajam: "Kau sudah melihat puteranya
Ling Tiang-hong, siapa namanya?"
"Dia bernama Ling Kun-gi." sahut Yong King-tiong.
"Ling Kun-gi?"
Hal ini benar2 diluar dugaan, Sorot matanya dibalik cadar tampak
semakin dingin, dengusnya: "Kiranya dia, masa dia tidak mampus!"
Mendadak dia mendelik pada Yong King-t iong, tanyanya gelisah: "Di
mana sekarang dia?"
Yong King-t iong adalah jago kawakan Kangouw sudah tentu dia
merasa ganjil akan nada pertanyaan Thay-siang, naga2nya
mengandung maksud kurang baik.
Memang sejak kecil dulu ketika Lohwecu masih hidup, nona
kedua yang kini menjadi Thay-siang Pek-hoa-pang ini sangat
dimanjakan dan terlalu binal, sifatnya rada eksentrik, diam2 dia
menyesal barusan telah kelepabsan omong, lekas dia unjuk tawa,
katanya: "Ling-kongcu tadi memang muncul di sini, sayang Cayhe
tidak mampu menahannya, kini dia sudah pergi."
Thay-siang mendengus: "Kemana dia, masa kau t idak tahu?"
"Ling-kongcu t idak mau menerangkan, tak enak Cayhe tanya
padanya," sahut Yong King-tiong.
Tatkala itu fajar telah menyingsing, walau kabut pagi masih
tebal, tapi cuaca sudah remang2, dalam jarak tertentu sudah bisa
terlihat jelas bayangan orang. - -
Setajam pisau tatapan Thay-siang, tanyanya: "Lalu untuk apa dia
datang kemari?"
"Bahwasanya Ling-kongcu tidak kenal Cayhe, mana mungkin dia
mencariku? Soalnya tadi akupun melihat dia melancarkan Hwi-liongsam-
kiam, maka kutanya dia she apa, baru kuketahui dia putera
Ling-hwecu."
"Meluruk ke Hek-liong-tam, sudah tentu mengincar ilmu silat
peninggalan Tiong-yang Cinjin di gua itu. Hm, dengan susah payah
aku mengerahkan pasukan besar, memangnya dia yang memungut
hasilnya," sampai di sini mendadak suaranya berubah aseran:
"Yong-congkoan berulang kali bilang ayahku almarhum berbudi
padamu, dan kau masih tetap setia terhadan beliau, maka ingin
kuminta kau bantu menyelesaikan sesuatu, tentu kau tidak
keberatan bukan?"
Diam2 Yong King-tiong mengumpat: "Perempuan ini memang
lihay, tapi aku sudah telanjur omong, tiada jalan lain kecuali
menerima permintaannya saja." Sembari menjura dia lantas
menjawab: "Kalau ada tugas, silahkan Jikohnio perintahkan saja,
Cayhe tidak akan menolak."
"Bagus, karma kau adalah Hek-liong-hwe Cong-koan, segera
perintahkan agar perkeras penjagaan dan suruh para penjaga
melarang siapapun datang kemari, barang siapa melanggar harus
dibunuh dan habis perkara."
Yong King-tiong mengunjuk sikap serba salah, katanya: "Terus
terang Jikohnio, Cayhe memang punya dua belas anak buah ahli
pedang, tapi Hek-liong-hwe sekarang sudah dikendalikan oleh pihak
penguasa, banyak orang baru masuk jadi anggota, tujuannya adalah
untuk mengejar pangkat dan kedudukan belaka, mereka
kebanyakan adalah cakar alap2 yang amat setia kepada kerajaan,
siapapun takkan mau tunduk pada perintahku."
"Kalau mereka tidak mau ya sudahlah, untung jalan tembus ke
dalam kolam ini hanya satu, maka tugas menjaga pintu masuk ini
kuserahkan padamu."
"Jikohnio," seru Yong King-t iong ragu2, "apa yang hendak
kaulakukan?"
"Jangan kau banyak bertanya."
"Masih ada pesan lain Jikohnio?" tanya Yong King-tiong -pula.
Thay-siang mengenakan mantel kulit berbulu yang lebar dan
panjang, pelan2 dia lepaskan tali sutera dari mantelnya di depan
dada, kiranya Thay-siang mengenakan pakaian ketat, di balik
mantel tergantung dua buah kantong kulit. Menuding pada kantong
kulit ini dia berkata: "Coba kau tuang air obat di kantong kulit ini ke
dalam kolam, lalu jagalah pinto di mulut lembah, siapapun dilarang
kemari."
Semakin curiga Yong King-bong dibuatnya, tanyanya: "Apa ini
kedua kantong ini Jikohnio?"
"Obat penawar racun," sahut Thay-siang.
Bimbang sekejap Yong King-tiong, kemudian bertanya: "Jadi
Jikohnio mau turun ke dasar kolam? Getah beracun ini hanya dapat
ditawarkan oleh Le liong-cu . .. . . . . '
"Sudahlah, jangan banyak bicara, lekas tuangkan seluruhnya."
Terpaksa Yong King-tiong buka ikatan mulut kantong serta
menuang kedua isi kantong ke dalamkolam.
Waktu itu hari sudah terang tanah, kabut dipermukaan Hekliong-
tam juga sudah semakin tipis, setelah air obat dalam kantong
tertuang habis, lekas Thay-siang melongok ke bawah.
Air obat kedua kantong kulit itu adalah obat penawar getah
beracun yang dibikin Ling Kun-gi waktu masih berada di Pek-hoapang
tempo hari. Waktu diadakan percobaan tempo hari, setetes air
obat ini cukup untuk menawarkan segayung getah beracun menjadi
air jernih, maka kalau diperhitungkan, dua kantong air obat
penawar ini tentu berkelebihan untuk menawarkan getah beracun
sekolam ini.
Seyogianya bila obat penawar dituangkan, air kolam seharusnya
bergolak dan timbul perubahan, tapi air kolam yang hitam kental itu
kini sedikitpun tidak t imbul perubahan apa2 Tanpa berkedip Thaysiang
awasi permukaan air kolam, ternyata obat penawar yang dia
bawa sudah hilang khasiatnya, sorot matanya dari balik cadar
tampak mencorong dingin setajam pisau, terdengar mulutnya
menggeram gemas, desisnya sambil mengertak gigi: "Binatang kecil
menggagalkan usahaku."
Melihat cuaca sudah terang benderang, sementara dalam kolam
tetap tidak tampak reaksi apa2, keruan hati Yong King-t iong gelisah
setengah mati, gua di dasar kolam itu diciptakan oleh Sin swi-cu
setelah diadakan perhitungan dan percobaan yang seksama, setiap
langkah mengandung mara bahaya, kesalahan serambut saja bisa
mendatangkan elmaut bagi orang yang masuk ke dalam. Padahal
dia sendiri tak pernah masuk ke sana, entah bagaimana. keadaan di
dalam? Ling-kongcu sudah satu jam lebih berada di dalam,
memangnya dia terjebak dan tertimpa malang?
Dikala dia merasa kuatir dan was2 inilah Thay-siang masih tetap
mengawasi permukaan air kolam, sorot matanya tampak putus asa,
tiba2 ia berteriak beringas: "Anak keparat, kau tidak akan
kulepaskan." Mendadak dia membalik badan, jengeknya:
"Yong-congkoan, kau tahu kejurusan mana Ling Kun-gi pergi?"
"Hanya ada satu jalan keluar di Hek-liong tam, Ling-kongcu . . . .
" belum selesai Yong King-tiong bicara, tepat di pusar kolam tiba2
terdengar suara gemuruh, air kolam yang semula tenang mendadak
berpusar semakin kencang pada delapan tempat. Air beracun yang
mengalir dari kepala naga di dinding utarapun seketika berhent i
mengalir. Cepat sekali air kolam yang berpusar itu menyusut
rendah.
Sorot mata Thay-siang yang tajam tengah menatap Yong Kingtiong,
ia mendengus sekali lalu berkata: "Sudah ada orang masuk ke
dasar kolam. Katakan, bocah she Ling itu bukan?"
Tahu bahwa Kun-gi sudah berhasil menunaikan tugasnya, diam2
hati Yong King-tiong sangat senang, tapi barusan sudah merasakan
lihaynya ilmu pedang J ikohnio, dari nadanya kini agaknya dia
teramat benci dan dendam terhadap Ling-kongcu, maka hatinyapun
menjadi gelisah dan kuatir pula bagi keselamatan Ling Kun-gi.
Walau rasa senang lebih merasuk hati, tapi mimik mukanya
sedikitpun tidak kentara, ia menyurut selangkah dan menjawab:
"Cayhe betul2 tidak tahu."
"Masih bilang tidak tahu," jengek Thay-siang, "sejak tadi kau
berjaga di sini, pasti kau yang membantu dia turun ke bawah dan
akan bantu dia naik ke atas pula?"
Urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa Yong King-tiong
berubah sikap, katanya dengan sungguh: "Jikohnio, engkau seorang
cerdik, bahwa Lohwecu mendirikan Hek-liong-hwe adalah untuk
menyambut seruan Tuan Puteri, tujuannya merebut kembali tanah
air yang terjajah, waktu itu tidak sedikit kelompok patriot kita yang
beruntun ditumpas oleh kerajaan, maka buku daftar anggota
seluruh pahlawan bangsa di Kangouw oleh Tuan Puteri secara
diam2 di simpan di markas pusat Hek-liong hwe kita, buku itu
merupakan dokumen paling pent ing dan rahasia, maka Lohwecu
memerlukan membangun Hek-liong-tam ini, tak tersangka Hekliong-
hwe telah dijual kepada musuh oleh sekomplotan manusia
yang tamak harta dan gila pangkat, pihak kerajaanpun amat getol
untuk merebut buku daftar itu, bilamana sampai terjatuh di tangan
mereka, entah berlaksa jiwa akan terembet dan menjadi korban
tanpa dosa, betapa pula banyak aliran per-silatan di Bu-lim akan
ditumpasnya, bahwa selama dua puluh tahun ini Cayhe terima hidup
terhina, yang kutunggu adalah hari ini."
"Katakan, yang turun ke bawah bocah she Ling itu bukan?" Thaysiang
menegas.
"Betul, memang Ling-kongcu yang turun ke bawah, dia akan
menghancurkan buku daftar itu, Cayhe berjaga di sini untuk
membantu dari segala kemungkinan, kini dia sudah akan keluar.
Jikohnio adalah angkatan tua Ling-kongcu, kekuatan inti Pek-hoapangpun
telah kau kerahkan kemari, kalian adalah sanak kadang
sendiri, seharusnya saling bantu berdampingan memberantas
musuh, bantulah Ling-kongcu untuk menggempur Hek-liong-hwe,
karena Hek-liong-hwe yang didirikan ayahmu kini terjatuh ke tangan
musuh, Lohwecu . . . . . . '
"Tutup mulut," hardik Thay-siang, "jangan kau minta ampun bagi
bocah she Ling, Hek-liong-hwe terang akan kugempur, tapi aku
akan bunuh dulu bocah she Ling itu:" Mulut bicara sementara
matanya menatap ke dasar kolamtanpa berkedip.
Saat mana air kolam sudah menyurut rendah, tepat di tengah
kolam muncul batu karang, tepat di pucuk karang terdapat sebuah
batu bulat raksasa, batu itu mulai bergerak mumbul ke atas, kejap
lain seorang pemuda berjubah hijau tampak menongol keluar dari
lubang di bawah batu bulat itu.
Hari sudah terang benderang, kabutpun sudah menipis, betapa
tajam pandangan Thay-siang, sekilas pandang dia sudah mengenali
pemuda yang menongol keluar itu memang betul Ling Kun-gi.
Darah seketika merangsang kepala, sembari menggeram pedang
ditangan kanannya mendadak dia timpukkan ke bawah, berbareng
kedua kakinya menutul, orangnyapun meluncur ke bawah, daya
luncurnya teramat cepat, dengan ringan ujung kakinya menginjak di
atas batang pedang yang sedang terbang itu.
Cahaya pedang bagai bianglala, dengan terbang naik pedang
Thay-siang melompat sejauh dua belas tombak meluncur turun ke
puncak karang di tengah kolam.
Melihat orang menimpukkan pedang, semula Yong King-tiong
mengira orang menggunakannya sebagai senjata rahasia uuntuk
menyerang Ling Kun-gi, maka dia berteriak gugup: "Jangan Jikohnio
. . . ." Demi melihat orang "terbang" dengan naik pedang, hati Yong
King-tiong semakin kaget dan mencelos.
Betapapun tinggi ilmu silat seseorang takkan mungkin dapat
melompati sejauh dua belas tombak dari permukaan kolam ini, tapi
ilmu "It-wi-tohkung" (dengan sebatang gala menyeberang sungai)
yang dipertunjukkan Thay-siang ini betul2 amat menakjubkan.
Selama dua puluh tahun ini, watak Ji-kohnio ini agaknya makin
nyentrik, bila dia betul2 berhasil terjun ke pucuk karang, bukan
mustahil akan perang tanding dengan Ling-kongcu, dengan bekal
kepandaian silatnya yang bertaraf tinggi itu mungkin Ling-kongcu
bukan tandingannya.
Hampir dalam waktu yang sama, dari arah lain sana, tahu2
melayang terbang pula selarik sinar pedang, karena kabut telah
menipis, maka samar2 dapat terlihat di atas luncuran sinar pedang
itu berdiri juga sesosok bayangan orang yang berkedok serba hitam,
pakaian melambai, meluncur dengan cepat dan sasarannya juga ke
puncak karang di dasar kolam.
Kembali Yong King-tiong terkejut, batinnya: "Siapa pula itu?"
Kedua orang sama2 melancarkan Ginkang It-wi-tokang ajaran
rahasia Siau-lim-pay yang tidak diturunkan kepada orang luar, jelas
bahwa kedua orang ini pasti punya sangkut paut erat dengan Siaulim-
pay.
Sama2 naik pedang yang meluncur, meski keduanya terpaut
beberapa kejap tapi keduanya hampir bersamaan pula tiba di pucuk
karang. Saat mana Ling Kun-gi baru saja menerobos keluar di
bawah batu bulat. Tahu2 Thay-siang sudah hinggap di atas karang,
bentaknya: "Binatang kecil, kau pantas mampus!" Pedang terayun,
dada Kun-gi ditusuknya dengan beringas.
Sebetulnya Kun-gi belum melihat jelas orang di depannya, tapi
dia kenal betul suara Thay-siang, tanpa terasa ia menjerit: "Kau ini
Thay-siang!" Sebat sekali dia menyurut mundur sambil berkelit.
Kejadian berlangsung dalam sekejap dan cukup gawat, dikala
Kun-gi mengegos, orang berkedok yang datang belakangan itupun
sudah meluncur tiba mengadang di depan Kun-gi. Pedang panjang
kontan terayun, "trang", tusukan pedang Thay-siang kena
ditangkisnya, teriaknya: "Dik, tak boleh kau melukai dia!"
Karena suara orang, kembali Kun-gi di bikin kaget, teriaknya:
"Ibu!"
Orang berkedok dan berpakaian hitam yang baru datang ini
memang betul ibu kandung Ling Kun-gi, yaitu Thi-hujin alias Thi Ji
giok.
Wajah Thay-siang teraling cadar, tapi sorot matanya tajam dingin
diliputi nafsu membunuh, teriaknya: "Siapa adikmu? Binatang kecil
ini menggagalkan urusanku, aku harus mencabut nyawanya, kau
minggir!"
"Sret", kembali dia menusuk.
Pedang Thi hujin segera menyontek dan menindih gerakan Thaysiang,
katanya: 'Dik, jangan kau melupakan persaudaraan. Kau
terhitung lebih tua dari dia, umpama kau ingin menghukum dia
dengan cara apapun boleh, tapi terhadan anak2 tak pantas kau
main senjata."
"Jangan cerewet!" teriak Thay-siang pula. "Kalian ibu beranak
memang pantas mampus." Di tengah teriakannya ini, beruntun dia
menyerang tiga kali pula.
Thi hujin tangkis semua serangan Thay-siang itu, katanya: "Aku
tak boleh mati sekarang, aku akan membunuh bangsat pengkhianat
Hek-liong-hwe dengan kedua tanganku sendiri, menegakkan nama
baik ayah dan perguruan, menuntut balas sakit hati kematian
suamiku."
Walau merasa perbuatan Thay-siang keterlaluan, tapi kini Kun-gi
sudah tahu bahwa Thay-siang adalah bibinya sendiri. Cuma belum
diketahui ada perselisihan apa di antara Thay-siang dengan ibunya,
sampai sesama saudara ini saling dendam dan bermusuhan? Tapi
kedua orang yang lagi gebrak ini adalah angkatan tuanya, walau
hati merasa cemas, tak berani dia ikut turun tangan atau
membujuk.
Setelah dia keluar dari bawah lubang, batu bulat yang timbul tadi
kini sudah turun dan menyumbat lubang tadi. Peralatan rahasia di
Hek-liong-tam ini saling berkaitan satu dengan yang lain bila batu
bulat ini sudah kembali pada posisinya semula, kepala naga di
dinding utara itupun mulai memancurkan air beracun, sementara air
kolam yang semula tersedot ke delapan empang di samping kolam
kini kembali mengalir balik, maka volume air mulai meninggi pula.
Thay-siang masih mainkan pedangnya sekencang kitiran, seperti
orang kalap saja dia menghardik seraya lancarkan serangan, bagai
mengadu jiwa layaknya dia cecar Thi-hujin dengan tusukan dan
tebasan pedang.
Dengan tenang dan mantap Thi-hujin hanya menangkis dan
mematahkan serangan orang, tak pernah balas menyerang, maka
suara keras benturan senjata mereka terasa memekak telinga
sederas hujan badai.
Kun-gi yang berada di samping cukup tahu situasi yang gawat
ini, maka dia berteriak mendesak: "Thay-siang lekas berhenti. Kalau
tidak lekas meninggalkan tempat ini, air kolam segera akan naik
pasang."
Mendadak terdengar suara gelak tawa aneh di sebelah atas,
disusul seorang berkata: "Pemberontak bernyali besar, kalian masih
ingin pergi dengan selamat dari Hek-liong-tam?" Belum lenyap
suaranya, beruntun terdengar suara jepretan, maka
berhamburanlah anak panah beracun bagai hujan lebatnya sama
tertuju ke puncak karang. Sementara cepat sekali air kolam juga
semakin tinggi, karangpun hampir tenggelam ditelan air.
Thi-hujin berteriak gugup: "Dik, lekas naik!"
Agaknya Thay siang amat jeri juga akan air kolam beracun ini,
dengan menggerang gusar segera dia jejak kedua kakinya dan
melambung ke atas, pedang panjang di tanganpun ditimpuk ke
atas, pedang yang bercahaya kemilau meluncur bagai roket, dengan
menaiki pedang itulah Thay siang langsung menerjang ke tepi atas.
Di tengah udara menyongsong hamburan anak panah yang melesat
kencang itu, dia kebutkan kedua lengan bajunya, bagai menyibak
tangkai bunga layaknya sekejap saja dia sudah hinggap di tepi
kolam.
Dikala Thay-siang meleset terbang itu Kun-gi berteriak gugup:
"Bu, lekas engkau naik!"
Thi-hujin tahu dengan membawa Leliong-cu Kun-gi tidak perlu
takut air kolam, maka dia berpesan: "Lekas kaupun pergi saja!"
Segera iapun timpukkan pedang, badan melijit t inggi hinggap di
atas pedang terus meluncur ke atas pula, arahnya ke sebelah sana.
Dua puluh empat ahli pemanah tengah berba-ris di tepi kolam
dan sibuk dengan anak panahnya kapan mereka pernah lihat ada
manusia bisa numpang pedang, apalagi sinar pedang yang
ditimpukkan mencorong seterang itu, sehingga anak panah yang
mereka bidikkan seketika menyibak rninggir sendirinya, karuan ciut
nyali mereka, tanpa disadari beramai2 mereka menyurut mundur.
Lekas sekali Thay-siang manfaatkan peluang ini, setelah kaki
hinggap di tepi, sembari tertawa dingin pedangpun bekerja, bagai
naga hidup sinar pedangnya menebas kian kemari. Di mana larikan
sinar pedangnya menyamber, jeritan mengerikan seperti berpadu,
lima laki2 pemanah terpenggal kepalanya.
Berhasil membinasakan lima musuh. Thay-siang terus berkisar ke
kiri, pedangnya kembali menyapu.
Betapa cepat gerakan pedangnya, hakikatnya susah diikuti oleh
pandangan mata, tahu2 kilat menyamber dan jiwapun melayang,
kembali lima sosok tubuh sama terjungkal roboh tak berkepala.
Dua kali pedang Thay siang menyapu, hanya sekejap saja hampir
separo dari dua puluh empat pemanah telah menjadi korban,
sisanya keruan menjadi lemas kakinya saking ketakutan, beramai2
mereka melarikan diri sehingga tugas membidikkan panah
terlupakan sama sekali.
Pada saat itulah terdengar seorang menghardik keras:
"Pemberontak bernyali besar, tidak lekas berhenti?"
Waktu Thay-siang berpaling, tertampak tiga tombak di atas batu
padas besar sana berdiri sejajar belasan orang. Orang di tengah2
berusia antara 45-an, alis tebal, mata sipit, kulit mukanya semu
merah bagai buah apel, mengenakan jubah abu2 bersulam indah,
sikapnya kelihatan gagah dan angker. Di sebelah kirinya adalah
seorang Lama berkasa merah. dua muridnya berdiri di kanan kiri
sebelah belakang.
Di sebelah kanannya adalah laki2 berjubah hijau berusia enam
puluhan, disusul Yong King-t iong sebagai Hek-liong-hwe Congkoan,
dilanjutkan empat laki2 berbaju biru berusia empat puluhan. Di
kedua sisi orang2 ini adalah delapan laki2 seragam hitam berpedang
panjang warna hitam pula, jelas mereka adalah jago2 pedang dari
Hek-liong-hwe. Tadi yang bersuara adalah laki2 jubah hijau berusia
enampuluhan itu.
Laki2 berjubah abu2 yang berdiri di tengah menatap Thay-siang
sekian lamanya, katanya kemudian dengan suara kereng: "Kau Thi
Ji-hoa atau Thi Ji-giok?"
"Peduli apa siapa aku?" jengek Thay-siang.
"Siapa kau?" bentak Thi-hujin di sebelah sana. Yong King-tiong
menyeringai tawa, katanya: "Kalian berani menyelundup ke tempat
terlarang, kini berhadanan dengan Hwecu kita masih berani
bertingkah, hayo lemparkan senjata dan menyerah saja.
Memangnya kalian berani memberontak?" Kata2nya ini memberi
kisikan bahwa si jubah abu2 adalah Hek-liong-hwe Hwecu Han Janto
adanya.
Sejak kecil Han Janto dibimbing dan dibesarkan oleh Hek-lionghwe
Hwecu yang terdahulu, yaitu Hek-hay-liong Thi Tiong-hong. Ini
berarti bahwa dia tumbuh dewasa bersama Thi-hujin dan Thaysiang,
lalu mengapa Thi-hujin dan Thay-siang sekarang tidak
mengenalnya?
Soalnya dalam ingatan mereka Han Janto adalah pemuda yang
cakap bermuka putih bersih, sikapnya sopan dan lembut, kecuali
hidungnya yang membetet, tak kelihatan roman mukanya yang
jahat dan sadis, tapi laki2 di depan mata mereka sekarang berwajah
merah, alis tebal mata sipit, hakikatnya bukan Han Janto yang
menjual Hek-liong hwe dan mencelakai suaminya itu. Sesaat Thihujin
menatap si jubah abu2, lalu mendengus hina: "Han Janto?"
Ling Kun-gi kini juga sudah naik ke atas dan berdiri di belakang
Thi-hujin, katanya lirih: "Bu, dia mengenakan kedok muka."
Sorot mata si jubah abu2 menatap Kun-gi lekat2, sekilas iapun
melirik Leliong cu, tiba2 dia tertawa lebar, katanya: "Anak muda,
kau inikah Ling Kun-gi?"
Kini baru Thi hujin mengenal suara orang, seketika badannya
gemetar, pedang menuding, bentaknya dengan suara gemetar:
"Kau memang betul Han Janto, kau keparat yang khianat ini, ya,
memang kau adanya."
Han Janto tertawa lebar, katanya: "Betul, memang aku orang she
Han, kita kan dibesarkan ber-sama2, dulu kalau bocah she Ling
tidak menyelinap diantara kita, kau nona Ji-giok pasti sudah menjadi
biniku, tapi hari ini kaupun akan tetap disanjung sebagai isteriku
tercinta . . . . . . "
Dulu Han Janto sudah beranggapan bahwa dirinyalah yang pasti
akan mewarisi jabatan ketua Hek-liong-hwe dari tangan Thi Tionghong,
malah secara diam2 iapun naksir kepada nona Ji-giok,
sementara Ji-hoa alias Thay-siang dari Pek-hoa-pang diam2
kasmaran terhadap Ling Tiang-hong, tapi karena Kay-to Tyasu telah
memperkenalkan murid premannya yang satu ini, maka Thi Tionghong
berkeputusan mewariskan jabatan ketua Hek-liong-hwe
kepada Ling Tiang-hong.
Dan lagi mengingat puteri tunggalnya Ji-hoa berwatak nyentrik,
cupet pikirannya dan berjiwa sempit, sebaliknya Ji-giok sang puteri
angkat berwatak lembut, welas asih, sikapnya ramah dan halus
maka dia berkeputusan lebih setimpal menjodohkan puteri
angkatnya Ji-giok kepada Ling Tiang-hong.
Keputusan ini sudah melalui pemikiran yang seksama serta
dipertimbangkan untung ruginya, sungguh diluar dugaan bahwa
keputusan ini justeru membuat puteri kandungnya Ji-hoa minggat
tak keruan paran. Karena cemburu, timbul watak Han Janto yang
jahat, secara diam2 dia menyerah kepada kerajaan dan rela
diperbudak menjadi antek penjual bangsa. Perubahan drastis ini
sudah tentu tak pernah terpikir oleh Lohwecu sebelumnya.
Begitulah demi mendengar mulut orang yang kotor, sungguh
tidak kepalang marah Thi-hujin di samping merasa berduka pula,
desisnya sambil menggertak gigi: "Keparat she Han, ayahku teramat
baik terhadanmu, kau malah lupa akan nenek moyang sendiri dan
rela menjual keluarga dan bangsa kepada musuh, terima hidup
diperbudak menjadi antek penjajah, membunuh para ksatria bangsa
sendiri, dua puluh tahun yang lalu aku sudah bersumpah untuk
mengorek ulu hatimu buat sesaji didepan pusara ayah dan suamiku,
sekaligus menuntut balas pula bagi para pahlawan yang telah
gugur. Nah, Han Janto, menggelinding keluar sini kau."
"Bu, engkau tak perlu mengeluarkan tenaga, dendam orang tua
sedalam lautan, bangsat she Han ini serahkan saja kepada anak
untuk membereskannya," seru Kun-gi.
Bercucuran air mata Thi-hujin, ucapnya: "Tidak, sejak ibu
meninggalkan Hek-liong-hwe dulu sudah bersumpah kepada
ayahmu, dengan kedua tanganku sendiri akan kubunuh keparat she
Han yang durhaka ini."
Thay-siang menyeringai dingin, katanya: "Mencari perkara
dengan Han Janto adalah urusan kalian, aku akan pergi saja Ling
Kun-gi, persoalanmu menyelundup ke dalam Pek-hoa-pang sejak
kini boleh tidak usah kuusut. Nah, serahkan kembali Ih-thiankiam
padaku."
Thay-siang tidak tahu bahwa Ling Kun-gi masih memiliki sebilah
Seng-ka-loam yang tidak kalah ampuh dan saktinya daripada Ihthianloam,
bahwa dalam keadaan segawat ini sengaja dia meminta
balik Ih-thiankiam yang tajam luar biasa, itu berarti telah
memperlemah perlawanan Ling Kun-gi pada musuh, tujuannya
terang cukup keji juga.
"Thay-siang memang betul," ujar Kun-gi, "Cay-he memang bukan
orang Pek-hoa-pang lagi, sudah tentu harus kukembalikan pedang
ini." Betul2 dia menanggalkan Ih-thiankiam lalu diangsurkan dengan
kedua tangan.
Thay-siang terima Ih-thiankiam dengan tangan kiri. "Sreng",
tangan kanan segera mencabutnya keluar, tampak jelas nafsu
amarahnya yang berkobar, katanya ketus: "Dua puluh tahun
permusuhan ayah bundamu denganku, dengan tabasan ini boleh
anggap impas permusuhan kita,"
Seiring dengan ucapannya, "sret" Ih-thiankiam t iba2 menabas ke
pundak kanan Ling Kun-gi. Betapa cepat tabasan ini,, sampaipun
Thi-hujin yang berdiri tidak jauhpun kaget dan tak sempat
menolong, teriaknya: "Dik, kau . . . . "
Sinar pedang berkelebat, "tring," pedang Thay-siang tahu2
tersampuk oleh segulung angin selent ikan. Ternyata pada detik2
gawat itu, jari Kun-gi telah menjentik dengan It-cay-sian, ilmu sakt i
selentikan aliran Hud, sehingga ujung pedang orang terpental ke
samping.
"Terima kasih atas kemurahan hati Thay-siang." ucap Kun-gi
dengan tertawa.
Gemetar cadar di muka Thay-siang saking menahan gelora
marahnya, sambil mendengus segera ia hendak melompat pergi.
Mendadak Han Janto bergelak tertawa, katanya: "Thi Ji-hoa,
kaupun salah seorang buronan pent ing yang diincar kerajaan, terus
terang saudaramu ini tak berani membiarkan kau pergi, Ketahuilah
bahwa orang2 Pek-hoa-pang seluruhnya sudah dipancing ke tempat
buntu oleh anak buahku, kuharap kau tahu diri, lemparkan pedang
dan terima dibelenggu saja."
Thay-siang urungkan niatnya pergi, Ih-thiankiam melintang di
dada, suaranya murka: "Han Janto, kau kira dengan perangkap
Hek-liong-hwe seperti itu dapat mengurung orang2 Pek-hoa-pang?"
"Tidak salah," ujar Han Janto dengan tertawa, "Hek-liong-hwe
adalah kampung halamanmu, di sini kau tumbuh dewasa, segala
peralatan perangkap di sini kau cukup apal, tentu kaupun sudah
membekali peta yang terang kepada anak buahmu. Tapi perlu kau
ketahui bahwa selama dua puluh tahun ini, kebanyakan tempat
sudah kubangun pula perangkap yang aneka ragamnya, kalau anak
buahmu hanya bergerak menurut petunjuk petamu, itu berarti
mereka sengaja menggali lubang kuburnya sendiri, kini tinggal kau
seorang saja yang masih bebas."
Diam2 Kun-gi mengangguk, pikirnya: "Kiranya dua barisan yang
lain telah dibekali gambar peta oleh Thay-siang, hanya
rombonganku t idak dibekali apa2, agaknya dia sengaja hendak
membinasakan kami dengan meminjam tangan musuh,"
Keruan Thay-siang naik pitam, serunya: "Sebetulnya aku tidak
peduli segala urusan Ji-giok, kalau demikian biar aku membunuh
kau lebih dulu."
"Thi Ji hoa," seru Han Jan to, 'kau bukan tandinganku." Lalu dia
berpaling kepada si jubah hijau, katanya: "Tang cong-houhoat,
tugasmulah untuk membekuk dia."
"Hamba terima tugas," sahut laki2 jubah hijau sambil menjura.
"Sreng", pedang panjang di punggung dia cabut, lalu melangkah
maju, katanya: "Sudah lama Losiu dengar nama Thay-siang dari
Pek-hoa-pang yang termashur, hari ini kebetulan dapat belajar
kenal."
"Han Janto," jengek Thay-siang menghina, "apa kau tak berani
melawanku, jangan suruh orang lain menjual jiwa.'
Laki2 jubah hijan menarik muka, dengusnya: "Memangnya Thaysiang
juga tidak pandang dengan sebelah mata padaku? Apakah
Losiu betul2 mengantar kematian belaka, setelah turun tangan baru
akan tahu."
"Baiklah," ucap Thay-siang, "Han Janto, kau sendiri yang
melibatkan aku ke dalam persoalan ini." Sampai di sini ujung
pedang terangkat, bentaknya dingin: "Nah hati2lah kau!" .
Segera pedangnya membelah lebih dulu ke arah laki2 jubah
hijau. Jurus pertama ini menimbulkan kesiur angin yang menderu,
sinar perak kemilau bagai untaian rantai menggulung tiba, betapa
hebat serangannya, sungguh tidak malu kalau disebut sebagai ahli
pedang yang lihay, perbawanya memang lain.
Menyaksikan betapa hebat serangan pedang Thay-siang, laki2
jubah hijau tak berani memandang enteng, serentak berteriak:
"Bagus!" seringan asap iapun berkelit pergi, pedang segera bergaya
seindah orang menari, sinar pedang kemilau terpancar bertaburan
ke tubuh Thay-siang
Thay-siang mengejek dingin: "Tak nyana Banhoa kiam-kek
(tokoh pedang berlaksa bunga) yang dijuluki raja pedang dari lima
propinsi utara juga terima menjadi antek musuh."
Karuan merah selebar muka laki2 berjubah hijau, teriaknya
gusar: "Losiu bertugas dalam pemerintahan untuk membekuk kau
pemberontak ini, memangnya salah perbuatanku?"
Mulut bicara kedua orang sudah sama2 saling serang dengan
gencar, masing2 mengembangkan kemahiran ilmu pedang sendiri
dan berusaha merobohkan lawan lebih dulu. Dalam sekejap
serangan pedang kedua pihak bertambah kencang dan sengit,
bayangan kedua orangpun terlibat di dalam lingkaran cahaya
kemilau sehingga sukar dibedakan satu dengan yang lain.
Thi-hujin amat getol menuntut balas kematian sang suami,
menghadapi Han Janto si durjana, bola matanya menjadi merah
membara, ia melihat adiknya Ji-hoa sudah saling labrak dengan
laki2 jubah hijau, mana dia kuat menahan sabar lagi, serunya sambii
menggreget: "Bangsat keparat she Han, hari ini kau atau aku yang
harus gugur. Nah keluarkan senjatamu?"
Han Jan to berdiri tidak bergerak, katanya kalem : "Thi Ji-giok,
apa betul kau ingin bergebrak denganku?"
"Sebelum mencacah lebur badanmu itu, sungguh tidak terlampias
dendam kesumatku, sudah tentu kau harus hadani tantanganku."
"Thi Ji-giok;" ujar Han Janto dingin, "jelek2 kita tumbuh dewasa
bersama sejak kecil, tak peduli betapa besar dendammu padaku,
aku tidak ingin melukai atau membunuh kau dengan tanganku . . .
."
Tiba2 dia berpaling, katanya: "Yong-congkoan, kau saja yang
membekuk dia."
Sambil menenteng pedang pelan2 Yong King-tiong beranjak maju
meninggalkan barisannya, tapi setelah satu tinbak jauhnya
mendadak dia membalik badan, ujung pedang menuding Han Janto,
jubah dibadannya seketika melembung, bola matanya mendelik berapi2,
bentaknya lantang : "Han Janto, kau kunyuk busuk yang
menjual bangsa dan negara, keparat yang khianat, selama dua
puluh tahun ini Lohu menahan sabar terima hidup dihina, hari ini
tiba saatnya berkesempatan memenggal kepalamu dihadapan
umum, menuntut balas bagi para ksatria Hek-liong-hwe yang telah
gugur, apalagi Ling-hujin dan Ling-kongcu telah tiba, sumpah Linghujin
barusan sudah kau dengar pula, nah terima-lah kematianmu!"
Sampai di sini mendadak dia angkat kedua tangan ke atas
kepala, teriaknya lantang: "Hek-liong-hwe sekarang sudah menjadi
antek kerajaan, dua puluh tahun kita diperbudak, hayolah kawan
yang berjiwa ksatria, pahlawan bangsaku, bangkitlah, marilah kita
bersatu padu memberantas kawanan cakar alap2, tegakkan nama
baik dan kebesaran Hek-liong-hwe nan jaya."
Suaranya lantang, diucapkan dengan penuh semangat dan gagah
perkasa lagi, tapi tiada seorangpun yang tampil maju menyambut
seruannya, sampaipun delapan ahli pedang seragam hitam yang
menjadi anak buahnyapun tetap berdiri berpeluk tangan menimang
pedang tanpa bergerak, seakan tak pernah mendengar suara
apapun.
Han Janto menyeringai puas atas kemenangannya ini, katanya:
"Yong King-tiong, kau berani bersekongkol dengan musuh dan
hendak memberontak pula, tapi coba kau lihat, delapan jago
pedang anak buahmu sendiripun tiada yang sudi mendengar
seruanmu, sekarang kalau kau mau membekuk ibu beranak she Ling
ini masih dapat kau tebus dosamu dengan pahala, kalau tidak,
hukuman mati adalah bagianmu, jangan kau menyesal setelah
terlambat."
Merah membara roman Yong King-t iong, matanya mendelik
gusar, teriaknya: "Orang she Han, hari ini adalah saat kematianmu,
Ling-hujin akan menjatuhkan vonisnya terhadanmu. Wahai, delapan
jago pedang Hek-liong-hwe, dengarkan seruanku, kalian mau
menurut petunjukku atau tetap terus diperbudak oleh musuh,
menjadi antek kerajaan dan menindas sesama bangsamu sendiri?"
Kedelapan jago pedang itu hanya mengawasi Yong King-tiong,
semuanya tetap berdiri tak bergerak dan tidak bersuara.
Keruan Han Jan to ter-gelak2, katanya: "Yong King-tiong,
sekarang kau harus sadar, memberontak harus dipancung
kepalanya, di kolong langit ini takkan ada orang yang rela mengekor
oleh hasutanmu dan rela dipenggal kepalanya," Mendadak ia
memberikan perintah : "Si-toa-hou-hoat ( empat pelindung tinggi),
lekas ringkus Yong King-t iong yang sekongkol dengan pemberontak,
kalau berani melawan bunuh saja tanpa perkara,"
Empat laki2 yang berdiri di sebelah kanannya berpakaian biru
serentak melolos senjata masing2 terus melangkah maju merubung
Yong King-tiong.
Yong King-t iong ter-bahak2 dengan mendongak, serunya: "Kalian
berempat maju bersama lebih baik, supaya menghemat tenagaku."
Pada saat keempat orang ini maju, mendadak Thi-hujin
berpaling, katanya lirih: "Anak Gi lekas jaga arena dan awasi gerak
gerik musuh." Tanpa menunggu jawaban Ling Kun-gi, sekali
berkelebat dia menerjang maju menyerang Han Janto sambil
membentak: "Bangsat keparat, serahkan jiwamu!"
Sejak kecil Han Janto dididik oleh Thi Tiong-hong sendiri, usianya
lebih tua lima tahun daripada Thi-hujin, pelajaran yang diperoleh
jelas lebih banyak dan matang.
Ia tidak tahu sejak dua puluh tahun yang lalu Thi-hujin telah
bersumpah untuk menuntut batas bagi kematian suaminya, secara
tekun dan rajin berlatih dan menggembleng diri, taraf ilmu
pedangnya boleh dikatakan melompat maju berlipat kali lebih t inggi
dan sempurna.
Melihat sekali membuka serangan, lawan sudah sedemikian
dahsyat dan lihay, mau tidak mau Han Jan to terkejut juga hatinya,
timbul rasa waspada dan hati2, tapi mulut masih ter-kekeh2 aneh,
sembari berkelit, sebelah tangannya menyampuk serta melolos
sebilah pedang panjang warna hitam, bentaknya: "Thi Ji-giok,
sebetulnya aku tidak ingin bergebrak dengan kau, tapi kalau tidak
kusambut beberapa gebrak matipun pasti kau tidak akan tenteram.
Baiklah kukabulkan keinginanmu!" Sembari bicara dengan enteng
pedangnya menutuk dan menindih, "trang", tusukan pedang Thihujin
kena ditekan ke bawah.
Gemeratak gigi Thi-hujin saking menahan marah dan benci,
tanpa bersuara kembali pedang membalik, di mana kilat
menyamber. dia membabat kencang miring ke atas. Maklum ajaran
ilmu pedang kedua orang sama diwarisi dari liok-hay-liong Thi
Tiong-hong, meski kedua orang masing2 mempunyai bakat dan
kemampuan yang berbeda, tapi sumbernya tetap sama, betapapun
ruwet perubahan dan variasi masing2 tetap tak lepas dari intinya
semula.
Sejak tadi Kun-gi sudah melolos Seng-ka-kiam, dengan seksama
dia menonton dan mengawasi gerak-gerik kedua orang yang lagi
bertempur, diam2 ia terkejut dan heran mengikut i pertandingan
pedang ini.
Sejak kecil dia hanya tahu bahwa ibunya sedikitpun tidak pernah
belajar silat sehingga waktu mendidik dirinya belajar Hwi-liong-samkiam
warisan keluarganyapun sang ibu hanya menggores2 di atas
kertas, jadi cuma diajarkan teorinya belaka serta memberi petunjuk
dikala dia mempraktekkannya, beliau sendiri belum pernah pegang
pedang dan memberikan contoh. Baru tadi dengan mata kepalanya
sendiri dia menyaksikan ibunya melempar pedang serta naik di
luncuran pedangnya untuk mencapai ketinggian tepi Hek-liong-tam,
nyata bahwa Ginkang dan ilmu pedang ibunya tidak lebih asor
daripada Thay-siang.
Ilmu pedang Han Janto memang satu sumber dengan
kepandaian Thi-hujin, gaya pedangnya lebih mantap dan matang,
perubahannya serba aneh dan tak habis2, malah setiap gerak
pedangnya pasti menimbulkan deru angin tajam, dari sini dapatlah
dinilai bahwa taraf ilmu pedangnya sudah mencapai puncaknya.
Kalau bicara soal Lwekang jelas Thi-hujin setingkat lebih asor,
tapi dendam kesumat selama dua puluh tahun yang terpendam
dalam sanubarinya kini meledak, dengan dilandasi dendam
permusuhan yang menimbulkan kekuatan luar biasa ini, maka setiap
gerak serangannya boleh dikatakan dikembangkan dengan segala
kemampuannya, pedang merangsek dengan gencar dan tanpa kenal
ampun.
Bahwa sesengit itu pertempuran berjalan, tapi sejauh ini belum
pernah pedang mereka saling bentur meski sekalipun, jelas bahwa
betapa sempurna latihan ilmu pedang mereka. Kalau bergebrak
terus berlangsung seperti ini, sebelum tiga-lima ratusan jurus pasti
belumada kesudahan menang dan kalah.
Laki2 jubah hijau yang bergebrak melawan Thay-siang, yaitu
bernama Banhoa-kiam Tang Cu cin, sebagai Conghouhoat dari Hekliong-
hwe, ia dijuluki raja pedang di lima propinsi utara, maka
dapatlah dinilai betapa tinggi kepandaian silatnya. Setiap gerak
pedangnya pasti menimbulkan ceplok2 sinar besar kecil yang
berbeda dan aneka ragamnya sesuai dengan nama julukannya
(Banhoa-kiam- ilmu pedang selaksa bunga), justeru karena
beraneka ragam ceplok2 bunga sinar pedangnya yang bercampur
baur itulah yang membikin silau dan membingungkan lawan.
Apalagi ceplok2 bunga sinar pedang itu timbul tenggelam silih
berganti, setiap ceplok bunga sinar pedang itu mengandang pusaran
angin tajam beberapa kaki di sekitar gelanggang orang merasakan
kulit daging pedas dan perih seperti teriris piaau.
Yang diperhatikan Ling Kun-gi adalah Yong King-tiong, seorang
diri dengan pedangnya dia melawan empat orang jago pelindung
Hek-liong-hwe. Keempat Houhoat itu sama menggunakan senjata
aneh yang jarang terlihat di Kangouw, seorang menggunakan
sepasang gelang terbuat dari emas hitam, seorang pakai bandulan,
orang ketiga pakai ganco berkepala ular, yang terakhir
menggunakan senjata palu. Bahwa keempat orang ini diangkat
menjadi Houhoat tentunya memiliki kepandaian silat dan Lwekang
yang tinggi. Kini dari empat penjuru mereka mengeroyok Yong Kingtiong,
empat macam senjata mereka sama merangsak kencang silih
berganti, begitu cepat dan ganas kerja lama mereka. .
Tapi diluar tahu mereka bahwa selama dua puluh tahun ini Yong
King-tiong telah berlatih rajin dan tekun secara diam2 sehingga
kepandaian aslinya tak pernah diperlihatkan kepada umum, kini
dikeroyok empat dan terkepung lagi, mendadak ia ter-gelak2 lalu
bersiul panjang, pedang berputar serentak iapun balas menyerang,
sinar pedangnya ber-gulung2 bagai damparan ombak, yang satu
lebih kuat daripada yang terdahulu. Terdengar serentetan suara
benturan keras, sekali gebrak sekaligus empat macam senjata lawan
kena dipukul balik.
Berhasil membendung rangsakan musuh, sinar pedangnya
menyambar lebih lincah lagi, seperti naga sakti selulup timbul di
tengah mega, dalam belasan jurus saja, keempat musuh yang
mengeroyoknya telah dilibat dalam lingkupan sinar pedangnya. Baru
sekarang dia betul2 pamer kepandaian silatnya yang sejati, yaitu
Thianlo-kiam-hoat dari Kunlunpay yang sudah lama putus turunan di
kalangan Bu-lim.
Perhatian Kun gi tertarik ke sini waktu dia mendengar rentetan
suara keras benturan senjata, sampai di sini diam2 ia mengulum
senyum dan merasa girang. Paman Yong ini ternyata memiliki
Lwekang dan kepandaian ilmu pedang begini tinggi, sungguh tak
pernah terpikir olehnya, sia2lah rasa kuatirnya tadi.
Tatkala dia berpaling kesana, ternyata pada arena pertempuran
di sebelah sini telah terjadi perubahan drastis. Bahwasanya Thaysiang
yang tinggi hati, suka menang dan mengagulkan diri, sudah
seratus jurus melabrak Banhoa-kiam, keadaan tetap setanding,
karuan lama kelamaan dia menjadi tak sabar. Sembari menghardik,
tiba2 dia melijit ke atas, pedang terayun ke kanan kiri sehingga Ihtiankiam
memancarkan cahaya hijau laksana air bah tumpah dari
lembah gunung, manusia bersama pedangnya berubah menjadi
segulung sinar mengurung ke atas kepala Banhoa-kiam Tang Cucin.
Tang Cu-cin tidak tahu bahwa Thay-siang tengah melancarkan
No-liong-bankhong (naga mengamuk melingkar di angkasa), jurus
ketiga dari Hwi-liong-sam-kiam, maka ia berteriak kaget: "Ihthiankiam-
sut.”
Sudah sepuluh tahun dia meyakinkan ilmu pedang, sehingga
dijuluki rajanya pedang di lima propinsi utara, betapa luas dban
pengalamannyda menghadapi musuh, meski Ih-kiam-sut adalah
ilmu pedang tiada taranya di Bu-lim, tapi sedikitpun dia tidak
menjadi gugup, sembari mendongak dia menghardik sekali, pedang
melindungi badan, segera dia menyambut ke atas.
Serangan balasan ini dilancarkan menghadapi serangan dari atas,
dari bawah timbul ceplok2 perak yang tak terhitung banyaknya
sehingga seluruh badan se-akan2 dibungkus dan ditumpuki kuntum
bunga. Sudah tentu jurus yang dilancarkan ini bukan melulu untuk
bertahan saja, karena ceplok2 bunga itu setiap saat bisa juga balas
menyerang melukai musuh.
Kalau yang satu menukik dengan cahaya pedang yang benderang
menyilaukan mata, seorang lagi menciptakan ceplok2 bunga perak
yang tak terhitung banyaknya membungkus tubuh, perpaduan
cahaya pedang mereka menjadikan kolam naga hitam ini terang
benderang, hadirin menjadi silau dan tak kuasa mementang mata.
Betapa cepat kelangsungan perang tandang ini sungguh laksana
kilat menyambar, terdengarlah dering keras memanjang, perak yang
berlaksa jumlahnya itu seketika sirna tak berbekas begitu benturan
keras berlangsung.
Perang tanding ini jauh berbeda dengan gebrak2 pendahuluan
tadi, kalau tadi bilamana cahaya pedang Thay-siang menyambar
lewat, ceplok2 bunga lantas tersapu lenyap, tapi begitu cahaya
pedang lewat, ceplok2 dan sinar pedang itu timbul kembali,
begitulah seterusnya tak ber-henti2. Tapi kali ini betul2 lenyap tak
muncul pula.
Ternyata pedang Banhoa-kiam Tang Cu-cin yang terbuat dari
baja murni itu dalam gebrak terakhir ini telah, terpapas putus berkeping2
oleh Ih-thiankiam, yang tinggal hanya gagangnya yang
masih terpegang di tangannya. Meski kehilangan senjata betapapun
Tang Cu-cin seorang gembong persilatan yang cukup
berpengalaman, ia tahu meski kalah, paling2 kalah oleh karena
senjata pusaka yang lebih tajam, kalau sekarang dirinya tidak
mundur, hanya bertangan kosong terang lebih2 bukan tandingan
lawan. Maka tanpa sangsi segera ia melejit mundur sejauh mungkin.
Sejak turun tangan tadi marah Thay-siang sudah berkobar,
apalagi setelah sekian lama masih belum berhasil merobohkan
lawan yang satu ini, hatinya tambah murka, sekali bentrok senjata
dia berhasil menghancurkan pedang lawan, sudah tentu
kesempatan baik ini tak di-sia2kan. Sekali tangan berputar sambil
masih tetap meluncur ke depan sehingga cahaya pedangnya ikut
memanjang di udara mengejar ke arah Banhoa-kiam.
Cukup cepat Banhoa-kiam mengundurkan diri, tapi cara Thaysiang
mengejar sambil meluncur ini merupakan hasil gemblengan
tiga puluh tahun, Sin liong-jut-hun, salah satu jurus dari Hwi-liong
kiam-hoat yang dia lancarkan ini boleh dikatakan sudah mencapai
puncaknya. Kecepatan cahaya pedang yang mengejar itu sungguh
sukar dibayangkan.
Padahal Ban hoa-kiam Tang Cu-cin sudah mundur setornbak
lebih, belum lagi kedua kakinya berdiri tegak, cahaya kemilau sinar
pedang tahu2 sudah menerjang tiba menghujam ke dadanya.
Untung pada saat gawat ini sebagai seorang ahli pedang meski
menghadapi bahaya dia tetap tidak menjadi gugup, sedetik sebelum
pedang lawan kena sasarannya, tangan kanannya cepat menolak
keluar serta mengebutkan secarik kain bajunya sendiri yang dia
robek untuk senjata terus diayun ke depan menyongsong
kedatangan pedang.
Selama hidup ini dia meyakinkan ilmu pedang, betapa tinggi
kepandaian serta Lwekangnya, dengan secarik kainpun cukup
ampuh dan tidak kalah hebatnya dibanding sebilah pedang. Demi
mempertahankan jiwa, sudah tentu bukan kepalang tenaga yang dia
kerahkan sehingga kain di tangan itupun menjadi kaku keras.
Sayang sekali pedang Thay-siang justeru adalah Ih-thiankiam
yang tajam luar biasa, jangankan hanya secarik kain, umpama
pedang baja murni juga tak kuat menahannya. Sudah tentu hal
inipun cukup dimengerti oleh Ban hoa-kiam, tapi keadaan sekarang
teramat gawat dan mendesak, terpaksa sekenanya dia berusaha
menahan dan menangkis demi keselamatannya.
Kejadian berlangsung dalam sekejap saja, paderi Lama berkasa
merah yang sejak tadi menonton diluar gelanggang, demi melihat
Banhoa-kiam menghadapi bahaya sembari melompat mundur,
sementara Thay-siang mengejar dengan serangan maut, tiba2 ia
menggerung keras, kontan dia ayun sebelah tangannya menepuk
dari kejauhan ke punggung Thay- siang.
Gerakan tiga pihak boleh dikatakan dilakukan dalam waktu yang
sama, semuanya sama cepat lagi, apalagi Thay-siang terlalu
bernafsu melukai musuh, sudah tentu tak terpikir bahwa orang lain
bakal membokong dirinya.
Tabasan pedang berlalu, darahpun muncrat berhamburan,
lengan kanan Ban hoa kiam kena ditabas kutung sebatas pundak.
Beruntung dia, masih sempat mengegos dengan segala
kemampuannya di samping kain lengannya berhasil menahan
sebagian kekuatan tabasan lawan, badan roboh terus
menggelinding jauh ke sana.
Waktu Thay-siang mengendalikan luncuran pedang melukai
musuh, saat itu pula terasa pundaknya mendadak ditepuk orang.
Inilah semacam pukulan yang tidak kelihatan bentuknya, datangnya
juga tak mengeluarkan suara, padahal tubuhnya tengah terapung,
laksana anak panah yang meluncur dan tak mungkin dihentikan.
Setelah pedang menabas musuh dan kaki hinggap di tanah, baru dia
merasakan akan serangan gelap dari musuh tadi, pukulan yang
mengenai pundaknya tadi meski terasa enteng malah seperti tidak
terasa, tapi luka dalamnya hakikatnya sudah teramat berat. Inilah
ilmu Toa-jiu-in dari aliran Ih-ka-bun (Yoga).
Kalau orang lain merasakan luka dalamnya sangat parah, tentu
akan berusaha mengerahkan tenaga untuk menyembuhkan luka
dalam sendiri, dengan bekal dan latihan Thay-siang, kemungkinan
luka2nya masih terobati dan jiwa bisa tertolong. Tapi dasar
wataknya angkuh, keras hati dan suka menang, selamanya dia
pandang rendah orang lain, sudah tentu dia tidak peduli akan
keadaan diri sendiri dan ingin menuntut balas. Begitu kaki hinggap
di tanah, mengikuti putaran pedang tiba2 badanpun mengisar balik,
mata2nya mendelik beringas di balik cadarnya, hardiknya keras:
"Kaukah yang membokong Losin."
Lama kasa merah yakin Toa jiu-insinkang yang dilancarkan tadi
umpama lawan t idak mampus seketika juga pasti terluka parah,
paling tidak isi perutnya remuk dan takkan mampu bertempur lagi,
kenyataan Thay-siang masih kelihatan segar malah menantang. Dia
bergelak tertawa, serunya: "Tidak salah, pukulan tadi memang hudya
yang melancarkan."
"Bagus sekali," desis Thay-siang murka. Mendadak ia melejit ke
atas terus menerjang musuh.
Bahwa setelah terkena pukulannya, Thay-siang masih mampu
melejit ke atas melancarkan serangan sehebat ini, keruan tidak
kepalang kejut Lama kasa merah, lekas dia ayun tangan kanan serta
menepuk sekuatnya. Ilmu yang diyakinkan adalah ilmu Yoga,
Lwekangnya sangat tangguh, tepukan yang dilandasi kekuatan
besar ini terang berbeda dengan pukulan membokong tadi. Maka
segulung tenaga dahsyat segera menerjang lapisan sinar pedang..
Agaknya dia tidak tahu bahwa Thay-siang sudab kalap, jurus
yang dilancarkan ini adalah "Naga ber-tempur di tegalan", jurus
kedua dari Hwi-liong-kiam-hoat. merupakan jurus paling kuat; dari
paling hebat perbawanya.
Cahaya pedang ber-lapias kemilau itu tiba2 berubah bintik2
dingin laksana kunang2 beterbangan menghambur ke empat
penjuru. Setelah melancarkan dua kali pukulan, Lama kasa merah
sudah menyurut mundur cukup jauh, tapi dua muridnya berdiri di
kanan-kirinya tadi justeru terlambat bergerak, di mana sinar pedang
berhamburan, seketika terdengar dua kali jeritan ngeri dibarengi
darah muncrat ke mana2, kedua orang ini tertabas menjadi berkeping2
oleh samberan sinar pedang.
Waktu Thay-siang menarik pedangnya, dilihatnya Lama kasa
merah sudah mundur setombak jauhnya, maka dia menghardik
pula: "Ke mana kau akan lari?" Kembali dia menubruk maju.
Sungguh mimpipun Lama kasa merah tak pernah menduga
bahwa Thay-siang begini lihay, dengan mata sendiri dia saksikan
kedua muridnya hancur lebur, ia menjadi murka juga, teriaknya
kalap: "Hud-ya takkan memberi ampun padamu!" Belum habis
bersuara, kedua tangan sudah memukul tiga kali secara beruntun.
Tiga pukulan ini dilancarkan dengan hati berang, maka kekuatan
pukulannya betul2 dahsyat sehingga badan Thay-siang yang
menerjang dengan terapung di udara juga sedikit tertahan.
Waktu Thay-siang menubruk kedua kalinya, kembali Lama kasa
merah melontarkan pukulannya pula, badan Thay-siang tertolak
berhenti.
Beruntun tiga kali Thay-siang berlompatan, di kala melancarkan
serangan ketiga kalinya, jaraknya dengan Lama kasa merah tinggal
beberapa kaki lagi, tiba2 ia meloncat lurus ke atas, mendadak ia
berteriak nyaring menambah perbawa serangannya, dengan kepala
di bawah dan kaki di atas dia menukik dengan tubrukan yang lihay,
Ih-thiankiam ditangannya menaburkan cahaya perak yang
membendung jalan mundur Lama kasa merah.
Kaget dan gusar pula Lama kasa merah, beruntun dia mundur
tiga langkah, kedua tangan memukul ke atas susul menyusul,
karena bertangan kosong, telapak tangannya yang lebar dan besar
itu menyerupai kampak yang membelah sehingga menimbulkan
letupan hawa yang dahsyat, letupan hawa ini semakin tebal
menghimpun hawa dingin yang -membungkus sekujur badannya.
Maka tubrukan sinar pedang Thay-siang dari atas itu dapat
ditolaknya kembali.
Kalau yang satu menggempur sekuat tenaga dan bertahan
dengan kukuh, sementara yang lain menyerang dengan cara
menubruk seperti elang menyamber ayam, sinar pedang berpusar
kencang, kedua pihak bertahan kira2 setanakan nasi lamanya dan
masih tetap setanding.
Kepala gundul Lama kasa merah sudah ditahuri but iran keringat,
badanpun basah kuyup seperti kehujanan, padahal Thay-siang
harus melancarkan serangan dengan badan terapung. sudah tentu
dia jauh lebih banyak menguras tenaga, lama2 sinar pedangnya
menjadi guram dan tidak selihay semula.
Melihat kesempatan baik ini, mendadak Lama kasa merah
menghardik sekali, sekuatnya dia kerahkan tenaga dan
menggempur dengan merangkap kedua telapak tangan mendorong
ke atas.
Dengan rangkapan kedua tangan mendorong ke atas ini, maka
timbullah kekuatan yang dahsyat, hawa serasa meluber
menimbulkan deru yang gegap gempita. Pada saat yang sama Thaysiang
pun menjerit melengking, suaranya mengalun menimbulkan
gema panjang, cahaya pedangnya yang hampir pudar tadi t iba2
menyala pula lebih terang, berubah selarik bianglala terus
membelah turun ke bawah.
Kedua pihak serempak melancarkan serangan paling dahsyat
yang mematikan dengan seluruh sisa kekuatan sehingga sinar
pedang dan angin pukulan menimbulkan rentetan suara aneh. Lekas
sekali sinrar pedang dan angin pukulanpun sirna tak berbekas lagi.
Setelah melontarkan pukulan terakhir dengan sisa kekuatannya,
Lama kasa merah cepat2 melompat mundur, Kasa merah yang
dipakainya tampak berlubang dan sobek di beberapa tempat oleh
tusukan dan goresan pedang, keadaannya tampak konyol.
Thay-siangpun sudah berdiri tegak di tanah, rambutnya awut2an,
cadar yang menutup mukanya sudah kabur entah ke mana, roman
mukanya membesi hijau. Kedua orang sama2 mengunjuk rasa lelah
kehabisan tenaga, dada naik turun dengan napas tensenggal2.
Sesaat mendelik kepada Lama kasa merah, akhirnya Thay-siang
bersuara lebih dulu: "Anjing asing, berapa jurus lagi kau mampu
menyambut pedangku?" Sekali berputar, sinar hitam Ih-thiankiam
kembali menerjang maju. Hwi-liong-sam-kiam hakikatnya sudah dia
yakinkan dengan sempurna, maka setiap kali melancarkan
serangan, badan selalu melayang di udara, menambah perbawa
serangan sehingga lebih hidup laksana naga sakti.
Dua gebrakan terdahulu sudah meyakinkan Lama kasa merah
bahwa Lwekang Thay-siang tidak lebih unggul dari pada dirinya,
kalau lawan tidak menggunakan Ih-thiankiam, pedang pusaka yang
lihay, dia yakin dirinya pasti lebih unggul dan sejak tadi sudah
merobohkannya. Tapi setelah berlangsung dua gebrakkan barusan,
dia insaf bahwa tenaga murni sendiri sudah terkuras terlampau
banyak, untuk bertempur lebih lama jelas keadaan fisiknya tidak
mengizinkan, maka dia pikir akan secepatnya mengakhiri
pertempuran ini dengan rangsakan gencar.
Di luar dugaan Thay-siang juga mengandung maksud yang sama,
malah terus mendahului, kali ini dengan jurus "naga sakti muncul
dari mega," hal ini betul2 di luar perhitungannya, maka dia
membentak gusar: "Biar Hud-ya mengadu jiwa dengan kau!"
Dengan telapak tangan kiri beruntun dia memukul dua kali,
berbareng badan berkisar ke sebelah kiri.
Sinliong-jut-hun dilancarkan Thay-siang dengan segala
kemahirannya, tekadnya teramat besar untuk membelah badan
paderi asing ini untuk melampiaskan dendamnya, jelas kekuatan
pedangnya yang tajam ini takkan mampu dibendung hanya dengan
dua kali pukulan telapak tangan.
Ketika sinar pedang membelah tiba, Lama kasa merah sudah
menyingkir mundur, tangan kanan sejak tadi telah disiapkan
melontarkan pukulan Toa-jiu-in, sekali membalik dengan gerakan
melintang miring tangannya menyampuk ke arah Thay-siang yang
menubruk tiba, berbareng ia menyeringai dan membentak:
"Perempuan bangsat, lihat pukulan. . ."
Dia kira dengan menyurut mundur beberapa kaki sudah cukup
jauh untuk menghindari hawa pedang Thay-siang. Di luar tahunya
bahwa Sinliong-jut-hun yang dikembangkan Thay-siang kali ini
dilontarkan dengan badan terapung diudara, tapi karena sudah
menjiwai ilmu pedang ini, maka gaya serang-annya dapat dia ubah
sesuka hati sendiri, maka badan yang seharusnya terapung ke atas
kini di ubah dengan meluncur ke depan. Pada hal dengan meluncur
lurus ke depan inipun baru merupakan gaya permulaan dari
Sinliong-jut-hun, dan gerak susulannya adalah melancarkan
serangan dari udara. Dari sinilah diperoleh nama Hwi-liong-samkiam
Hwi-liong atau naga terbang, karena ketiga jurus ini harus
dilancarkan dengan badan terapung di udara.
Begitu meluncur tiba, melihat Lama kasa merah mengegos ke
samping, diam2 Thay-siang menjengek, badan tiba2 berputar,
berbareng pedangpun bekerja. Kejadian bagai percikan api cepatnya
dan sukar disaksikan dengan mata, tampak pancaran sinar hijau
kemilau menyapu dengan dahsyatnya.
Lama kasa merah tak sempat berkelit lagi, terdengar lolong
panjang yang mengerikan, di ma-na cahaya pedang itu menyamber
lewat, badan kekar besar si Lama kasa merah seketika terpental
roboh mandi darah. Kejap lain Thay-siangpun sudah berdiri di
samping mayat Lama kasa merah, nafsu membunuh yang menghiasi
wajah Thay-siang sudah sirna, kini kelihatan pucat pias, untuk
berdiripun dia harus bertopang pada pedangnya, dadanya turun
naik menghembuskan napas berat dan sesak, terdengar ia
bergumam: "Anjing asing, akhirnya kau mampus dipedangku! "
Suaranya serak lirih dan lemah, badannya bergoyang dan akhirnya
iapun roboh terjungkal.
Sementara itu, dengan sebilah pedang panjangnya Yong Kingtiong
sedang menunjukkan ketangkasannya, beruntun dia
melancarkan Thianlo-kiam-hoat dari Kunlunpay yang telah lama putus
di kalangan Kangouw, keempat Houhoat Hek-liong-hwe telah
dijagalnya satu persatu, jubah hijaunya berlepotan darah. demikian
pula jenggot dan mukanyapun basah dan kotor oleh keringat
tercampur percikan darah musuh.
Delapan jago pedang Hek liong hwe yang menonton di luar arena
sama berdiri mematung dengan terbelalak, agaknya mereka takjub
dan jeri melihat kehebatan Congkoan mereka, tiada seorangpun
yang berani maju lagi.
Tiga kelompok pertempuran sengit yang ber-langsung di pinggir
"kolam naga hitam" kini dua kelompok di antaranya sudah berakhir.
Kini tinggal Thi-hujin yang masih menempur Han Janto dengan
segala kekuatannya, makin gebrak makin seru dan ramai.
Maklumlah kedua orang ditelurkan dari satu perguruan, sama2
hasil didikan Lohwecu yang tidak pilih kasih, apa yang diyakinkan
Han Janto juga diyakinkan Thi-hujin, demikian pula sebaliknya,
bergantung dari latihan dan penambahan variasi masing2 saja yang
berbeda, apalagi taraf permainan mereka sudah sama2 mencapai
puncaknya.
Ratusan jaurus kemudian, mereka tetap bertahan sama kuat.
Sudah tentu Thi-hujin lebih diburu nafsu untuk merobohkan lawan
demi menuntut balas sakit hati sang suami, maka dia lebih getol
menyerang, suatu ketika mulutnya melengking nyaring, sekujur
badan seperti dibungkus sinar pedangnya terus menusuk lurus ke
depan. Yang di-lancarkan ini sudah tentu adalah Sinliong-jut-hun,
salah satu dari Hwi-liong-sam-kiam.
Melihat lawan menggunakan Hwi-liong-sam-kiam, sudah tentu
Han Janto tidak berani ayal, iapun bersiul panjang, badanpun
terbungkus bayangan hitam gelap melambung ke atas, yang dia
kembangkan juga jurus Sinliong-jut-hun.
Dua larik sinar pedang yang satu mencorong terang dan yang
lain guram gelap menjulang tinggi ke udara, seperti bianglala yang
menembus tabir matahari.
Mendadak terdengar dering nyaring benturan kedua senjata,
percikan apipun bertahuran menghias angkasa. Dua sosok
bayangan orang sama meluncur turun, terpancar cahaya terang
laksana rantai perak disertai benturan nyaring memekak telinga.
Sekonyong2 selarik bianglala kembali menjulang ke udara disusul
bianglala kedua juga melambung ke atas, di tengah udara kedua
jalur bianglala saling bentur dan gubat menimbulkan gema suara
yang ramai. Untuk merebut kesempatan kedua orang berusaha
saling mendahului, Hwi-liong-sam-kiam memang ilmu pedang yang
harus dilancarkan dengan badan mengapung, tapi pelajaran yang
diyakinkan keduanya, sama2 bersumber dari satu perguruan, maka
bila yang satu melambung ke udara, lawannyapun ikut mengapung
ke udara, salah satu tiada yang mau mengalah.
Begitulah dari permukaan bumi kedua orang bertempur sampai
ke udara, dan dari udara kembali berhantam di atas tanah,
keduanya masih terus serang menyerang mengembangkan tipu
permainan masing2, tapi tiada yang lebih unggul atau asor,
kekuatan tetap seimbang.
Karena keduanya belajar dari satu sumber, betapapun banyak
ragam perubahan ciptaan masing2, tetap tidak kelihatan lebih
menonjol daripada yang lain, se-olah2 mereka seperti sedang
latihan belaka, sedikitpun tidak kelihatan letak kehebatan mereka,
jadi pertempuran adu jiwa yang sengit ini justeru tiada seorangpun
yang mampu mengungguli lawan serta merobohkannya. Kini
keadaan semakin tegang, sekarang hanya soal Lwekang siapa yang
lebih asor dan tak tahan, dia yang akan roboh lebih dulu dan itu
berarti jiwa akan melayang.
Bagi orang lain yang menyaksikan pertempuran adu jiwa ini
kelihatannya amat menakjubkan dan mengerikan, terutama dering
benturan senjata kedua orang yang bergelombang memekak telinga
sungguh sangat mengganggu perasaan orang, jantung serasa mau
meloncat keluar.
Dengan mendelong Kun-gi mengikuti pertempuran sengit ibunya
yang melabrak Han Janto, sudah tentu hatinyapun sudah getol
menuntut balas kematian ayahnya, tapi dia lebih prihatin akan
keselamatan ibunya. Semakin memuncak pertempuran itu, begitu
tegang sehingga napaspun terasa sesak.
Disamping itu iapun menerawang serta menyelami jurus Noliong-
bankhong (naga murka melingkar di udara) jurus ketiga dari
Hwi-liong-kiam-hoat, bila diubah menjadi jurus ketujuh seperti lukisan
yang dit inggalkan oleh Tiong-yang Cinjin di dinding gua itu,
dikala badan terapung dan melancarkan serangan badan berputar
ke kiri, gaya pedang ditekan ke bawah, maka dengan mudah
pedang akan menusuk Hiat-to tertawa Han Janto yang terletak
dipinggang kanan. Sebaliknya bila diganti dengan jurus kesembilan,
ujung pedang sedikit ditarik serta menyongkel ke atas, iapun akan
berhasil menusuk tenggorokan Han Janto, sasaran yang mematikan.
Secara diam2 dia ikut i pertempuran ini sambil putar otak gambar
peninggalan Tiong-yang Cinjin di dinding gua yang sembilan jurus
itu semuanya dilancarkan dengan badan terapung, sejak mulai jurus
pertama terus, berlanjut sampai jurus kesembilan seperti berkelebat
dalam benaknya, terasa bila dirinya sendiri yang menggunakan
jurus2 ilmu pedang itu, cukup lima jurus saja pasti dirinya dapat
membinasakan Han Janto.
Tapi ibunya justeru melarang dia turun tangan, soalnya sejak dua
puluh tahun yang lalu beliau sudah bersumpah akan menuntut balas
kematian suaminya dengan kedua tangan sendiri.
Dikala dia menonton dengan terpesona, tiba2 jeritan menyayat
hati menyentak lamunannya, Karena terkejut Ling Kun-gi berpaling,
dilihatnya sekali tabas Thay-siang telah berhasil membunuh Lama
kasa merah, dia bertopang dengan batang pedangnya, mukanya
pucat pasi. Malah badannya mulai sempoyongan dan akhirnya jatuh
terkulai.
Kun-gi melompat ke sana serta berjongkok di samping orang.
Yong King-tiong juga ikut memburu maju, menyaksikan keadaan
Thay-siang seketika dia mengerut kening, katanya lirih: "Luka2
Jikohnio agaknya cukup parah."
"Apakah Lopek tahu di mana letak luka2 Thay -siang?" tanya
Kun-gi.
"Pasti anjing asing ini, meyakinkan ilmu Yoga, kemungkinan
Jikohnio terkenan Toa-jiu-in."
Lekas Kun-gi papah Thay-siang, tangan kiri menekan Ling-tai-hiat
di punggung orang, pelan2 dia salurkan hawa murni ke tubuhnya.
Betapa tangguh Lwekang Thay-siang, cukup mendapat sedikit
bantuan tenaga dari luar sebagai pendorong hawa murni sendiri,
dengan lekas sekali orangnya setengah pingsan segera siuman serta
membuka mata. Melihat Kun-gi lagi menyalurkan tenaga murni ke
tubuhnya, agaknya dia amat terharu dan manggut2, katanya tak
bertenaga: "Nak, kaukah ini."
"Jangan Thay-siang berbicara ........."
"Nak, tak usah kau membuang tenaga, lepas tanganmu, aku
masih kuat bertahan."
"Luka2 Thay-siang tidak ringan, tapi dengan landasan kekuatan
sendiri selama puluhan tahun ini, asal berhasil menuntun hawa
murni ke tempatnya semula, setelah beberapa kejap bersemadi,
dengan cepat kesehatan Thay-siang pasti akan sembuh."
"Memang betul, apa yang kau maksud aku sudah tahu, tapi Losin
dua kali terkena Toa-jiu-in keparat gundul itu, keduanya mengenai
tempat fatal di tubuhku, keadaanku cukup parah dan tak berguna
lagi, tak usah kau membuang hawa murnimu, hentikanlah,
mumpung keadaan Losin belum memburuk, masih ada omongan
yang hendak kubicarakan dengan kau."
Tapi Kun-gi tidak segera lepas tangan, katanya: "Apakah Thaysiang
tidak berusaha menyembulikan diri?"
"Tak usah banyak bicara nak, dua tempat isi perutku sudah
hancur, umpama ada obat dewa juga tiada gunanya, syukur aku
masih kuat bertahan berkat peyakinan Lwekang selama puluhan
tahun, hawa murniku belum lagi buyar, beberapa kejap aku masih
kuat bertahan, umpama kau bantu menyalurkan hawa murni juga
tiada gunanya. Sebelum ajal ini, Losin ingin bicara dengan kau,
waktu amat mendesak, lekaslah duduk di sampingku."
Yong King-thong dapat melihat air muka Thay-siang sudah mulai
berubah, lekas dia menimbrung: "Ling-kongcu, Jikohnio ingin bicara,
lekas kau berhenti saja."
"Thay-siang . ." dengan ragu2 akhirnya Kun-gi menarik tangan.
Lwekang Thay-siang memang amat tinggi, meski Kun-gi tarik
tangan menghentikan saluran tenaga dalam, hakikatnya tidak
membawa pengaruh besar bagi keadaannya, mukanya memang
amat pucat, katanya menukas: "Nak, jangan memanggilku Thaysiang,
aku adalah bibimu, kau panggil aku bibi saja."
Terasa oleh Kun-gi, perempuan yang berwatak keras sejak muda
sampai lanjut usia ini, kini keadaannya betul2 sudah parah, walau
orang berhati keji, untuk membunuhnya tak segan2 dia
mengorbankan banyak jiwa orang lain, tapi apapun yang telah
terjadi, jelek2 dia adalah adik kandung ibunya, apalagi keadaannya
sekarang ibarat dian yang sudah kehabisan minyak. Maka pelan2
Kun-gi berlutut, mulutpun berteriak haru tersendat : "Bibi! "
Thay-siang tertawa haru, katanya: "Anak baik, bibimu berbuat
salah terhadap kakek luarmu, mengingkari ayah bundamu, demikian
pula terhadap kau . . ."
"Kejadian yang sudah lalu, biarlah tak usah diungkat kembali, bibi
tak usah bicara urusan ini lagi."
"Orang menjelang ajal, apa yang dikatakan adalah bajik,
perbuatanku dulu yang memang tidak dilandasi cinta kasih dan
kebajikan, sekarang menjadi penyesalan yang amat mendalam."
Setelah Kun-gi menghentikan tambahan hawa murni, kalau Thaysiang
tidak menggunakan tenaga, berkat latihannya puluhan tahun
dia masih kuat bertahan beberapa kejap lagi, tapi setelah berbicara
beberapa patah, lambat laun terasa keadaannya semakin gawat.
Agaknya hawa murni dalam tubuhnya mulai buyar sehingga
suara yang keluar dari kerongkongan pun menjadi lemah dan lirih,
tapi dia masih berusaha berbicara: "Nak, kau sudah masuk ke Hekliong-
tam, sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiong-yang
Cinjin yang terukir didinding pasti sudah kau pelajari dengan baik,
Ih-thiankiam ini diperoleh kakek luarmu di dalam kamar batu
didasar kolam itu, hanya pedang inilah yang bisa mengembangkan
sembilan jurus ilmu pedang itu hingga puncaknya, lekaslah kau
terima . . . . " sampai di sini mendadak dia ter-batuk2, napaspun
ter-sengal2.
Pada saat itulah, terdengar benturan nyaring senjata memekak
telinga dan menggetar sukma, tanpa tertahan Kun-gi menoleh,
dalam beberapa kejap ini, ternyata ibunya sudah terdesak di bawah
angin.
Pedang panjang di tangan Hati Janto dimainkan sesakti naga
hidup, sinar pedangnya yang semula redup kini mulai menyala
meski tetap remang2, sementara ibunya masih bertahan mati2an,
permainan memang masih teratur, tapi mau tidak mau dia menjadi
cemas juga.
Mendelong pandangan Thay-siang yang sudah pudar, katanya
lirih: "Nak, jangan hiraukan aku, lekas maju ke sana, Toaci bukan
tandingan Han Janto, hanya Ih thiankiam yang dapat menundukkan
dia . . . . : "
Sambil mengawasi Thay-siang, Kun-gi ragu: "Tapi, bibi . .. .. "
Kata Thay-siang dengan ter-senggal2: "Jangan hiraukan aku, aku
akan segera mangkat . . . .O. nak, masih ada satu hal, semula aku
ingin menjodohkan Bok-tan padamu, Bok-tan anak baik, tapi kalau
kau suka So-yok, aku juga tidak menentang, boleh kau pilih dan
putuskan sendiri, di antara kedua anak ini, kau harus pilih salah
satu, kelak setelah punya anak, jangan lupa berikan satu di
antaranya untuk marga Thi supaya tidak putus turunan . . . ."
Kembali suara benturan nyaring memekak telinga, terdengar Han
Janto tertawa latah: "Thi Ji-giok, berapa jurus lagi kau mampu
menandangi aku?"
Bergetar hati Kun-gi, pelan2 Thay-siang ulur tangannya yang
gemetar, katanya gugup: "Nak . . . . lekaslah . . . . "
Pelan2 Ling Kun-gi merebahkan Thay-siang, katanya: "Bibi
istirahat saja, keponakan pasti . . . ."
"Ingat pesanku," ucap Thay siang lemah, "setelah kalian punya
anak . . . . aku ingin memungut satu . . . "
Kun-gi mengangguk dengan berlinang air mata, tak sempat
bicara lagi, dia jemput Ih-thiankiam terus melompat ke sana. Ihthiankiam
berubah selarik sinar hijau meluncur di tengah udara
sambil berteriak keras: "Bu, biar anak yang membereskan bangsat
durjana ini."
Putaran pedang Han Jan to yang kencang itu sudah bikin Thihujin
terdesak di bawah angin, dia mengejek sambll tertawa
senang: "Bagus, kalian ibu dan anak boleh maju bersama, supaya
menghemat waktu dan t idak menghabiskan tenagaku."
Sebagai seorang yang sudah kenyang mencicipi asam garamnya
percaturan Kangonw, baru habis kata2nya, seketika dia merasakan
keganjilan dari samberan sinar pedang Ling Kun-gi, belum lagi
lawan menerjang tiba, hawa pedang yang dingin tajam terasa sudah
mencekam perasaannya. Sudah tentu dia kenal baik Ih-thiankiam di
tangan Ling Kun-gi yang tajam luar biasa ini. Keruan mencelos
hatinya. pikirnya: "Kepandaian silat bocah ini ternyata tidak lebih
asor dari ibunya." Sebat sekali dia berkisar ke samping, berbareng
pedangnya menabas miring.
Ilmu pedangnya boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan
tertinggi, maka perhitungan waktunya sudah tentu amat tepat,
begitu tebasan pedang terayun ke depan, pada saat itu pula Ling
Kun-gi akan hinggap turun di tanah, malah dalam waktu yang sama
pula dia berhasil menghindarkan ancaman pedang Ling Kun-gi
dengan berkelit ke samping. Walau tebasan pedang itu dilancarkan
sambil berkelit, tapi deru angin pedangnya ternyata keras sekali.
Dikala melayang turun tadi. Kun-gi sempat mengegos kesamping,
namun dia toh merasakan tekanan hawa perdang musuh, hawa
murni pelindung badannya memperlihatkan keampuhannya,
pakaiannya tampak melembung, mau tidak mau ia terkejut juga,
batinnya: "Keparat ini memang lihay,"
Begitu Kun-gi hinggap di tanah, Thi-hujin lantas tanya dengan
gugup: "Nak, bagaimana keadaan adik?"
"Lekas ibu menengoknya, bibi terluka parah, mungkin tak
bertahan lagi," sahut Kun-gi.
Tersirap darah Thi-hujin, teriaknya: "Baik, hadapi dia dengan
baik, lebih baik kalau kau bekuk hidup2, ibu akan jaga bibimu."
Cepat dia memburu ke tempat Thay-siang merebahkan diri.
Han Jan to menyeringai, serunya: "Lihat pedang, anak muda!"
Sekali berkelebat bayangannya, orangnyapun mendesak maju,
selarik sinar kemilau langsung membelah.
Pedang Kun-gi pelan2 didorongnya ke depan, mulutnya
membentak: "Orang she Han, ibu berpesan untuk membekukmu
hidup2, kalau tidak dalam beberapa jurus saja pasti kubereskan jiwa
anjingmu ini."
"Anak bagus," teriak Han Janto ter-gelak2, "agaknya kau lebih
congkak daripada bapakmu ....."
Mendengar orang menyinggung ayahnya, semakin berkobar
dendam Kun-gi, sekali menghardik, pedang dia pindah ketangan kiri,
dengan sengit ia mencecar dengan serangan maut. Dengan pedang
di tangan kiri, dia coba mengembangkan ilmu pedang Tat-mo-kiamhoat
secara kidal, pedangnya memancarkan cahaya dingin,
rangsakannya sengit dan ketat. Tat-mo-kiam-hoat ajaran Siau-lim-si
memang terkenal ketat, kini dimainkan secara kidal oleh Ling Kungi,
permainan yang serba berlawanan dengan aslinya ini kelihatan
lebih aneh dan banyak ragamnya, orang sukar berjaga dan meraba
arahnya.
Mengingat pesan ibunya tadi agar membekuk lawan ini hidup2,
maka dia kombinasikan juga per-mainan telapak tangan kanan
dengan Cap-ji-kim-liong jiu yang lihay, jari2 tangan kadang2
menutuk mencengkeram, memegang, menarik, menyodok dan
macam2 gerakan lain yang diincar adalah Hiat-to Han Janto.
Perubahannya serba aneh dan lihay.
Han Janto terhitung ahli pedang juga, kapan dia pernah
menyaksikan atau berhadapan dengan lawan yang main pedang
secara kidal? Yang dimainkan justeru berlawanan dari ilmu pedang
aslinya?. Karena belum menempatkan diri pada posisi yang
meyakinkan, dia terdesak mundur, batinnya: "Apa yang dimainkan
bocah ini pasti ilmu pedang ciptaan Hoanjiu-ji-lay, sungguh aneh
dan lihay," Hati berpikir sementara pedangnya bergerak melingkar2,
di samping bertahan iapun berusaha balas menyerang, rangsakan
Ling Kun-gi yang aneh2 ternyata dapat ditandingi dengan sengit
pula.
Puluhan gebrak kemudian Han Janto menjadi hilang sabar,
sambil mengeluarkan suara aneh, mendadak ia meloncat ke udara
sambil pedang terayun, pedang berubah sejalur bayangan hitam
menjulang tinggi ke udara. Diam2 Kun-gi tertawa dingin, iapun tidak
mau ketinggalan, sekali pedang menggaris iapun enjot tubuh melejit
ke atas.
Padahal Han Janto sudah tiga tombak di udara, melihat Ling Kungi
juga meniru perbuatannya, diam2 ia bergirang dan menyeringai.
Karena kali ini dia melambung lebih dulu, Kun-gi mengejar
selangkah agak terlambat. Dikala Han Janto mencapai ketinggian
tiga tombak, Kun-gi baru mencapai dua tombak, sudah jelas
posisinya lebih menguntungkan. Pada keadaan yang
menguntungkan inilah mendadak dia putar haluan, dengan menukik
dengan kepala di bawah dan kaki di atas, pedang hitam di
tangannya melingkar2 membawa bayangan hitam bagai jala
menyebar ke empat penjuru, kepala Ling Kun-gi menjadi sasaran
langsung.
Thi-hujin yang menyaksikan di sebelah sana menjadi kaget,
teriaknya gugup: "Awas anak Gi" Maklum, di tengah udara orang
sukar bergerak leluasa seperti di atas tanah, sekali kesempatan di
dahului lawan, maka awak sendiri akan menjadi bulan2an.
Bagai percikan lelatu api singkatnya, dikala Kun-gi menjulang ke
atas mencapai ketinggian dua tombak, badannya yang masih terus
menerobos naik itu mendadak meliuk minggir terus menerjang dari
samping, secara tepat dan indah dia berhasil menghindarkan jaring
pedang Han Jan to yang lihay.
Seperti diketahui Han Janto buru2 menukik turun ketika dia
mencapai ketinggian tiga tombak maka terjangan Ling Kun-gi dari
samping ini bukan saja berhasil meluputkan diri dari serangan
pedang lawan, malah sekaligus mengungguli lawan dan berada di
sebelah atas Han Janto.
Hal ini dengan jelas disaksikan oleh Han Janto waktu dia
kembangkan serangannya, gaya Ling Kun-gi ternyata amat aneh
dan luar biasa seperti naga sakti yang hidup, tahu2 bayangannya
sudah menerobos lewat lebih tinggi di sebelah atasnya, seketika dia
insaf keadaan berbalik tidak menguntungkannya. Untunglah selama
puluhan tahun meyakinkan Hwi-liong-sam-kiam, ketiga jurus ilmu
pedang ini boleh dikatakan sudah mendarah-daging dengan jiwa
raganya, sudah tentu permainannya dapat terkendali sesuai jalan
pikirannya.
Begitu mengamati gerakan Ling Kun-gi yang aneh, segera dia
memberatkan badan, seperti burung merpati yang melingkupkan
sayap dan menukik ke bawah, bayangan pedang hitam seketika
kuncup, secepat meteor dia jatuh anjlok ke bawah. Soalnya dia
kuatir Kun-gi bakal menyerang dari atas, maka dia merasa perlu
buru2 melayang turun.
Di luar dugaan Ling Kun-gi tidak lantas menyerang, tapi iapun
mengejar turun pula. Sudah tentu kali ini Han Janto lebih dulu
mencapai tanah. Diam2 dia tertawa dingin, pikirnya: "Bocah
keparat, bila kau lancarkan serangan dari udara mungkin
tuanbesarmu dapat kau kalahkan, tapi kesempatan sebaik ini kan
sia2kan, kembali aku mendahului anjlok ke bawah, nah, sekarang
rasakan pedangku."
Pikiran berjalan tanganpun bergerak, sebelum Kun-gi hinggap di
tanah, mendadak dia menghardik sekali, pedang hitam di tangannya
kembali menaburkan jaringan sinar menggulung ke arah Kun-gi.
Kun-gi belum sempat hinggap di tanah, mendadak ia ter-gelak2,
bagai angin menghembus dahan pohon, tiba2 tubuhnya melayang
ke sana, Ih-thiankiam memancarkan cahaya hijau memanjang,
bayangan pedang tampak ber-lapis2 balas menyerang dari sebelah
atas.
Betapa hebat dan cepat gempuran kedua pihak ini, begitu cahaya
pedang kedua pihak saling bentrok maka terdengarlah suara
rentetan nyaring benturan senjata. Sesosok bayangan orang tahu2
menerjang keluar dari lingkaran sinar pedang. Itulah Han Janto,
jubah abu2 bersulam naga yang indah itu sudah koyak2 di beberapa
tempat, pedang panjang tiga kaki di tangannyapun telah terpapas
kutung tinggal satu kaki lebih. Setelah mundur beberapa langkah,
mendadak dia menggerung gusar, dia timpukkan pedang kutung
sebagai senjata rahasia mengincar dada Ling Kun-gi.
Begitu kutungan pedang lepas dari tangan, sebat sekali dia putar
tubuh sambil menjejak kedua kaki, bagai burung yang sudah
ketakutan mendengar suara jepretan, cepat2 dia berlari secepat
terbang keluar lembah.
Jurus tandingan yang dilancarkan Ling Kun-gi dalam gebrak
terakhir ini adalah jurus ke 7 dari ilmu pedang peninggalan Tiongyang
Cinjin yang terukir di dinding gua itu. Maklum, baru pertama
kali ini dia kembangkan, latihan belum matang, apalagi mengingat
pesan ibunya untuk membekuk lawan hidup2, maka Han Janto
sempat lolos dari jaringan sinar pedangnya. Kini melihat orang
menyerang dengan pedang kutung sebagai senjata rahasia, segera
ia menyampuk, "trang", pedang kutung kena diketuk jatuh,
mulutnyapun menghardik:. "Mau lari ke mana?"
Baru saja Kun-gi hendak mengejar, didengarnya seorang
bersuara dengan nada berat berwibawa: "Dia tidak akan lolos."
Sesosok bayangan orang meluncur tiba dan tahu2 sudah mencegat
jalan lari Han Janto, malah sekaligus dia lancarkan sekali pukulan
telapak tangan. Pencegat ini adalah Yong King-tiong.
"Yong King-tiong," Han Janto berteriak kalap "berani kau
merintangi aku!" Tangan kanan menyodok sementara telapak
tangan kiri menggempur.
"Blang", telapak tangan kedua orang beradu dengan telak,
masing2 tergentak mundur satu langkah. Betapapun Han Janto
sudah mengalami pertempuran seru sejak tadi, tenaganya banyak
terkuras karena adu pukulan secara keras ini, dadanya tampak naik
turun, napasnya memburu.
"Han Janto," bentak Yong King-t iong mendelik, "keadaanmu
sudah payah, lebih baik kau menyerah saja."
Tertampak oleh Han Janto, delapan jago pedang seragam hitam
berdiri di belakang Yong King-tiong, semuanya gagah memeluk
pedang, naga2nya mereka sudah dibujuk dan tunduk pada Yong
King-tiong, kini keadaan awak sendiri sudah terpencil, dia tahu
gelagat yang tidak menguntungkan ini. Cepat sekali otaknya
bekerja, tiba2 ia membentak: "Pengkhianat bernyali besar,
memangnya kalian mau berontak?" belum habis bicara, kedua
telapak tangan terangkap, dengan sekuatnya dia menggempur
maju, berbareng kaki kanan menendang dada Yong King-tiong.
Dalamsekali gebrak ini tiga jurus serangan sekaligus dilontarkan.
Yong King-tiong tertawa, kedua telapak tadgan berputar ke atas
lalu dari depan dada. pelan2 dia dorong ke depan, dengan jurus Jiliong-
huncui (dua naga membagi air), dia berusaha mematahkan
serangan Han Janto, menyusul tubuh mengapung ke atas,
berbareng kaki kanan juga menyepak kaki kanan Han Janto yang
menendang datang. Kedua jarus serangan inipun dilontarkan
secepat kilat. "Blum" "plak", benturan keras serasa menggoncang
bumi, empat telapak tangan beradu lebih dulu disusul kaki
masing2pun berhantam. Posisi kedua pihak berbeda, maka
kesudahannya segera tampak siapa lebih unggul dan asor.
Selama dua puluh tahun ini Yong-King-t iong tak pernah unjuk
kepandaian aslinya, betapa tangguh Lwekangnya, begitu anjlok
turun dia hanya bertolak mundur selangkah. Tidak demikian dengan
Han Janto yang sudah mulai lemah, darah serasa hampir tumpah
dari mulutnya, tanpa terasa dia terhuyung tiga tindak. Sekuatnya
dia tahan darah yahg hampir menyembur dan menahan sakit luka2
dalamnya, baru saja dia hendak putar badan, mendadak kedua
pundak terasa pegal kaku, tulang pundak kanan kiri tahu2 telah
terpegang orang, seluruh tenaganya seketika lunglai, mana dia
mampu meronta atau melawan lagi?
Maka didengarnya suara Ling Kun-gi membentak di belakang:
"Han Janto seharusnya kau tahu, sejak tadi orang she Ling sudah
berada di belakangmu"
Terdengar seruan Thi-hujin dari sana: "Anak Gi, jaga dia, jangan
sampai dia menggigit putus lidahnya."
Kun-gi berpaling katanya: "Ibu tak usah kuatir, anak tidak akan
memberi kesempatan padanya untuk bunuh diri." Tangan kiri segera
menutuk Ah-bunhiat di belakang leher Han Janto.
Thi-hujin mendekatinya, sekali raih, dia tarik kedok muka orang,
desisnya dengan menggereget: "Bangsat she Han, dikala kau
menjual Hek-liong-hwe dulu, pernah kau pikirkan akan nasibmu
seperti sekarang ini?"
Dulu Han Janto berwajah tampan, putih halus, romannya yang
agak kurus dulu kini tampak gemuk.
Cuma hidang betetnya yang tidak berubah, tapi bentuk dan rona
mukanya sekarang mempertebal perasaan orang akan jiwanya yang
culas dan keji.
Kini jiwa raga sudah jatuh ke tangan musuh, Hiat-to tertutuk,
badan lemas lunglai, jangankan melawan untuk merontapun tak
mampu lagi, akhirnya dia pasrah nasib memejamkan mata saja
tanpa bersuara. Sebetulnya memang dia tidak mampu bersuara
karena Ah-bun hiat tertutuk.
"Anak Gi," kata Thi hujin, "kau gusur dia marilah, kita ke pusara
ayahmu, secara hidup2 akan kukorek ulu hatinya untuk sembayang
arwah ayahmu . . . . . . . ." tanpa terasa suaranya tersendat dan
pilu, air matapun bercucuran.
Kun-gi menahan isak tangisnya, katanya terguguk: "Apakah
pusara ayah berada di sini?"
Dengan berlinang air mata Thi-hujin menjawab: "Tidak salah,
ayahmu dikebumikan di lembah sebelah timur sana."
"Kongcu," Yong King-tiong menimbrung, "serahkan saja. Han
Janto pada mereka." Lalu dia berputar ke arah kedelapan jago
pedang seragam hitam, katanya: "Kalian gusur dia, pergilah ke Saycu-
kau."
Dua diantara jago pedang itu segera tampil ke depan, bahu
kanan kiri Han Janto dikempit terus berjalan mendahului didepan.
'Hujin", kata Yong King-t iong, "biarlah Lo-siu berangkat dulu."
Lalu dia mengikuti kedelapan jago pedang itu berangkat lebih dulu.
Kun-gi celingukan ke sekelilingnya, bayangan Thay-siang tidak
kelihatan, tapi di pinggir Hek-liong-tam sana bertambah satu
gundukan tanah, cepat dia bertanya. "Bu. apakah bibi sudah
wafat?"
Ber-kaca2 mata Thi-hujin, katanya mengangguk: "Adik sudah
mangkat, dua puluh tahun perselisihan dengan ibu, sampai detik2
sebelum ajalnya baru dia sadar dan insaf akan kekhilapannya, dia
punya sebuah angan2, minta supaya kau menyambung keturunan
keluarga Thi, ibu sudah menerima dan berjanji padanya, ibu juga
termasuk anggota keluarga Thi, maka adalah pantas kalau kaulah
yang harus meneruskan keturunan keluarga Thi . . . . " ia angkat
kepala lalu menambahkan: "Mari!ah kita susul mereka."
Kun-gi mengintil di belakang ibunya. Jalan kecil ini berliku dan
belak-belok, seperti berputar di lereng gunung, kecuali lumut yang
licin dan berbahaya, rumput atau tetumbuhan lain tiada yang
bersemi di sini.
Kira2 setengah li jauhnya, setelah membelok sebuah pengkolan
pinggang gunung, betul juga tam-pak di tengah selat gunung yang
diapit dinding curam menjulang tinggi terdapat sebuah batu nisan.
Yong King-tiong bersama kedelapan jago pedang yang menggusur
Han Janto sudah menunggu di depan pusara itu, delapan jago
pedang itu berpencar berjaga terhadap segala kemungkinan.
Mengikuti langkah ibunya Kun-gi, tiba di depan pusara, tampak di
atas sebuah batu nisan besar bertatahkan huruf yang berbunyi
"Pusara almarhum Hwecu Ling Tiang-hong".
Yong King-tiong menjura kepada Thi-hujin, katanya: "Tempat ini
terselubung dari tiga jurusan, kalau orang2 Hek-liong-hwe
mendengar kabar mungkin bisa meluruk kemari, hal itu akan
mendatangkan kesukaran bagi kita. Hujin, Kongcu, silakan
bersembahyang, Lobsiu akan bertugas di mulut lembah sana untuk
menjaga segala kemungkinan."
Thi-hujin mengangguk, katanya: "Pendapat Yong-congkoan
memang betul, kalau demikian bikin capai dirimu saja."
"Hujin terlalu sungkan, ini menjadi tugas dan kewajiban Losiu,"
ucap Yong King-tiong, dua jago yang menggusur Han Janto
ditinggalkan, enam jago pedang yang lain dia bawa naik ke atas
ngarai sana."
"Anak Gi," ucap Thi-hujin, "punahkan saja ilmu silat orang she
Han, baru kau buka Hiat-tonya."
Kun-gi mengiyakan sambil menghampiri Han Janto, pelan2
telapak tangannya menepuk pundak orang untuk membuka Hiat-to
orang, berbareng dua jari tangan kiri secepat kilat menutuk Kui-hayhiat.
Kontan badan Han Jan to mengejang dan gemetar keras,
sambil meraung keras ia jatuh terguling.
Tanpa membuang waktu beruntun Kun-gi unjuk kemahiran ilmu
tutukannya, cepat sekali kembali dia tutuk Pak-liong dan Bweliong
kedua Hiat-to ditubuh orang, terakhir dia menutuk pula Pek-hwehiat
di ubun2 kepala Han Janto.
Seperti balon yang kempes Han Janto roboh di tanah, badan
lunglai tak mampu bergerak, pelan2 dia angkat kepala, kedua bola
matanya mendelik berwarna merah menatap Thi-hujin, serunya
dengan suara serak: "Thi Ji-giok, kau . . . . . bunuhlah aku. Berilah
aku kematian secepatnya."
Membesi hijau muka Thi-hujin, teriaknya murka: "Memberi
kematian secepatnya? Kau keparat yang lupa leluhur, rela menjadi
budak musuh dengan menjual bangsa dan negara, kau sampah
persilatan, kau mencelakai suamiku, betapa banyak patriot yang kau
bunuh, ingin aku membeset kulitmu dan mencacah dagingmu,
syukurlah Thian maha adil, hari ini kau terjatuh di tanganku, akan
kukorek ulu hatimu hidup2 . . . . . . . " maki punya maki amarahnya
semakin memuncak, mendadak ia memburu maju, kaki melayang,
muka Han Janto ditendangnya sekali. Bentaknya: "Hayo berlutut,
mintalah ampun dan akui segala dosa dan kejahatanmu dulu."
Karena ilmu silatnya sudah punah, Han Janto meraung kesakitan
karena tendangan itu, sesaat lamanya mulutnya masih mengerang
dan merintih, mukanya basah kuyup oleh butiran keringat sebesar
kacang, tiba2 ia merangkak ke depan batu nisan serta bergelak
tertawa dengan mendongak: "Thi Ji-giok," serunya, "kepada siapa
aku harus berlutut? Kau kira di sini kuburan suamimu?"
Thi-hujin melenggong, tanyanya terkesiap: "Apa? Tulang suamiku
tidak dalam kuburan ini?"
Han Janto menyeringai seram: "Ketahuilah, ini hanya segundukan
tanah belaka, hakikatnya tiada tulang belulang Ling Tiang-hong."
"Kau bohong," teriak Thi-hujin, "bukankah batu nisan ini sudah
terukir namanya?"
"Kau tahu tempat apakah ini?" jengek Han Janto, "tempat ini
dinamakan Say-cu-kau (mulut singa) karena tiga jurusan terkepung
buntu, bisa masuk tapi keluar sukar, memang sengaja kubuat
kuburan palsu ini untuk menjebak kedatanganmu, dasar kau yang
mujur dan diberkati umur panjang, selama ini tidak pernah muncul,
maka kuburan palsu inipun tetap berada di sini."
Diam2 Kun-gi maklum kenapa Yong King-tiong merasa perlu
hawa enam jago pedangnya untuk berjaga di mulut lembah di atas
ngarai sana. Tak tertahan dia membentak, gusar: "Keji benar
perbuatan kalian."
"Lalu di mana tulang jenazah suamiku?" tanya Thi-hujin, "di
mana kalian menguburnya?"
"Biar terus terang kuberitahu padamu, Ling Tiang-hong adalah
pengkhianat Hek-liong-hwe dan Hwecu buronan, walau dia sudah
mampus, tapi pihak pemerintah tetap harus memeriksa jenazahnya .
. . . "
Bagai dihunjam belati perasaan Thi-hujin, badannya sampai
gemetar menahan gejolak hati, desisnya sambil menggertak gigi:
"Sampaipun jenazahnya juga tidak kalian bebaskan?"
Sudah tentu darah Kun-gi juga mendidih, lekas dia papah sang
ibu, katanya sambil berlinang air mata: "Bu, tenangkan hatimu."
"Durjana, katakan siapakah yang berkeputusan tentang hal ini?" .
"Hal ini jangan salahkan aku," ujar Han Janto, "Im-si-boankoan Ci
Kun jin dan Ki Seng jiang berdualah yang mengajukan tipu muslihat
ini, bila buronan tertangkap harus segera diserahkan kepada pihak
yang berwenang . . . . "
"Siapa itu Ci Kun jin?" tanya Thi-hujin.
'Ci Kunjin adalah penasihat gubernur Soa-tang dua puluh tahun
yang lalu. Dia pula yang mengatur dan merencanakan penyerbuan
ke Hek-liong-hwe.”
"Di mana dia sekarang?"
"Setelah Kok Thay, gubernur Soatang meninggal, dia lantas
meninggalkan gelanggang pemerintahan, konon dia sekarang
berada di Jet-ho."
"Dan Ki Seng-jiang," ucap Kun-gi, "apakah Cengcu dari Coatseng-
sanceng?'
"Dia adalah anak angkat Ciok-boh Lojin dari Ui-san, kepandaian
silatnya amat tinggi, sejak lama dia sudah berkiblat pada kerajaan,
waktu itu dia sudah menjadi Siwi kelas tiga istana raja yang
tergabung dalamSinki-eng yang tersohor itu . . . ."
"Dan sekarang?" sela Thi-hujin.
"Sekarang dia berkuasa di Pi-sok-sanceng."
"Pi-sok-san ceng? Di mana letaknya?"
"Sanceng terletak di Jet-ho, namanya saja perkampungan, yang
benar itulah sebuah pesanggerahan yang mirip istana."
"Haa," Thi-hujin menggeram, "meski berada di istana raja, tetap
akan kurenggut jiwa anjingnya." Sampai di sini mendadak dia tatap
Han Janto, hardiknya beringas: "Masih ada pesan apa kau?"
Sesaat Han Janto pandang Thi hujin dengan mendelong, katanya
kemudian: "Tiada pesan apa-apa, aku memang berutang dan patut
membayar padamu, dapat mati ditanganmu, tiada yang perlu
kusesalkan lagi."
"Baik!" dengus Thi-hujin. Pedang terangkat terus menusuk ulu
hati orang.
Sambil berlutut di tanah Han Janto sudah pejamkan mata. "Bles"
ujung pedang menghujam ke dalam dadanya, giginya gemerutuk
menahan sakit pelan2 badannya lantas roboh terjengkang ke
belakang, darah segera muncrat bagai anak panah.
Thi-hujin menarik pedang, darah mengalir dan bertetesan di
ujung pedangnya, dengan pedang menopang bumi, air matanya
bercucuran, kepalanya menengadah, mulutnya bergumam: "Tianghong,
akhirnya berhasil aku menuntut sakit hatimu, dengan
tanganku sendiri kubunuh keparat ini, tapi meski berhasil aku
menuntut balas, lalu di mana kau? Aku tetap takkan berhasil
menemui kau, selamanya takkan bisa menemukan kau . . . . . " tak
tertahan akhirnya dia menangis ter-gerung2.
Kun-gi berlutut di atas tanab, katanya dengan berlinang air mata:
"Bu, kau telah menuntut balas, di alam baka ayah pasti juga tahu,
ibu harus merasa lega hati, anggaplah aku telah berbakti kepada
ayah, musuh telah kutawan hidup2."
"Nak, ucapanmu hanya untuk menghibur ibu saja, yang benar
orang sudah mati, mana dia bisa tahu? Menuntut balas adalah
kewajiban setiap orang hidup, meski aku sudah bunuh Han Janto,
memangnya dia bisa mengembalikan suamiku dan ayahmu?"
mendadak pandangannya menatap jauh ke depan, rona mukanya
menampilkan tekad yang keras untuk menuntut balas, katanya
tegas : "Tapi aku masih harus menemukan Ci Kunjin dan Ki Sengjiang
kedua bangsat itu, patriot bangsa yang gugur harus menuntut
balas pula, supaya manusia di kolong langit ini tahu bahwa durjana
penjual bangsa dan negara akhirnya pasti mendapat ganj-aran
setimpal."
"Bu, kau sudah menuntut balas sakit hati ayah, kedua orang itu
serahkan saja kepada anak, demikian pula tulang jenazah ayah,
anak pasti akan menemukannya kembali," demikian janji Kun-gi
kepada ibunya.
Menyinggung tulang jenazah suaminya, tak tertahan Thi-hujin
mencucurkan air mata pula, katanya sedih: "Urusan sudah
berselang dua puluh tahun, ke mana kau akan mencarinya?"
"Mereka mencelakai ayah, pasti menguburnya pada suatu
tempat, tentunya ada orang tahu di mana beliau dikubur," kata Kungi.
Tengah ber-cakap2, mendadak berkumandang suara benturan
senjata dari sebelah atas. Thi-hujin segera melengak, katanya
kuatir: "Agaknya ada orang bertempur dimulut lembah, lekas kita
tengok ke sana."
Memang hanya ada satu jalan keluar dari Say-cu-kau, mungkin
kawanan bangsat dari Hek-liong-hwe mendapat kabar dan menyusul
tiba sehingga terjadilah pertempuran dengan Yong King-tiong serta
kedelapan jago pedang yang berjaga di mulut lembah.
Bergegas Thi-hujin bersama Kun-gi berlari ke arah mulut lembah.
Dalam sekejap itu, tampak tanah kuning di atas gundukan bukit
sudah berceceran darah segar, empat jago pedang anak buah Yong
King-tiong tampak menggeletak binasa dengan tenggorokan
tertembus pedang, cara kematian keempat orang ini serupa satu
dengan yang lain.
Pemimpin rombongan musuh adalah seorang gadis berpakaian
serba putih yang berparas jelita, tampak alisnya lencik, matanya
bundar menyerupai mata burung Hong, wajahnya bulat telur cerah
bagai bunga mawar, sikapnya agung mempesona. Cuma sikapnya
yang dingin kaku tampak serius dan berwibawa, orang menjadi
keder dan tak berani memandangnya terlalu lama.
Empat gadis lagi berada pada dua sisi gadis baju putih,
semuanya memegang pedang yang berlepotan darah segar. Paling
belakang adalah sebarisan delapan laki2 baju hijau ketat, mereka
adalah orang2 dari Ceng-liong-tong.
Diam2 cemas Ling Kun-gi, dirinya pernah bergebrak dengan
jago2 pedang anak buah Yong King-tiong, tarap kepandaian ilmu
pedang mereka boleh diagulkan, sejak mendengar benturan senjata
tadi sampai dia berlari tiba di tempat ini, paling hanya beberapa
kejap saja, entah cara bagaimana keempat jago pedang itu
terbunuh oleh pedang para gadis2 jelita ini?
Terdengar Yong King-tiong tengah bicara sambil menjura:
"Walau Cui-tongcu telah membunuh empat jago pedangku, tapi ada
Losiu di sini, jangan harap Cui-tongcu bisa melampaui diriku untuk
ke bawah sana.”
Ternyata gadis baju putih ini adalah Cui-tongcu dari Ceng-liongtong.
Sorot mata Cui-tongcu yang dingin sekilas melirik ke arah Thi
hujin dan Ling Kun-gi yang mendatangi, katanya mengejek: "Yong
King tiong, kau memang berhasil, nah itu mereka telah keluar dari
Say-cu-kau."
Agaknya Yong King-tiong naik pitam, serunya:
"Peduli kau ini utusan macam apa dari kotaraja, Losiu tetap ingin
menjajal kepandaianmu."
"Wut" tiba2 dia menghantam lebih dulu.
"Kau ingin gebrak dengan aku?" ejek Cui-tongcu, tiada tampak
bergeming, kaki tidak bergerak, hanya badan sebelah atas sedikit
bergeliat, dengan mudah dia sudah meluputkan diri dari pukulan
Yong King-tiong, Segulung angin pukulan kencang menyamber
lewat di atas pundaknya.
Setelah menghindari samberan angin pukulan, Cui-tongcu
mengejek: "Peranan penting sudah tiba, aku malas bergebrak
dengan kau."
Selama dua puluh tahun ini Yong King-tiong menyembunyikan
diri dengan sabar, kepandaian aslinya yang tinggi tak pernah
dipamerkan, kini sepak terjang dirinya sudah terang2an, maka dia
merasa tidak perlu takut lagi bertindak blak2an, melihat pukulannya
dapat dihindarkan lawan, hatinya semakin murka, kembali dia
melontarkan pukulan. Gempuran ulangan ini sudah tentu lebih
hebat lagi kekuatan pukulannya, angin pukulan segera mencrpa
dengan dahsyatnya.
Cui-tongcu menanggapi dengan tak acuh dan dingin: "Kau kira
aku tidak berani melawanmu?"
Kali ini dia memang t idak berkelit, tangannya yang halus
bergerak memutar, entah bagaimana dia membalik telapak tangan,
tahu2 dia sambut pukulan Yong King-Tiong dengan kekerasan
pukulan pula. Dua pukulan dahsyat saling bentrok di udara
menimbulkan suara keras, ternyata setali tiga uang alias sama kuat.
Sudah tentu kesudahan adu kekuatan pukulan ini amat di luar
dugaan Yong King-t iong, soalnya dia hanya tahu bahwa Cui-tongcu
ini berkepandaian tinggi, tapi tak pernah terpikir bahwa gadis
selembut ini memiliki Lwekang setangguh ini.
Thi-hujin ikut kaget, tanpa terasa dia menatap orang lebih tajam,
tanyanya: "Yong-congkoan, siapa-kah nona ini?"
"Nona ini?" sabut Yong King-Tiong, "dia inilah pengawas utusan
kotaraja, Cui Kinin yang menjabat Ceng-liong-tong Tongcu, atau
lebih jelas lagi Han Janto hanyalah seorang pemimpin boneka saja,
kekuasaan Hek- liong-hwe hakikatnya berada di tangan perempuan
ini.”
Cui Kinin tertawa manis, katanya berseri: "Jelas sekali caramu
memperkenalkan diriku," kata nya ditujukan kepada Yqng Kingtiong,
tapi dia mengirim senyuman manis ke arah Ling Kun-gi.
Semula sikapnya dingin kaku, tapi seri tawanya ini betul2 laksana
bunga mekar di musim semi, segar mempesona.
Thi-hujin menarik muka, jengeknya: "Kau bangsa Ki-jin
(golongan bangsawan)?"
"Apakah aku orang Ki-jin atau bukan, apa sangkut pautnya
dengan kau?" sahut Cui Kinin.
"Kalau betul kau Ki-jin, aku tidak akan melepasmu," ancam Thihujin.
"Paling mati di tanganmu?" tanya Cui Kinin dingin.
"Betul, aku pula yang membunuh Han Janto."
"Kau ini Thay-siang (maha ketua) Pek-hoa-pang."
"Bukan."
"Lalu siapa kau?"'
"Akulah janda Ling Tiong-hong, buronan yang dicari oleh kalian
gerombolan cakar alap2."
"O, kiranya Ling-hujin," ucap Cui Kinin, matanya melirik ke arah
Ling Kun-gi, tanyanya: "Siapa pula dia?"
"Cayhe Ling Kun-gi," lekas Kun-gi bersuara sambil menjura.
Tanpa terasa Cui Kinin memandangnya beberapa kali, katanya
kemudian: "Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang?"
"Cayhe bukan anggota Pek hoa-pang lagi."
"Lho, mengapa bukan?"
"Kukira Cayhe tidak perlu menjelaskan pada-mu."
"Ya, betul, kau masuk ke Ui-liong-tong," berapa jiwa orang yang
telah melayang di tanganmu," kata Cui Kinin sambil melirik Leliongcu
yang tergantung di pinggang Ling Kun-gi. "Kupikir, mungkin kau
inilah putera Ling Tiang-hong, betul tidak?"
"Betul, kedatangan Cayhe untuk menuntut balas sakit orang
tuaku."
Cui Kinin. menggeleng dan berkata kalem: "Kalian sudah
membunuh Han Janto, sakit hatipun sudah terbalas, betul tidak?"
"Setiap cakar alap2 kerajaan adalah musuh besar kami," Thihujin
berkata tegas.
"Teramat luas arti perkataanmu, hanya kalian ibu beranak
ditambah seorang Yong King-tiong? Hek-liong-hwepun belum tentu
dapat kalian kuasai."
"Aku bisa masuk kemari, sudah tentu juga bisa keluar," jengek
Thi-hujin.
Kembali Cui Kinin melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya: "Kukira
tidak mungkin, sulit kalian bisa menembus pertahananku, tapi . . . .
. . " suaranya sengaja dia tarik panjang.
"Tapi apa?" bentak- Thi-hujin.
Gigi Cui Kinin nan rata seperti biji ketimun menggigit bibir,
katanya kemudian setelah tepekur sekejap: "Aku ada sebuah syarat,
entah kalian mau terima tidak?"
"Kau ada syarat apa?" tanya Thi-hujin.
"Han Janto meski hanya Siwi kelas tiga, kalian telah
membunuhnya, itu berarti kalian membunuh pembesar kerajaan,
sepak terjang seorang pemberontak tulen . . . . . . . "
"Tutup mulutmu!" bentak Thi-hujin.
"Jangan naik pitam Ling-hujin, dengarkan penjelasanku."
"Baik, katakan!"
"Kau menuntut balas sakit hati suami atau dendamorang tua, hal
ini boleh dianggap sebagai peristiwa balas membalas kaum
persilatan umumnya, aku takkan menarik panjang soal ini . . . . . . "
sebagai "pengawas" yang berkuasa besar dari kotaraja, sudah tentu
dia punya hak dan kewajiban memutuskan sesuatu menurut
hematnya sendiri..
Terdengar Cui Kinin berkata lebih lanjut: "Kecuali Yong King-tiong
sebagai Congkoan Hek-liong-hwe dan sekarang sekongkol dengan
pembeberontak, aku t idak memberi kebebasan padanya, tentang
kalian ibu beranak, asal Ling-kongcu sudi menyerahkan Leliong-cu,
aku akan memberi putusan memberi izin pada kalian untuk
meninggalkan tempat ini, meninggalkan Kunlunsan dengan selamat,
bagaimana?"'
Ternyata yang diincar adalah Leliong-cu. Jelas tujuannya untuk
mendapatkan buku daftar anggota Thay-yang-kau yang disimpan
dalam kamar batu di dasar kolam naga hitam, sedemikian besar arti
dan pentingnya buku daftar itu, sampai kematian Han Janto boleh
diremehkan. Memangnya Han Janto hanyalah seorang tamak yang
mengejar keuntungan pribadi, peranannya tidak penting lagi bagi
kerajaan. Dari sini dapat disimpulkan tugas apa yang dipikul Cui
Kinin di dalam Hek-liong-hwe.. Sudah tentu di luar tahunya bahwa
buku daftar anggota Thay-yang-kau itu sudah dimusnahkan oleh
Ling Kun-gi.
Belum habis Cui Kinin bicara, mendadak Yong King-tiong
mendelik gusar, katanya sambil bergelak tawa: "Cui-tongcu tidak
akan membebaskan Losiu, memangnya Losiu perlu dibebaskan
olehmu?"
"Yong-congkoan," Thi-hujin mengulap tangan: "biarlah aku
menjawab pertanyaannya."
"Baiklah Hujin," ujar Yong King-tiong
Kaku dan ketus sikap Thi-hujin, katanya: "Pendapat Cui-tongcu
memang tidak keliru."
"Jadi Ling-hujin menerima usulku?"
"Cui-tongcu anggap harga jiwa kami ibu beranak lebih tinggi
daripada mutiara ini? Tapi bagi pandanganku justeru sebaliknya,
mut iara ini berlipat ganda lebih berharga daripada jiwa raga kami
berdua. Karena mutiara ini menyangkut laksaan jiwa manusia yang
tersebar luas di utara dan selatan sungai besar, oleh karena itu kami
ibu beranak sekali2 tidak mau sembarangan menyerahkan mutiara
ini kepada siapapun, kecuali Cui-tongcu memiliki kepandaian dan
dapat merebutnya dari tangan kami."
Cui Kinin melenggong sebentar, katanya: "Jadi Ling-hujin ingin
bergebrak dengan aku?"
"Keadaan sekarang bagaikan anak panah yang sudah terpasang
dibusur yang terentang lebar tidak bisa tidak harus dibidikkan, selain
berhantam mungkin tiada jalan lain lagi."
"Baiklah kalau begitu," ucap Cui Kinin.
"Cui-tongcu," ujar Thi-hujin, "kau pakai senjata atau ........"
Melihat kedua orang siap bergebrak, tak tertahan Yong Kingtiong
ter-bahak2, serunya: "Tunggu sebentar Hujin."
"Ada apa Congkoan?" tanya Thi-hujin.
"Maafkan Hujin," ucap Yong King-tiong, "barusan Cui-tongcu
bilang Losiu bersekongkol dengan pemberontak, dosanya tak
terampunkan, bahwa Losiu hidup terhina dan sengsara selama 20-
an tahun di sarang penyamun ini, kini tibalah saatnya akan
kuberitahu kepada Cui-tongcu bahwa Yong King-tiong adalah laki2
sejati, sebagai bangsa Han yang cinta bangsa dan tanah air
leluhurnya, anggota Thay-yang-kau yang setia, sebagai Hek-lionghwe
Cong-koan dari Hek-liong-hwe yang menentang kerajaan Ceng
dan berusaha membangkitkan kembali kerajaar Bing, jadi bukan
antek Hek-liong-hwe yang dikua-sai cakar alap2 kerajaan Ceng,
padahal di dalam pandangan kalian para cakar alap2 kerajaan ini,
tentunya Losiu dianggap sebagai pengkhianat, kenapa harus
ditambahi embel2 sekongkol dengan pemberontak segala."
Cui Kinin tidak berbicara, tapi sorot matanya yang tajam dingin
manampilkan hasrat membunuhnya yang mulai berkobar.
Yong King-t iong tidak peduli, katanya lebih lanjut: "Jabatan dan
kedudukan Cui-tongcu di sini cukup istimewa, Komisaris besar
utusan kerajaan yang mengusai Hek-liong-hwe ini, kalau Cui-tongcu
sudah menyatakan takkan melepaskan Losiu, demi
mempertahankan diri adalah pantas kalau aku mohon pengajaran
dulu pada Cui-tongcu, karena itu, pertarungan Hujin melawan Cuitongcu
ini harap ditunda dulu, biarlah Losiu yang membuka perang
tanding ini."
Cui Kinin bersikap semakin dingin, katanya mengejek: "Bagus
sekali, bahwa kau sudah mengakui seluruhnya, sebagai Komisaris
umum dari Hek-liong-hwe, sudah semestinya kalau kulabrak kau
lebih dulu." Sampai di sini mendadak dia menoleh, katanya: "Harap
Ling-hujin tunggu sebentar." Sikapnya angkuh seolah2 tidak
memandang sebelah mata kepada Yong King-tiong.
Setelah beradu pukulan tadi Yong King-tiong tahu bahwa
lwekang perempuan ini amat tangguh, taraf kepandaiannya agaknya
tidak lebih rendah dari dirinya, sudah tentu dia tak berani pandang
ringan lawannya yang muda ini, maka di kala orang bicara, diam2 ia
kerahkan hawa murni mempersiapkan diri. Segera dia merangkap
kedua tangan, katanya menjura: "Baiklah, siiakan Cui -tongcu
memberi petunjuk."
Cui Kinin nielirik sekejap ke arahnya, suaranya dingin: "Apakah
main kepelan, telapak tangan atau pakai senjata, Yong-congkoan
lebih suka yang mana, silakan pilih sendiri?"
"Losiu sih terserah saja apa kehendakmu?"
"Baiklah, adu kepelan dan pukulan telapak tangan saja."
"Silakan Cui-tongcu mulai dulu."
Cui Kinin melangkah maju dua tindak, ia membetulkan dulu
sanggul rambutnya, katanya: "Baiklah, aku mulai lebih dulu."
tangannya terayun dan menepuk sekali.
Jubah hijau Yong King-tiong tampak melembung dan melambai,
sigap sekali dia sudah menyingkir beberapa kaki, berkelit sambil
balas menyerang, serangan balasannya ternyata tidak kalah
cepatnya.
Cui Kinin tidak menghiraukan serangan balasan ini, beruntun dia
gunakan kedua tangan memukul pula secara bergantian, jadi
menyerang untuk menandingi serangan lawan. Begitu mulai gebrak
kedua orang sama bunjuk kemahirand ilmu pukulan daan kesebatan
gebrak badan, serangan semakin gencar, jurus demi jurus semakin
cepat dan lihay, ba-yangan kedua orang maju mundur saling
berputar dan melejit kian kemari, keduanya sama gesit dan tangkas.
Dengan tekun Kun-gi mengikuti pertempuran kedua orang,
pandangannya amat tajam, sudah tentu dia tidak dikaburkan oleh
kecepatan gerak yang terselubung oleh bayangan kepelan kedua
orang. Terasa Kungfu Yong King-tiong ternyata beraneka ragam,
dalam setiap gerakan kedua kepelan tangannya ternyata
mengandung tipu2 Siau-lim, Bu-tong, Hoa-san, Go-bi dan Liok-hap,
serta Pat-kwa-bun dan lain2 aliran kelas tinggi, meski jurus yang
satu tidak berurut dan bergandeng dengan jurus selanjutnya, tapi
perubahan dan variasinya dapat dia mainkan dengan mahir dan
leluasa, tak pernah putus dan macet. Seolah2 dia sudah mahir betul
akan ilmu kepalan dari berbagai aliran itu serta dikombinasikan
dengan baik, malah perbawanya juga amat mengejutkan.
Tangan Cui Kinin tetap terselubung di dalam lengan bajunya, tapi
jari2 tangannya yang runcing halus sering terjulur keluar dikala
mencengkeram, menutuk dan menabas, permainan lincah cepat dan
rangsakannya deras, bagai bidadari menyebarkan bunga, bayangan
telapak tangannya yang putih mu-lus itu bertaburan bagai kuntum
bunga, jari2nya yang runcing dengan kuku2nya yang panjang laksana
jarum perak, setiap gerakan tutukannya amat aneh dan lihay,
agaknya iapun telah keluarkan seluruh kemahirannya. Terutama
gerakan tangan dibarengi dengan permainan langkah yang gesit
dan membingungkan, meski Yong King-t iong mencecar dengan
pukulan keras, dia dapat berkelit ki-an kemari, Ujung bajupun tak
mampu disentuh lawan.
Sekejap saja, keduanya sudah saling labrak lima-enam puluh
jurus, keadaan tetap berimbang, tiada satu pihak yang memperoleh
keuntungan.
Thi-hujinpun saksikan pertempuran ini tanpa berkedip, lama2
roman mukanya menunjukkan mimik aneh penuh keheranan dan
kaget, tanyanya berpaling: "Anak Gi, kalau kau yang melawan dia
kau yakin dapat, mengalahkan dia?"
"Ilmu pukulan dan gerak langkahnya serba aneh, paling2 anak
hanya sama kuat melawannya, untuk mengalahkan dia agak sulit
juga, tapi anak yakin sekali pukul dapat membunuhnya."
Thi-hujin mengangguk, katanya: "Kalau perempuan ini tidak
dilenyapkan, kelak pasti menimbulkan mara bahaya bagi kita."
Tengah bicara, di tengah gelanggang yang sedang berhantam
sengit itu terdengar suara Cui Kin in yang merdu: "Berhenti! "
Sesosok bayangan tiba2 melompat keluar dari arena serta mundur
beberapa langkah dan berdiri tak bergerak.
Yong King tiong juga menarik kedua tangan, katanya dengan
lantang: "Ada petunjuk apa Cui-tongcu?"
"Apakah Kim-biansanjiu dari Kunlun yang kau lancarkan barusan
ini?" tanya Cui Kinin.
"Losiu tidak menganut sesuatu aliran, bermain sekenanya saja
asal dapat menghadapi lawan, tak kupusing apakah Kim-bian atau
bukan segala."
"Meski Kim-biansanjiu dari Kunlunpay merupakan kombinasi dari
inti ilmu silat yang ada di dunia ini, di dalamnya mengandung
kesaktian yang tiada taranya, aku tidak percaya tidak mampu
memecahkannya."
Yong King-tiong tersenyum lebar, katanya: "Cui-tongcu, boleh
kau coba memecahkannya."
"Baik, akan kutunjukkan padamu," jengek Cui Kinin. Mendadak
kedua tangan dilancarkan bersama, beruntun dia menyerang tiga
jurus. Setiap jurus pukulan menimbulkan kekuatan dahsyat yang
menerpa ke depan.
"Serangan bagus," Yong King-tiong menghardik dengan
pujiannya. Kaki berdiri sekukuh tonggak, kedua tangan berjaga di
depan dada, beruntun iapun melontarkan tiga kali pukulan.
Inilah cara adu pukulan secara keras, maka terdengarlah
benturan, ternyata tiada satu pihak yang lebih unggul. Cui Kinin
tertawa dingin, kedua ta-ngan kembali melancarkan lima kali
pukulan secara berantai, Gelombang pukulannya bagai badai bergulung2
menerjang dengan hebat.
Diam2 Yong King-tiong tersirap darahnya, perempuan muda
berusia dua puluhan ini bagaimana mungkin memiliki Lwekang
seampuh ini? Hati berpikir, keadaan sudah mendesak, tak mungkin
dia mundur, maka tenaga dia kerahkan di kedua lengan, mendadak
mulutnya menghembuskan serangkum hawa, lima kali ia
menyongsong pukulan lawan.
Kali ini tangan kedua pihak sama2 dilandasi kekuatan penuh,
begitu pukulan saling beradu, udara menjadi bergolak dan meledak
dengan dahsyatnya.
Jenggot ubanan Yong King-t iong tampak bergerak melambai,
jubah hijaunyapun seperti terhembus badai, tanpa kuasa badannya
terhuyung dua langkah ke belakang. Kini siapa unggul siapa asor
sudah kelihatan, Cui Kinin adalah anak perempuan muda beliau,
meski ilmu silatnya maha tinggi, jelas latihannya lebih cetek
daripada Yong King-tiong.
Setelah mengalami adu pukulan lima kali, wajahnya yang jelita
bagai bunga mekar di musim semi itu seketika berubah pucat,
beruntun ia tersurut lima langkah. Belum lagi berdiri tegak dan
napas masih sengal2, mendadak alisnya menegak, sepasang mata
burung Hongnya memancarkan kemilau biru, nafsu membunuhnya
berkobar, hardiknya: "Nah, hati2lah kau." Tangan kiri bergerak naik
turun menjaga keseimbangan dan akhirnya berhenti di depan dada,
sementara telapak tangan kanan tegak bagai golok pelan2 didorong
keluar.
Mehhat gerakan telapak tangan orang, seketika berubah hebat
air muka Yong King-t iong, teriaknya tertahan: "Toa-jiu-in dari Ih-ka
bun!" Mulut berteriak lekas kedua tangannya melindungi dada,
kembali kakinya menyurut lebih jauh, matanya menatap tajam,
sikapnya amat tegang.
Pada detik gawat itulah didengarnya Ling Kun-gi berteriak:
"Mundurlah paman Yong, jurus ini biar Siautit yang menyambutnya."
Belum habis bicara, bayangannya sudah berkelebat mengadang di
depan orang. Jaraknya dengan Cui Kinin hanya satu tombak, ia
berdiri tegak dengan, menekan telapak tangan kiri kebawah, telapak
tangan kanan tegak miring, dari kejauhan dia ikuti gerakan Cui
Kinin.
Baru saja dia hendak melancarkan Mo-ni-in dari aliran Hud,
Mendadak dari tempat kejauhan sana terdengar bentakan serak
bertenaga kuat. "Jangan muridku!" Suaranya bergema di angkasa,
seperti disuarakan dari tempat yang jauh, tapi kedengaran amat
jelas seperti berbicara berhadapan.
Kun-gi tersentak kaget mendengar seruan ini, lekas dia menarik
tangan dan membatalkan serangannya, tanpa terasa dia
mendongak dan berteriak: "Ya Suhu!"
Perlu diketahui bahwa Mo-ni-in adalah ajaran sakti aliran Hud
peranti menundukan dan memecahkan ilmu hitam, kekuatan dan
perbawanya tiada taranya. Walau Kun-gi belum lagi sempat
melontarkan pukulan, tapi gaya dan kuda2 yang sudah dia
tunjukkan laksana anak panak terpasang dibusur yang terpentang
dan siap dilepaskan dengan keku-atan dahsyat. Hawa murni sudah
melingkupi sekujur badannya, dalam jarak beberapa kaki sudah
padat diliputi kekuatan sekukuh tembok baja yang tidak kelihatan.
Toa-jiu-in yang dilontarkan Cui Kinin meski lambat, tapi tekanan
yang keluar dari pukulan hebat ini sungguh laksana gugur gunung
yang menimpa. Beberapa kaki menerjang ke depan Ling Kun-gi
ternyata Toa-jiu-in menemukan pengalang seteguh gunung, bagai
air bah yang terintang bendungan.
Air mengalir tersibak ke penjuru lain, meski kuat dan keras daya
terjangnya, tapi kebentur kekuatan sekukuh baja ini, sedikitpun
kekuatan Toa-jiu-in tak mampu maju lebih lanjut.
Begitu tenaga pukulannya menghadapi rintangan, segera Cui
Kinin lantas memperoleh f irasat jelek, terasa dinding tak kelihatan
sekeras baja pertahanan lawan membendung terjangan Toa-jiu-in,
dirinya, daya tolak balik bukan olah2 dahsyatnya, kalau tidak mau
dibilang berlipat ganda malah, keruan kagetnya bukan main.
Pikirnya: "Toa-kok-su pernah bilang bahwa Toa-jiu-in adalah ilmu
sakti dari Ih-ka-bun yang tertinggi, tiada ilmu pukulan macam lain
dikolong langit ini yang mampu menandinginya, memangnya ilmu
apa pula yang di-pertontonkan pemuda ini? Tampaknya dia belum
lagi melontarkan kekuatan pukulannya, lantas membatalkan niatnya.
Kepada siapa pula dia memanggil Suhu?"
Kiranya dia tidak mendengar suara serak tua yang kumandang
seperti dari tempat jauh, karena ilmu gelombang suara itu hanya
ditujukan kepada seseorang, maka hanya Kun-gi saja yang
mendengarnya.
Sudah tentu Yong King-Tiong dan Thi-hujin juga tidak
mendengar, tapi "Ya, Suhu" seruan Ling Kun-gi tadi jelas didengar
oleh semua orang.
Terunjuk mimik bingung dan heran pada wajah Thi-hujin,
tanyanya: "Anak Gi, apakah maksudmu Taysu juga datang?" Sudah
tentu pertanyaan ini juga dia kirim dengan ilmu gelombang suara.
Kun-gi mengangguk, dia balas menjawab dengan ilmu yang
sama: "Ya, barusan sebelum anak melancarkan serangan kudengar
peringatan Suhu yang melarang anak menggunakan Mo-ni-in."
"Aneh kalau begitu," ucap Thi hujin..
Cui Kin in juga tahu diri, lekas dia tarik serangannya, tanyanya
sambil menatap Kun-gi: "Kau berani turun galanggang mewakili
Yong King-tiong, kenapa berhenti setengah jalan?"
Menghadani tatapan mata orang yang bundar jeli, diam2
terkesiap Kun-gi, sesaat dia menjadi bingung, katanya kemudian :
"Bukankah Cui-tongcu juga berhenti setengah jalan?" Sudah tentu
dia tidak mau menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.
Berkedip mata Cui Kinin, katanya : "Ingin aku tanya, ilmu apa
yang barusan hendak kau lancarkan?"
Sudah tentu Kun-gi tidak mau berterus terang, katanya tertawa
tawar : "Sungguh menyesal, jurus yang akan Cayhe lancarkan tadi
tidak punya nama."
Sedikit berubah rona muka Cui Kinin, katanya sambil menjengek:
"Kenapa tidak kau bilang tak sudi memberitahu? Tidak mau
menjelaskan ya sudahlah, memangnya siapa yang pingin tahu?"
tanpa menunggu reaksi Ling Kun-gi dia menambahkan: "Kau berani
tampil ke muka, tentu ingin bergebrak dengan aku, biarlah kita
tentukan siapa menang dan kalah."
Dengan kalem tapi angkuh Kun-gi berkata "Caybe menurut saja
kehendak Cui-tongcu."
"Kudengar ilmu pedangmu amat lihay, marilah kita bertanding
senjata?"
"Katakan saja caranya, pasti Cayhe iringi keinginan Cui-tongcu."
Dengan lekat Cui Kinin menatap Kun-gi sekilas, katanya sambil
mencibir: "Hm, kau angkuh sekali."
"Selamanya memang beginilah watak Cayhe," sahut Kun-gi.
Terunjuk rasa gusar pada wajah Cui Kinin, dia melambai ke arah
dayang berpakaian hijau di belakangnya. Tampak seorang gadis
baju hijau segera maju sambil menjinjing sebilah pedang, dengan
hormat dia angsurkan senjata itu kepada majikannya.
Pelan2 Cui Kinin melolos pedangnya, sebilah pedang panjang tiga
kaki memancarkan kemilau hijau menyilaukan mata, itulah sebilah
pedang yang tipis tajam luar biasa. Tiba2 Cui Kinin pegang gagang
pedang dengan kedua tangannya terus dibentang ke samping,
ternyata pedang seta serangka ini merupakan sepasang pedang,
dengan tangan kirikanan masing2 memegang sebatang pedang, Cui
Kinin melangkah maju beberapa tindak. katanya dingin: "Ling Kungi,
keluarkan senjatamu"
Kun-gi tertawa lebar. "Creeng", tangan kanannya terangkat,
tahu2 Ih-thiankiamsudah terlolos.
Terbeliak Cui Kinin, tanpa terasa dia berseru memuji: "Pedang
bagus!"
Dengan menenteng pedang Kun-gi tidak membuka jubah juga
tidak pasang kuda2, hanya seenaknya saja dia menjura dan
berkata: "Silahkan Cui-tongcu!" Makin wajar seenaknya dia menjura,
semakin kentara sikapnya yang gagah dan tampan.
Sesaat Cui-Kinin melenggong dibuatnya, kedua tangan tetap
terbentang, memegang sepasang pedang, sesaat wajahnya
bersemu merah jengah, tanyannya: "Kau tidak menanggalkan
jubah?"
Umumnya orang yang turun gelanggang mau bertandang harus
mencopot jubahnya, kecuali yakin akan kepandaian sendiri yang
lebih unggul daripada lawannya, kalau tidak jubah itu akan
mempengaruhi gerak-geriknya. Tapi hal ini apa pula sangkut
pautnya dengan Cui Kinin, kan menguntungkan dia malah"
Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Tidak apalah"
"Ini kan bertanding pedang, senjata tak bermata, kau tidak kuatir
aku memungut keuntungan dalam hal ini?"
"Tidak apa, tidak apa," jawab Kun-gi.
"Kau sombong." jengek Cui Kinin mencibir pula sekali gentak,
kedua bilah pedang ditangannya bergetar menggaris bundar
menciptakan dua lingkaran sinar pedang sebesar mulut mangkuk,
tapi dia belum menyerang, kedua pedang tetap berhenti di depan
dada, katanya dingin: "Ling Kun-gi, apakah aku yang harus turun
tangan lebih dulu?"
"Boleh silakan Cui-tongcu," ucap Kun-gi.
Terpancar sinar membara pada sorot mata Cui Kinin. "Baik,"
serunya.
Lenyap suaranya pedang di tangan kanan mendadak membentuk
tabir cahaya kemilau, deru hawa dingin setajam pisau dengan
secepat kilat menyambar ke depan.
Ling Kun-gi bergerak mundur, miring setengah langkah,
sementara Ih-thiankiam sudah pindah ke tangan kiri, ujung pedang
menegak ke atas terus menyampuk ke depan. Panjang Ih-thiankiam
ada empat kaki, satu kaki lebih panjang daripada pedang umumnya,
maka sebelum pedang Cui Kinin menyerang tiba sudah kena diketuk
pergi. "Trang", ternyata sepasang pedang Cui Kinin juga pedang
mestika, kalau tidak sekali bentur tadi tentu sudah terpapas kutung.
Lenyap suara benturan, Cui Kinin lantas mengejek, bayangannya
berkelebat lincah, tahu2 dia menyelinap ke samping kanan Kun-gi,
pergelangan tangan berputar, secepat kilat ia menusuk iga kanan
lawan. Gerakan tubuh serta gaga pedangnya sungguh lincah
menakjubkan.
Yong-King-tiong yang menonton di luar gelanggang sampai
berjingkat kaget, teriaknya tanpa terasa: "Awas Ling-kongcu! "
Belum habis dia bicara, keadaan sudah berubah..
Ternyata setelah pedang di tangan kiri Kun-gi berhasil
menyampuk pedang Cui Kinin, waktu Cui Kinin menyelinap ke
kanan, cepat sekali diapun sudah pindah pedang ke tangan kanan
pula dan menahan ke bawah, "Trang," kembali kedua pedang
beradu.
Tusukan Cui Kin in kembali dipatahkan, tapi Cui Kinin memang
hebat, selicin belut badannya tiba2 berputar, kakinya seperti tidak
menyentuh tanah, tahu2 bayangannya sudah berada di depan Kungi.
Seiring dengan putaran tubuhnya pedang kanan ikut berputar
menusuk ke pundak kiri, sementara pedang kiri ditarik mundur lalu
membabat pinggang.
Bukan saja cepat perubahan tipu serangannya kedua pedangpun
bergerak menyilang dengan tusukan dan membabat dengan lihay
dan sukar diduga.
Agaknya Kun-gi sengaja pamer kepandaian, pedang kembali dia
geser ke tangan kiri, tusukan pedang lawan kearah pundaknya
kembali ditangkisnya, lalu dia kembalikan pula pedang ke tangan
kanan untuk menangkis tebasan pedang lawan yang mengincar
pinggangnya.
"Trang, tring!" dua kali secara beruntun hampir terjadi bersama,
suara pertama adalah tangkisan pada pedang lawan yang menusuk
pundak, suara kedua yang lebih keras adalah sampukan keras pada
pedang lawan yang membabat pinggang.
Karena kedua kali bentrokan keras ini, kedua pedang Cui Kinin
tergetar sehingga tak kuasa mengendalikan badan, langkahnya
tersurut mundur, terpaksa dia tarik kedua pedang sambil menatap
tajamLing Kun-gi, katanya dingin: "Kau memang hebat sekali."
”Cui-tongcu terlalu memuji!", ucap Kun-gi tawar.
"Kenapa kau hanya bertahan dan tidak balas menyerang?"
"Gerak pedang Cui-tongcu teramat lincah dan cepat, bahwa
Cayhe mampu menangkis sudah beruntung, mana ada kesempatan
balas menyerang?"
Cui Kinin tertawa, tawa manis karena umpakan ini, katanya:
"Ternyata kau pandai merendah juga." Tiba2 kuncup senyumannya,
katanya pula dingin: "Setelah saling gebrak, kita harus menentukan
siapa unggul dan asor, Nah, hati2lah."
Pada ucapannya terakhir, sebat sekali dia lantas menubruk maju,
pedang kiri menusuk dan pedang kanan menabas, kalau tangan
kanan membabat tangan kiri menyontek, serangan yang kiri lebih
cepat dari yang kanan, menyusul serangan kanan melebihi melebihi
kecepatn yang kiri, disamping ganas dan keji, serangan inipun
tambah gencar, sekaligus dia sudah menyerang delapan belas jurus.
Ling Kun-gi ternyata tidak berebut mendahului, dia tetap
bertahan dengan mantap dan tenang, pedang dia pindah ke tangan
kiri seenaknya dia mengembangkan Tat-mo-hoanjiu-kiam, ilmu
pedang Tat-mo-co-su yang dimainkan dengan tangan kidal, berbeda
dengan ilmu pedang aslinya yang dimainkan dengan tangan kanan,
tipu2nya serba berbeda, isi kosong sukar dijajagi, belum lagi jurus
yang satu dilancarkan tahu2 sudah berganti jurus yang lain, apalagi
setiap gerakannya mengandung perubahan, menyerang juga
bertahan, di waktu bertahan ada pula gerak menyerang.
Permainannya sungguh amat indah dan lihay. Karena dia ber-main
pedang dengan tangan kidal, Cui Kinin menjadi kebingungan dan
tidak tahu arah mana yang dituju serangan lawan.
Semakin tempur kedua orang bergerak semakin cepat dan sengit,
yang kelihatan melulu sinar hijau dan cahaya perak yang melingkar,
selulup timbul silih berganti, deru angin pedang bergolak menimbulkan
angin kencang, suaranya semakin ribut seperti benda keras
yang tiba2 sobek tergetar, lama kelamaan menjadi sukar dibedakan
mana lawan dan mana pula kawan.
Pertempuran berjalan lagi tiga puluhan jurus, keadaan tetap
berimbang sama kuat. Cui kinin tampak semakin bernapsu, selebar
mukanya membara, tiba2 dia menjerit sambil menggentak pedang,
permainan pedangnya mendadak berganti, kini dia bergerak
selincah kupu2 terbang di atas rumpun bunga, menyelinap kian
kemari dan menari dengan lemah gemulai, gerak sepasang
pedangnya semakin lincah dan cepat, bukan saja lebih aneh dan
banyak ragamnya, setiap gerakan pasti mencari peluang menyerang
ke pertahanan lawan. Suatu ketika Ling Kun-gi bergerak sedikit
lambat, "cret", pedang Cui Kin in segera menyelonong masuk, jubah
hijaunya tertusuk robek.
Tidak kepalang kaget Kun-gi, baru sekarang dia benar2 insaf
akan permainan pedang Cui Kinin yang lihay ini, mau t idak mau dia
lantas berpikir, "Untuk mengalahkan dia, terpaksa aku harus
mengembangkan Hwi-liong-kiam-hoat." Segera ia bersiul panjang,
tubuh bergerak mengikuti gaya pedang, sejalur cahaya pedang
lantas membumbung ke udara laksana naga sakti mengamuk.
Agaknya Cui Kinin tidak menduga pada saat menghadapi
serangan segencar ini, Ling Kun-gi masih sempat melambung ke
udara, terdengar ia menggerung lirih, tiba2 iapun tutul kedua
kakinya, sepasang pedang menggaris lintang, menyusul kedua
tangan menggapai dengan kedua pedang berputar mirip sayap
burung hong lagi terbang.
Sementara itu Kun-gi tengah mengembangkan jurus Sinliong-juthun,
waktu badan mencapai ketinggian tiga tombak, dia lantas
pemukik balik, pergelangan tangan bergetar, pedang mengeluarkan
sinar cemerlang laksana pancaran kembang api yang meledak,
berubah menjadi hujan cahaya yang bertebaran di angkasa.
Waktu Cui Kinin menyusul keatas, kebetulan dia papak Kun-gi
yang menukik turun, karena berada di tengah udara, menghadapi
serangan lihay lagi, ternyata sedikitpun dia tidak jeri dan gugup,
kedua pedangnya masih terus bergerak dengan garis silang dan
naik turun mirip burung Hong yang sedang terbang di udara.
Kalau yang lelaki laksana seekor naga me-lingkar2 di tengah
mega, maka yang perempuan mirip burung Hong yang terbang di
angkasa. Gerak pedang kedua pihak sama2 cepat laksana kilat,
dengan benturan senjata berkumandang menimbulkan gema
nyaring di lembah pegunungan.
Air muka Yong King-tiong tampak berubah berulang kali, katanya
dengan penuh keheranan: "Aneh, memangnya dia memainkan Hwihong-
kiam-hoat?"
Bahwa Cui Kinin mampu menandingin Hwi-liong-sam-kiam
warisan keluarganya, ini sudah membuat Thi-hujin ikut berubah air
mukanya, kini mendengar Yong King tiong menyebut nama Hwihong-
sam-kiam, tanpa terasa ia bertanya: "Hwi-hong-kiam-hoat?
Kenapa nama ini t idak pernah kudengar?"
"Hwi-hong-kiam-hoat," ujar Yong King-tiong, "adalah ciptaan
Soat-sansinni dulu, Sinni adalah sahabat karib Tuan Puteri,
bagaimana mungkin anak murid didiknya bisa berkiblat kepada
pihak kerajaan. . . . ."
"Kulihat dia memang seorang Kinjin," kata Thi-hujin.
Sambil mengelus jenggot Yong King-tiong mengangguk, katanya:
"Sejak tadi Losiu sudah curiga akan hal ini."
Sementara itu setelah Ling Kun-gi dan Cui Kinin mengadu pedang
keduanya lantas turun ke atas tanah. Belum lagi Kun-gi berdiri
tegak, Cui Kinin sudah melompat maju lagi menyerang dengan
gencar.
Keruan Kun-gi naik pitam, kaki menjejak tanah kembali ia melejit
ke atas, menyusul dia menukik pula menubruk ke arah lawan.
Karena kedua pedangnya menyerang tempat kosong, Cui Kinin
melanjutkan meluncur lurus ke depan. Dari atas Kun-gi lancarkan
jurus Lui-kong-pit-bok (geledek membelah kayu)
Tiba2 Cui Kinin membalik, kedua pedang tersilang, dengan tepat
dia tahan pedang Kun-gi. Karena sedang terkunci oleh kedua
pedang Cui Kinin hati Kun-gi semakin berang, belum lagi kakinya
menyentuh tanah, segera dia kerahkan Tay-lik-kim-kong-sim-hoat,
tenaga dikerahkan di lengan, pedang di tekan sekeras2nya ke
bawah.
Karena badan Kun-gi masih terapung, sementara tabasan
pedangnya kena dikunci oleh sepasang pedangnya, maka Cui Kinin
dapat meluangkan sebilah pedangnya untuk menyerang sebelum
Kun-gi hinggap di tanah, serangannya pasti akan berhasil, umpama
tidak berhasil membunuh Kun-gi, sedikitnya kedua kaki lawan dapat
ditabas kutung.
Tidak terduga selagi dia me-nimang2 itulah, terasa berat pedang
Kun-gi yang terjepit di antara kedua pedangnya itu bertambah lipat
seolah2 tekanan ribuan kati, hampir saja kedua tangan sendiri tak
mampu memegang pedang, dengan sendirinya tak sempat
meluangkan sebilah pedang untuk menyerang lawan? Wajahnya nan
molek itu kontan berubah pucat hijau lalu merah, keringatpun
membasahi jidat, kedua tangan yang pegang sepasang pedang
yang menyilang itu tampak gemetar, pelan2 tertekan turun seperti
tak tahan lagi. Kalau ia tak kuasa manahan tekanan pedang lawan,
berarti ia sendiri bakal terbelah menjadi dua dan binasa.
Tapi pada detik gawat itulah, mendadak terasa tenaga ribuan kati
yang menindih itu tiba2 sirna, sedikit meminjam tenaga pertahanan
pedang Cui-Kinin, Kun-gi terus melambung ke belakang. Jelas dalam
gebrak ini dia menaruh belas kasihan.
Hampir meledak tangis Cui Kinin saking dongkol, sejak kecil dia
berlatih pedang, Hwi-hong-kiam-hoat juga merajai Bu-lim, dia kira
tiada tandingan lagi di kolong langit ini, tapi kini dirinya kecundang
dua kali oleh Ling Kun-gi. Diam2 dia mengertak gigi, tanpa bersuara
mendadak dia memburu maju, sepasang pedangnya menaburkan
cahaya kemilau menggulung ke arah Ling Kun-gi.
Agaknya Cui Kinin benar2 naik pitam sehingga melancarkan
serangan gencar dan sengit, ingin rasanya membikin beberapa
lubang di tubuh Kun-gi yang dibencinya ini.
Tapi Kun-gi juga kembangkan ilmu pedangnya, Ih-thiankiam
ditangannya dimainkan begitu rupa sehingga sekujur badan seperti
terbungkus cahaya, deru anginpun mendengung keras.
Kembali kedua jago pedang ini berhantam dengan seru, masing2
keluarkan seluruh kemahiran sendiri, sudah tentu adegan kali ini
jauh lebih menegangkan daripada pertempuran terdahulu tadi. Tiga
jalur sinar pedang saling gubat. kadang2 seperti rantai perak yang
menjulang ke atas, tiba2 pula laksana gumpalan mega
mengambang di udara dengan enteng. Yang satu laksana burung
Hong menari2 di udara, yang lain seperti naga mengaduk sungai.
Makin sengit pertempuran makin kejut hati Ling Kun-gi, bila dia
belum masuk ke dasar kolam naga hitam dan berhasil mempelajari
ilmu pedang peninggalan Tiong yang Cinjin, dengan bekal Hwiliong-
sam-kiam saja, terang dia bukan tandingan nona ini. Memang
sembilan jurus ilmu pedang yang dia pelajari dari ukiran dinding itu
belum apal dan mahir betul, maka dalam permainan adu pedang ini
lebih sering dia mengulang permainan Hwi-liong-sam-kiam.
Sementara enam jurus yang lain karena hanya hanya dilandasi
dengan kecerdasan otaknya saja, maka dalam prakteknya masih
agak kaku, tapi toh tetap dia kembangkan sembari diselami.
Memang sekaranglah kesempatan latihan untuk memperdalam ilmu
pedangnya itu, apalagi lawan tandingannya adalah Cui Kinin, nona
jelita yang berkepandaian ilmu pedang yang tinggi, yang dimainkan
juga ilmu pedang kelas tinggi yang aneh dan banyak perubahan dan
variasi, pula sama2 harus dilancarkan dengan cara mengapung di
udara, Hwi-hong-kiam-hoat lawan memang serasi sebagai kawan
latihan yang sempurna.
Lekas sekali seratus jurus telah dicapai, lama kelamaan Kun-gi
menjadi apal dan leluasa memainkan Hwi-liong-kiu-sek. Di tengah
pertempuran sengit itu terdengar suara benturan keras dibarengi
cipratan kembang api yang menyilaukan mata, sekonyong2 cahaya
pedang sama kuncup, dua bayangan orangpun terpental mundur.
Rambut Cui Kinin kusut masai, wajahnya tampak membesi hijau,
sekilas dia melirik ke atas tanah, mendadak dia merangkap kedua
pedang serta dimasukkan ke dalam sarungnya, lalu berseru lirih:
"Hayo pulang!" Tanpa berpaling segera dia melangkah pergi.
Di tanah menggeletak secomot rambut, kiranya hasil tabasan
pedang Ling Kun-gi. Tak heran wajahnya bersungut dan uring2an,
maka cepat2 dia membawa anak buahnya pergi.
"Cui-tongcu," sera Thi hujin dingin, "kau ingin pergi begini saja?"
Cui Kinin sudah memutar badan, tiba2 dia menghentikan
langkah, tanyanya sambil berpaling: 'Apa kehendak kalian?"
Yong King- tiong bergelak tertawa, katanya: "Sebagai Komisaris
umum, adalah tidak pantas kalau Cui-tongcu tinggal pergi begini
saja."
Rasa marah menjalari selebar muka Cui Kinin, alisnya menegak,
katanya sambil tertawa dingin: "Aku ingin pergi boleh segera pergi,
siapa dapat menahanku"
"Sreng", The hujin melolos pedang, jengeknya: "Urusan sudah
selanjut ini, betapapun kau harus kami tawan."
"Bagus sekali! Nah, coba saja kalau mampu," ejek Cui Kinin.
Pada saat itulah, mendadak dari tempat jauh berkumandang
suara serak berkata: "Nona Cui, kau boleh pergi saja."
Thi-hujin dan Ling Kun-gi tampak melenggong, bukankah Putthong
Taysu yang berbicara?
Terunjuk rasa kaget dan heran, tanya Cin Kui-in sambil
mendongak: "Siapa kau?"
"Tak usah tanya siapa aku," sahut suara serak tua itu, "kau
masih punya urusan sendiri, pergilah, jangan terburu nafsu."
Sekilas melirik Thi-hujin, Cui Kinin, lantas turunkan pedang dan
melangkah pergi. Empat gadis baju hijau bersama delapan laki2
berpedang segera merubung maju berbaris dibelakangnya dan
angkat langkah.
Karena yang bersuara adalah guru Ling Kun-gi, yaitu Hoanjiu-jilay
Put-thong Thaysu, sudah tentu tak enak Thi-hujin merintangi Cui
Kinin, maka dia diam saja membiarkan mereka pergi, namun tak
tertahan iapun mendongak dan bertanya: 'Kau ini . . . . .
"Jangan banyak tanya Hujin," sahut suara itu, "kalianpun harus
lekas pergi." Sampai akhir katanya suaranya sudah semakin jauh.
"Kenapa Suhu berulang kali menampilkan diri, memberi
keringanan kepada Cui Kinin?" demikian Kun-gi ber-tanya2
keheranan.
"Pasti Taysu punya maksud tertentu dengan tindakannya ini,"
ujar Thi-hujin.
"Yang bicara barusan, apakah guru Ling-kong-cu?" tanya Yong
King-tiong.
Thi-hujin hanya mengangguk.
Sambil mengelus jenggotnya, tiba2 Yong King-tiong menghela
napas, katanya: "Berapa tinggi kepandaian nona muda ini sungguh
jarang ada tandingannya jaman ini, hari ini kita tak bisa
melenyapkan dia mungkin kelak bisa menimbulkan banyak
kesukaran bagi kita semua."
"'Bahwa Taysu berulang kali memberi muka padanya, tentu ada
alasannya, kalau betul kelak dia akan mendatangkan kesulitan bagi
kita, kukira Taysu takkan melepaskan dia pergi," demikian ucap Thihujin,
lalu dia menengadah melihat cuaca, katanya pula: "Anak Gi,
sebelum ajal bibimu ada pesan bahwa Bok-tan dan So-yok masing2
diberikan gambar peta, sebelum terang tanah seharusnya mereka
sudah kumpul di Hek-liong-tam, tapi sampai sekarang masih belum
kelihatan bayangan mereka, mungkin di tengah jalan mereka
disergap musuh tangguh, bibimu amat kuatir, maka kau disuruh
memberi bantuan."
Ling Kun-gi mengiakan.
"Tadi Han Janto bilang bahwa lorong2 rahasia dalam perut
gunung ini sudah banyak yang di pugar, kalau mereka bekerja
sesuai gambar peta yang diberikan bibimu, tanpa lawan turun
tangan dengan sendirinya mereka akan masuk perangkap dan
menemui ajal, kukira Yong-lopek tahu liku2 jalan rahasia di sini,
pergilah kau bersama Yong-lopek, tolonglah dan kumpulkan dulu
kedua rom-bongan Pek-hoa-pang yang tercerai berai itu,"kata Thihujin
pula.
"Dan ibu?" tanya Kun-gi, "engkau . . . . . . . "
"Ibu masih ada urusan lain, setelah kalian bertemu dengan
mereka dan berhasil menggempur Ceng-liong dan Hwi liong tong,
bawalah Bok-tan dan So-yok ke Gak-koh bio menemui aku.”
Kembali Kun-gi mengiakan.
Berkata Thi-hujin kepada Yong King-tiong: "Yong Congkoan,
mohon pertolonganmu suka membantunya."
Lekas Yong King-tiong menjura, katanya: "Hujin ada urusan
boleh silakan, Losiu akan mem-bantu Ling-kongcu menyelesaikan
urusan di sini."
Tak banyak bicara lagi Thi- hujin terus melejit jauh berlari
kencang bagai terbang.
'Ling-kongcu, tiba saatnya kitapun harus berangkat" ucap Yong
King tiong.
"Dari sini keluar entah mana yang lebih dekat antara Ceng-liongtong
dan Hwi-liong-tong?" kata Kun-gi.
"Sudah tentu Ceng liong-tong lebih dekat, Ceng-liong-tong
adalah seksi dalam, letaknya di sebelah kiri markas pusat, maka kita
harus ke Ceng-liong-tong menolong orang dulu baru nanti
dilanjutkan menuju ke Hwi liong-tong"
"Masih ada sebuah hal, ingin Wanpwe tanya kepada Yonglopek."
"Soal apa ingin Kongcu tanyakan?"
"Ada dua teman wanpwe yang tertawan orang2 Hek-liong-hwe,
mereka dianggap orang Pek-hoa-pang, entah di mana sekarang
mereka disekap?"
"Beberapa hari yang lalu memang pernah kudengar pihak Cengliong-
tong berhasil menawan beberapa orang laki-perempuan,
katanya orang Pek-hoa-pang, setiap tawanan yang digusur ke
gunung ini pasti disekap di markas pusat."
"Kalau begitu, marilah Yong-lopek antar aku pergi menolong
orang saja."
"Kamar tahanan tidak melulu di markas pusat saja, letaknya yang
tepat adalah di perut gunung sebelah belakang Ceng-liong-tong,
jalan menuju ke sana adalah daerah rawan yang juga dilewati
orang2 Pek-hoa pang, di sana pulalah mereka terjebak dalam
perangkap."
Sembari bicara tanpa terasa mereka sudah tiba pula di pinggir
Hek-liong-tam.
"Yong-lopek, kita telah berada di Hek-liong-tam pula," ucap K
urngi.
"Tiga seksi Hek-liong-hwe semuanya didirikan dalam perut
gunung, hanya Hek-liong-tam yang letaknya di bagian luar, tapi di
sini dikelilingi dinding gunung yang mencakar langit, putus
hubungan dengan dunia luar, untuk keluar sudah tentu kita harus
kembali ke sini," sembari mengelus jenggot Yong King-tiong
menambahkan dengan tertawa: "Dan lagi, sekarang sudah hampir
lohor, marilah kita makan dulu, apalagi selain Siau-tho, Lo-siu masih
ada delapan pembantu, sudah sekian tahun mereka melayani Losiu,
setelah keluar dari sini mungkin Losiu takkan kembali lagi,
merekapun harus dibubarkan."
Di bawah petunjuk Yong King-tiong mereka menuju kearah barat,
tak lama kemudian tampak di bawah dinding curam sebelah sana
terdapat sebuah lubang gua yang terhimpun dari tumpukan batu2
padas. Mulut gua amat besar, tingginya ada beberapa tombak,
karena di sini ada pancaran sinar mentari, maka keadaan tidak
begitu gelap, tepat di tengah gua terdapat dua baris meja batu dan
beberapa kursi, dinding di kanan kiri masing2 terdapat sebuah
pintu, Yong King tiong bawa Kun-gi masuk ke dalam gua lalu
berhenti, katanya kepada keempat jago pedang baju hitam: "Kalian
pergilah makan siang, lalu bebenah bekal kalian masing2, kumpul
lagi di sini, nanti ikut Losiu keluar."
Keempat jago pedang itu mengiakan terus mengundurkan diri.
"Marilah Ling-kongcu ikut Losiu," ajak Yong King-tiong. Dia
melangkah ke pintu sebelah kanan.
Kun-gi ikut di belakangnya terus melangkah masuk, sementara
Yong King-tiong mengeluarkan sebuah bumbung obor. "Cres", dia
nyalakan api dan menyulut obor itu. Jelas itulah sebulah lorong,
dinding kedua sisi ditatah rata dan licin, lebarnya hanya tiga kaki,
cukup untuk jalan dua orang berjajar.
Langkah mereka amat cepat, tak lama kemu-dian tibalah di ujung
lorong. Yong King-tiong maju selangkah, ia menekan sesuatu di
dinding, maka terbukalah sebuah pintu. Begitu mereka melangkah
masuk, Siau-tho, pelayan baju hijau itu segera memapak maju,
katanya sambil membungkuk: "Cong-koan sudah kembali."
'Hidangan makan siang sudah kau siapkan belum' tanya Yong-
King-tiong.
"Koki barusan sudah datang dan tanya apakah hidangan siang
perlu diantar sekarang? Karena Congkoan belum pulang, hamba
suruh mereka menunda sebentar."
"Baiklah, sekarang kau suruh koki siapkan pula beberapa macam
hidangan dan arak, masih ada kerja lain yang akan kusuruh kau."
Siau-tho mengiakan terus melangkah keluar.
Yong King-tiong mendekati dinding, dia membuka sebuah pintu
dan beriring melangkah masuk. Ternyata mereka telah berada di
kamar rahasia dimana kemaren malam mereka berbicara.
"Silakan duduk Kongcu," ucap Yong King tiong, ”semalam suntuk
kau tidak tidur, boleh silakan istirahat sebentar."
"Wanpwe tidak merasa letih," sahut Kun-gi. Mereka duduk
berhadapan menyandang meja kecil.
Tanya Yong King-tiong: "Bagaimana pengalaman kau semalam
waktu selulup ke dasar kolamdan masuk ke kamar gua itu?"
"Memang akan kulaporkan kepada paman." ujar Kun-gi. Lalu dia
bercerita ringkas jelas pengalamannya di dasar kolam ibtu.
Yong-king-tiong mendengarkan dengan seksama, setelah Kun-gi
habis bercerita, baru dia manggut2 sambil mengelus jenggot,
katanya: "Syukurlah kalau sudah kau hancurkan, cita2 Losiu selama
ini sudah tercapai. Mengenai tiga gambar semadi itu, kemungkinan
adalah penuntun dasar untuk meyakinkan ilmu pedang dengan jalan
semadi, kalau sembilan jurus terdepan sudah Kongcu latih dengan
mahir, boleh kau lanjutkan dengan ajaran semadi yang terukir di
dinding itu."
"Pendapat paman memang betul."
Tengah bicara pintu kembali terbuka, Siau-tho melangkah masuk
sambil membawa tenong, dia taruh arak dan piring mangkok yang
berisi ber-macam2 hidangan di atas meja, lalu katanya sambil
membungkuk: "Congkoan dan Kongcu silakan makan bersama."
"Di sini tidak perlu pelayananan lagi, kaupun pergi makan,
setelah itu suruh orang di dapur membenahi bekal masing2 dan
kumpul di depan, nanti ikut Losiu pergi."
Siau-tho melenggong, tanyanya: "Congkoan hendak
meninggalkan tempat ini?"
"Jangan banyak tanya, semua orang akan pergi, kaupun lekas
bebenah, dengarkan pesan Losiu selanjutnya."
Dengan terbelalak heran sesaat Siau-tho menatap Yong King
tiong, akhirnya dia menunduk sambil mengiakan dan mengundurkan
diri.
"Marilah Ling-kongcu, tidak usah sungkan, lekas kita makan
seadanya."
Masih banyak urusan yang harus dikerjakan, maka Kun-gi tidak
sungkan2 lagi, segera mereka makan sekenyangnya. Siau-tho
tampak melangkah masuk pula, membawa dua cangkir teh wangi
serta hendak mengangkuti piring mangkok.
"Siau-tho," kata Yong King-t iong setelah meneguk secangkir teh,
"tidak usah diangkuti lagi, pergilah kau bebenah barang2mu saja,
kita akan segera berangkat."
"Kecuali beberapa perangkat pakaian, hamba tidak punya bekal
apa2 lagi," sahut Siau-tho.
"Baiklah mari kita berangkat," ajak Yong King- t iong.
Siau-tho berlari keluar, cepat sekali dia sudah berlari datang pula
dengan menjinjing sebuah buntalan kecil, dipinggang masih
menyoreng sebatang pedang.
Yong King-t iong mendahului berdiri, katanya: "Mari berangkat
Ling-kongcu."
Kun-gi ikut berdiri, bertiga mereka keluar dari kamar rahasia itu,
Yong King-tiong menoleh dengan perasaan berat, katanya lirih:
"Sejak umur likuran tahun Losiu atas perintah perguruan
mendharma-bakt ikan diri di Hek-liong-hwe. Empat puluh tahun
lamanya tinggal di sini, kini harus pergi takkan kembali lagi, hati
merasa amat berat sekali."
Lalu dia mendahului melangkah keluar menuju ke lorong panjang
sana, kembali ke kamar batu di bagian luar gua, keempat jago
pedang bersama lima laki2 dan dua perempuan tua yang biasa kerja
di dapur sudah lama menunggu dengan menyandang buntalan
masing2. Melihat Congkoan datang serempak mereka berdiri.
Yong King-tiong membuka pintu sebelah kiri, dari dalamnya dia
menyeret keluar seonggok uang perak terus dibagikan kepada orang
banyak, setiap orang kebagian dua ratus tahil perak, katanya
kemudian: "Kalian boleh pergi dan carilah nafkah secara halal,
sekedar pesangon ini boleh buat modal dagang atau untuk usaha
lain, selanjutnya jangan singgung soal Hek-liong-hwe." Lalu dia
berpesan pula: "Loh Jongi, kau harus mengawal mereka keluar,
pergilah ke Gak-koh-bio menunggu Losiu di sana."
Salah seorang jago pedang baju hitam mengiakan sambil
menjura. Tiba2 Siau-tho maju menjatuhkan diri berlutut, katanya
sambil menyembah: "Cong-koan yang terhormat, sejak kecil hamba
dibawa kemari, entah di mana ayah bundaku sekarang, tiada
tempat yang kutuju dan tiada sanak kadang yang bisa kupercaya
biarlah hamba mendampingi Cong-koan saja, mohon Congkoan
menaruh belas kasihan, jangan suruh hamba pergi."
Yong King-tiong menjadi kasihan melihat gadis remaja ini
bercucuran air matanya, katanya: "Lohu akan meninggalkan tempat
ini, selanjutnya kalian tak usah pangil Congkoan kepadaku, apalagi
kerajaan tidak akan membiarkan Lohu, mana boleh kau ikut Lohu
menempuh bahaya, akan lebih baik ..."
"Setelah meninggalkan tempat ini, hamba akan pandang engkau
sebagai kakek, tolong engkau menerimaku sebagi cucu saja."
Demikian ratap Siau-tho dengan sesenggukan.
Memang Siau-tho tidak punya sanak kadang, gadis sebatangkara
bagaimana bisa hidup di masyarakat luas yang banyak godaan,
maka Yong King-tiong lantas mengulap tangan kepada Loh Jonggi,
katanya: "Baiklah, kau bawa mereka pergi lebih dulu."
Loh Jonggi mengiakan, ia pimpin orang banyak keluar dari pintu
sebelah kiri.
Bahwa Yong King-tiong menerima permohonannya, keruan Siautho
kegirangan, berulang kali dia menyembah pula baru berdiri ke
pinggir.
"Phoa Sib-bu, Go Nui-cu, Kik Su-hou boleh ikut lohu, di jalan
peduli siapapun kalau tiada pesan lohu, kularang kalian turun
tangan," kata Yong King-tiong pada sisa ketiga jago pedang uang
masih tinggal.
Tiga jago pedang yang masih berdiri di pojok sana mengiakan
bersama.
"Silahkan Ling-kongcu," kata Yong-t iong lebih lanjut, lalu dia
mendahului menunjuk jalan. Kembali mereka berada di lorong2
panjang yang gelap, cuman lorong di sini cukup luas, rata dan
bersih, jelas lorong ini menjurus ke Ceng-liong-tong.
Yong King-tiong di depan, Kun-gi mengikut di belakangnya, Siautho
dan tiga jago pedang baju hitam berada di belakang Kun-gi,
tiada seorangpun yang buka suara, hanya derap langkah mereka
ber-lari kecil saja yang terdengar.
Kira2 setengah li baru lorong ini berakhir, mendadak langkah
Yong King-tiong diperlambat, lalu berhenti di bawah dinding, ia
menekan pada sebuah sasaran di dinding, lalu terdengar suara
gemuruh terbukalah sebuah pintu di tengah dinding.
Yong King-t iong mendahului melangkah masuk dengan kedua
tangan melintang di depan dada, hanya beberapa langkah saja lalu
dia berhenti.
Membiarkan Kun-gi, Siau-tho dan ketiga jago pedang sama
masuk, lalu dia menekan pula ke dinding dua kali, pintu batu pelan2
menutup rapat pula. Mendadak dia ayun telapak tangan terus
menghantam keras2 ke tempat yang ditekannya tadi. Maka
terdengar suara keras bergema, begitu keras getaran yang
terjangkit akibat pukulan itu sehingga debu beterbangan dari atap
lorong.
"Alat rahasia pintu2 lorong yang menembus ke Hek-liong-tam
telah lohu rusak, selanjutnya takkan bisa dibuka lagi," demikian kata
Yong King-tiong dengan nada rawan, lalu dia beranjak mendekati
dinding sebelah kanan, pelan2 menempelkan kuping ke dinding
seperti mendengarkan apa2 sekian lama, selanjutnya dia pindah ke
dinding sebelah kiri, menempelkan kuping pula mendengarkan
dengan seksama.
Melihat tindak-tanduk orang, Kun-gi maklum apa artinya, apalagi
sepanjang perjalanan dan pengalamannya selama di lorong2 gelap
itu menambah pengetahuannya, dia menduga pada dinding di
kanan kiri ini pasti terpasang pintu rahasia.
Setelah mendengarkan sekian lama, mendadak Yong King-tiong
mengetuk kaki dinding sebelah kiri dengan tungkak kakinya, pelan2
tangan kananpun mendorong ke depan. Tempat di mana dia berada
ternyata betul, adalah sebuah pintu rahasia, didorong pelan2 pintu
batu yang tebal berat itupun terbuka.
"Tunggu sebentar Ling-kongcu," ucap Yong King-tiong, "pintu ini
berputar bolak-balik, setelah lohu masuk ke sana baru boleh
mendorongnya pula" Habis bicara dia terus melangkah ke sana,
pintu itupun terbalik dan menutup rapat.
Menuruti pesan orang, Kun-gi mendorong pintu serta melangkah
ke sana, demikian yang lain2 satu persatu meniru orang yang
duluan. Di balik pintu sudah tentu merupakan lorong panjang pula.
Cuma lorong di sini jauh lebih sempit, sama2 gelap gulita pula.
Dengan tangan kiri mengangkat tinggi obor, tangan kanan
melindungi dada, Yong King-tiong berpaling dan berkata lirih:
"Tempat ini sudah masuk daerah Ceng-liong-tong yang terlarang,
banyak dipasang perangkap, keadaan sebenarnya Losiu tidak begitu
jelas, maju lebih lanjut lagi setiap saat menghadapi sergapan.
Kongcu genggam saja Le liong-cu, supaya cahaya mutiara itu tidak
terlihat oleh orang lain, lebih baik kau menghunus pedang juga,
supaya tidak menimbulkan suara."
Melihat orang berpesan dengan nada serius, pelan2 Kun-gi
keluarkan pedang serta menanggalkan mutiara dan di genggam di
tangannya, karena lorong di sini sempit, Ih-thiankiam terlalu
panjang, maka dia memakai pedang pandak.
Sedang Siau-tho dan ketiga jago pedang juga menyiapkan
pedang masing2. Bukan saja gelap gulita, lorong yang sempit dan
panjang inipun terasa sunyi lenggang. Suara pedang terlolos dari
serangka mereka menimbulkan pantulan gema yang cukup keras
juga. Maka terdengar sebuah bentakan keras berkumandang dari
arah depan: "Siapa di sana?"
"Lohu", seru Yong King-tiong, suaranya kereng dan berat,
sehingga menimbulkan pantulan suara yang bergema mendengung.
Maka teguran orang di depan tidak bersuara lagi.
Tanpa memadamkan obor, Yong King-tiong berpaling, katanya:
"Mari ikut aku."
Cepat sekali langkah mereka, kira2 sebidikan panah jauhnya,
mendadak terdengar pula bentakan lebih keras: "Siapa yang
datang? Hayo berhenti!" Tampak selarik sinar api dengan
mengeluarkan deru angin kencang meluncur tiba. "Blup", api itu
jatuh di depan kaki Yong King tiong, seketika meledak dan apipun
berkobar.
Itulah panah buatan khusus, nyala api amat keras dan besar
sehingga jalan lorong selebar tiga kaki terbendung oleh kobaran api.
Belum api padam, dari arah depan muncul seorang berpakaian
hijau, tanyanya: "Siapa kalian?"
Terpaksa Yong King-t iong berhenti, dengusnya: "Memangnya
Tang-heng sudah t idak kenal lagi pada Lohu?"
Si baju hitam melenggong, serunya: "Apakah Yong-congkoan
yang datang?" Di bawah cahaya api, jarak dalam tiga tombak cukup
terang, tapi karena teraling asap tebal sehingga sukar melihat jelas
orang di seberang.
"Betul, inilah Lohu," kata Yong King-tiong.
Mendengar yang datang betul Yong King-tiong, pejabat Hekliong-
tam Congkoan, kedudukannya sejajar dengan para Tongcu
yang mengetuai setiap seksi, sudah tentu orang itu tidak berani
ayal, lekas dia merangkap tangan menjura, katanya: "Ham-ba tidak
tahu akan kedatangan Yong-congkoan, harap dimaafkan kelalaian
ini." Habis kata2nya, kembali terdengar suara "Blub", api yanrg
masih berkobar besar itu seketika padam, asap juga sirna seketika.
Yong King-tiong memuji di dalam hati: "Peralatan senjata api
orang ini memang lihay."
Diam2 iapun heran, batinnya: "Setelah mengundurkan diri dari
Say-cu-kau, Cui Kinin sudah berangkat setengah jam lebih dulu,
seharusnya dia sudah menyampaikan perintah untuk berjaga lebih
ketat, tapi dari nada Tang Kim-seng, agaknya dia belum tahu kalau
aku sudah berontak?" Sembari membatin segera ia melangkah
maju, katanya: "Apakah Tang-heng berdinas di daerah ini?"
"Hamba diperintahkan membantu Nyo-heng di sini."
"Di mana Nyo Ci-ko sekarang"' tanya Yong King t iong.
"Hamba bertugas jaga pintu ini, Nyo-heng ada di dalam."
Dengan kalem Yong King-tiong menghampiri dan berhenti di
depan orang, katanya: "Lohu mendapat perintah kemari untuk
membekuk orang, entah siapa saja yang terperangkap di dalam
sana"
"Jumlahnya tidak banyak, tapi Kungfu mereka rata2 tinggi,
agaknya ada Pangcu Pek-hoa-pang, cuma sekarang kita hanya
berhasil mengurung mereka, belumbisa membekuknya hidup2."
"Baiklah, biar Lohu periksa di dalam," kata Yong King-tiong.
Terunjuk mimik serba salah pada muka Tang Kim-seng, katanya:
"Hamba mendapat kuasa dari Cui-congkam (komisaris besar) untuk
melarang keras, siapapun tidak boleh masuk kecuali membawa
medali emas, Yong-congkoan . . . . ?'
Tanpa menunggu orang bicara habis, Yong King-tiong lantas
menukas: "Cui-tongcu suruh aku kemari membekuk musuh, sudah
tentu memberikan medali kebesarannya? Nah, lihatlah yang jelas
Tang-heng', tangan kanan segera diangsurkan kemuka orang.
Tak pernah terpikir oieh Tang Kim-seng bahwa orang akan
bertindak mendadak, sambil mengiakan segera ia hendak
menerima. Tak terduga tangan yang disodorkan ke depan tahu2
terpegang pergelangan tangannya, kelima jari Yong King-tiong telah
menjepit sekeras tanggam, keruan ia berjingkrak kaget, serunya
bingung: "Yong-congkoan . . . . ""
Yong King-t iong tahu orang ini mahir menggunakan berbagai alat
rahasia yang serba berapi, lihaynya bukan main, begitu berhasil
pegang urat nadi orang, segera dia kerahkan tenaga pada lima
jarinya, katanya sambil tertawa ejek: "Tang-heng tidak usah banyak
bicara, ikuti saja kehendakku." Lalu dia melangkah ke depan.
Karena pergelangan tangan kanan terpegang, badan Tang Kimseng
menjadi lemas, sudah tentu tak mampu meronta lagi, terpaksa
ia ikuti saja kehendak orang, katanya: "Yong-congkoan, lepaskan
peganganmu, hamba akan menunjukkan jalan bagimu."
"Tang Kim-seng," jengek Yok King-tiong, "jangan kau kira Lohu
gampang dipedayai, kau dan Nyo Ci-ko adalah anak buah Cui Kinin
yang diutus kerajaan sebagai cakar alap2 di sini, hayolah ikut i
perintah Lohu, jiwamu masih dapat kuampuni." Sambil bicara
mereka sudah tiba di depan sebuah dinding.
Yong King-tiong bertanya: "Di balik pintu ini apakah ada orang2
Ceng-liong-tong yang jaga?"
"Sebelum terang tanah hamba baru bertugas di sini dan ada
perintah jika ada orang menerjang keluar, siapapun harus dibunuh
tanpa perkara, tentang keadaan di dalam, sungguh hamba tidak
tahu apa2."
"Kau bicara sejujurnya?" Yong King-tiong menegas.
"Setiap patah kuucapkan dengan sejujurnya," sahut Tang Kimseng.
"Baik, Ling-kongcu, tolong kau tutuk Ah-bunhiat dan Hongbwehiatnya,"
pinta Yong King-tiong. Ah-bunhiat bikin orang bisu
sementara, Hong-hwehiat bikin kedua lengan sementara lumpuh tak
bertenaga..
"Congkoan. . . . . . " teriak Tang Kim-seng kaget. Belum selesai
dia bicara beruntun Kun-gi sudah menutuk Hiat-tonya.
Kini Yong King-tiong berani melepaskan pegangan tangannya, ia
menekan sebuah tombol, segera terdengar suara gemuruh dinding,
dan lantai lorong terasa bergetar, pelan2 terbuka sebuah lubang
pintu di dinding.
Dengan penerangan obor Yong King-tiong menuding ke depan,
bentaknya: 'Tang Kim-seng, kau di depan tunjukkan jalannya."
Karena Hiat-to tertutuk, tangan tak mampu bergerak dan mulut
tak dapat bicara, sudah tentu Tang Kim-seng t idak berani
bertingkah, terpaksa dia melangkah masuk ke balik pintu. Maklum
meski beberapa hiat-to tertutuk, tapi ilmu silatnya belum punah
seluruhnya, kedua kaki masih dapat berjalan dengan langkah lebar
dan cepat. Semula dia masih berjalan dengan baik, tapi begitu t iba
di balik pintu, langkahnya segera dipercepat, seperti serigala yang
lepas dari kurungan, secepat anak panah dia melesat sejauh dua
tombak.
Melihat orang mendadak lari, Yong King-tiong hanya mendengus,
baru saja dia angkat tangan hendak menyusul dari kejauhan Tang
Kim-seng yang sudah sejauh dua tombak itu tiba2 berkelebat ke
tempat gelap, tiga bintik seperti kunang2 mendadak meluncur tiba
menerjang Yong King-tiong dengan formasi segi tiga.
Sudah lama Yong King-tiong tahu bahwa senjata rahasia berapi
Tang Kim-seng memang lihay, maka dia suruh Ling Kun-gi menutuk
Hong-hwehiat supaya kedua tangannya tak dapat bergerak,
sungguh tak pernah terpikir bahwa tanpa menggunakan tangan
orangpun dapat menimpukkan senjata rahasia.
Melihat tiga bintik sinar melesat tiba, ia tak berani
menyambutnya, sembari membentak keras, tangan yang sudah
terayun dia tepuk ke depan. Ke tiga bintik sinar dingin seketika
tersampuk pergi dan "Ting, tring, tring." semuanya terpental balik
memukul dinding, menyusul suara itu terdengar pula tiga kali
ledakan lemah, berhamburlah kembang api dan asap tebal yang
menyala di dinding.
Mencelos juga hati Yong King-tiong melihat kehebatan senjata
rahasia berapi Tang Kim-seng, kalau terkena badan orang tentu
akan terbakar mampus. Karena sedikit gangguan ini bayangan Tang
Kim-sengpun sudah lenyap entah ke mana.
Terpaksa Yong King-tiong hanya angkat pundak saja, setelah
orang banyak masuk ke lorong di balik pintu baru dia berpesan
dengan suara lirih: "Setelah kita masuk ke pintu ini, apalagi keparat
she Tang itu sempat lolos, keadaan selanjutnya pasti amat
berbahaya, sembarang waktu mungkin menghadapi sergapan serta
berhantam sengit dengan musuh, maka kalian harus lebih waspada,
lebih baik setiap orang mengambil jarak tertentu, supaya bebas
bergerak."
"Kekuatiran paman memang beralasan," Kun-gi menyokong
pendapatnya.
Dengan mengacungkan obor Yong King-tiong lantas melangkah
ke depan, sebelah tangannya melintang menjaga dada, mata kuping
di jaga seksama memeriksa keadaan sebelah depan. Tak lama
kemu-dian, tiba2 terdengar suara hardikan orang, disusul suara
gerungan tertahan, suara gerungan itu seperti suara seorang yang
tenggorokannya tersumbat sehingga susah bersuara.
"Keparat she Tang itu agaknya mengbadapi musuh," kata Kun-gi.
"Betul," sahut Yong King-t iong mengangguk.
Beberapa langkah pula mereka maju, mendadak terdengar
bentakan keras dari lorong depan sana: "Yang merintangi aku
mampus!" Berbareng sesosok bayangan orang menerjang datang.
Dengan mengangkat tinggi obornya Yong King-tiong memapak
maju mengadang di tengah jalan, bentaknya: "Berhenti!"
Tapi gerak terjangan orang itu amat cepat, baru Yong King-tiong
melangkah setindak mengadang di tengah lorong, orang itupun
sudah menerjang tiba di depannya, kedua pihak jadi saling papak.
Melihat ada orang mengadang jalan, orang itupun membentak
bengis: "Minggir!" Tanpa tanya siapa di depannya, jari tangannya
terus menutuk.
Di bawah penerangan, obor Yong King-tiong melihat jari lawan
berwarna merah menyolok, itulah Hiat-ing-ci (jari bayangan darah).
Sambil tertawa dingin Yong King-tiong menyambut serangan
orang sambil membentak: "Siapa kau, kenapa main serang?" .
Tutukan jari yang merah mengeluarkan desis angin kencang
seketika bentrok dengan pukulan yang mengeluarkran damparan
angtin pula. Mulut qpenerjang itu mrasih terus mengoceh: "Yang
merintangi aku mampus!"" Tapi badannya terpental mundur t iga
langkah oleh benturan angin keras tadi.
Jarak Kun-gi dengan Yong King-t iong ada beberapa kaki, begitu
mendengar bentakan kedua pi-hak, lekas dia memburu maju;
teriaknya: "Kendurkan pukulanmu paman Yong, dia orang Pek-hoapang.”
Begitu berdiri tegak pula orang itu lantas membentak lagi sambil
menerjang maju.
Mendengar oraug ini adalah anggota Pek-hoa-pang, Yong Kingtiong
bersuara tertahan dan menyingir ke samping. Sementara Kungi
sudah melompat maju mengadang di depan orang itu, teri-aknya:
"Liang-heng, lekas berhenti!". Ternyata orang ini adalah Hiat-ing-ci
Liang Ih-jun.
Tampak pakaiannya sudah koyak2, badannya terluka puluhan
goresan pedang, kedua bola matanya merah mendelik, seperti tidak
kenal Ling Kun-gi lagi, mulutnya menghardik: "Yang merintangi aku
mampus!" Jari tengah disurung ke depan, secepat kilat jari yang
berwarna merah itu menutuk ke muka Kun-gi.
Baru sekarang Yong King-tiong kaget, serunya cepat: "Orang ini
sudah kehilangan ingatan, awas Ling-kongcu."
Ling Kun-gi mengegos ke samping, sebat sekali tangannya
menangkap pergelangan tangan Liang ih-jun, berbareng ia berkisar
memutar ke belakang orang, sementara jari tangan kanannya
menutuk ke Ling- tai hiat Liang lh-jun. tiga gerakan dia laksanakan
sekaligus, bukan saja lincah dan gesit juga amat mempesona,
keruan Yong King-tiong bersorak memuji.
Terpentang mulut Liang Ih-jun memuntahkan sekumur darah,
pelan2 badannya menjadi lemas terus mendeprok duduk di tanah,
kedua matanya terangkat dan jelilalan mengawasi Ling Kun-gi
sekian lamanya, mendadak tampak secercah sinar jernih pada sorot
matanya, mulutpun berteriak gi-rang: "Cong-coh . . . . " agaknya dia
hendak meronta bangun.
Lekas Kun-gi menahan pundakmya, katanya: "Liang-heng terlalu
capai, setelah mengalami pertempuran sengit dan lama, kini kau
lekas himpun tenaga dan pusatkan hawa murni, jangan bicara lagi."
Tapi Liang Ih- jun masih memaksa bicara dengan tersendat:
"Pangcu . . . . mereka . . . . terkurung di dalam . . . . alat2 rahasia .
. . disini amat berbahaya."
Kun-gi mengangguk, bujuknya: "Liang-heng tak usah banyak
bicara, keadaan di sini sudah kuketahui."
Liang Ih jun tahu bahwa luka2nya amat parah, kini setelah
bertemu dengan Ling Kun-gi, hatipun merasa lega, maka dia tidak
banyak bicara lagi, ia duduk bersemedi memulihkan kesehatan
badan.
Yong King tiong menoleh kepada kedua jago pedangnya, dan
memberi pesan supaya mereka berjaga disini melindungi Liang Ihjun,
jadi tidak usah ikut maju lebih lanjut. Kedua jago pedang itu
mengiakan.
'Marilah Ling kongcu," ajak Yong King-t iong.
"Paman Yong," ujar Kun-gi, "maju lebih lanjut kemungkinan akan
bersua dengan orang2 Pek-hoa-pang, biarlah wanpwe yang berjalan
di depan supaya tidak terjadi salah paham."
"Begitupun baik," ucap Yong King-tiong sambil mengelus jenggot,
"tadi kalau aku tidak tahu cara memecahkan Hiat-ing-ci, hampir saja
aku jadi korban."
Tanpa banyak bicara Kun-gi lantas berjalan mendahului, tempat
itu kebetulan berada di belokan, beruntun membelok dua kali,
beberapa tombak kemudian terdengarlah suara keresek lirih di
sebelah depan. Padahal dalam lorong gelap gulita, tapi karena Kungi
pegang Leliong-cu, musuh di tempat gelap pihak sendiri di tempat
terang, jadi lebih jelas dan mudah disergap, maka untuk maju lebih
lanjut sudah tentu harus lebih hati2. Mendengar suara keresekan
itu, Kun-gi bertambah waspada lagi, tapi begitu dia pasang kuping
mendengarkan, suara itupun lenyap.
Berkepandaian tinggi nyali Kun-gi pun besar, langkahnya tidak
berhenti, sekejap saja dia sudah tiba di tempat suara keresekan
tadi. Dalam keadaan gelap pancaran sinar Leliong-cu dapat
mencapai tiga tombak, waktu diba pandang ke dedpan, dilihatnyaa
di sebelah depban ada dinding yang mengadang. Di sebelah kiri
mepet dinding ada bayangan seorang berdiri tegak. Orang ini
berpakaian ketat warna hijau, dari kejauhan Kun-gi sudah melihat
dan mengenali bahwa orang itu berseragam Hou-hoat Pek-hoapang.
Maka ia lantas bersuara lantang: "Aku Ling Kun-gi; entah
siapa di depan?"
Sambil berdiri mepet dinding, orang itu tidak hiraukan seruan
Kun-gi, tetap berdiri tak bergeming seperti tidak mendengar dan
melihat.
Waktu bersuara, Kun-gi sudah maju lebih dekat, dalam jarak dua
tombak dia sudah melihat jelas wajah orang itu, dan bukan lain
adalah Yap Kay-sian yang serombongan dengan Pek-hoa-pangcu
Bok-tan, bersama Liang Ih-jun kedua orang ini bertugas melindungi
Pangcu. Tampak mukanya pucat seperti kertas, kedua mata.
terpejam, mepet dinding seperti kehabisan tenaga. Dilihat dari
pakaiannya yang koyak2 disana-sini, sekujur badan berlepotan
darah, paling sedikit ada puluhan luka di badannya, jelas barusan
telah mengalami pertempuran dahsyat, luka2nya amat parah dan
kini tengah menghimpun tenaga dan memulihkan semangat.
Diam2 Kun-gi kaget dan kuatir, dengan bekal kepandaian Liang
Ih-jun dan Yap Kay-sian yang merupakan jago2 kelas utama, tapi
kedua orang itu mengalami luka parah dengan puluhan luka, kalau
tidak kebentur jago ahli pedang, terang mereka baru lolos dari suatu
barisan pedang yang lihay. Maka cepat2 Kun-gi memburu maju dan
berteriak: "Bagaimana lukamu, Yap-heng . . . . "
Mendadak dilihatnya dua gulung sinar terang meleset keluar dari
bawah ketiak Yap Kay-sian, meluncur ke arah dirinya. Waktu
melesat keluar kedua gulung sinar itu hanya sebesar kacang, tapi
setelah mencapai satu tombak bertambah terang dan membesar
nyala apinya juga berubah biru terang.
Pandangan Kun-gi tajam luar biasa, sekilas pandang dia sudah
melihat kedua gulung sinar biru ini ternyata adalah puluhan batang
Bwehoa-ciam warna biru, pada setiap ekor jarum membawa
percikan api yang menyala terang.
Pada detik2 genting itu, Yong King-tiong berseru gugup di
belakang: "Awas Ling-kongcu, itulah Ceng-ling-ciam milik Tang Kimseng,
bila menyentuh benda lantas menyala."
Tapi Kun-gi bergerak lebih cepat dari pada peringatannya, tangan
membalik pedang pandak seketika menaburkan jaring cahaya hijau
di depan badannya.
Dua rumpun Ceng-ling-ciam menyamber datang bagai kilat itu,
begitu menyentuh cahaya hijau laksana bunga salju yang
beterbangan tertimpa sinar matahari, seketika rontok berjatuhan.
Nyala api di ekor jarumpun seketika sirna tak berbekas.
Ternyata setiap rumpun Ceng-ling-ciam Tang Kim-seng ini
berjumlah tiga puluh enam batang dengan kedua tangan menyambit
bersama, dua rumpun berarti berjumlah tujuh puluh dua, jika sebatang
di antaranya mengenai tubuh manusia, api akan segera
berkobar, malah api yang ada pada ekor ja-rum ini sudah dibikin
sedemikian rupa dengan obat beracun, bila sudah nyala, sebelum
habis terbakar api tidak akan padam.
Tapi kali ini tujuh puluh dua batang Ceng-ling-ciam seluruhnya
kena ditabas kutung oleh ketajaman pedang Ling Kun-gi, malah
tepat kena ekor jarumnya, betapapun buas dan besar daya nyala
api beracun ini, sekali tersampuk oleh hawa dingin pedang pusaka
Ling Kun-gi seketika padam sendirinya.
Dalam waktu sedetik itulah Ling Kun-gi sudah melihat jelas
bahwa di belakang Yap Kay-sian ada bersembunyi seorang, jelas
orang yang sembunyi ini adalah Tang Kim- seng. .Agaknya Yap Kaysian
terluka parah, maka dengan mudah dia tertawan oleh Tang
Kim-seng, oleh karena itulah seruannya tadi tidak terjawab.
Mengingat jiwa teman terancam bahaya, mendadak Kun-gi
menghardik sekali, jari tengahnya teracung terus menutuk ke arah
Yap Kay-sian dari kejauhan. Hardikannya itu ditekan keluar dengan
Lwekang, suaranya bagai halilintar menggelegar sampai Tang Kimseng
merasakan kupingnya pekak mendengung, sudah tentu
jantungnya serasa hampir melonjak keluar. Pada saat itulah
didengarnya pula sejalur angin tutukan mendesis kencang dan
"Crat" mengenai dinding batu di belakang telinga kanannya, batu
seketika muncrat beterbangan, terasa belakang kepalanya sakit
pedas.
Ling Kun-gi memang sengaja mengincar tempat yang miring,
kalau tidak jiwa Yap Kay-sian sendiripun bakarl terancam. Tapi
gertakannya ini justeru bikin Tang Kim-seng kaget bukan main, tak
pernah diduganya bahwa pemuda di depannya ini memiliki
kepandaian dan Lwekang setangguh ini.
Walau dalam waktu singkat ini dia berhasil membuka tiga Hiat-to
yang ditutuk Ling Kun-gi tadi, tapi dikala melarikan diri tadi dalam
lorong kesamplok dengan Liang Ih-jun, tanpa sengaja dia dilukai
oleh
Hiat-ing-ci Liang Ih-jun, maka sekarang dia merasa perlu
menggunakan Yap Kay-sian sebagai tameng untuk menyelamatkan
diri, malah dia membokong dengan Ceng-ling-cam yang keji.
Kini mendengar hardikan Ling Kun-gi sekeras halilintar, kepala
menjadi pusing, mata ber-kunang2, ditambah angin tutukan yang
menyakitkan belakang kepalanya, karena sakit dia menjadi nekat
serta ber-teriak: "Rasakan ini!" Tenaga dia sudah kerahkan pada
dua lengan, tahu2 Yap Kay-sian dia angkat terus dilempar ke arah
Ling Kun-gi, berbareng dia lantas mengegos ke samping dan baru
saja kedua tangan bergerak hendak menimpuk ... . .. ."
Melihat Tang Kim-seng betul2 terjebak oleh tipu dayanya, Yap
Kay-sian dilemparnya, sementara lawan lantas mengegos ke pinggir,
keruan hatinya senang, dengan tangan kiri Kun-gi menahan ke
depan menyambut badan Yap-Kay-sian yang melayang datang,
tangan kanan menyusul menepuk sekali, segulung angin pukuian
segera menerjang ke arah Tong Kim-seng.
Kejadian ini berlangsung singkat dan cepat, Tang Kim-seng baru
mengegos ke pinggir dan hendak menggerakkan kedua tangan,
mendadak dirasakan segulung tenaga keras menerjang dirinya, tadi
ia sudah merasakan kelihayan tutukan jari Ling Kun-gi, sudah tentu
menghadapi gelombang pukulan orang dia sekali2 tak berani
manyambutnya dengan keras, tak sempat lagi dia keluarkan senjata
apinya dia berkisar ke sebelah kanan terus menyurut mundur.
Sementara itu tangan kiri Kun-gi sudah ber-hasil menyambut
badan Yap Kay-sian, tapi begitu dia menyambut badan Yap Kaysian,
Kun-gi tertegun, seketika itu pula hawa amarahnya berkobar.
Ternyata badan Yap Kay-sian yang disambutnya itu sudah dingin
kaku, hanya sesosok mayat belaka.
Biarpun Ling Kun-gi tidak berniat menjadi Cong-houhoat Pekhoa-
pang, tapi dia pernah bekerja dan menduduki jabatan itu, Yap
Kay-sian adalah Hou-hoat Pek-hoa-pang, jelek2 anak buahnya.
Bukan saja soal dinas, persahabatan mereka sudah terjalin dengan
baik dan akrab, adalah pantas dan menjadi kewajibannya untuk
menuntut balas kematian Yap Kay-sian.
Sekejap itu mata Ling Kun-gi mendadak mencorong terang,
tangan kiripun dia tarik mundur terus diangkat tinggi lurus ke atas
kepala, lalu pelan2 bergerak menurun lalu didorong ke depam.
Tang Kim-seng yang mengegos tadi berhasil menghindarkan diri
dari pukulan Ling Kun-gi, serentak dia ayun kedua tangan, dari
bawah lengan bajunya tiba2 melesat keluar puluhan jalur sinar
perak.
Itulah tiga belas batang anak panah pendek warna putih perak,
kelihatannya seperti rantai perak, secara beruntun meluncur keluar
dari lengan bajunya, daya luncurnya keras sekali, tapi belum
seberapa jauh luncurannya mendadak berubah lam-ban. Setelah
yang di depan menjadi lamban, yang di belakang menyusul, tiba
juga ikut bergerak lamban. Maka tiga belas batang anak panah
pendek itu kini berjajar menjadi satu baris berhenti di udara, seperti
kebentur oleh sesuatu dan tak mampu maju lagi. .
Rupanya ketiga belas batang anak panah itu terbendung oleh
tenaga pukulan Mo-ni-in yang di-lancarkan Ling Kun-gi, tenaga yang
tidak kelihatan tahu2 menindih tiba bagai gugur gunung dahsyatnya
mendadak ketiga belas anak panah Ginling-cian itu memutar balik
terus meluncur kembali menyerang Tang Kim-seng malah. Kekuatan
atau daya bakar Cinling-cian berpuluh kali lebih besar dari Ceng-ling
ciam, sudah tentu panah perak berapi inipun bisa menimbulkan
daya bakar yang luar biasa.
Melihat Ginling-sian menemui rintangan dan tak mampu melukai
musuh, Tang Kim-seng sudah merasakan gelagat jelek, kini melihat
senjata putar balik hendak makan tuannya, keruan ia semakin
gugup, dia hendak berkelit, namun tidak sempat lagi, dengan
menjerit keras ia roboh ke belakang.
Waktu pukulannya berhasil menghantam mampus Tang Kimseng,
sementara tangan kiri Ling Kun-gi sudah menurunkan jenazah
Yap Kay-sian, sesaat lamanya dia periksa dengan seksama, ternyata
sekujur badan Yap Kay-sian terdapat delapan belas goresan luka
pedang, luka2 tabasan yang paling berat dan menyebabkan
kematiannya terletak pada pinggang kanannya, begitu dalam
tabasan pedang di sini sehingga mencapai lima dim. Dari sini dapat
dibuktikan bahwa Yap Kay-sign sebetulnya tidak mati di tangan
Tang Kim-seng, tapi Tang Kim-seng adalah cakar alap2 kerajaan
dengan senjata rahasia jahat yang berapi, manusia jahat seperti ini
memang pantas menemui ajalnya oleh senjata keji sendiri.
Yong King-tiong maju mendekat, katanya setelah memeriksa
jenasah Yap Kay-sian: "Apakah dia juga orang Pek-hoa-pang?"
Dengan prihatin Kun-gi menjawab: "Dia bernama Yap Kay-sian
ialah seorang Houhoat Pek-hoa-pang, ilmu silatnya cukup tinggi,
tapi hampir pada saat yang sama sekujur badannya terkena tabasan
pedang, menurut luka2nya ini dapatlah diketahui kalau ilmu pedang
lawannya itu sangat cepat, telak dan kuat, kukira masih jauh lebih
unggul di-bandingkan Cap-coat-kiam-tin, paling sedikit ada delapan
belas jago pedang kelas tinggi sekaligus mengeroyok dan
menghujani tubuhnya sehingga tak mungkin dia dapat
menyelamatkan diri, tubuhnya terluka delapan belas goresan
pedang. Yong-lopek, tahukah kau barisan pedang apakah ini, masa
begini lihay?"
Yong King-tiong geleng2 kepala, katanya: "Cui Kinin adalah
Ceng-liong-tongcu, tapi diapun merangkap Komisaris umum Hekliong-
hwe, tiada bedanya sebagai maha ketua Hek-liong-hwe, Losiu
tahu waktu dia datang dari kotaraja hanya membawa seorang Lama
yang mengaku saudara seperguruan dengan dia, dua orang lagi
adalah Nyo Ci-ko dan Tang Kim-seng, kabarnya merekapun anggota
Siwi kelas tiga di istana raja, jabatan dan kedudukan mereka tidak
lebih rendah dari Han Janto, kecuali tiga orang ini, seingatku tiada
orang lain lagi, kecuali itu Ceng-liong-tong hanya ada beberapa jago
pedang dan dayang pribadi Cui Kinin, mengenai jago2 pedang itu
memang memiliki Kungfu yang tidak lemah, tapi tingkat mereka
setingkat dengan jago2 pedang bawahan Losiu, jadi tiada seorang
kosen yang betul2 dapat diagulkan."
Terkerut alis Kun-gi, katanya: "Aneh kalau begitu, dengan bekal
kepandaian silat Yap Kay-sian, jelas tak mungkin dalam waktu
sekejap sekaligus badannya terluka oleh delapan belas serangan
pedang . . . . "
"'Betul", ucap Yong King-t iong manggut2, "Walau Losiu tak
pernah menyaksikan taraf kepandaian orang she Yap ini, tapi kalau
Ling-kongcu bilang kungfunya tinggi, jelas tak perlu diragukan, tapi
dari delapan belas luka2 ini dapat kita nilai, tampaknya dia tidak
mampu lagi membela diri, hanya berdiri diam saja membiarkan
tubuhnya dihujani serangan pedang, kalau tidak tak mungkin
lukanya bisa begini banyak."
Sesaat Ling Kun-gi berdiri melenggong mengawasi dinding yang
mengadang di depan sana, jelas di dinding ini ada pintu rahasia
pula, mengingat Bok-tan, Giok-lan, Bikui (Un Hoankun) dan lain2
mungkin berada di balik pintu ini, kemungkinan merekapun telah
terluka parah. Liang Ih-jun dan Yap Kay-sian yang membekal
kepandaian setinggi itupun terluka parah, apalagi mereka yang telah
terperangkap di dalam sana, jelas setiap saat meng-hadapi mara
bahaya juga.
Terbayang akan Bok-tan dia teringat kepada Un Hoankun pula,
hatinya menjadi gelisah, katanya: "Yong-lopek, di sini ada pintu
rahasia lagi, entah cara bagaimana membukanya, marilah lekas kita
masuk ke sana."
Sekilas Yong King tiong melirik mayat Tang Kim-seng yang
menggeletak di kaki tembok sana, mendadak tergerak pikirannya:
"Tang Kim-seng berlari sampai di sini, kenapa tidak buka pintu terus
lari ke sebelah dalam? Tapi dia sengaja pakai mayat sebagai tameng
dan main membokong? Memangnya di balik pintu ini ada perangkap
yang amat lihay!"
Karena itu, sambil mengelus jenggot dia ber-kata : "Losiu tidak
tahu alat perangkap yang terpasang di balik pintu, tapi mengingat
Tang Kim-seng lari sampai di sini dan tak berani masuk lebih lanjut,
dapatlah ditarik kesimpulan pasti ada jebakan lihay di sana, setelah
Losiu berhasil membuka pintu rahasia ini, jangan Ling-kongcu
berlaku gegabah, lihat dulu keadaan baru masuk."
"Wanpwe sama sekali asing mengenai alat2 perangkap, silakan
paman memberi petunjuk," kata Kun-gi.
Dengan tersenyum Yong King-tiong lantas maju beberapa
langkah, ia mengelus dinding lalu menekannya beberapa kali,
setelah itu tangan kanan melindungi dada, cepat dia menyurut
mundur pula.
Dinding batu mulai bergetar dan pelan2 terbuka sebuah celah
pintu, tapi tak nampak adanya reaksi apa2. Sudah tentu di balik
pintu adalah lorong panjang pula, lebarnya juga hanya tiga kaki,
keadaan di sinipun gelap gulita, lima jari sendiripun tidak kelihatan,
keadaan hening lelap, tak terdengar suara apapun.
Sementara itu Yong King-tiong telah merogoh keluar dua
bumbung besi bundar dari tubuh Tang Kim-seng dan beberapa
puluh batang Gin ling-sian, katanya dengan tertawa : "Ling-kongcu,
coba kau mundur beberapa langkah. biar Losiu mencobanya."
Kun-gi lantas mundur dua langkah. Yong-King-tiong lantas maju
pula, ia pegang sebatang Gin ling-sian terus menimpuknya ke
dalam. Tampak sinar perak berkelebat memecah kegelapan disusul
suara ledakan dari permukaan tanah seketika timbul kobaran api
perak yang menyala cukup besar.
Dalam lorong sempit yang gelap itu. tiba2 timbul cahaya yang
terang benderang dapat mengawasi dengan seksama, panjang
lorong itu kira2 ada delapan tombak lalu membelok ke kiri,
bagaimana keadaan di balik pengkolan sudah tentu sukar diketahui,
tapi jalan lorong ini kelihatan lurus datar, tiada sesuatu yang
mencurigakan.
Setelab ditunggu sekian lamanya tetap tiada reaksi apa2, diam2
Yong King-bong berpikir: "Kalau tidak ada perangkap dalam lorong
ini, kenapa Tang Kim seng tak berani masuk?"
"Marilah paman Yong, kita masuk memeriksanya," ajak Kun-gi. .
Yang King-t iong cukup tabah, cermat dan hati2, katanya
menggeleng: "Losiu kira Tang Kim-seng pasti tahu cara membuka
alat rahasia di sini, tapi dia lebih rela melawan kita secara mati2an
dari pada masuk ke sana, kukira pasti ada sesuatu yang menjadi
sebabnya."
"'Kalau tidak masuk sarangnya, mana dapat penangkap anak
harimau?" demikian kata Kun-gi. "Yang penting kita harus lebih
hati2, paman boleh tunggu saja di sini, biar Wanpwe coba masuk ke
sana."
"Kalau harus masuk marilah bersama supaya bisa saling
membantu," ujar Yong King-tiong.
"Jangan, biar Wanpwe masuk sendiri, bila benar ada perangkap,
segera Wanpwe akan mundur, kalau banyak orang yang masuk,
padahal lorong sesempit itu, kalau mengalami kesulitan tentu sukar
bergerak, bukankah semuanya akan terperangkap malah?"
Yong King-tiong mengangguk, katanya: "Jika demikian keinginan
Ling-kongcu, Losiu tidak akan memaksa, cuma jangan kau masuk
terlalu jauh, bila menghadapi bahaya harus lekas mundur, nanti kita
rundingkan pula cara mengatasinya."
"Wanpwe mengerti." ujar Kun-gi. Sambil menenteng pedang dan
tangan lain memegang Leliong-cu Kun-gi melangkah masuk ke
dalam lorong. Dengan mendelong Yong King-tiong hanya bisa
mengawasi punggung Ling Kun-gi.
Lorong inipun amat gelap tapi ada cahaya mutiara di tangan Ling
Kun-gi, maka dia dapat maju pelan2, setiap langkahnya amat hati2
dan diperhitungkan, keadaan terasa tenang dan aman, Yong Kingtiong
yang berada di luar pintu semakin terbelalak bingung, kalau
betul lorong itu tiada perangkap kenapa Tang Kim-seng tidak berani
masuk ke sana? Memangnya dia tidak tahu cara membuka pintu ini?
Dalam pada itu Kun-gi sudah berjalan setombak lebih dan hampir
mencapai dua tombak jauhnya, keadaan tetap tenang dan aman,
tapi dikala langkahnya tepat mencapai jarak dua tombah dari pintu,
tanpa bersuara pintu lorong mendadak bergerak menutup. Berdiri di
depan pintu perhatian Yong King-tiong tertuju kepada Ling Kun-gi,
tak pernah terpikir bahwa daun pintu akan menutup secara
mendadak, waktu dia sadar dengan kaget, namun tak keburu lagi
berbuat sesuatu apa, dalam hati dia mengeluh: "Celaka!" Cepat dia
ulur tangan ke tombol untuk membuka pintu lagi.
Waktu pertama kali dia menekan tomboi ini pintu segera terbuka,
tapi sekarang meski dia ketuk2 sekerasnya tombol itu, daun pintu
tetap tertutup rapat.
Sudab empat puluh tahun Yong King-tiong hidup di lorong2 gua
dalam perut gunung ini, sedikit banyak dia sudah cukup apal akan
segala peralatan rahasia yang terpasang di sini, biasanya iapun suka
memperhatikan, dan mempelajarinya dengan iseng, maka boleh
dikatakan sekarang cukup ahli, juga tentang peralatan rahasia di
sini. Malah dari hasil penelitiannya itu dia sendiri telah menciptakan
ruang rahasia di kamar pribadinya dengan daun pintu yang amat
berat itu.
Beruntun dengan menggunakan beberapa cara ia berusaha
membuka daun pintu, tapi tetap gagal, baru sekarang dia sadar
bahwa peralatan rahasia di sini agaknya berbeda daripada peralatan
di tempat lain, pasti di balik daun pintu ini dipasang peralatan
istimewa untuk mengendalikan daun pintu ini. Apa yang dinamakan
peralatan khusus tentunya jauh lebih berbahaya.
Kini Ling Kun-gi terperangkap di dalam, tak heran Tang Kim-seng
lebih suka tinggal di luar sini daripada masuk ke sana. Semakin
dipikir semakin gelisah, tanpa terasa keringat membasahi badan
Yong King-tiong. Tiba2 dia mundur dua langkah, obor dia serahkan
kepada Siau-tho, pelan2 dia menarik napas. dua tangan terangkat di
depan dada Jubah hijau yang longgar tiba2 melembung, bola
matanya mendelik, tiba2 dia menghembuskan napas keras2 dari
mulut, berbareng tenaga terkerahkan pada kedua tangannya terus
menggempur ke daun pintu batu.
"Blang" pukulan menimbulkan getaran yang keras, lorong sempit
itu seketika diliputi hawa yang bergolak. Begitu keras pukulan dan
akibat yang timbul sehingga Yong King-t iong sendiri tertolak mundur
selangkah. Obor padam seketika sehingga lorong menjadi gelap
gulita.
Tanpa diminta lekas Siau-tho menyulut obor pula. Yong Kingtiong
maju memeriksa, pintu yang terkena pukulan dahsyatnya
masih utuh tak kurang suatu apapun. Sudah tentu dia tidak tinggal
diam, beruntun dia memukul lagi lebih keras, tapi hasilnya nihil,
daun pintu tidak bergeming sedikitpun malah hawa bergolak
semakin keras, lorong sempit ini terasa berguncang hebat.
Tiga pukulan Yong King tiong telah dilancarkan dengan seluruh
kekuatannya, akhirnya dia menjadi lemas sendirinya, tiga pukulan
tadi boleh dikatakan telah memeras seluruh kekuatannya, maka
keadaannya sekarang menjadi loyo, wajahaya kelihatan letih.
Siau-tho maju sambil angkat obor, katanya lirih: "Yongcongkoan,
istirahatlah sebentar."
Yong King-tiong menghela napas, katanya: "Lohu sudah
menduga pasti di sini ada perangkap yang luar biasa. Ai, kalau Lingkongcu
sampai mengalami musibah, bagaimana Lohu harus
memberi tanggung jawab kepada Thi-hujin?"
Siau-tho menggigit bibir, katanya setelah ber-pikir: "Menurut
pendapat hamba, Ling-kongcu memiliki kepandaian tinggi,
membawa senjata pusaka lagi, orang baik tentu dikaruniai umur
panjang, semoga Thian selalu memberkatinya."
"Ya, semoga seperti apa yang kau doakan," Yong King-tiong
menghela napas pula.
-oo0dw0oo-
Sekarang marilah, kita ikuti pengalaman Ling Kun gi di dalam
lorong, cahaya mutiara di tangannya dapat mencapai sejauh tiga
tombak, tapi dalam jarak sepuluh tombak, bila ada musuh sembunyi
pasti dapat diketahui juga oleh ketajaman telinganya, setelah
menyusuri hampir dua tombak dia yakin kalau dalam lorong ini tiada
orang bersembunyi, maka hatinya semakin tabah, karena dia tahu
setiap peralatan rahasia menjelang alat itu bergerak pasti akan
menimbulkan suara, meski itu hanya suara gesekan lirih sekali pasti
tidak akan lepas dari pengamatan mata kupingnya, sedikit
peringatan ini sudah cukup baginya untuk secepatnya bersiap
menjaga kemungkinan, tapi sejauh hampir dua tombak ini, keadaan
tetap tenang dan aman, Kun-gi menjadi geli akan ketegangan
sendiri.
Lorong gua di perut gunung dengan segala peralatannya ini
adalah hasil ciptaan Sinswi-cu, pada setiap petak lorong pasti di
pasang sebuah pintu, maksudnya supaya orang luar tidak leluasa
keluar masuk menerjang ke dalam Hek-liong-hwe, pada daun pintu
di sini masing2 juga menggunakan cara yang berbeda untuk
membukanya.
Sejak masuk dari Ui-liong-tong sampai di sini, entah berapa
lorong dan betapa jauh yang telah di tempuh Ling Kun-gi, berapa
pintu pula yang berhasil dia dobrak, kecuali sering disergap oleh
mu-suh, kapan dia pernah menghadapi alat perangkap yang
berbahaya? Karena yakin di depan tiada musuh bersembunyi dan
percaya tiada perangkap apa2 di sini, maka Kun-gi mempercepat
langkahnya, tapi waktu dia mencapai dua tombak dari dalam pintu,
mendadak didengarnya daun pintu di belakang tertutup, seketika
Kun-gi tersentak kaget.
Maklumlah bagi seorang persilatan yang berkepandaian tinggi,
bila bertindak soal pertama yang dia pikirkan adalah jalan mundur.
Bila dia baru mencapai satu tombak lantas tahu daun pintu akan
menutup, mungkin dengan kecepatan gerakannya dia masih sempat
melompat keluar, tapi kini dia sudah dua tombak jauhnya, umpama
segera tahu juga ti-dak mungkin mundur lagi. Kejadian bagai
percikan api belaka, baru saja Kun-gi mencelos kaget, kupingnya
lantas mendengar suara keretekan dari balik dinding di kanan
kirinya.
Kejadian teramat cepat, belum lagi suara keretekan itu lenyap
mendadak dilihatnya sinar dingin berkelebat, dari dinding sebelah
kiri mendadak menusuk keluar pedang yang tak terhitung
jumlahnya, dinding batu di sini tinggi tiga tombak panjang delapan
tombak itu hampir semuanya merupakan dinding pedang, jumlah
pedang yang menusuk keluar dari dinding sedikitnya ada tiga
ratusan batang. Padahal lebar lorong hanya tiga kaki, sedang
panjang pedang juga hampir tiga kaki.
Syukur Ling Kun-gi sudah berlaku hati2 dan waspada, begitu
mendengar suara dari balik dinding, betapa cekatan dia bergerak,
belum lagi pedang menusuk badannya, Seng-ka-kiam di tangan
kanannya sudah bekerja, terdengar suara benturan keras disusul
suara gemerantang, pedang panjang yang menusuk keluar, seluas
lima kaki di sekitarnya kena ditabas kutung berhamburan. Tapi
kejap lain, dari dinding sebelah kanan, kembali muncul sinar dingin,
entah berapa banyak pedang menusuk keluar pula.
Tanpa pikir kembali Kun-gi kerjakan Seng-ka-kiam, di mana
pedangnya terobat-abit kemba-li suara gemerentang memekak
telinga, seluas lima kaki di sekitarnya pedang yang sedang menusuk
dari dinding kembali disapunya kutung.
Kini Kun-gi aman di lingkaran seluas lima kaki itu. Hanya di
tempat inilah yang paling aman sepanjang lorong ini, meski
kutungan pedang yang menempel dinding masih mulur, tapi sudah
tak bisa melukainya lagi.
Kini Kun-gi bisa memperhatikan dengan seksama, pedang yang
menusuk keluar dari kanan-kiri ternyata bergiliran, itu berarti
siapapun yang masuk lorong ini pasti akan binasa.
Soalnya bila merasa diserang oleh pedang yang menusuk keluar
dari dinding kiri, dengan sendirinya akan berkelit dan mepet dinding
kanan, lorong lebar tiga kaki, panjang pedang ada dua kaki tujuh
dim, di samping berkelit kaupun harus mengempiskan dada dan
perut, tapi pada saat itu pula, dari dinding kanan di belakang
punggung juga, menusuk keluar pedang yang tak terhitung
banyaknya. Secara bergiliran maju mundur begini, mustahil kalau
sekujur badanmu tidak tertusuk.
Setelah melihat keadaan ini baru Ling Kun-gi paham kenapa
sekujur badan Yap Kay- sian sampai terluka sebanyak delapan belas
jalur pedang. Tapi nyatanya dengan luka2 sebanyak itu dia berhasil
menerjang keluar dari lorong ini, sungguh sukarnya tak dapat
dibayangkan, sebab selain harus memiliki kepandaian tinggi, juga
kecerdikan tidak kurang pentingnya, di samping itu harus memiliki
Ginkang yang luar biasa pula.
Mengingat Yap Kay-sian, dengan sendirinya dia teringat kepada
Bok-tan dan rombongannya, entah berapa orang sudah menjadi
korban oleh barisan pedang ini. Serasa denyut jantungnya
bertambah kencang, perasaan seperti tertekan. Hal ini malah
menambah tekadnya untuk menerjang masuk lebih lanjut.. Pedang
di sinipun harus dilenyapkan seluruhnya lebih dulu.
Seng-ka-kiam segera dia pindah ke tangan kiri, tangan kanan
mengeluarkan Ih-thiankiam, dengan kedua tangan sekaligus
memainkan kedua pedang pusaka segera dia menerjang masuk
lebih dalam.
Tampak dua larik cahaya terang menari turun naik, di mana sinar
pedang menyamber, pedang2 selebar itu seketika sama rontok
berhamburan. Ling Kun-gi terus menerjang maju, tiba di belokan
lorong, dilihatnya di atas tanah menggeletak sesosok mayat yang
berlepotan darah.
Di bawah pancaran cahaya mutiara tampak jelas bahwa orang
yang menggeletak ini adalah Coh-houhoat Kiu-ci-boankoan Leng
Tio-cong adanya. Punggungnya terluka sembilan tusukan pedang,
dadanya juga tergores beberapa jalur, tapi tusukan dipunggung itu
lebih parah sehingga menamatkan jiwanya. Sebetulnya ilmu silat
orang ini lebih tinggi, tapi selama hidup dia tidak pernah pakai
senjata, maka kali ini menjadi korban secara percuma.
Mungkin dikala mengalami serangan pedang dari dinding kiri,
dengan tangan kosong terang tak berani melawan senjata tajam.
Jalan satu2nya ialah berkelit dan mepet ke dinding kanan, tak
terduga pedang lantas menusuk keluar juga dari dinding ka-nan
sehingga luka dipunggungnya tampak lebih telak daripada luka2 di
dadanya.
Diam2 Kun-gi menghela napas, dalam hati dia berdoa : "Lengheng,
istirahatlah dengan tenang!" Kun-gi menerjang maju lebih
lanjut, lorong di situ agak serong dan membelok, kira2 delapan
tombak lagi baru sampai di ujung lorong, kembali dia dihadang
sebuah dinding.
Waktu dia berpaling, kutungan pedang berserakan memenuhi
lorong, syukur dia selalu membekal kedua batang pedang pusaka
ini, kalau t idak jangan harap dia bisa menembus hutan pedang di
sini. Dikala dia berpikir itulah, suara keresekan di balik dindingpun
berhenti. Sisa kutungan pedang yang masih menempel dinding dan
masih bergerak maju mundur itupun kini sudah hilang ke dalam
dinding dan tak berbekas lagi. Keadaan kembali tenang seperti
sediakala.
Pada saat itulah mendadak didengarnya seruan Yong King-tiong:
"Ling-kongcu .... . " suaranya keras dilandasi kekuatan dalam yang
hebat, gema suaranya mendengung di dalam lorong, nadanya
kedengaran gugup dan kuattir.
"Aaaahhh!" sebuah teriakan girang tiba2 berkumandang dari
pengkolan sana. Bayangan Yong King-tiong yang tinggi segera
muncul, sebat sekali dia sudah melejit tiba di samping Kun-gi,
katanya penuh perhatian: "Ling-kongcu, kau t idak apa2.”
Terharu juga Kun-gi atas perhatian orang, lekas dia memapak
maju, katanya: "Yong-lopek, beruntung Wanpwe membekal kedua
pedang ini, perangkap pedang di sini kuhancurkan seluruhnya."
Dengan seksama Yong King-tiong awasi badan Ling Kun-gi,
memang seujung rambutpun t idak kurang suatu apa, maka dengan
mengelus jenggot dia berkata tersenyum: "Untung yang masuk
kemari adalah Ling-kongcu, kalau Losiu, tentu sejak tadi sudah
menggeletak tak bernyawa" La-lu dia bertanya: "Jenazah di
pengkolan itu apakah juga orang Pek-hoa-pang?"
"Dia itujah Kiu-ci-boankoan LengTio-cong, Coh-houhoat Pek-hoapang,
orang ini dari Eng-jiau-bun, kepandaian yang diyakinkan
mengutamakan kekerasan jari tangan, selamanya dia tidak pernah
pakai alat senjata, maka di sini dia mengalami nasibnya yang sial."
"Betul, hutan pedang di sini begini lebat, alat perangkap bergerak
cara hidup, bagi orang yang tidak bersenjata sudah tentu akan
menderita rugi besar," demikian ujar Yong King-tiong.
Tengah bicara, tampak Siau-tho dan seorang jago pedang baju
hitam sudah menyusul tiba.
"Yong-lopek, di sini ada pintu rahasia lagi, tolong paman
membukanya," pinta Kun-gi.
Cepat sekali Yong King-tiong berhasil mem-buka pintu di dinding,
Kembali mereka memasuki sebuah lorong pula. Dengan memegang
mut iara dan menenteng pedang Kun-gi jalan ke depan, katanya:
"Yong- lopek, biar Wanpwe memeriksanya dulu."
"Biarlah kita masuk bersama," ucap Yong King-tiong, "selanjutnya
takkan ada hutan pedang atau perangkap lain lagi, karena pintu2 di
sini rada2 sukar dibuka dari luar, orang yang di dalam bila
mendekati segera pintu terbuka sendiri, dari sini dapatlah diduga
bahwa orang2 Pek-hoa-pang pasti terkurung di sini."
"Baiklah, biar Wanpwe membuka jalan," lalu Kun-gi beranjak
lebih dulu.
Sambil menenteng pedang Yong King-tiong ikut masuk, di
belakangnya adalah Siau-tho dan jago pedang baju hitam yang
terakhir. Ternyata keadaan lorong ini tenang dan aman, kali ini Kungi
lebih hati2. Setelah empat tombak jauhnya tetap tiada kejadian
apa2, maka dia percepat langkahnya.
Panjang jalan ini entah berapa li, kira2 semasakan air telah
mereka tempuh, tapi bayangan orang Pek-hoa-pang tetap tidak
kelihatan, padahal lorong ini sudah berakhir dan diadang sebuah
kamar batu, sebuah kamar yang luas dan lebar berbentuk segi
enam, di tengah kamar tertaruh sebuah meja bundar warna hijau
dikelilingi enamkursi batu, kecuali ini tiada benda lainnya. Keadaan
di sinipun gelap gulita sehingga sukar diketahui keadaan
sekelilingnya.
Yong King-tiong berhenti di luar pintu. tanpa terasa ia bersuara
heran.
Kun-gi berpaling, tanyanya: "Paman Yong, adakah kau melihat
gejala yang tidak beres di sini?"
"Tiga puluh tahun Losiu menjabat Congkoan Hek-liong-hwe tak
pernah kuketahui adanya tempat ini."
"Paman Yong, bukankah Han Janto tadi bilang mereka telah ubah
lorong gua serta membangunnya lebih rumit, kalau orang2 Pek-hoapang,
bergerak menurut peta lama itu berarti masuk perangkap
sendiri, mungkin di sinilah tempat yang di maksud itu"
"Losiu hanya tahu bahwa di belakang Ceng-liong-tong ditambah
bangunan rahasia, tempat untuk menyekap orang, tapi tak tahu
kalau di sini ada tempat seluas ini, dinding segi enam ini entah
mengapa t idak berpintu, lalu ke mana kita harus pergi?"
Kamar yang luas ini terasa sunyi senyap, tapi di dalam sana
lapat2 terasa adanya hawa yang mencekam, dia mengerut kening,
katanya pula kepada Kun-gi: "Ling-kongcu tunggu saja di sini,
jangan sembarang bergerak, Losiu akan memeriksa ke dalam."
Segera dia kerahkan tenaga dalam, dengan hati2 dia melangkah
masuk pelan2.
Kamar ini memang kosong melompong, kecuali meja kursi tiada
benda lain, tapi Yong King-t iong bertindak amat hati2, dengan
cermat dia periksa meja kursi, lalu berjalan mengelilingi dinding
sepanjang ruangan.
Terutama pada setiap sudut segi enam itu dia berdiri cukup lama,
matanyapun menatap ke dalam dengan tajam serta mendengarkan
dengan seksama tapi agaknya tetap tidak memperoleh sesuatu yang
diharapkan.
Setelah berdiri menunggu sekian lama, Ling Kun-gi jadi hilang
sabar, baru saja ia hendak menyusul maju mendadak didengarnya
gema suara benturan senjata tajam yang sayup2. Betapa tajam
pendengaran Ling Kun-gi, tiba2 sorot matanya berpaling ke arah
sudut ketiga di sebelah kanan,
Lwekang Yong King- tiong juga cukup tinggi, iapun mendengar
gema suara benturan senjata dari arah yang sama, yaitu dari sudut
ketiga, maka iapun membalik ke arah sini.
Di antara anggota rombongan yang dipimpin Bok-tan, Cohhouhoat
Leng Tio-cong dan Yap Kay-sian sudah mati, sementara
Liang ih-jun luka parah, yang ketinggalan adalah Bok-tan, Giok-lan,
Bikui ( Un Hoankun) dan Ci-hwi serta Binggwat Suthay dari Ciok-sin
bio yang belum kelihatan muncul.
Suara benturan senjata itu kemungkinan adalah perjuangan para
nona yang kesamplok musuh tangguh dan tengah bertempur sengit,
keruan Lingkun-gi jadi kuatir. Maka tanpa ayal segera dia melayang
ke dalam kamar serta berkata lirih: "Yong-lopek harap tunggu di
sini, biar Wanpwe masuk menengok ke dalam, mungkin orang Pekhoa-
pang sedang melabrak musuh tangguh di dalam sana" Tanpa
menunggu reaksi Yong King- tiong langsung dia berkelebat masuk
ke sudut ketiga.
Melihat betapa rasa kuatir Ling Kun-gi, Yong King-tiong jadi tak
enak merintangi, bahwasanya memang dia tak sempat
mencegahnya karena gerakan Kun-gi terlampau cepat, terpaksa dia
berpesan dari belakang: "Ling-kongcu harus hati2, Losiu rasa
keenam sudut pintu di sini pasti tidak beres."
Kun-gi sudah melayang beberapa tombak jauhnya, sahutnya
sambil berpaling: "Wanpwe mengerti."
Lorong di belakang sudut pintu ketiga ini juga selebar tiga kaki,
dengan membawa Leliong-cu, mata dan kuping dipasang tajam2,
Kun-gi maju terus ke arah datangnya suara.
Langkahnya cepat sekali, sebentar saja dia sudah mencapai
puluhan tombak, di depan mendadak muncul sebuah lorong sempit
yang melintang. Di tempat persimpangan ini sulit membedakan arah
datangnya suara benturan senjata, sebetulnya gema suara itu lebih
jelas, kadang2 keras tiba2 lirih dan lenyap, dapatlah dibedakan
bahwa dua orang yang lagi berhantam itu tidak setanding, atau
mungkin seorang melarikan diri dan yang lain mengejar, kini jarak
mereka sudah semakin dekat kearah dirinya.
Setiba dipersimpangan jalan terpaksa Kun-gi harus berhenti dan
menunggu, dengan penuh perhatian dia bedakan arah datangnya
suara, tak nyana waktu dia berhenti dan mendengarkan, itulah
suara benturan itu mendadak lenyap. Sesaat kemudian baru
berkumandang lagi, kini jelas datang dari arah sebelah kiri, cuma
suaranya kedengaran amat jauh.
Kun-gi t idak ayal lagi, lekas dia membelok ke kiri terus menyusul
ke sana dengan kencang. Tak terduga baru empat tombak dia
berlari, mendadak di kejauhan sana didengarnya suara hardikan
nyaring. Suara hardikan nyaring ini serasa sudah amat dikenalnya,
cuma sukar dibedakan suara siapa? Keruan dia melenggong,
kembali dia menahan lang-kah dan pasang kuping mendengarkan
pula.
Tapi suara hardikan itu hanya sekali saja, lalu tak terdengar lagi.
Dari kecermatan cara Kun-gi membedakan suara, dia yakin kalau
suara, hardikan itu datang dari belakangnya malah, jadi berlawanan
dengan suara benturan senjata tadi.
Sedikit merandek ini suara benturan senjata tadipun sudah
lenyap, malah dia memperhitungkan suara hardikan, itu tidak terlalu
jauh dari tempatnya berdiri. Otaknya bekerja seeepat kilat, segera
dia putar balik terus menerjang ke persimpangan jalan, kali ini
membelok ke arah kanan.
Kali ini hanya berlari kira2 enam tombak lantas dilihatnya sesosok
bayangan langsing berkelebat keluar dari tikungan sebelah depan
dan berlari mendatangi. Jadi kedua orang berlari saling papak.
Tangkas sekali gerak-kberik bayangan langsing itu, begitu ada
orang datang dari arah depan, tanpa tanya siapa dia dan tak peduli
apa akibatnya, sekali menghardik kontan dia ayun tangan serta
menepuk ke depan. Tepukan telapak tangan ini ternyata dibarengi
dengan taburan gumpalan asap putih yang menerjang ke muka
orang.
Syukur Kun-gi sudah menahan langkah dan berdiri menunggu,
teriaknya: "Adik Hoan, inilah aku!" Gumpalan putih itu bertaburan di
muka Ling Kun-gi dan "plak", tepukan tangan orang telak mengenai
pundaknya.
Sekilas bayangan langsing itu tampak tertegun, habis itu
mendadak berjingkrak dan menjerit girang, teriaknya: "Toako, kau .
. . . " sambil berteriak segera ia menubruk maju dan menjatuhkan
diri dalam pelukan Kun gi, dengan kencang ia merangkul Kun-gi,
kepalanya menempel di pinggir kupingnya, bisiknya lirih penuh rasa
haru dan riang serta lega: "Toako, hampir saja aku tak bisa ketemu
lagi dengan kau." Ternyata dia bukan lain adalah Un Hoan kun yang
menyamar Jadi Bikui.
Tampak oleh Kun-gi pakaian Un Hoankun robek dua tempat,
keduanya tergores pedang hingga kulit badannya terluka, rambut
awut2an, keadaannya kelihatan amat letih dan kehabisan tenaga,
timbul rasa iba dan sayangnya, katanya sambil mengelus rambut
orang: "Adik Hoan, kau terluka?"
"Untunglah hanya lecet kulit saja," sahut Hoankun. "Eh, Toako,
kapan kau masuk kemari? Kenapa hanya kau saja?"
"Panjang ceritanya, aku mencari kalian, kalau t idak mendengar
suara hardikanmu, mungkin belumbisa kutemukan kau?"
Kepala Un Hoakun bersandar dipundak Ling Kun-gi, katanya:
"Lorong2 sempit di sini simpang siur, seperti berada di sarang
labah2 yang menyesatkan, sukar menemukan jalan keluarnya, lama
kelamaan rombongan kami lantas terpencar satu persatu, apalagi
musuh selalu menyergap dan membokong, kepandaian silat dan
ilmu pedang merekapun teramat tinggi, kalau aku tidak membekal
obat bius, mungkin aku sudah terluka parah." Setelah merandek dan
menghela napas, dia menambahkan pula dengan tertawa: "Tadi
dengan obrt biusku juga sudah kubunuh dua orang,"
"Sejak kapan kalian terpencar?" tanya Kun-gi.
"Entah sejak kapan, yang terang sudah cukup lama, semula Cihwi
masih berada di sampingku, kemudian terdengar suara
benturan senjata lawan segera aku memburu ke sana, tak tahunya
setiba di tikungan musuh lantas menyergap, setelah aku berhasil
membereskan orang itu, bayangan Ci-hwipun telah lenyap."
"Jadi kau hanya selalu, berada di lorong sempit ini.”
Suara Un Hoankun seperti minta belas kasihan: "Ya, obor yang
kubawa sudah terbakar ha-bis, seorang diri aku jadi menggeremet
di tempat gelap, semakin gugup semakin bingung dan semakin sulit
menemukan jalan keluarnya . . . . "
Kun-gi tertawa, katanya: "Kau sudah tahu takut sekarang?"
Mengencang pelukan Un Hoankun, katanya sambil
membenamkan kepalanya ke dada Ling Kun-gi: "Memangnya kau
saja yang tidak takut?"
Terasa oleh Kun-gi waktu orang bicara bau badan si nona nan
harum membuat hatinya rada terguncang, terutama badan orang
yang padat berisi menempel kencang di dadanya, jantung mereka
yang berdetak seakan saling bertautan menjadi satu, seketika badan
terasa hangat. Pelan2 dia angkat muka si nona, katanya lembut:
"Sekarang kau tak usah takut." Empat mata beradu pandang,
tampak bulu mata Un Hoankun yang panjang melengkung, bola
matanya nan bening dan jeli, bibirnya merah seperti delima
merekah. Muka mereka memangnya amat dekat, kini semakin
mendekat . . . ."
Badan Un Hoankun seperti mengejang, mulutnyapun mengeluh
lirih. Sayang pada detik2 romantis itu dari tempat yang gelap sana
mendadak kelarik sinar pedang berkelebat, cahaya dingin laksana
kilat menusuk ke arah mereka.
Gerak orang ini sangat cepat, kedatangannya tidak menimbulkan
suara, tahu2 serangan pedangnya sudah menyambar tiba dengan
perbawa yang mengejutkan.
Kun-gi terkejut sadar, lekas, dia miring kekanan sambil menarik
badan Un Hoankun, tiga jari tangan kiri dengan cepat menjepit
ujung pedang lawan, berbareng kaki kanan melayang ke dada
orang.
Karena tangan menjepit ujung pedang lawan, telapak tangannya
ikut membalik, cahaya mutiara yang semula teraling kini mendadak
terpancar dan menjadikan lorong sempit itu terang.
Tampak orang yang menyergap secara licik ini adalah laki2
berbaju hijau, usianya empat puluhan, dari serangan pedangnya
yang lihay serta kedatangannya yang tidak membawa suara, terang
dia jago kosen dari Ceng-liong-tong yang berkepandaian t inggi.
Sebetulnya si baju hijau ini tadi hanya melihat segumpal
bayangan orang di lorong sempit ini, maka diam2 dia menggeremet
maju terus menusukkan pedangnya, sungguh tak nyana bahwa
yang diserangnya ini adalah sepasang muda-mudi yang sedang
memadu cinta di tempat gelap ini. Terutama pemuda jubah longgar
ini hanya sekali angkat tangan dan ujung pedang lantas terjepit,
keruan ia kaget, lekas dia miring badan sambil mundur setengah
tindak, berbareng tangan kiri menepuk tendangan kaki Kun-gi,
sedang tangan kanan menggentak keras, pergelangan tangan
berputar dan pedangpun ditarik.
Dengan gentakan yang dilandasi kekuatan hebat ini, ujung
pedangnya bisa menciptakan lingkaran, bagi seorang yang
Lwekangnya rendah, jari2 nya yang menjepit ujung pedang pasti
bisa tertabas kutung. Tapi Ling Kun-gi juga mengerahkan tenaga
saktinya pada ketiga jarinya yang menjepit ujung pedang lawan.
Maka terdengar "pletak", ujung pedang tiba2 patah.
Kejadian cepat sekali, orang itu tergentak mundur dua tindak
baru berdiri tegak, sekilas kelihatan tertegun, katanya dengan
tertawa marah: "Anak bagus, kiranya kau anak murid Siau-lim."
"Kau salah satu dari tiga puluh enam panglima Haek-liong-hwe?"
tanya Kun-gi.
Orang itu melenggong, jawabnya kemudian: 'Darimana kau dapat
tahu?"
"Tiga puluh enam panglima adalah orang kepercayaan Lohwecu,
seharusnya mereka patriot bangsa dan tuan . . . . . . '
Tajam tatapan mata si baju hijau, tanyanya: "Siapa kau?"
"Kau tidak perlu tahu siapa diriku."
Mendadak beringas sorot mata si baju hijau, bentaknya bengis:
"Kau bocah ini, terlalu banyak yang kau ketahui." Sret, pedangnya
kembali menusuk ke arah Ling Kun-gi.
Dengan enteng Kun-gi mengegos kesamping dan balas
membentak: "Bukan saja banyak yang Cayhe ketahui, hari ini malah
aku akan mencuci bersih nama baik Hek-liong-hwe di bawah
pimpinan Lo-hwecu dulu, sebagai salah seorang tiga puluh enam
panglima dulu, kini kau rela menjadi antek musuh, maka kematian
adalah bagianmu."
"Toako," seru Un Hoankun di belakang,"orang ini harus kita
tawan hidup2."
Karena tusukannya luput orang itu jadi melengak, mendengar
ancaman Kun-gi lagi, seketika dia naik pitam, dengusnya: "Anak
muda sombong benar kau!" Sret, sret, kembali pedangnya bergetar
menusuk dua kali.
Di mana tangan Kun-gi terangkat tahu2 pedang pandak sudah
digenggamnya, tapi dia tidak lantas balas menyerang, kaki tidak
bergeming, hanya badan bagian atas bergontai mengikut i gerak
tusukan lawan, dua kali tusukan si baju hijau kembali mengenai
tempat kosong. Gerakan bergontai yang gemulai ini adalah hasil dari
Hwi-liong-kiu-sek yang telah dia cangkok dalampraktek.
Dengan gerakan sederhana, tiga kali tusukan lawan yang cukup
deras ini berhasil dihindarkan, keruan hati Kun-gi bertambah
senang, tangan kanan tiba2 terayun, maka terdengarlah suara
"trang" pedang panjang lawan yang sudah patah ujungnya itu kena
ditekannya ke bawah.
Pada saat itulah, tiba2 terlihat sebuah lengan putih halus terjulur
keluar dari samping Kun-gi, begitu kelima jarinya terpentang,
segumpal asap berbubuk seketika menyampuk muka orang itu.
Melihat Un Hoankun menjent ikan bubuk kabut pembius, si baju
hijau tahu gelagat tidak menguntungkan, tapi pedang sendiri
tertindih oleh pedang Ling Kun-gi, jangankan mau mundur,
kesempatan menarik pedangpun tak sempat lagi, tahu2 hidungnya
mengendus bau harum yang aneh, seketika pandangan menjadi
gelap. "Bluk", seketika roboh tersungkur.
Un Hoankun berjingkrak kegirangan. "Syukurlah, akhirnya dapat
kita bekuk seorang musuh hi-dup2." demikian teriaknya sambil
berkeplok.
"Untuk apa kau menawannya hidup2?" tanya Kun-gi.
Un Hoankun berseri tawa, katanya: "Lorong sempit ini bercabang
serta membingungkan, kalau ada petunjuk jalankan lumayan?"
Mendadak Kun-gi teringat akan perkataan Yong King-tiong:
"Losiu hanya tahu bahwa di belakang Ceng-liong-tong telah
ditambah bangunan rahasia.. Di sanalah para tawanan disekap, tapi
tak pernah kuduga bahwa di sini ada tempat, seperti ini."
Memangnya Tong Bunkhing, Pui Ji-ping berdua disekap di mana?
Orang2 Pek-hoa-pangpun terpencar entah ke mana saja di lorong
sempit yang membingungkan ini,' baru sekarang dia sadar perlunya
seorang penunjuk jalan di tempat yang menyesatkan ini. Maka
dengan mengangguk dia berkata: "Untung kau berpikir cermat,
memang kita perlu bantuannya."
"Semula aku amat benci mereka, maka tiada seorangpun yang
kuampuni, setelah obor padam, seorang diri aku putar kayun
kesasar kian kemari barulah teringat untuk menawan seorang
musuh, tapi tiada musuh ,yang muncul lagi, suara bentakan yang
kau dengar tadi juga kudengar, maka aku memburu kemari,
mungkin dia inilah yang sengaja hendak menjebak orang," lalu dia
bertanya lebih prihatin: "Toako, kedua temanmu apakah sudah kau
temukan?"
"Belum," sahut Kun-gi sambil menggeleng.
"Nah, kan kebetulan? Orang ini besar sekali manfaatnya bagi
kami."
"Mungkin dia tidak sudi kita paralat. Hayolah adik Hoan, kita
gusur dia dulu, biar paman Yong membujuk dia, mungkin dia tidak
suka rela menjadi antek musuh."
"Siapakah paman Yong?" tanya Un Hoankun.
"Dia adalah teman ayahku almarhum, Cong-koan Hek-liong-hwe
yang sekarang, dia berada di luar, tadi kudengar suara benturan
senjata, maka aku menerjang masuk kemari."
"Luar? Tempat apa di luar sana?"
"Luar yang kumaksud sudah tentu masih berada di perut gunung
Kunlunsan, yang kumaksud adalah bagian luar lorong2 sempit di
sini," lalu Ling Kun-gi menambahkan: "Panjang sekali kejadiannya
kalau diceritakan, marilah ke luar dulu saja," Dengan mengangkat
Leliong-cu dia putar badan terus berjalan balik ke arah datangnya
tadi.
Dengan cepat mereka tiba di pintu batu dan kembali ke kamar
segi enam. Yong King-tiong sudah menunggu dengan tidak sabar,
untunglah akhirnya dilihatnya, Kun-gi muncul dengan memanggul
seorang, lekas dia memapak maju, katanya: "Kenapa Kongcu pergi
selama ini? Losiu sudah ingin menyusulmu ke dalam." Belum habis
bicaranya dilihatnya pula seorang nona berjalan di belakang Kun-gi,
dia mengangguk dan menyapa: "Apakah nona ini yang bentrok
dengan musuh?"
Kun-gi tertawa, sahutnya: "Bukan, suara benturan senjata itu
semakin menjauh, Wanpwe tidak menemukannya." Lalu dia
perkenalkan Un Hoankun: "Hoanmoay, inilah paman Yong." Kepada
Yong King-tiong dia menambahkan: "Dia bernama Un Hoankun,
puteri kesayangan Unlocengcu dari Linglam."
Tertunduk kepala Un Hoankun, sapanya: "Paman Yong!"
Yong King-tiong manggut2, tanyanya heran: "Bagaimana nona
Un bisa masuk kemari?"
"Paman jangan salah mengerti, untuk membantu Wanpwe secara
diam2, dia menyamar jadi Bikui dan menyelundup ke dalam Pekhoa-
pang."
"O, kiranya begitu," Yong King-tiong mengangguk.
Sementara itu Kun-gi sudah turunkan tawanannya, tanyanya:
"Paman kenal orang ini?"
"Dia bernama Tu Hong-sing, salah seorang dari tiga puluh enam
panglima dulu, sekarang dia salah seorang dari delapan Koan-tai
dari Hek-liong-hwe."
"Apa kerja dan tugas seorang Koan-tai?" tanya Kun-gi.
"Sesuai namanya, seharusnya Koan-tai memimpin banyak orang,
tapi Koan-tai dari Hek-liong-hwe kira2 setingkat dengan Houhoat,
jabatan ini tidak terhitung rendah, tapi tidak punya tugas tertentu,
semula jabatan ini hanya merupakan simbol dalam kalangan
pemerintahan kerajaan, yang terang kedelapan Koan-tai seluruhnya
dikerahkan bertugas di Ceng-liong-tong."
"Syukurlah kalau paman Yong kenal dia, biar kubikin dia
mendusin, Ling-toako bilang supaya engkau membujuknya, mungkin
dia mau insaf dan bertobat, karena tidak secara suka rela menjadi
antek musuh," kata Un Hoan-kun.
Yong King-tiong berpaling kepada Kun-gi, tanyanya: "Lingkongcu
ingin Losiu membujuk dia?"
Maka Kun-gi menjelaskan keadaan di dalam lorong2 sempit yang
simpang siur seperti sarang labah2, padahal orang2 Pek-hoa-pang
terkurung di dalam dan tak bisa keluar, di samping dua temannya
lagi yang disekap entah dimana. Kemungkinan Tu Hong-sing bisa
bantu membereskan soal2 ini, jika dapat membujuknya, tentu
segala urusan di sini tidak akan mengalami kesulitan lagi.
Sambil mengelus jenggot Yong King-t iong manggut2, katanya:
"Sebagai seorang dari tiga puluh enam panglima sudah tentu Losiu
cukup kenal pribadi Tu Hong-sin, orang ini cupet pikiran dan sempit
pandangan, tamak harta dan gila pangkat. apalagi sekarang sudah
menjadi Koan-tai, jabatan tingkat keenam di istana raja, untuk
membujuknya meninggalkan pangkatnya mungkin agak sulit."
Setelah menepekur sebentar akhirnya dia menambahkan: "Ada
satu hal mungkin dapat membuatnya tunduk."
Un Hoan-kun lantas tertawa, katanya: "Wan-pwe tahu, Wanpwe
punya cara supaya dia tunduk dan menyerah."
"Kau punya akal apa?" tanya Kun-gi heran.
"Setiap manusia yang gila pangkat dan tamak harta pasti takut
mati," ujar Un Hoan-kun.
Yong King-tiong mengangguk, "Ucapan nona memang betul."
Un Hoan-kun t idak banyak bicara lagi, dia mendekati Tu Hongsing,
mendadak dia ulur dua jari tangannya yang lentik putih
beruntun menutuk tiga Hiat-to Tu Hong-sing, lalu ia mengeluarkan
satu botol kecil, dengan ujung kuku dia mengambil bubuk obat terus
dijentikan ke hidung Tu Hong-sing.
Sungguh mujarab obat bubuk dalam botol kecil ini, begitu
mencium bau obat itu, Tu Hong-sing yang jatuh pingsan seketika
berbangkis dua kali lalu membuka mata. Sebentar bola matanya
berputar mengerling kian kemari, akhirnya melihat Yong King-tiong,
Ling Kun-gi, Un Hoan-kun, seketika rona mukanya berubah,
mendadak dia bangun berduduk. Begitu duduk baru dia sadar
bahwa beberapa Hiat-to di tubuhnya telah tertutuk, kaki tangan
hakikatnya tak mampu bergerak.
"Tu-heng, sudah siuman kau?" sapa Yong King-tiong.
"Syukurlah Yong-congkoan berada di sini," kata Tu Hong-sing
sambil mengawasinya, "beberapa Hiat-toku tertutuk."-Ternyata
betul dia manusia yang takut mati, berhadapan dengan Yong Kingtiong,
nada bicaranya seperti minta tolong dan mohon di kasihani.
Yong King-tiong berdiri kereng, katanya: "Apa-kah Tu-heng tahu
bahwa Han Jan-to sudah mampus, sementara Cui Kin-in sudah
merat setelah keok?" Tu Hong-sing tampak kaget, katanya: "Apa
betul ucapan Congkoan?"
"Sejak kini aku bukan lagi Congkoan Hek-liong-hwe, maka Tuheng
jangan memanggilku Cong-koan, empat puluh tahun aku
berkumpul di sini dengan Tu-heng, maka ingin kuberi nasehat, kita
kan bangsa Han, sesama anggota Thay-yang-kau dan bersumpah
setia di depan cakal-bakal, adalah tidak pantas rela menjadi antek
dan cakar alap2 musuh.
Berubah hebat air muka Tu Hong-sing, serunya dengan terbeliak
kaget: "Yong-congkoan, kau telah berontak?"
"Betul, dulu bersama Tu-heng kita sama2 mendapat kebaikan
dan bimbingan Lohwecu, tapi sejak Hek-liong-hwe jatuh ke tangan
musuh, maka kau lantas diperalat untuk menjadi algojo terhadap
sesama pahlawan bangsa, kini t iba saatnya kita harus insaf dan
bertobat, tidak pantas selalu tersesat dan diperalat, asal kau mau
bekerja sama dengan kami, aku bertanggung jawab, pasti tidak
akan membikin rugi kau seujung rambut."
Agaknya terjadi perang batin dalam benak Tu Hong-sing, lama
sekali dia sukar ambil keputusan, kedua matanya merem melek,
menepekur kebingungan.
Un Hoan kun tahu orang agaknya tengah mengerahkan hawa
murni, maka dengan tertawa dingin dia mengejek: "Orang she Tu,
ketahuilah, Hiat-to yang kututuk adalah ajaran khas keluarga Un
dari Linglam, kalau kau mengerahkan hawa murni ingin
menjebolnya, awas kalau tersesat dan malah celaka bagi jiwamu."
Terbeliak Tu Hong-sing, katanya kemudian:
"Apa keinginan kalian?"
"Bergantung bagaimana sikapmu terhadap uluran tangan kami,"
jengek Un Hoan-kun.
"Cayhe sudah jatuh ke tangan kalian, mati hidupku berada di
genggamanmu, memangnya apa lagi yang dapat kulakukan?"
"Hanya ada satu jalan bisa kau tempuh, yaitu tunduk akan
kemauanku. Nah, mati atau hidup terserah pada pilihanmu sendiri."
Tu Hong-sing melirik ke arah Yong King-tiong, Yong King-tiong
pura2 tidak melihatnya, malah melengos ke arah lain.
"Semut saja ingin hidup apalagi manusia, daripada mat i, hidup
sengsara juga mending. . ." demikian kata Tu Hong-sin. "Cuma
Cayhe ingin tahu soal mati dan hidup tadi, kalau hidup bagaimana?
Jika mati bagaimana pula?"
"Soal sederhana. Pertama, seperti yang dikatakan paman Yong
tadi, asal kau mau kerja sama dan tidak mengandung maksud jahat
serta tidak berusaha melarikan diri lagi, setelah kami keluar dari
Kun-lun-san, peduli kau akan berbuat jahat atau bajik, menjadi
lawan atau kawan, kami tetap akan melepasmu, soal kedua . . . . "
mendadak dia tutup mulut.
"Bagaimana dengan syarat kedua?" tanya Tu Hong-sing.
"Jalan kedua ialah kau harus tunjukkan keadaan di sini yang
simpang siur, di mana pula kalian mengurung tawanan, kalau kau
tidak mau menjelaskan, kami akan mengompesmu dengan
kekerasan, menyiksamu sampai mati bila kau t idak menjelaskan."
Terunjuk rasa ngeri pada rona muka Tu Hong-sing, kepala
tertunduk, mulutnya bergumam sendiri: "Orang, she Tu sudah hidup
sekian lamanya, memangnya harus mati di sini tanpa diketahui
orang?"
"Memangnya, setelah keluar dari sini, kami pasti melepasmu, dari
pada kau mati tersiksa dengan sia2, bukankah sayang?" demikian
bujuk Un Hoan-kun.
Tu Hong-sing angkat kepala mengawasi Un Hoan-kun, katanya:
"Baiklah," coba kau katakan dulu cara bagaimana akan kerja sama
itu?"
"Jadi kau sudah terima syaratku? Baik, apa yang dikatakan kerja
sama ada dua hal. Pertama, kau menjadi pelopor menunjukkan
jalan di sini, cari kembali orang2 Pek-hoa-pang yang tercerai berai di
sini. Kedua, tunjukkan tempat tahanan, kami akan menolong dua
sahabat Ling-toako."
"Hanya dua soal ini saja!" Tu Hong-sing menegas.
"Betul," sahut Un Hoan-kun tegas.
"Baik, Cayhe terima semua syarat itu, bukalah Hiat-toku."
"Paman Yong," tanya Un Hoan-kun kepada Yong King-tiong,
"apakah omongannya dapat dipercaya?"
Sambil mengelus jenggot Yong King-tiong bergelak tertawa,
katanya: "Sukar dikatakan, Losiu dengan Tu-heng dulu memang
sesama anggota tiga puluh enam panglima, tapi setelah dia menjadi
cakar alap2, sukar dikatakan apakah dia dapat dipercaya atau
tidak?"
Mengawasi Yong King-tiong, bukan kepalang marah Tu Hongsing,
pikirnya: "Yong King-t iong, kenapa tidak kau pikir, dulu kaupun
menyerah kepada kerajaan sampai sekarang, aku paling2 menjabat
Koan-tai kelas enam, kau orang she Yong justeru menjadi Congkoan
dengan pangkat lebih tinggi buka mulut tutup mulut kau maki aku
sebagai cakar alap2, memangnya kau ini bukan cakar alap2?"
Sudah tentu hal ini tak berani dia ucapkan, terpaksa hanya
menyengir saja, katanya: "Yong-loko, puluhan tahun kita
bersahabat, masa kau tidak percaya padaku?"
Sebelum Yong King-t iong bersuara Un Hoan-kun mendahului
menyambung: "Yong-lopek yang kenal kau puluhan tahun juga
masih sangsi terhadapmu, bagaimana aku berani percaya padamu?"
Sampai di sini mendadak dia merogoh keluar sebutir pil, katanya:
"Begini saja, kau telan obat ini, nanti kubuka Hiat-tomu."
Tu Hong-sing menatap tangan si nona sekejap, tanyanya:
"Apakah obat beracun yang ada di tangan nona?"
Un Hoan-kun tertawa lebar, katanya: "Bukan, keluarga Un dari
Linglam selamanya tidak pernah pakai obat racun, pil ini bernama
Sip-hun-wan. setelah kau minum, dalam jangka waktu dua belas
jam kalau tidak mmemperoleh obat penawarnya, bila obatnya
bekerja, orangnya akan menjadi linglung seperti orang gila yang
kehilangan ingatan, segala-nya terlupakan, selamanya tak bisa
diohati lagi."
"Jahat juga pil ini," kata Tu Hong-sing.
"Jangan kuatir, aku punya obat penawarnya," ujar Un Hoan-kun,
"setelah kau telan Sip-hun-wan ini akan kuberikan sebagian obat
penawarnya, kau akan tahan enam jam dalam keadaan segar
bugar."
"Setelah enam jam, harus minum obat penawarnya lagi?" tanya
Tu Hong-sing.
"Betul, enam jam kemudian, akan kuberikan lagi sisa obat
penawarnya."
"Jadi maksud nona, setiap enam jam harus minum obat
penawarnya?"
"Bukan begitu halnya, setelah enam jam, khasiat obat penawar
akan lunak, tergantung dari usaha bantuanmu, bila sebelum enam
jam kita bisa keluar dari sini, kontan akan kuberi lagi obat
penawarnya padamu."
"Itu berarti sebelum Cayhe mmemperoleh seluruh obat
penawarnya harus sekuat tenaga melindungi keselamatan kalian."
Mengawasi Ling Kun-gi, Un Hoan-kun tersenyum manis, katanya:
"Tak perlu kau melindungi aku, bersama dengan Ling-toako,
siapapun jangan harap bisa melukai aku." - Dia bicara dengan jujur
dan wajar, tapi siapapun bisa merasakan betapa besar cintanya
terhadan Ling Kun-gi. .
Un Hoan-kun berkata lebih lanjut: "Baiklah, sudah kujelaskan
seluruhnya, sekarang lekas kau telan obat ini."
Mengawasi obat di tangan Un Hoan-kun, se-saat Tu Hong-sing
menjadi bimbang.
"Hiat-tomu tertutuk, sebetulnya aku tidak perlu membuang waktu
dan banyak bicara dengan kau," kata Hoan-kun, mendadak tangan
kirinya terulur jari2nya memencet geraham Tu Hong-sing sehingga
mulut orang terbuka, sementara tangan kanan menjejalkan obat ke
mulut orang, dia tepuk lagi sekali di belakang leher orang, lalu
dengan kedua tangan dia menggablok pula kedua sisi pipinya.
Bahwa dirinya menjadi tawanan, hal ini sudah dianggap suatu
penghinaan, hati Tu Hong-sing marah dan penasaran, tapi dia
hanya berani marah dihati lahirnya dia seperti pasrah nasib, setelah
Un Hoan-kun mengembalikan gerahamnya seperti semula tanpa
terasa dia berkata keras: "Nona mana obat penawarnya?"
"Buat apa ter-gesa2, Sudah kujanji memberi, nanti tentu kuberi,"
sembari bicara berbareng dia buka Hiat-to di badan orang, lalu
mengeluarkan dua butir pil warna merah serta diangsurkan,
katanya: "Inilah ini obat penawarnya."
Tu Hong-sing bergegas bangun, begitu terima obat langsung dia
jejalkan ke dalam mulut, tapi sebelah tangannya dengan kecepatan
kilat tahu2 menyambar pergelangan tangan Un Hoan-kun,
sekuatnya dia tarik mundur pula tiga langkah. Badan orang dia buat
tameng di depannya, bentaknya dengan bengis: "Siapa di antara
kalian berani maju orang she Tu segera bunuh dia lebih dulu,"
Kejadian berlangsung terlalu cepat dan mendadak, Ling Kun-gi
dan Yong King-t iong tak sempat bertindak, terpaksa mereka
mendelong mengawasi Un Hoan-kun di seret mundur oleh Tu Hongsing.
"Tu Hong-sing, tidak salah bukan omonganku?" jengek Yong
King-tiong, "barang siapa terima menjadi cakar alap2, jangan harap
dapat dipercaya lagi."
"Terhadap kalian kaum pemberontak ini, buat apa bicara soal
kepercayaan segala?" demikian ejek Tu Hong-sing.
Un Hoan-kun diam saja dan membiarkan urat nadi pergelangan
tangannya dipegang serta diseret, cuma mulutnya berteriak
melengking: " Apa yang hendak kau lakukan?"
"Budak manis," kata Tu Hong-sing sambil ce-ngar-cengir, asalkan
kau serahkan seluruh obat penawarnya, aku akan ampuni jiwamu."
"Jangan kau lupa aku ini orang dari marga Un di Ling-lam," kata
Un Hoan-kun kalem.
Seperti diketahui keluarga Un dari Ling-lam terkenal sebagai
keluarga pencipta obat bius di kalangan Kangouw, oleh karena itu
orang2 Kangouw suka bilang: "Setiap anggota marga Un, sekujur
badannya mengandung obat bius."
Pada saat itulah terdengar seorang menanggapi: "Tu-heng tutuk
dulu Hiat-tonya."
"Belum lenyap suaranya, serempak dari enam sudut pintu sana
berbareng muncul enam laki2 seragam hijau yang menenteng
pedang.
Kedua mata Yong King-tiong mencorong terang, hardiknya
kereng: "Nyo Ci-ko, bagus sekali kedatanganmu."
Dalam pada itu, tiba2 terdangar suara "bluk" entah mengapa
tiba2 Tu Hong-sing terbanting jatuh semaput.
Orang yang muncul dari sudut kiri atas sana adalah laki2
setengah umur bermuka putih berperawakan sedang, dialah Nyo Ciko,
salah seorang kepercayaan Cui Kin-in yang dia bawa dari
kotaraja, Dari sorot matanya yang gemeredep dapatlah diketahui
bukan saja Kungfunya tinggi, diapun seorang cerdik pandai yang
bekerja dengan cekatan.
Baru saja Nyo Ci-ko muncul lantas melihat Tu Hong-sing
terbanting roboh, keruan ia kaget, lekas dia membentak:,"Tidak
lekas kalian membantunya?" - -Dua laki2 seragam hijau segera
mengiakan dan menubruk ke arah Un Hoan-kun.
Un Hoan-kun menyeringai, jengeknya: "Siapa berani maju?" -
Sekali tangan berayun, segumpal asap segera menabur ke arah
musuh.
Kedua orang berseragam hijau ini tadi sudah mendengar bahwa
nona ini adalah anggota keluarga Un dari Linglam, kini melihat
orang menaburkan asap, sudah tentu mereka tak berani ayal,
padahal mereka tengah menubruk maju, terpaksa menahan napas
sambil mengerem sekuatnya luncuran tubuh serta menjejak balik ke
belakang.
"Hihi, sungguh menggelikan, hanya segenggam pasir saja sudah
bikin kalian ketakutan," demikian ejek Un Hoan-kun. Yang dia
taburkan memang segenggam pasir, tapi orang tak berani
mendekati-nya lagi.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.gr/2012/08/cerita-panas-tante-montok-pendekar.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Panas Tante Montok : Pendekar Kidal 4 with url http://cerita-eysa.blogspot.gr/2012/08/cerita-panas-tante-montok-pendekar.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

hendri prastio mengatakan...

artikelnya bagus sekali sob,,menambah pengetahuan dan wawasan.. terima kasih banyak atas sharenya..semoga selalu menciptakan karya" terbaiknya,,,dan ditunggu UPDATEan terbarunya sob,,,pokoknya mantap deh! keren buat blog ente ! dan saya mohon dukungannya sob buat lomba kontes SEO berikut:
Ekiosku.com Jual Beli Online Aman Menyenangkan
Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia
terima kasih atas dukungannya sob,, saya doakan semoga ente selalu mendapatkan kebaikan,, dan terus sukses!! amin hehe sekali lagi terima kasih banyak ya sob...thaks you verry much...

Poskan Komentar